Pendampingan Spiritual Pasien Infertil: Kajian Kisah Nabi Zakaria
I. Pendahuluan
Infertilitas merupakan kondisi yang tidak hanya berkaitan dengan masalah reproduksi, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap kondisi psikologis, sosial, hubungan pasangan, serta spiritual seseorang. Pasangan yang mengalami infertilitas dapat menghadapi kecemasan, stres, kesedihan, tekanan dari keluarga maupun lingkungan, dan kekhawatiran mengenai masa depan keluarga. Kajian sistematis menunjukkan bahwa perempuan dengan infertilitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, stres, dan tekanan psikologis dibandingkan perempuan tanpa infertilitas (Bagade et al., 2023). Infertilitas juga dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis, hubungan pasangan, kehidupan seksual, dan kualitas hidup (Luk & Loke, 2015). Oleh karena itu, pelayanan infertilitas seharusnya tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga memperhatikan kebutuhan emosional dan spiritual pasien.
Dalam perspektif Islam, menghadapi ujian infertilitas dapat dikaitkan dengan kisah Nabi Zakariya a.s. yang telah lanjut usia, sementara istrinya mengalami kemandulan. Meskipun berada dalam keadaan yang secara manusiawi tampak sulit, Nabi Zakariya tetap berdoa, berharap kepada Allah, dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Kisah tersebut memberikan nilai spiritual berupa kesabaran, doa, tawakal, husnuzan kepada Allah, dan tetap berikhtiar. Nilai-nilai tersebut relevan untuk diterapkan dalam pendampingan pasien infertil, khususnya dalam pelayanan kebidanan. Esai ini bertujuan menganalisis kisah Nabi Zakariya sebagai landasan pendampingan spiritual pasien infertil serta menghubungkannya dengan hasil penelitian ilmiah dan praktik pelayanan kebidanan.
II. Pembahasan
Infertilitas merupakan kondisi yang dapat memberikan dampak tidak hanya pada kesehatan reproduksi, tetapi juga pada kondisi psikologis, hubungan pasangan, kehidupan sosial, dan spiritual. Pasangan yang mengalami infertilitas dapat merasakan kecemasan, stres, kesedihan, hingga tekanan dari keluarga dan lingkungan. Luk dan Loke (2015) menjelaskan bahwa infertilitas dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis, hubungan pernikahan, hubungan seksual, dan kualitas hidup pasangan. Oleh karena itu, pelayanan infertilitas perlu dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual pasien.
Dalam perspektif Islam, salah satu kisah yang relevan dengan kondisi infertilitas adalah kisah Nabi Zakariya a.s. yang terdapat dalam Surah Maryam ayat 2–6. Allah Swt. Berfirman:
ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُۥ زَكَرِيَّآ ٢ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّا ٣ قَالَ رَبِّ إِنِّى وَهَنَ ٱلْعَظْمُ مِنِّى وَٱشْتَعَلَ ٱلرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا ٤ وَإِنِّى خِفْتُ ٱلْمَوَٰلِىَ مِن وَرَآءِى وَكَانَتِ ٱمْرَأَتِى عَاقِرًا فَهَبْ لِى مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا ٥
Artinya: “Ini adalah penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakariya. Ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku. Sungguh, aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedangkan istriku seorang yang mandul. Maka, anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.’” (Qur’an, 19:2–5).
Kisah tersebut menunjukkan bahwa Nabi Zakariya tetap berdoa dan berharap kepada Allah meskipun menghadapi usia lanjut dan kondisi istrinya yang mandul. Sikap tersebut memberikan teladan mengenai kesabaran, doa, husnuzan kepada Allah, dan tawakal. Nabi Zakariya tidak menjadikan keadaan yang sulit sebagai alasan untuk berhenti berharap. Nilai tersebut dapat menjadi sumber penguatan bagi pasien infertil yang sedang menghadapi proses panjang dan penuh ketidakpastian.
Allah Swt. Juga berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ
Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” Ayat ini memberikan penguatan bahwa seorang Muslim dapat mendekatkan diri kepada Allah melalui doa ketika menghadapi kesulitan. Selain itu, Rasulullah saw. Bersabda:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي
Artinya: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.” (Muslim, n.d., Hadith 2675). Hadis tersebut mengajarkan pentingnya berprasangka baik kepada Allah dan mengingat-Nya dalam menghadapi berbagai keadaan.
Nilai spiritual tersebut didukung oleh penelitian mengenai peran agama dan spiritualitas pada pasien infertil. Latifnejad Roudsari et al. (2014) menemukan bahwa agama dan spiritualitas dapat menjadi sumber koping bagi perempuan yang mengalami infertilitas. Spiritualitas dapat membantu seseorang mengelola emosi dan menghadapi tekanan akibat infertilitas. Penelitian Bernet et al. (2025) juga menunjukkan bahwa individu yang menjalani perawatan fertilitas memiliki kebutuhan spiritual, termasuk kebutuhan akan kedamaian, makna, dan dukungan dalam menghadapi kondisi yang dialami. Selain itu, Naab et al. (2025) menjelaskan bahwa spiritualitas dapat membantu individu atau pasangan menghadapi tekanan psikososial akibat infertilitas.
Berdasarkan hal tersebut, pendampingan spiritual dapat menjadi bagian dari pelayanan kebidanan yang holistik. Bidan dapat memberikan dukungan melalui komunikasi terapeutik, mendengarkan keluhan pasien dengan empati, dan memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan perasaan maupun kebutuhan spiritualnya. Jika pasien menghendaki pendekatan Islami, bidan dapat memberikan dukungan berupa penguatan tentang doa, kesabaran, dan tawakal tanpa memberikan janji bahwa kehamilan pasti terjadi. Bidan juga harus menghormati keyakinan dan pilihan pasien serta tidak memaksakan praktik keagamaan.
Pendampingan spiritual juga tidak berarti menggantikan pemeriksaan dan pengobatan medis. Pasien tetap perlu mendapatkan pemeriksaan untuk mengetahui faktor penyebab infertilitas dan memperoleh penanganan sesuai kebutuhan. Spiritualitas dapat menjadi pelengkap yang membantu pasien menghadapi proses tersebut dengan lebih tenang dan memiliki harapan. Apabila pasien mengalami tekanan psikologis yang berat, bidan dapat melakukan kolaborasi atau rujukan kepada psikolog, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, atau tenaga kesehatan lain yang sesuai. Dengan demikian, bidan dapat berperan dalam memberikan pelayanan yang memperhatikan pasien secara utuh, baik dari aspek fisik maupun psikologis, sosial, dan spiritual.
III. Penutup
Infertilitas merupakan permasalahan yang dapat memberikan dampak pada kesehatan fisik, psikologis, sosial, hubungan pasangan, dan spiritual. Kisah Nabi Zakariya a.s. dalam Al-Qur’an memberikan teladan bahwa menghadapi keterbatasan dan penantian membutuhkan doa, kesabaran, husnuzan kepada Allah, serta tawakal tanpa meninggalkan ikhtiar. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam pendampingan pasien infertil melalui pelayanan kebidanan yang holistik dan berpusat pada pasien. Bidan memiliki peran penting dalam memberikan komunikasi yang empatik, menghargai keyakinan pasien, mendukung kebutuhan spiritual sesuai keinginan pasien, serta melakukan kolaborasi atau rujukan apabila diperlukan. Pendampingan spiritual tidak menggantikan pelayanan medis, tetapi dapat melengkapinya dengan memberikan ketenangan, harapan, dan kekuatan kepada pasien selama menghadapi proses infertilitas. Dengan demikian, kisah Nabi Zakariya dapat menjadi salah satu landasan dalam memberikan pelayanan kebidanan yang memperhatikan pasien secara menyeluruh, baik dari aspek fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual.
Daftar Pustaka
Bernet, M., et al. (2025). Quality of life, spiritual needs, and well-being of people affected by infertility and its treatment. Journal of Assisted Reproduction and Genetics, 42(6), 1853–1862. https://doi.org/10.1007/s10815-025-03463-z
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya edisi penyempurnaan 2019. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Latifnejad Roudsari, R., Allan, H. T., & Smith, P. A. (2014). Iranian and English women’s use of religion and spirituality as resources for coping with infertility. Human Fertility, 17(2), 114–123. https://doi.org/10.3109/14647273.2014.909610
Luk, B. H.-K., & Loke, A. Y. (2015). The impact of infertility on the psychological well-being, marital relationships, sexual relationships, and quality of life of couples. Journal of Sex & Marital Therapy, 41(6), 610–625. https://doi.org/10.1080/0092623X.2014.958789
Naab, F., et al. (2025). Spirituality as a coping strategy for infertility: A scoping review. Journal of Religion and Health, 64(4), 2813–2831. https://doi.org/10.1007/s10943-025-02302-w
Kontributor: Reysha Azzahra Ibrahim
Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

