Sinergi Bidan dan Tokoh Agama dalam Kampanye Pencegahan Penyakit Jantung Pada Ibu Hamil

I. PENDAHULUAN

Kehamilan merupakan proses fisiologis yang menyebabkan berbagai perubahan pada tubuh perempuan, termasuk perubahan pada sistem kardiovaskular. Perubahan tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan ibu dan janin selama masa kehamilan. Namun, kondisi kehamilan juga dapat menjadi tantangan bagi ibu yang memiliki faktor risiko atau penyakit jantung. Penyakit kardiovaskular pada kehamilan perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi bagi ibu dan janin. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG, 2019) menjelaskan bahwa penyakit jantung maternal merupakan masalah penting dalam keselamatan ibu dan kesehatan kardiovaskular perempuan. Oleh karena itu, pengenalan faktor risiko, deteksi dini, dan pengelolaan yang tepat perlu dilakukan sejak masa kehamilan.

Pencegahan penyakit kardiovaskular juga berkaitan dengan pola hidup dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. World Health Organization (WHO, 2025) menyebutkan bahwa pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, penggunaan tembakau, tekanan darah tinggi, dan beberapa faktor lainnya berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Upaya pencegahan perlu dilakukan melalui edukasi dan perubahan perilaku yang sehat.

Dalam masyarakat Indonesia yang memiliki kehidupan keagamaan yang kuat, tokoh agama menjadi salah satu pihak yang membantu menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat. Bidan memiliki kompetensi dalam memberikan pelayanan dan edukasi kesehatan ibu, sedangkan tokoh agama dapat memberikan penguatan melalui pendekatan nilai keagamaan. Sinergi keduanya menjadi salah satu bentuk upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil mengenai pentingnya menjaga kesehatan jantung. Esai ini bertujuan untuk menganalisis peran bidan dan tokoh agama dalam kampanye pencegahan penyakit jantung pada ibu hamil serta penerapannya dalam praktik kebidanan.

II. PEMBAHASAN

Pencegahan penyakit jantung pada ibu hamil perlu dilakukan melalui pengenalan faktor risiko, pemeriksaan kehamilan secara teratur, penerapan pola hidup sehat, serta deteksi dini terhadap tanda dan gejala yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Salah satu permasalahan dalam mengenali penyakit kardiovaskular pada ibu hamil adalah adanya gejala yang dapat menyerupai perubahan normal selama kehamilan. Hameed et al. (2024) menjelaskan bahwa gejala penyakit kardiovaskular dapat tumpang tindih dengan gejala kehamilan normal sehingga diagnosis dapat terlambat. Oleh sebab itu, penilaian risiko kardiovaskular dan edukasi mengenai kesehatan jantung perlu menjadi perhatian dalam pelayanan kehamilan.

Bidan memiliki peran penting dalam upaya tersebut. Dalam pelayanan kebidanan, bidan dapat memberikan pendidikan kesehatan, melakukan pemantauan kondisi ibu sesuai kewenangan, menggali riwayat kesehatan, serta mengenali faktor risiko yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Edukasi dapat diberikan mengenai pentingnya pemeriksaan kehamilan secara teratur, konsumsi makanan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi ibu, menghindari paparan asap rokok, serta tidak mengabaikan keluhan kesehatan. Apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, bidan perlu melakukan kolaborasi atau rujukan sesuai dengan kewenangan dan standar pelayanan.

Pentingnya menjaga kesehatan selama kehamilan juga dapat diperkuat melalui nilai-nilai Islam. Salah satu ayat Al-Qur’an yang dapat digunakan sebagai landasan adalah QS. Al-Baqarah ayat 195:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195).

Ayat tersebut tidak secara khusus membahas penyakit jantung pada ibu hamil. Namun, nilai yang terkandung di dalamnya dapat dikaitkan dengan pentingnya menjaga keselamatan dan tidak mengabaikan kesehatan. Dalam konteks kehamilan, menjaga kesehatan dapat digambarkan sebagai ikhtiar seperti melakukan pemeriksaan kehamilan, menerapkan pola hidup sehat, menghindari faktor risiko penyakit, dan segera mencari pertolongan tenaga kesehatan apabila mengalami keluhan. Dengan demikian, ajaran agama dapat menjadi penguat perilaku preventif dalam kehidupan sehari-hari.

Terdapat hadis Rasulullah saw. yang berkaitan dengan qalb. Rasulullah saw. bersabda:

“Ketahuilah bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah al-qalb (jantung/kalbu).”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Hadis ini dapat dipahami dalam konteks spiritual dan moral bahwa kondisi qalb memiliki peranan penting terhadap kehidupan manusia. Namun, hadis tersebut tidak seharusnya digunakan sebagai penjelasan medis mengenai fungsi jantung. Dalam konteks pembahasan ini, hadis dapat menjadi pengingat bahwa manusia perlu memperhatikan diri secara menyeluruh, baik dari aspek fisik maupun spiritual. Kesehatan tubuh merupakan salah satu hal yang perlu dijaga sebagai bentuk tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri.

Nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan ibu hamil melalui keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Kepercayaan kepada Allah tidak berarti seseorang hanya pasrah tanpa melakukan usaha. Sebaliknya seorang ibu hamil dapat menunjukkan tawakal dengan tetap melakukan usaha yang diperlukan untuk menjaga kesehatan, seperti mengikuti pemeriksaan kehamilan, menjaga pola makan, melakukan aktivitas yang sesuai dengan kondisi tubuh, serta mengikuti anjuran tenaga kesehatan. Dengan demikian, aspek spiritual berjalan bersama dengan upaya kesehatan yang berdasarkan ilmu pengetahuan.

Selain faktor individu, lingkungan sosial juga berpengaruh terhadap perilaku kesehatan. Tokoh agama dapat membantu membangun kesadaran masyarakat melalui kegiatan keagamaan yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Pesan mengenai pentingnya menjaga kesehatan dapat disampaikan pada pengajian, kegiatan masyarakat, dan kelas ibu hamil yang bekerja sama dengan tenaga kesehatan. Tokoh agama dapat menekankan bahwa menjaga kesehatan merupakan bentuk ikhtiar dan tanggung jawab, sedangkan informasi mengenai faktor penyakit, pemeriksaan, dan pencegahannya tetap disampaikan oleh tenaga kesehatan.

Sinergi antara bidan dan tokoh agama dapat dilakukan melalui kampanye kesehatan berbasis masyarakat. Misalnya, bidan memberikan penyuluhan mengenai kesehatan jantung pada ibu hamil, sedangkan tokoh agama memberikan penguatan mengenai pentingnya menjaga kesehatan berdasarkan nilai-nilai Islam. Materi yang disampaikan dapat meliputi pentingnya pemeriksaan kehamilan, pola makan sehat, aktivitas fisik yang sesuai, serta pentingnya mencari pertolongan ketika muncul keluhan yang mengkhawatirkan.

Menurut penulis, kerja sama tersebut memiliki potensi untuk membuat pesan kesehatan lebih mudah diterima masyarakat karena menggabungkan pendekatan ilmiah dan pendekatan spiritual. Bidan memberikan informasi berdasarkan ilmu kesehatan, sedangkan tokoh agama membantu menghubungkan pesan tersebut dengan nilai yang sudah dipahami masyarakat. Tetapi pembagian peran harus tetap jelas. Tokoh agama tidak menggantikan bidan atau dokter dalam melakukan diagnosis dan menentukan pengobatan. Sebaliknya, bidan perlu menghargai keyakinan pasien selama keyakinan tersebut tidak membahayakan keselamatan ibu dan bayi.

Pendekatan kolaboratif juga sejalan dengan perkembangan pelayanan cardio-obstetrics. Pedoman European Society of Cardiology (ESC, 2025) menekankan pengelolaan penyakit kardiovaskular sebelum, selama, dan setelah kehamilan serta pentingnya pendekatan multidisiplin. Penelitian dan kajian lain juga menunjukkan bahwa kesehatan kardiovaskular ibu selama kehamilan dapat memiliki dampak terhadap kesehatan ibu dan anak dalam jangka panjang (Gaillard & Jaddoe, 2023).

Oleh karena itu, kampanye pencegahan tidak seharusnya berhenti pada saat ibu hamil menerima informasi. Edukasi perlu diarahkan agar ibu mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Bidan dapat melakukan pemantauan dan edukasi secara berkelanjutan, sementara tokoh agama dapat membantu memberikan dukungan moral kepada ibu dan keluarganya. Keluarga juga perlu dilibatkan karena dukungan keluarga dapat membantu ibu menjalankan perilaku hidup sehat.

Dengan adanya kerja sama tersebut, kampanye kesehatan tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga pembentukan kesadaran. Ibu hamil diharapkan memahami bahwa menjaga kesehatan jantung merupakan bagian dari menjaga kesehatan dirinya dan janinnya.

III. PENUTUP

Penyakit jantung pada ibu hamil merupakan kondisi yang perlu mendapatkan perhatian melalui pencegahan, pengenalan faktor risiko, deteksi dini, dan pelayanan yang tepat. Bidan memiliki peran penting dalam memberikan edukasi dan pemantauan kesehatan ibu sesuai dengan kompetensinya. Sementara itu, tokoh agama dapat membantu memperkuat pesan kesehatan melalui pendekatan spiritual yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Sinergi antara bidan dan tokoh agama dapat menjadi salah satu strategi promotif dan preventif dalam meningkatkan kesadaran ibu hamil mengenai pentingnya menjaga kesehatan jantung. QS. Al-Baqarah ayat 195 dapat menjadi landasan nilai mengenai pentingnya menjaga diri dari hal yang membahayakan, sedangkan hadis tentang qalb dapat menjadi pengingat mengenai pentingnya menjaga manusia secara menyeluruh. Keduanya perlu dipahami sebagai landasan nilai keagamaan, bukan sebagai pengganti penjelasan medis.

Sebagai rekomendasi, kegiatan kampanye kesehatan dapat dilakukan melalui kelas ibu hamil, posyandu, pengajian, dan kegiatan masyarakat dengan melibatkan bidan, tokoh agama, serta keluarga. Materi medis tetap disampaikan berdasarkan ilmu dan kewenangan tenaga kesehatan, sedangkan tokoh agama dapat memberikan penguatan moral dan spiritual. Dengan sinergi tersebut, diharapkan ibu hamil memiliki pengetahuan dan kesadaran yang lebih baik untuk menjaga kesehatan serta melakukan pemeriksaan apabila terdapat faktor risiko atau keluhan.

DAFTAR PUSTAKA

American College of Obstetricians and Gynecologists’ Presidential Task Force on Pregnancy and Heart Disease, & Committee on Practice Bulletins Obstetrics. (2019). ACOG Practice Bulletin No. 212: Pregnancy and heart disease. Obstetrics &                 Gynecology,                   133(5),                  e320–e356. https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000003243

De Backer, J., Haugaa, K. H., Hasselberg, N. E., de Hosson, M., Brida, M., Castelletti, S., Cauldwell, M., Cerbai, E., Crotti, L., de Groot, N. M. S., Estensen, M.-E., Goossens, E. S., Haring, B., Kurpas, D., McEniery, C. M., Peters, S. A. E., Rakisheva, A., Sambola, A., Schlager, F., Schoenhoff, F., Simoncini, T., Steinbach, F., Sudano, I., Swan, L., Valente, A. M., & ESC Scientific Document Group. (2025). 2025 ESC Guidelines for the management of cardiovascular disease and

pregnancy.      European        Heart       Journal,    46(43),      4462–4568. https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehaf193

Gaillard, R., & Jaddoe, V. W. V. (2023). Maternal cardiovascular disorders before and during pregnancy and offspring cardiovascular risk across the life course. Nature Reviews Cardiology, 20, 617–630. https://doi.org/10.1038/s41569-023- 00869-z

Hameed, A. B., Tarsa, M., Graves, C. R., Grodzinsky, A., Thiel de Bocanegra, H., & Wolfe, D. S. (2024). Universal cardiovascular disease risk assessment in pregnancy: Call to action JACC: Advances Expert Panel. JACC: Advances, 3(8), 101055.https://doi.org/10.1016/j.jacadv.2024.101055

World Health Organization. (2025, July 31). Cardiovascular diseases (CVDs). World Health Organization.

Kontributor: Dinda Melazwa

Editor: Dr. Sumaryati, M.Pd.I.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *