Hakikat Ruh dalam Perspektif Islam dan Implikasinya Terhadap Pelayanan Pasien Terminal
1. Pendahuluan
Manusia dalam pandangan Islam bukanlah semata-mata makhluk biologis yang tersusun dari unsur jasmani, melainkan kesatuan utuh antara jasad dan ruh yang keberadaannya bersumber langsung dari kehendak Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan kedudukan ruh sebagai bagian dari ilmu Allah yang sangat terbatas dapat dijangkau oleh akal manusia, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Isra ayat 85 yang menyatakan bahwa manusia hanya diberi sedikit pengetahuan mengenai perkara ruh. Keterbatasan ini tidak menjadikan pembahasan tentang ruh berhenti, sebaliknya justru mendorong para ulama, filsuf, dan ahli tasawuf sepanjang sejarah pemikiran Islam untuk terus mengkaji hakikat, kedudukan, dan peran ruh dalam kehidupan manusia, termasuk pada saat manusia menghadapi fase akhir kehidupannya.
Isu ini menjadi sangat relevan ketika dikaitkan dengan pelayanan kesehatan terhadap pasien terminal, yaitu pasien yang menderita penyakit tanpa harapan sembuh dan berada pada fase menjelang kematian. Pada kondisi tersebut, pendekatan medis semata tidak lagi memadai untuk memenuhi kebutuhan pasien secara utuh, sebab dimensi spiritual justru menjadi semakin dominan seiring mendekatnya proses berpisahnya ruh dari jasad. Tenaga kesehatan, termasuk bidan yang dalam praktiknya juga berhadapan dengan situasi kegawatan dan akhir kehidupan, dituntut memiliki pemahaman yang memadai tentang hakikat ruh menurut ajaran Islam agar mampu memberikan asuhan yang holistik, manusiawi, dan sesuai dengan nilai-nilai keagamaan pasien. Esai ini bertujuan menguraikan hakikat ruh dalam perspektif Islam serta menganalisis implikasinya terhadap pelayanan kesehatan bagi pasien terminal.
2. Pembahasan
Konsep ruh dalam Islam merupakan salah satu tema yang paling banyak diperdebatkan sekaligus paling sulit dipastikan hakikatnya secara pasti. Mayoritas ulama Ahlusunah wal Jamaah bersepakat bahwa hakikat ruh termasuk perkara yang hanya diketahui oleh Allah semata, sebagaimana dikuatkan oleh pandangan Imam al-Junaid al-Baghdadi bahwa ruh adalah sesuatu yang pengetahuannya dimonopoli oleh Allah dan tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh makhluk-Nya. Meski demikian, para pemikir Muslim tetap berupaya merumuskan kedudukan ruh dari sudut pandang teologis maupun sufistik. Ibnu Qayim al-Jauziyah, misalnya, menegaskan bahwa ruh adalah makhluk ciptaan Allah yang keberadaannya muncul setelah eksistensi jasad, bukan sesuatu yang bersifat qadim atau terdahulu. Ruh, menurutnya, adalah hakikat sejati kehidupan manusia sehingga jasad tanpa kehadiran ruh hanyalah benda mati belaka (Hernawan, 2017). Pandangan ini menegaskan bahwa kehidupan manusia yang sesungguhnya terletak pada keberadaan ruh, bukan pada fungsi biologis jasad semata.
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Artinya: “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
(Q.S. As-Sajdah/32: 9)
Ayat tersebut menegaskan bahwa peniupan ruh ke dalam jasad manusia merupakan tindakan penyempurnaan penciptaan yang secara langsung disandarkan kepada Allah, sehingga kedudukan ruh menempati posisi yang sangat mulia dan menjadi penanda hidupnya seorang manusia secara utuh. Pemahaman ini semakin memperkuat pandangan bahwa jasad manusia, termasuk pasien yang sedang menghadapi sakit berat, tetap layak diperlakukan secara terhormat karena keberadaan ruh yang bersumber dari Allah di dalamnya.
Dalam kajian yang lebih kontemporer, ruh sering dibedakan namun sekaligus dikaitkan erat dengan konsep an-nafs atau jiwa. Kajian mengenai an-nafs dan ar-ruh menunjukkan bahwa keduanya memiliki peran saling melengkapi dalam membentuk hakikat manusia secara utuh, di mana ruh berfungsi sebagai unsur spiritual yang mengarahkan manusia untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan an-nafs lebih berkaitan dengan dorongan psikologis dan moral seseorang dalam menjalani kehidupan (Panjaitan et al., 2024). Pendekatan holistik semacam ini penting untuk dipahami oleh tenaga kesehatan karena menegaskan bahwa manusia tidak dapat direduksi hanya sebagai objek biomedis, melainkan makhluk yang memiliki dimensi spiritual yang aktif memengaruhi kondisi psikologis dan bahkan fisiknya, termasuk ketika menghadapi penyakit berat atau fase terminal. Pemahaman kosmologis Islam juga menegaskan bahwa manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, sehingga proses kematian sesungguhnya bukanlah akhir dari eksistensi melainkan tahap perpindahan ruh menuju kehidupan yang lebih hakiki (Almirzanah, 2020).
Ketika seorang pasien memasuki fase terminal, proses yang tengah berlangsung dalam perspektif Islam adalah persiapan berpisahnya ruh dari jasad melalui apa yang dikenal sebagai sakratul maut. Fase ini dipandang sebagai momen yang sangat sensitif secara spiritual, sebab keadaan hati dan ucapan terakhir seseorang diyakini memiliki pengaruh besar terhadap kondisi ruhnya setelah kematian. Oleh karena itu, dalam tradisi Islam terdapat anjuran untuk mendampingi pasien menjelang ajal dengan bimbingan talqin kalimat syahadat, memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an, mengarahkan wajah atau posisi pasien ke arah kiblat, serta menjaga suasana yang tenang dan penuh doa di sekitar pasien. Praktik-praktik semacam ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan bentuk pemenuhan kebutuhan spiritual pasien yang secara langsung berkontribusi terhadap ketenangan batin, penerimaan terhadap kondisi sakit, dan berkurangnya distres psikologis pada fase akhir kehidupan.
Signifikansi pendampingan spiritual berbasis nilai Islam terhadap pasien dalam kondisi kritis dan terminal juga dikuatkan oleh temuan tinjauan sistematis yang menunjukkan bahwa praktik spiritual care Islami, seperti mendengarkan bacaan Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa, memberikan dampak positif terhadap penurunan kecemasan, peningkatan rasa tenang, serta perbaikan kualitas komunikasi antara pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan pada pasien dengan kondisi kritis (Rababa & Al-Sabbah, 2023). Temuan ini memperkuat argumen bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual bukan aspek pelengkap dalam pelayanan kesehatan, melainkan komponen inti dari asuhan yang berpusat pada pasien, khususnya bagi pasien Muslim yang meyakini bahwa kondisi ruhnya pada saat-saat akhir kehidupan sangat menentukan keadaannya di alam berikutnya.
Implikasi dari pemahaman hakikat ruh tersebut terhadap pelayanan pasien terminal, termasuk dalam konteks pelayanan kebidanan dan kesehatan secara umum, sangatlah luas. Tenaga kesehatan dituntut untuk mengembangkan kompetensi asuhan spiritual di samping kompetensi klinis, sehingga mampu mengenali kebutuhan spiritual pasien dan memfasilitasinya secara tepat, misalnya dengan memberikan ruang bagi keluarga untuk melakukan pendampingan keagamaan, tidak menghalangi praktik ibadah pasien selama memungkinkan secara medis, serta bersikap sensitif terhadap simbol-simbol keagamaan yang bermakna bagi pasien. Komunikasi terapeutik yang dilakukan tenaga kesehatan perlu memperhatikan dimensi spiritual, misalnya dengan memberikan penguatan makna terhadap penderitaan yang dialami pasien sebagai bagian dari ujian dan penghapus dosa dalam pandangan Islam, sehingga pasien dapat lebih menerima kondisinya dengan tenang. Penghormatan terhadap martabat ruh pasien menuntut tenaga kesehatan untuk memperlakukan pasien terminal bukan sekadar sebagai objek tindakan medis, melainkan sebagai manusia utuh yang tetap memiliki hak spiritual hingga akhir hayatnya, termasuk hak untuk didampingi secara religius pada detik-detik terakhir kehidupannya.
Integrasi pemahaman tentang hakikat ruh ini idealnya tidak berhenti pada tataran kesadaran individu tenaga kesehatan, melainkan perlu diarahkan menjadi bagian dari kebijakan institusional dan kurikulum pendidikan kesehatan, termasuk pendidikan kebidanan, sehingga asuhan spiritual berbasis nilai Islam dapat dilaksanakan secara sistematis dan tidak bergantung pada inisiatif personal semata. Tanpa penguatan tersebut, potensi kesenjangan antara kebutuhan spiritual pasien dan kesiapan tenaga kesehatan dalam memenuhinya akan tetap menjadi tantangan, sebagaimana ditemukan dalam berbagai kajian bahwa banyak tenaga kesehatan merasa belum memiliki kompetensi dan kepercayaan diri yang memadai untuk memberikan asuhan spiritual, meskipun menyadari pentingnya aspek tersebut bagi kesejahteraan pasien secara menyeluruh.
3. Penutup
Hakikat ruh dalam perspektif Islam menegaskan bahwa manusia adalah kesatuan jasad dan ruh yang keberadaan ruhnya bersumber dari kehendak Allah dan tidak dapat sepenuhnya dijangkau oleh akal manusia. Meskipun demikian, pemahaman terhadap kedudukan dan peran ruh memberikan landasan penting bagi cara pandang tenaga kesehatan terhadap pasien, khususnya pasien terminal yang tengah berada pada fase menjelang berpisahnya ruh dari jasad. Pemahaman ini melahirkan implikasi nyata bagi pelayanan kesehatan, yaitu pentingnya asuhan holistik yang tidak hanya berorientasi pada aspek fisik, tetapi juga memenuhi kebutuhan spiritual pasien melalui pendampingan keagamaan, komunikasi terapeutik yang bermakna, serta penghormatan terhadap martabat pasien hingga akhir hayatnya. Dengan demikian, penguatan kompetensi spiritual care berbasis nilai-nilai Islam perlu terus dikembangkan dalam praktik dan pendidikan tenaga kesehatan agar pelayanan terhadap pasien terminal dapat berlangsung secara lebih manusiawi dan bermakna, baik bagi pasien maupun keluarga yang mendampinginya.
4. Daftar Pustaka
Almirzanah, S. (2020). God, humanity and nature: Cosmology in Islamic spirituality. HTS Teologiese Studies/Theological Studies, 76(1).
Hernawan, W. (2017). Posisi ruh dalam realitas menurut Ibnu Qayim al-Jauziyah. Syifa Al-Qulub, 1(2), 182–194. https://doi.org/10.15575/saq.v1i2.1433
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Panjaitan, S. A., Pulungan, N. A., Lubis, R., Khairani, L., Nasution, P. I., & Harahap, P. (2024). Konsep an-nafs dan ar-ruh dalam Islam. Fatih: Journal of Contemporary Research, 1(2), 143–157.
Rababa, M., & Al-Sabbah, S. (2023). The use of Islamic spiritual care practices among critically ill adult patients: A systematic review. Heliyon, 9(3), e13862. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e13862
Kontributor: Aisyah Azizah
Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

