Tahapan Penciptaan Manusia dalam Al-Qur’an dan Relevansinya Terhadap Pembelajaran Embriologi Keperawatan

Pendahuluan

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki proses penciptaan dan perkembangan yang sangat kompleks. Kehidupan manusia tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi melalui berbagai tahapan sejak fertilisasi hingga berkembang menjadi janin. Dalam Al-Qur’an, proses penciptaan manusia dijelaskan melalui beberapa tahapan. Sementara itu, ilmu embriologi menjelaskan perkembangan manusia berdasarkan pengamatan dan bukti biologis. Bagi mahasiswa keperawatan, pemahaman mengenai perkembangan prenatal penting karena berkaitan dengan pertumbuhan janin, kesehatan ibu dan anak, serta kemungkinan terjadinya gangguan perkembangan (Crawford, 2020; Oliver & Basit, 2023).

Pembahasan mengenai Al-Qur’an dan embriologi menarik karena keduanya dapat dipelajari secara berdampingan, tetapi tidak harus dianggap sebagai dua hal yang sama. Al-Qur’an memberikan pemahaman mengenai penciptaan manusia dari sisi keagamaan dan nilai kehidupan, sedangkan embriologi menjelaskan proses biologis yang dapat diamati dan dipelajari secara ilmiah. Menurut Haryanto et al. (2026), hubungan antara pemahaman agama dan ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk membangun literasi ilmiah yang kritis. Oleh karena itu, pembahasan ayat Al-Qur’an mengenai penciptaan manusia perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak memaksakan istilah agama menjadi istilah medis modern.

Esai ini bertujuan untuk menganalisis tahapan penciptaan manusia dalam QS. Al-Mu’minun [23]: 12–14 dan hadis tentang penciptaan manusia. Selain itu, pembahasan akan dikaitkan dengan konsep dasar embriologi serta penerapannya dalam pembelajaran dan praktik profesional keperawatan.

Pembahasan                      

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12-14:            

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَةٍ مِّنۡ طِيۡنٍ​ ۚ‏ ١٢

ثُمَّ جَعَلۡنٰهُ نُطۡفَةً فِىۡ قَرَارٍ مَّكِيۡن ٍ١٣

ثُمَّ خَلَقۡنَا النُّطۡفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقۡنَا الۡعَلَقَةَ مُضۡغَةً فَخَلَقۡنَا الۡمُضۡغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا

ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰهُ خَلۡقًا اٰخَرَ​ فَتَبٰـرَكَ اللّٰهُ اَحۡسَنُ الۡخٰلِقِيۡنَ ؕ‏ؕ  ١٤

Artinya: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (yang berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) di dalam tempat yang kukuh (rahim).  Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat (segumpal darah), lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 12–14).

Ayat tersebut menggambarkan bahwa penciptaan manusia berlangsung melalui beberapa tahapan. Istilah seperti nutfah, ‘alaqah, dan mudghah menunjukkan adanya proses dan perubahan dalam penciptaan manusia. Hal ini dapat dikaitkan secara umum dengan ilmu embriologi yang juga menjelaskan perkembangan manusia melalui tahapan yang berlangsung secara berurutan. Setelah fertilisasi, terbentuk zigot yang kemudian mengalami pembelahan sel, berkembang menjadi morula dan blastokista, lalu mengalami implantasi pada endometrium. Selanjutnya terjadi gastrulasi, diferensiasi sel, pembentukan jaringan, organogenesis, dan pertumbuhan pada periode fetal (Oliver & Basit, 2023).

Meskipun terdapat kesamaan dalam gambaran mengenai proses yang bertahap, istilah dalam Al-Qur’an tidak dapat langsung disamakan dengan istilah medis modern. Menurut saya, keduanya perlu dipahami sesuai dengan konteks masing-masing. Al-Qur’an memberikan penjelasan dari sisi keagamaan mengenai penciptaan manusia, sedangkan embriologi menjelaskan proses biologis berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan. Dengan demikian, hubungan antara keduanya lebih tepat digunakan untuk membangun pemahaman yang saling melengkapi daripada memaksakan bahwa setiap istilah Al-Qur’an merupakan istilah ilmiah tertentu.

Salah satu istilah yang menarik adalah ‘alaqah, yang secara bahasa dapat dipahami sebagai sesuatu yang melekat. Dalam perkembangan awal manusia, blastokista mengalami proses implantasi pada dinding rahim. Sekitar hari keenam setelah fertilisasi, blastokista mulai berimplantasi dan sel trofoblas mengalami diferensiasi yang mendukung proses tersebut (Gonzalez et al., 2021). Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa ‘alaqah dapat langsung diterjemahkan sebagai blastokista. Begitu juga dengan mudghah yang tidak dapat begitu saja dianggap sebagai satu tahap tertentu dalam embriologi modern. Menurut saya, cara yang lebih tepat adalah melihat adanya hubungan pada gambaran umum mengenai perkembangan manusia, tanpa menghilangkan perbedaan antara bahasa wahyu dan istilah ilmiah.

Pada perkembangan berikutnya, embrio mengalami gastrulasi yang menghasilkan tiga lapisan germinal, yaitu ektoderm, mesoderm, dan endoderm. Ketiga lapisan tersebut menjadi dasar bagi pembentukan berbagai jaringan dan organ. Ektoderm berkontribusi terhadap sistem saraf dan epidermis, mesoderm berperan dalam pembentukan otot, tulang, jaringan ikat, serta sistem peredaran darah, sedangkan endoderm berkontribusi terhadap epitel saluran pencernaan dan beberapa organ lainnya (Oliver & Basit, 2023). Perkembangan ini tidak berlangsung sebagai proses yang terpisah-pisah, tetapi melibatkan diferensiasi dan interaksi sel yang saling berkaitan. Hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan manusia merupakan proses yang kompleks dan dinamis.

Selain Al-Qur’an, Rasulullah SAW juga menjelaskan mengenai tahapan penciptaan manusia. Abdullah bin Mas‘ud r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ ‌يُجْمَعُ ‌خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ..

Artinya: “Sesungguhnya setiap orang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari (berupa sperma), kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari pula, kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari juga. Kemudian diutuslah seorang malaikat meniupkan ruh ke dalamnya…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa penciptaan manusia dipahami sebagai suatu proses yang memiliki tahapan sekaligus memberikan pemahaman bahwa kehidupan manusia memiliki dimensi spiritual.

Ketika hadis tersebut dibandingkan dengan embriologi modern, pembahasannya juga perlu dilakukan secara hati-hati. Pembagian waktu empat puluh hari dalam hadis tidak seharusnya langsung dijadikan sebagai jadwal perkembangan embriologi modern yang persis. Ilmu embriologi menggunakan penanggalan berdasarkan fertilisasi atau usia gestasional dan menunjukkan bahwa perubahan morfologis berlangsung secara kontinu serta dapat saling tumpang tindih (Crawford, 2020; Oliver & Basit, 2023). Oleh karena itu, menurut saya, hadis tersebut lebih tepat digunakan sebagai landasan keagamaan dan etis, bukan sebagai pengganti penjelasan biologis.

Pemahaman tersebut memiliki hubungan yang cukup erat dengan bidang keperawatan. Mahasiswa keperawatan perlu memahami perkembangan prenatal karena pengetahuan tersebut menjadi dasar untuk memahami pertumbuhan dan perkembangan janin serta berbagai kemungkinan gangguan yang dapat terjadi selama masa perkembangan. Crawford (2020) menjelaskan bahwa perkembangan prenatal berlangsung melalui tahap germinal, embrionik, dan fetal, sedangkan gangguan pada periode tertentu dapat berhubungan dengan kelainan kongenital. Sharath et al. (2022) juga menunjukkan pentingnya pendekatan pembelajaran yang dapat membantu mahasiswa memahami embriologi dengan lebih baik.

Menurut saya, pembelajaran embriologi sebaiknya tidak hanya berfokus pada hafalan nama struktur atau tahapan perkembangan. Mahasiswa perlu memahami proses yang terjadi dan menghubungkannya dengan kondisi kesehatan ibu dan janin. Nilai keislaman dapat membantu mahasiswa melihat proses tersebut bukan hanya sebagai materi biologis, tetapi juga sebagai bagian dari pembelajaran mengenai kehidupan dan tanggung jawab manusia.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 190:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ۝١٩٠

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 190).

Ayat tersebut dapat menjadi dorongan agar mahasiswa menggunakan akal dan pengetahuan secara bertanggung jawab dalam mempelajari kehidupan. Dalam praktik keperawatan, pemahaman mengenai perkembangan prenatal dapat diterapkan ketika perawat memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu hamil dan keluarga. Perawat perlu menyampaikan informasi mengenai pentingnya pemeriksaan antenatal, pemenuhan nutrisi, pencegahan infeksi, penggunaan obat secara aman, serta penghindaran faktor risiko selama kehamilan. WHO (2016) menjelaskan bahwa pelayanan antenatal mencakup promosi kesehatan, skrining, diagnosis, pencegahan penyakit, komunikasi, dan dukungan bagi perempuan serta keluarga.

Pemberian informasi kepada pasien juga harus dilakukan dengan cara yang mudah dipahami. Perawat perlu memperhatikan kebutuhan belajar pasien, memilih metode edukasi yang sesuai, dan mengevaluasi pemahaman pasien (Ernstmeyer & Christman, 2025). Hal ini penting karena pembahasan mengenai perkembangan janin atau risiko kehamilan dapat membuat ibu merasa khawatir. Oleh sebab itu, perawat perlu memberikan informasi berdasarkan bukti ilmiah dengan bahasa yang tidak menakut-nakuti serta memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya. Informasi ilmiah juga perlu dibedakan dari interpretasi keagamaan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Dari pembahasan tersebut, menurut saya integrasi Pendidikan Agama dengan ilmu embriologi bukan hanya tentang mencari kesamaan antara ayat Al-Qur’an, hadis, dan teori ilmiah. Hal yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa dapat mempelajari ilmu pengetahuan secara kritis sekaligus mempertahankan nilai keagamaan dan kemanusiaan. Bagi mahasiswa keperawatan, pemahaman tersebut dapat menjadi dasar untuk memberikan asuhan yang tidak hanya berorientasi pada kondisi biologis pasien, tetapi juga menghargai martabat dan kehidupan manusia.

Penutup

Berdasarkan pembahasan tersebut, penciptaan manusia dalam Al-Qur’an dan hadis digambarkan melalui tahapan yang menunjukkan keteraturan proses kehidupan. Embriologi modern juga menjelaskan perkembangan manusia melalui berbagai tahapan, mulai dari fertilisasi, pembelahan sel, implantasi, gastrulasi, organogenesis, hingga pertumbuhan fetal. Kedua perspektif tersebut dapat dipelajari secara berdampingan, tetapi tidak perlu dipaksakan sebagai istilah yang sama. Al-Qur’an dan hadis memberikan landasan spiritual serta nilai etis, sedangkan embriologi memberikan penjelasan biologis berdasarkan penelitian dan bukti ilmiah.

Bagi mahasiswa keperawatan, pemahaman tersebut dapat membantu meningkatkan pengetahuan mengenai perkembangan prenatal sekaligus membentuk sikap profesional. Pengetahuan embriologi dapat digunakan dalam memberikan pendidikan kesehatan dan mendukung asuhan keperawatan yang berpusat pada pasien. Di sisi lain, nilai keislaman dapat menjadi dasar untuk menghargai martabat dan kehidupan manusia.

Sebagai rekomendasi, mahasiswa keperawatan perlu membiasakan diri menggunakan sumber ilmiah yang kredibel dan memeriksa kembali informasi sebelum menghubungkannya dengan ayat Al-Qur’an atau hadis. Pembelajaran juga dapat menggunakan studi kasus keperawatan maternitas agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menerapkannya dalam komunikasi dan pendidikan kesehatan kepada pasien.        

Daftar Pustaka              

World Health Organization. (2016). WHO recommendations on antenatal care for a positive pregnancy experience. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789241549912

Sharath, K., Rajan, R., Devi, G. D., & Johnson, W. M. S. (2022). Exploring the learner’s perception about embryology—Before and after introduction of competency based medical curriculum (CBME). International Journal of Anatomy and Research, 10(1), 8244–8249. https://doi.org/10.16965/ijar.2021.195

Oliver, R., & Basit, H. (2023). Embryology, fertilization. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK542186/

Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Sahih Muslim (Hadith 2643a).

Haryanto, S., Jumini, S., Abdul Rahman, N. F., Purnamasari, I., & Kamal, M. A. M. (2026). Analysis of human origins and development in modern science as a scientific explanation for strengthening Al-Qur’an scientific literacy. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 15(1). https://doi.org/10.15294/jpii.v15i1.30038g

Ernstmeyer, K., & Christman, E. (Eds.). (2025). Nursing health promotion. Open RN/WisTech Open. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK615319/

Crawford, D. (2020). Biological basis of child health 2: Introduction to fertilisation, prenatal development and birth. Nursing Children and Young People, 32(3), 32–41. https://doi.org/10.7748/ncyp.2020.e1245

Aziz, M. (2025). Studi komparatif proses penciptaan manusia dalam kitab suci Al-Qur’an dan Alkitab. Religi: Jurnal Studi Agama-Agama, 21(1), 35–54. https://doi.org/10.14421/rejusta.v21i01.5362

Al-Bukhari, M. I. (n.d.). Sahih al-Bukhari (Hadith 3208).

Kontributor: Tasya Anjelita

Editor: Jumangin, M.Pd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *