Hikmah Ketakwaan sebagai Sumber Ketenangan Psikologis bagi Bidan dalam Menghadapi Kegawatdaruratan Maternal

I. Pendahuluan

Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi tantangan global, dengan WHO mencatat sekitar 287.000 kematian ibu per tahun akibat komplikasi kehamilan dan persalinan yang sebenarnya dapat dicegah. Di Indonesia, AKI berdasarkan SUPAS 2015 tercatat 189 per 100.000 kelahiran hidup, masih jauh dari target SDGs 2030 sebesar 70 per 100.000. Berbagai program teknis seperti Pelatihan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal (KKMN) telah digulirkan, namun dimensi psikologis bidan sebagai garda terdepan pelayanan sering terabaikan. Padahal, bidan tidak hanya dituntut mahir secara klinis, tetapi juga mampu menjaga ketenangan batin saat menghadapi situasi kritis seperti perdarahan postpartum, eklampsia, atau partus lama. Studi di Belanda mengungkap bahwa bidan komunitas mengalami ketakutan mendalam ketika komplikasi maternal di ambang pintu; kecemasan ini dapat menghambat pengambilan keputusan jika tidak dikelola (van den Heuvel & van der Heijde, 2023). Penelitian di Israel juga menemukan bahwa kematian neonatal dan maternal merupakan peristiwa paling traumatis bagi bidan, berkorelasi dengan meningkatnya burnout dan menurunnya kualitas hidup profesional (Segal & Ben-Ezra, 2024).

Kesenjangan penelitian (research gap) terlihat pada minimnya eksplorasi dimensi spiritualkhususnya ketakwaan dalam perspektif Islamsebagai sumber ketenangan psikologis bidan. Intervensi yang ada lebih banyak berorientasi pada pelatihan teknis dan manajemen stres berbasis mindfulness, sementara penguatan nilai spiritual masih jarang disentuh. Padahal, studi di Iran membuktikan kecerdasan spiritual sebagai prediktor terbesar stres kerja bidan, bahkan melampaui faktor beban kerja fisik (Zolfaghary et al., 2023). Mengabaikan dimensi spiritual berarti kehilangan peluang besar membangun ketahanan mental bidan secara holistik. Kajian ini menjadi mendesak karena penurunan AKI membutuhkan bidan yang tangguh secara psikologis dan kokoh secara spiritual. Esai ini bertujuan mengupas hikmah ketakwaan sebagai sumber ketenangan psikologis bagi bidan dalam menghadapi kegawatdaruratan maternal serta merumuskan implikasi praktisnya.

II. Pembahasan

Secara etimologis, takwa berasal dari kata waqa yang berarti menjaga. Dalam syariat, takwa dimaknai sebagai upaya hamba melindungi diri dari murka Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dalam psikologi Islam, takwa melampaui ritual; ia merupakan kesadaran batin (muraqabah) akan kehadiran Allah yang melahirkan ketenangan jiwa (sakinah). Zakiah Daradjat (2005) menegaskan bahwa kesehatan mental sejati terwujud dari keserasian fungsi kejiwaan dengan lingkungan yang bersumber pada keimanan dan ketakwaan. Bidan yang bertakwa memiliki modal dasar tetap tenang dan rasional di tengah tekanan, karena setiap tindakannya dilandasi niat ibadah dan keyakinan akan pertolongan Allah.

Al-Qur’an menegaskan kaitan takwa dengan ketenangan jiwa. QS. Al-Baqarah ayat 177 berbunyi:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Artinya: “Kebajikan bukanlah menghadapkan wajah ke timur dan barat, tetapi kebajikan ialah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi… dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan bertakwa.”

Quraish Shihab (2002) dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa kesabaran dalam ba’sa’ (kesulitan) dan dharra’ (penderitaan) adalah ciri utama orang bertakwa. Kesabaran ini bukan pasif, melainkan aktiftetap teguh, berpikir jernih, dan terus berikhtiar. Bidan yang menangani eklampsia, misalnya, dihadapkan pada dharra’ nyata. Ketakwaan memberinya kekuatan untuk tenang, tidak panik, dan berikhtiar maksimal karena yakin Allah bersama orang-orang sabar. QS. Al-Maidah ayat 2 juga memerintahkan tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa. Imam Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an menafsirkan ta’awun mencakup kerja sama dalam segala kebaikan, termasuk kolaborasi tim medis dalam penanganan kegawatdaruratan yang dilandasi keikhlasan dan tanggung jawab di hadapan Allah.

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang menjadi benteng psikologis, sebagaimana riwayat Imam Muslim:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Artinya: “Ya Allah, aku memohon petunjuk, ketakwaan, kesucian, dan kecukupan.”

Ketakwaan dalam doa ini adalah fondasi meraih al-‘afaf (kesucian) dan al-ghina (kecukupan hati). Bidan yang memohon ketakwaan setiap hari akan merasa cukup dengan pertolongan Allah, tidak mudah diliputi kecemasan berlebihan saat menghadapi risiko tinggi di ruang bersalin.

Penelitian kontemporer menguatkan hubungan spiritualitas dan ketenangan psikologis. Zolfaghary dkk. (2023) pada 143 bidan di Iran menemukan kecerdasan spiritual berkorelasi negatif signifikan dengan stres kerja (β = 0,507, p = 0,001). Bidan dengan kecerdasan spiritual tinggidiwujudkan melalui tawakal, zikir, dan kesadaran makna hidupcenderung mengalami stres jauh lebih rendah. Akın & Koçak (2021) di Turki mengungkap bahwa paparan traumatis dan jam kerja panjang menurunkan kemampuan bidan dalam memberikan perawatan spiritual dan rasa kasih sayang. Ini menunjukkan kapasitas spiritual bukan statis; ia dapat terkikis oleh beban kerja berat, sehingga memerlukan pemeliharaan berkelanjutan.

Penerapan ketakwaan dalam praktik kebidanan dapat diwujudkan secara konkret. Pertama, memulai setiap tindakan dengan basmalah dan doa, menciptakan mindset bahwa bidan adalah wasilah, sementara keselamatan mutlak dari Allah. Sikap ini mengurangi beban ego dan rasa bersalah berlebihan ketika hasil tidak sesuai harapan. Kedua, membiasakan zikir harian, terutama di sela waktu tunggu persalinan, sebagai alat regulasi emosi untuk menurunkan kortisol dan meningkatkan ketenangan. Ketiga, menjadikan penanganan gawat darurat sebagai ladang ibadah, sehingga energi yang dikeluarkan bernilai pahala. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan ulama bahwa profesionalisme dalam Islam adalah fardhu kifayah yang jika dilandasi takwa akan mendatangkan ketenangan dan keberkahan.

Mempertahankan ketakwaan di tengah kultur rumah sakit yang serba cepat bukanlah mudah. Bidan sering menghadapi tuntutan administratif berlebihan, kurang dukungan manajemen, dan minim waktu refleksi diri. Karena itu, penguatan ketakwaan tidak boleh hanya tanggung jawab individu; institusi pendidikan dan pelayanan kesehatan juga berperan penting. Kurikulum kebidanan perlu mengintegrasikan psikologi spiritual dan self-care berbasis agama. Manajemen rumah sakit dan puskesmas perlu menyediakan ruang ibadah nyaman, program pendampingan rohani rutin, dan budaya kerja yang mendukung keseimbangan profesional-spiritual, sehingga ketakwaan terwujud dalam praktik nyata dan berkelanjutan.

III. Penutup

Kajian ini menyimpulkan bahwa hikmah ketakwaan memiliki peran sentral dalam membangun ketenangan psikologis bidan yang menghadapi kegawatdaruratan maternal. Ketakwaanmelalui kesadaran spiritual, kesabaran, tawakal, doa, dan zikirterbukti secara teologis (Al-Qur’an dan hadis) maupun empiris (penelitian terkini) mampu menurunkan stres, meningkatkan resiliensi, dan memperkuat regulasi emosi di tengah tekanan kritis. Implikasi teoretisnya memperkaya khazanah ilmu kebidanan dengan perspektif spiritual-psikologis yang selama ini terpinggirkan. Secara praktis, kajian ini merekomendasikan integrasi nilai-nilai ketakwaan dalam kurikulum pendidikan kebidanan, pengembangan pelatihan berbasis spiritualitas Islam bagi bidan, serta penyediaan dukungan psikologis-spiritual berkelanjutan di fasilitas kesehatan. Penelitian lanjutan dengan desain eksperimental disarankan untuk mengukur pengaruh langsung pelatihan berbasis ketakwaan terhadap kinerja klinis bidan dalam simulasi kegawatdaruratan maternal.

Daftar Pustaka

Akın, B., & Koçak, H. A. (2021). Spiritual care, compassion and associated factors of midwives working in delivery rooms. International Journal of Nursing Practice, 27(5), e12980.  https://doi.org/10.1111/ijn.12980

Al-Qur’an al-Karim.

Daradjat, Z. (2005). Kesehatan Mental. Gunung Agung.

Qurthubi, A. A. M. A. (2008). Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (terjemahan). Pustaka Azzam.

Segal, K., & Ben-Ezra, M. (2024). Traumatic experiences, quality of life, and organizational commitment among midwives: A cross-sectional study. Birth. https://doi.org/10.1111/birt.12868

Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an (Jilid 1). Lentera Hati.

van den Heuvel, D. H., & van der Heijde, C. M. (2023). Midwives’ work-related fear and anxiety and its impact on their wellbeing and performance. A qualitative study of perceived anxiety in community midwives. European Journal of Midwifery, 7. https://doi.org/10.18332/ejm/172574

Zolfaghary, F., Osko, S., Bakouei, F., Pasha, H., & Adib-Rad, H. (2023). Spiritual intelligence as a coping strategy to manage job stress for midwives in Northern Iran: A cross-sectional study. Journal of Religion and Health, 62(5), 3301-3312. https://doi.org/10.1007/s10943-023-01863-y

Kontributor: Aisyah Aprilia Artha Nauli

Editor: Dr. Sumaryati, M.Pd.I.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *