Kisah Musa dan Khidir Sebagai Teladan Adab Menimba Ilmu Bagi Mahasiswa Gizi
I. Pendahuluan
Ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Islam mendorong setiap umat manusia untuk terus belajar dan mengembangkan pengetahuan. Namun, proses memperoleh ilmu tidak dapat dipisahkan dari adab. Seseorang tidak cukup hanya memiliki pengetahuan luas, tetapi juga harus memiliki sikap yang baik dalam belajar, menghormati guru, terbuka terhadap nasihat, serta menyadari bahwa pengetahuan manusia memiliki keterbatasan. Salah satu kisah dalam Al-Qur’an yang menggambarkan pentingnya hal tersebut adalah perjalanan Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s dalam mencari ilmu, kerendahan hati, kesabaran, etika antara guru dan murid, serta ketersediaan untuk menerima penjelasan dan koreksi.
Kisah Musa dan Khidir menjadi semakin menarik jika dikaitkan dengan mahasiswa gizi. Pendidikan gizi tidak hanya berisi kegiatan menghafal konsep tentang zat gizi dan makanan, tetapi juga melatih mahasiswa untuk melakukan penilaian status gizi, memahami kondisi kesehatan, menyusun intervensi, berkomunikasi, dan nantinya memberikan pelayanan kepada manusia. Kesalahan dalam memahami atau menyampaikan informasi gizi dapat berdampak pada keputusan kesehatan seseorang. Oleh karena itu, mahasiswa gizi membutuhkan kemampuan akademik sekaligus karakter yang baik. Esai ini bertujuan menganalisis kisah Musa dan Khidir sebagai teladan adab menimba ilmu serta menjelaskan penerapannya dalam kehidupan akademik dan calon praktik profesi mahasiswa gizi.
II. Pembahasan
Kisah Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s. menunjukkan bahwa dalam menuntut ilmu diperlukan kesungguhan, niat, dan kemauan untuk terus belajar. Nabi Musa a.s. bersedia melakukan perjalanan untuk bertemu dengan seorang hamba Allah yang memiliki ilmu yang belum beliau ketahui. Sikap tersebut mengajarkan bahwa memperoleh ilmu tidak cukup hanya dengan keinginan, tetapi juga membutuhkan usaha, ketekunan dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Ketika bertemu dengan Nabi Khidir a.s., Nabi Musa a.s. juga bersikap rendah hati dan tidak merasa dirinya paling mengetahui. Beliau bahkan meminta izin untuk mengikuti dan belajar kepada Khidir dengan tujuan mendapatkan ilmu yang dapat memberi manfaat. Dari kisah ini, dapat dipahami bahwa seorang mahasiswa juga perlu memiliki sikap rendah hati, tekun, dan bersedia belajar dari orang lain agar dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.
Sikap Nabi Musa tersebut terlihat jelas dalam QS. Al-Kahfi ayat 66:
قَالَ لَهٗ مُوْسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ
“Dia (Musa) berkata, ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk?’” (QS. Al-Kahfi [18]: 66).
Ayat ini menggambarkan bagaimana seorang pencari ilmu seharusnya bersikap santun kepada orang yang menjadi sumber pembelajaran. Nabi Musa meminta izin dan menyampaikan maksud belajarnya dengan cara yang sopan. Menurut Al-Zamzami (2018), kisah Musa dan Khidir mengandung sejumlah nilai pendidikan, salah satunya adalah pentingnya kesopanan dan penghormatan seorang murid kepada gurunya.
Kisah tersebut juga memperlihatkan beberapa sikap yang penting dalam proses menuntut ilmu, seperti tekun belajar, rendah hati, sabar, mampu menjaga sikap ketika bertanya, dan mau mengakui kesalahan. Sikap-sikap tersebut masih dapat ditemukan penerapannya dalam kehidupan mahasiswa sekarang. Kemudahan mendapatkan informasi dari internet dan berbagai media membuat mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan dengan cepat. Namun, banyak informasi tidak selalu berarti seseorang telah memahami suatu persoalan secara menyeluruh. Ilmu yang didapatkan di bangku kuliah masih dapat berkembang dan bertambah melalui pengalaman serta proses belajar lainnya. Karena itu, mahasiswa perlu menyadari keterbatasan dirinya dan tidak ragu untuk mempelajari hal-hal yang belum dipahami. Sikap seperti ini merupakan salah satu bentuk kerendahan hati dalam belajar.
Bagi mahasiswa gizi, sikap rendah hati dalam menuntut ilmu memiliki arti yang penting karena perkembangan ilmu gizi berlangsung secara terus-menerus. Pengetahuan yang diperoleh melalui perkuliahan perlu dilengkapi dengan informasi dari penelitian terbaru dan pedoman ilmiah. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan dari dosen, pembimbing praktik, ahli gizi, maupun tenaga kesehatan dari bidang lainnya. Pengalaman yang diperoleh secara langsung di lapangan juga dapat memberikan pemahaman yang berbeda dari apa yang hanya dipelajari melalui buku. Dengan demikian, rendah hati bukan berarti meragukan kemampuan diri, tetapi menyadari bahwa masih terdapat banyak hal yang perlu dipelajari dan dikembangkan.
Selain kerendahan hati, perjalanan Nabi Musa dalam mencari Khidir juga mencerminkan ketekunan dalam memperoleh ilmu. Seorang mahasiswa gizi perlu memiliki sikap yang sama karena bidang yang dipelajari mencakup berbagai materi yang saling berhubungan. Pemahaman mengenai kebutuhan zat gizi, misalnya, berkaitan dengan metabolisme, fisiologi, kondisi penyakit, pola makan, serta keadaan setiap individu. Jika mahasiswa mudah menyerah ketika menemukan materi yang sulit, pemahaman yang diperoleh dapat menjadi kurang maksimal. Karena itu, semangat Nabi Musa dalam mencari ilmu dapat diterapkan melalui kebiasaan membaca, berdiskusi, berlatih, dan melakukan evaluasi terhadap pemahaman secara rutin.
Kesabaran juga menjadi salah satu pelajaran utama yang dapat diperoleh dari kisah Musa dan Khidir. Sebelum Nabi Musa mengikuti Khidir, beliau telah diberi penjelasan bahwa dirinya mungkin akan mengalami kesulitan untuk bersabar terhadap hal-hal yang belum diketahui alasannya. Khidir kemudian memberikan syarat agar Nabi Musa tidak terburu-buru mempertanyakan sesuatu sebelum penjelasan diberikan.
Hal tersebut dijelaskan dalam QS. Al-Kahfi ayat 70:
قَالَ فَاِنِ اتَّبَعْتَنِيْ فَلَا تَسْـَٔلْنِيْ عَنْ شَيْءٍ حَتّٰىٓ اُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا
“Dia berkata, ‘Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.’” (QS. Al-Kahfi [18]: 70).
Ayat ini tidak dapat dimaknai bahwa mahasiswa harus pasif dan tidak diperbolehkan bertanya kepada dosen. Dalam pembelajaran, bertanya justru merupakan hal yang penting. Pesan yang dapat diambil adalah perlunya kesabaran, pengendalian diri, dan kemampuan memahami bahwa suatu persoalan terkadang membutuhkan waktu sebelum dapat dipahami secara lengkap.
Dalam pendidikan gizi, mahasiswa tetap dituntut untuk aktif bertanya ketika menghadapi materi yang belum dipahami. Misalnya, saat mempelajari cara menghitung kebutuhan energi atau melakukan asesmen status gizi, mahasiswa dapat meminta penjelasan lebih lanjut kepada dosen maupun pembimbing. Namun, pertanyaan tersebut hendaknya disampaikan dengan sopan dan berorientasi pada pencarian pemahaman. Selain itu, mahasiswa perlu membiasakan diri mendengarkan penjelasan dengan baik sebelum memberikan tanggapan. Sikap ini dapat menjadi bekal yang bermanfaat ketika nantinya berhadapan dengan pasien maupun bekerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya.
Kisah Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s. mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam memahami suatu hal. Nabi Musa a.s. sempat bingung dengan beberapa tindakan Khidir karena belum mengetahui alasan di baliknya, tetapi setelah mendapat penjelasan, beliau dapat memahaminya. Dari kisah tersebut, kita belajar untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, mau menerima kritik, menyadari kekurangan diri, bertanya dengan baik, dan terbuka terhadap pendapat orang lain. Dalam bidang gizi, sikap ini sangat penting karena mahasiswa tidak boleh langsung mempercayai informasi tentang diet, suplemen, makanan, atau kesehatan hanya karena populer di media sosial. Informasi tersebut perlu diperiksa melalui jurnal ilmiah, sumber terpercaya, dan pedoman yang sesuai. Dengan menyadari keterbatasan pengetahuan, mahasiswa dapat menjadi lebih kritis, rendah hati, dan terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Selain itu, keberanian mengakui kesalahan juga merupakan bagian penting dalam proses belajar. Dalam pelajaran bersama Nabi Khidir a.s., Nabi Musa a.s. mengalami beberapa keadaan ketika beliau tidak dapat menahan diri dan mempertanyakan tindakan Khidir sebelum waktunya. Hal tersebut dapat melakukan kesalahan meskipun memiliki pengetahuan yang luas. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menyikapi kesalahan tersebut. Dalam pendidikan gizi, mahasiswa juga dapat mengalami kesalahan, seperti kesalahan menghitung kebutuhan energi, membaca hasil antropometri, memahami informasi, maupun berkomunikasi dengan orang lain. Kesalahan sebaiknya tidak ditutupi, tetapi dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki kemampuan.
Keutamaan dalam mencari ilmu juga dijelaskan oleh Rasulullah saw. melalui hadis riwayat Muslim:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa kegiatan mencari ilmu mempunyai kedudukan yang mulia. Bagi mahasiswa gizi, belajar seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban untuk memperoleh nilai atau menyelesaikan pendidikan, tetapi juga sebagai proses mempersiapkan diri agar dapat memberikan manfaat kepada orang lain.
Ilmu yang dipelajari mahasiswa gizi berkaitan erat dengan kesehatan manusia, sehingga harus digunakan dengan tepat dan penuh tanggung jawab. Pengetahuan tentang zat gizi, kebutuhan energi, pola makan, dan intervensi gizi bukan hanya untuk mendapatkan gelar, tetapi juga menjadi bekal untuk membantu meningkatkan kesehatan individu dan masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu membiasakan diri belajar dengan sungguh-sungguh, bertanggung jawab, dan memiliki etika sejak masih berada di bangku kuliah.
Nilai dalam kisah Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s. juga dapat diterapkan dalam hubungan antara ahli gizi dan pasien. Sikap rendah hati membuat ahli gizi tidak mudah menilai seseorang hanya dari berat badan atau pola makannya, karena setiap pasien memiliki kondisi dan latar belakang yang berbeda. Kesabaran juga diperlukan ketika pasien mengalami kesulitan dalam mengikuti anjuran gizi. Ahli gizi perlu mendengarkan kondisi pasien dan menjelaskan informasi dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami. Dengan begitu, pelayanan gizi tidak hanya berfokus pada ilmu, tetapi juga pada kepedulian dan penghargaan terhadap pasien.
Selain dengan pasien, nilai tersebut juga penting dalam bekerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya. Dalam pelayanan kesehatan, ahli gizi akan berinteraksi dengan dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya. Mahasiswa gizi perlu belajar menghargai pendapat orang lain, terbuka terhadap saran, serta mampu menyampaikan pendapat dengan sopan berdasarkan ilmu dan bukti yang ada. Dari sini dapat dipahami bahwa proses belajar tidak hanya berasal dari dosen dan buku, tetapi juga dari pengalaman serta interaksi dengan orang lain..
Dengan demikian, kisah Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s. tidak hanya menceritakan tentang hubungan guru dan murid, tetapi juga mengajarkan sikap yang penting dalam proses belajar. Semangat mencari ilmu harus disertai dengan rendah hati, keberanian bertanya perlu dilakukan dengan sopan, dan sikap kritis harus tetap terbuka terhadap kritik atau koreksi. Ilmu yang didapat juga sebaiknya tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi dapat digunakan untuk membantu orang lain. Bagi mahasiswa gizi, nilai-nilai tersebut penting untuk membentuk diri agar tidak hanya memiliki kemampuan dalam bidang akademik, tetapi juga mempunyai etika, rasa tanggung jawab, dan kesiapan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang baik.
III. Penutup
Kesimpulan
Kisah Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s. memberikan gambaran bahwa proses menuntut ilmu membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan sikap rendah hati. Nabi Musa a.s. menunjukkan keinginan yang kuat untuk mendapatkan ilmu, meskipun harus melakukan perjalanan untuk menemui Khidir. Ketika belajar, beliau juga menunjukkan sikap menghargai orang yang memiliki ilmu dan bersedia mengikuti proses yang telah disepakati. Dari kisah tersebut dapat dipahami bahwa menjadi seorang pencari ilmu tidak cukup hanya dengan memiliki keinginan untuk belajar, tetapi juga perlu memiliki sikap yang baik selama menjalani proses tersebut.
Nilai-nilai yang terdapat dalam kisah tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan mahasiswa, khususnya mahasiswa gizi. Kegiatan perkuliahan, praktikum, penelitian, dan pembelajaran di lapangan membutuhkan ketekunan serta kemauan untuk terus memperbaiki diri. Mahasiswa juga perlu menyadari bahwa ilmu yang dimiliki masih terbatas dan akan terus berkembang. Oleh karena itu, sikap terbuka terhadap pengetahuan baru, mau menerima masukan, dan tidak malu mengakui kesalahan merupakan bagian penting dalam proses pendidikan.
Hadis tentang keutamaan mencari ilmu juga menunjukkan bahwa belajar memiliki kedudukan yang mulia. Bagi mahasiswa gizi, proses belajar tidak seharusnya hanya bertujuan mendapatkan nilai yang baik atau menyelesaikan pendidikan. Ilmu yang dipelajari nantinya akan digunakan dalam bidang yang berhubungan dengan kesehatan manusia sehingga membutuhkan tanggung jawab dan ketelitian. Dengan menggabungkan kemampuan akademik dengan adab yang baik, mahasiswa dapat mempersiapkan diri menjadi calon tenaga kesehatan yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Saran
Mahasiswa gizi diharapkan dapat menerapkan sikap yang dicontohkan Nabi Musa a.s. dalam kehidupan akademik. Kesungguhan dalam belajar dapat dilakukan dengan mengikuti perkuliahan dengan baik, rajin membaca, berdiskusi, dan tidak mudah menyerah ketika menemukan materi yang sulit. Mahasiswa juga perlu membiasakan diri untuk bertanya apabila terdapat sesuatu yang belum dipahami, tetapi tetap memperhatikan cara penyampaian dan menghargai dosen maupun pembimbing.
Sikap rendah hati juga perlu terus dibangun. Mahasiswa sebaiknya tidak merasa bahwa pengetahuan yang dimilikinya sudah cukup, karena perkembangan ilmu gizi terus berlangsung. Masukan dari dosen, pembimbing, teman, maupun tenaga kesehatan lainnya dapat menjadi kesempatan untuk menambah wawasan. Ketika melakukan kesalahan dalam perkuliahan, praktikum, atau penelitian, mahasiswa sebaiknya berani mengakuinya dan menjadikannya sebagai bahan untuk memperbaiki diri.
Mahasiswa gizi juga perlu lebih berhati-hati dalam menerima informasi, terutama mengenai makanan, diet, suplemen, dan kesehatan yang banyak ditemukan di media sosial. Informasi yang terlihat meyakinkan belum tentu benar secara ilmiah. Karena itu, mahasiswa perlu membiasakan diri mencari sumber yang terpercaya dan memeriksa informasi berdasarkan bukti ilmiah sebelum menggunakannya.
Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, mahasiswa gizi diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan dalam bidang akademik, tetapi juga mempunyai sikap yang baik dalam berinteraksi dengan pasien, dosen, pembimbing, dan tenaga kesehatan lainnya. Ilmu yang diperoleh selama kuliah hendaknya menjadi bekal untuk terus belajar dan berkembang, sekaligus digunakan untuk memberikan pelayanan dan manfaat bagi kesehatan masyarakat.
Daftar Pustaka
Thahir, A. H., & Khoiruddin, A. M. (2020). Pesan moral di balik kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam QS. Al-Kahfi (Studi atas penafsiran al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb). QOF: Jurnal Studi Al-Qur’an dan Tafsir, 4(2), 229–244. https://doi.org/10.30762/qof.v4i2.2581
Fauziah, A., & Rizal, A. S. (2019). Implikasi edukatif kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam QS. Al-Kahfi/18:60–82 (Studi literatur terhadap 5 tafsir mu’tabarah). TARBAWY: Indonesian Journal of Islamic Education, 6(1), 33–43. https://doi.org/10.17509/t.v6i1.19467
Al-Zamzami, M. (2018). Etika menuntut ilmu dalam QS. Al-Kahfi ayat 60–82: Reinterpretasi kisah Nabi Musa dalam upaya menghadapi dekadensi moral pelajar. El-Tarbawi, 11(2), 219–230. https://doi.org/10.20885/tarbawi.vol11.iss2.art7
Bakah, W. R. (2020). Etika murid kepada guru dalam Surah Al-Kahfi ayat 65–70 dan implementasinya pada pendidikan modern. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr, 9(1), 93–108. https://doi.org/10.24090/jimrf.v9i1.4136
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/342/2020 tentang Standar Profesi Nutrisionis. Sekretariat Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia.
Khusniyah, A. (2024). Etika menuntut ilmu dalam Al-Qur’an perspektif Tafsir Al-Ibriz (Telaah QS. Al-Kahfi [18]: 60–82) [Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta]. Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Muslim ibn al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim. Kitāb al-Dzikr wa al-Du‘ā’ wa al-Tawbah wa al-Istighfār, hadis no. 2699.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2011). Al-Qur’an dan tafsirnya (Edisi yang disempurnakan) (Jilid 5, Juz 13–15). Jakarta: Widya Cahaya.
Kontributor: Keyla Sakira
Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

