Kontribusi Ilmuwan Muslim Klasik seperti Ibnu Sina bagi Perkembangan Ilmu Kebidanan dan Kandungan
I. Pendahuluan
Perkembangan ilmu kebidanan dan kandungan tidak lepas dari perkembangan ilmu kedokteran yang sudah berlangsung sejak zaman dahulu. Sebelum ada teknologi seperti USG, pemeriksaan laboratorium, dan fasilitas persalinan modern, para ilmuwan sudah berusaha memahami kehamilan, persalinan, penyakit pada perempuan, serta cara menjaga kesehatan ibu dan bayi. Salah satu ilmuwan yang berperan penting adalah Abu Ali al-Husayn ibn Abd Allah ibn Sina atau yang lebih dikenal sebagai Ibnu Sina (980–1037 M). Di dunia Barat, ia dikenal dengan nama Avicenna. Melalui karyanya Al-Qanun fi al-Tibb (The Canon of Medicine), Ibnu Sina menyusun berbagai pengetahuan tentang kedokteran secara teratur. Di dalamnya juga terdapat pembahasan tentang kesehatan perempuan, kehamilan, penyakit rahim, dan reproduksi (Jafari-Dehkordi et al., 2013; Ghaffari et al., 2022).
Kontribusi Ibnu Sina penting dipelajari karena menunjukkan bagaimana ilmu kesehatan berkembang sejak zaman dahulu. Walaupun cara pengobatan pada masa itu berbeda dengan kebidanan sekarang, pemikirannya tetap memberikan pelajaran tentang pentingnya pengamatan, pencatatan, pencegahan, dan menjaga kesehatan. Hal ini masih berhubungan dengan pelayanan kebidanan saat ini yang mengutamakan keselamatan ibu dan bayi, pencegahan komplikasi, komunikasi, dan menghargai perempuan. Esai ini membahas kontribusi Ibnu Sina dalam kesehatan reproduksi dan kehamilan, nilai pentingnya ilmu dalam Islam, serta hubungannya dengan pelayanan kebidanan saat ini.
II. Pembahasan
Pada masa perkembangan peradaban Islam, ilmu kedokteran berkembang melalui proses menerjemahkan, mempelajari, mengkritik, dan mengembangkan ilmu dari berbagai peradaban. Para ilmuwan Muslim tidak hanya menyalin pengetahuan yang sudah ada, tetapi juga melakukan pengamatan dan menambahkan hasil pengalaman mereka. Fadel dan Al-Hendy (2022) menjelaskan bahwa pada masa awal Islam, karya dari Yunani, Persia, dan tradisi ilmu lainnya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Setelah itu, karya-karya tersebut dipelajari dan dikembangkan oleh para dokter. Ibnu Sina menjadi salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan tersebut. Karyanya, Canon of Medicine, bahkan menjadi salah satu rujukan kedokteran selama berabad-abad dan diterjemahkan ke bahasa Latin untuk pendidikan kedokteran di Eropa (Mannan & Kahvic, 2010).
Salah satu kontribusi Ibnu Sina adalah menyusun pengetahuan kedokteran secara teratur, termasuk pengetahuan tentang sistem reproduksi perempuan. Menurut Mazengenya dan Bhikha (2020), Canon of Medicine membahas anatomi dan fungsi sistem reproduksi serta sistem genitourinaria. Beberapa penjelasan Ibnu Sina tentang struktur dan fungsi reproduksi memiliki kesamaan dengan pengetahuan anatomi dan fisiologi yang dikenal sekarang. Namun, tetap ada perbedaan karena pada zaman Ibnu Sina teknologi dan metode penelitian belum seperti saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa pengamatan terhadap tubuh manusia sudah menjadi bagian penting dalam perkembangan ilmu reproduksi sejak dahulu.
Selain itu, Ibnu Sina juga membahas kehamilan, penyakit rahim, dan cara menjaga kondisi ibu hamil. Jafari-Dehkordi et al. (2013) menjelaskan bahwa bagian tertentu dari buku ketiga Canon of Medicine membahas obstetri dan penyakit rahim. Pembahasannya antara lain berkaitan dengan makanan, aktivitas fisik, istirahat, kondisi emosional, dan persiapan menghadapi persalinan. Jadi, perhatian terhadap kesehatan ibu tidak hanya dilakukan ketika ibu sakit, tetapi juga melalui usaha menjaga kesehatan dan mencegah masalah. Hal ini memiliki hubungan dengan pelayanan kesehatan saat ini yang juga menekankan upaya promotif dan preventif.
Namun, pengetahuan dari zaman dahulu tetap perlu dilihat secara kritis. Tidak semua cara pengobatan yang digunakan pada masa Ibnu Sina dapat langsung digunakan pada ibu hamil saat ini karena belum semuanya diuji dengan penelitian modern. Jafari-Dehkordi et al. (2013) juga menunjukkan bahwa bukti mengenai beberapa anjuran tradisional tentang makanan, aktivitas, dan terapi kehamilan berbeda-beda. Oleh karena itu, yang lebih penting untuk diambil dari Ibnu Sina adalah semangat ilmiahnya, seperti melakukan pengamatan, menjaga kesehatan, memperhatikan kondisi ibu, dan berusaha mencari solusi terhadap masalah kesehatan. Cara pengobatan pada masa lalu tidak boleh langsung disamakan dengan praktik kebidanan sekarang.
Semangat untuk mencari dan mengembangkan ilmu juga sesuai dengan ajaran Islam. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu. Ayat tersebut menunjukkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang penting. Dalam bidang kesehatan, ilmu dapat digunakan untuk menjaga kehidupan dan mencegah terjadinya masalah kesehatan. Selain itu, Nabi Muhammad saw. juga bersabda bahwa orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu akan dimudahkan jalannya menuju surga (HR. Muslim, no. 2699).
Dalam pelayanan kebidanan, ilmu sangat penting karena menjadi dasar dalam memberikan pelayanan yang aman dan bertanggung jawab. Bidan harus terus belajar, meningkatkan keterampilan, mengenali tanda bahaya, memberikan edukasi, dan melakukan rujukan jika kondisi pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut. Semangat belajar yang ditunjukkan dalam tradisi keilmuan Ibnu Sina dapat diterapkan oleh mahasiswa dan tenaga kebidanan dengan terus meningkatkan pengetahuan, keterampilan, etika, dan kemampuan berdasarkan bukti ilmiah.
Warisan pemikiran Ibnu Sina juga masih dapat dikaitkan dengan pelayanan kebidanan modern, terutama dalam hal perhatian terhadap kondisi ibu secara menyeluruh. WHO (2016) menjelaskan bahwa pelayanan antenatal tidak hanya bertujuan mencegah kematian dan komplikasi, tetapi juga meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan pengalaman positif perempuan selama kehamilan. Pelayanan tersebut meliputi pemeriksaan ibu dan janin, pencegahan penyakit, konseling, dukungan, serta edukasi tentang nutrisi dan kesehatan. Hal ini memiliki kesamaan secara umum dengan perhatian Ibnu Sina terhadap pola hidup ibu hamil, walaupun metode dan dasar buktinya sudah berbeda.
Pada saat persalinan, pelayanan juga harus berpusat pada perempuan. WHO (2018) menekankan bahwa pelayanan persalinan harus berkualitas, berdasarkan bukti, menghargai martabat perempuan, dan memberikan dukungan serta komunikasi yang baik. Dalam praktik kebidanan, bidan tidak hanya melakukan tindakan, tetapi juga perlu mendengarkan keluhan ibu, memberikan informasi yang mudah dipahami, mendampingi persalinan, memantau kondisi ibu dan janin, mencatat pelayanan, serta mengenali kondisi yang membutuhkan rujukan. Fadel dan Al-Hendy (2022) juga menunjukkan bahwa pada masa Islam sudah ada perkembangan perhatian terhadap praktik persalinan dan kesehatan perempuan.
Kontribusi Ibnu Sina juga memberikan pelajaran bahwa ilmu harus digunakan bersama dengan tanggung jawab. Tenaga kesehatan perlu memiliki rasa ingin tahu dan terus belajar, tetapi juga harus memahami batas kemampuan dan kewenangannya. Dalam kebidanan, setiap tindakan harus disesuaikan dengan kondisi ibu dan janin serta mengikuti standar profesi dan bukti ilmiah terbaru. Jika kondisi ibu membutuhkan dokter spesialis obstetri dan ginekologi atau fasilitas yang lebih lengkap, bidan perlu melakukan kolaborasi dan rujukan. Dengan begitu, warisan ilmuwan seperti Ibnu Sina tidak hanya dipelajari sebagai sejarah, tetapi juga dapat menjadi inspirasi untuk memberikan pelayanan yang mengutamakan keselamatan ibu dan bayi.
Pada akhirnya, Ibnu Sina bukan satu-satunya tokoh yang mengembangkan ilmu kebidanan dan kandungan. Perkembangan obstetri terjadi melalui kontribusi banyak ilmuwan dan proses yang panjang sampai berkembang menjadi ilmu berbasis bukti seperti sekarang. Namun, Ibnu Sina tetap memiliki nilai sejarah karena menyusun pengetahuan kedokteran secara luas dan membahas anatomi, penyakit perempuan, kehamilan, serta kesehatan. Ghaffari et al. (2022) juga menunjukkan adanya pengalaman klinis dalam Canon of Medicine yang berkaitan dengan obstetri dan ginekologi. Karena itu, Ibnu Sina dapat dilihat sebagai salah satu bagian penting dalam perkembangan ilmu kedokteran yang mengajarkan pentingnya pengamatan, belajar, dan mengembangkan ilmu.
III. Penutup
Kontribusi Ibnu Sina dalam perkembangan ilmu kebidanan dan kandungan menunjukkan bahwa ilmuwan Muslim memiliki peran dalam perkembangan ilmu kesehatan. Melalui Canon of Medicine, Ibnu Sina membahas kesehatan perempuan, sistem reproduksi, kehamilan, dan penyakit rahim berdasarkan pengetahuan pada zamannya. Hal yang dapat kita pelajari dari pemikirannya bukanlah meniru semua pengobatan pada masa lalu, tetapi mengambil semangat untuk terus belajar, melakukan pengamatan, mencegah masalah kesehatan, dan memperhatikan kondisi ibu secara menyeluruh.
Daftar Pustaka
Fadel, H. E., & Al-Hendy, A. (2022). Development of obstetric practice during the early Islamic era. Reproductive Sciences, 29(9), 2587–2592. https://doi.org/10.1007/s43032-022-00887-1
Ghaffari, F., Taheri, M., Meyari, A., Karimi, Y., & Naseri, M. (2022). Avicenna and clinical experiences in Canon of Medicine. Journal of Medicine and Life, 15(2), 168–173. https://doi.org/10.25122/jml-2021-0246
Jafari-Dehkordi, E., Mokaberinejad, R., Minaei, B., Sohrabvand, F., Nazem, E., Dabaghian, F. H., & Aliasl, J. (2013). A review of pioneer physicians’ work on maternal health in pregnancy in ancient Iran; narrative systematic review. Iranian Journal of Public Health, 42(12), 1340–1346.
Mazengenya, P., & Bhikha, R. (2020). The genitourinary and reproductive systems: Interpretation of Avicenna’s (980–1037 AD) treatise in the Canon of Medicine. Morphologie, 104(346), 196–201. https://doi.org/10.1016/j.morpho.2019.12.002
Mannan, A. A. S. R., & Kahvic, M. (2010). Ibn Sina: A tribute. Gulf Journal of Oncology, 7, 60–63.
World Health Organization. (2016). WHO recommendations on antenatal care for a positive pregnancy experience. World Health Organization.
World Health Organization. (2018). WHO recommendations: Intrapartum care for a positive childbirth experience. World Health Organization.
Kontributor: Raisya Ananda Putri
Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

