Husnul Khatimah sebagai Tujuan Akhir Perawatan Paliatif Pasien Muslim

I. Pendahuluan

Keperawatan paliatif merupakan pendekatan pelayanan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien yang mengalami penyakit serius atau mengancam jiwa dengan memperhatikan kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual pasien (Agil et al., 2025). Pada pasien Muslim, perhatian terhadap kebutuhan spiritual menjadi penting karena agama dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan pasien ketika menghadapi penyakit dan fase akhir kehidupan. Pemenuhan kebutuhan spiritual sesuai dengan nilai dan ajaran Islam dapat mendukung kesejahteraan pasien dan memberikan pengalaman perawatan yang lebih sesuai dengan keyakinannya.

Husnul khatimah berasal dari bahasa Arab, yaitu husn yang berarti “baik” dan al-khatimah yang berarti “akhir”. Secara umum, istilah ini merujuk pada keadaan akhir kehidupan yang baik atau kondisi seseorang ketika menghadapi dan mengakhiri kehidupannya dalam keadaan yang baik (Rahman et al., 2021; Yusup et al., 2021). Dalam perspektif Islam, husnul khatimah merupakan harapan setiap Muslim. Oleh karena itu, fase akhir kehidupan tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan gejala dan penderitaan, tetapi juga menjadi waktu ketika kebutuhan spiritual pasien perlu diperhatikan.

Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini membahas peran keperawatan paliatif dalam mendukung kebutuhan spiritual pasien Muslim pada fase akhir kehidupan serta keterkaitannya dengan upaya mempersiapkan pasien menuju husnul khatimah. Pembahasan mengintegrasikan konsep keperawatan paliatif, landasan Al-Qur’an dan hadis, hasil kajian ilmiah, serta penerapannya dalam praktik keperawatan.

II. Pembahasan

Perawatan paliatif bertujuan meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi penderitaan pasien yang menghadapi penyakit serius atau mengancam jiwa. Pendekatan ini tidak hanya memperhatikan kondisi fisik, tetapi juga aspek psikologis, sosial, dan spiritual. Dalam konteks pasien Muslim, kebutuhan spiritual dapat menjadi bagian penting dari pengalaman menghadapi penyakit. Rochmawati et al. (2018) menemukan bahwa agama dan praktik spiritual merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan pada pelayanan perawatan paliatif di Indonesia. Pasien berusaha mempertahankan praktik keagamaannya meskipun mengalami penyakit, sedangkan keluarga dan tenaga kesehatan memberikan dukungan agar praktik tersebut tetap dapat dilakukan.

Bentuk dukungan yang ditemukan dalam penelitian tersebut antara lain membantu pasien berdoa, menyediakan kitab suci, membaca atau memutar rekaman Al-Qur’an ketika pasien tidak mampu melakukannya sendiri, serta menyediakan fasilitas yang dibutuhkan untuk menjalankan praktik keagamaan. Keluarga juga dapat menghadirkan pemuka agama untuk memberikan dukungan atau memimpin doa. Praktik keagamaan tersebut memberikan rasa nyaman dan rasa normalitas bagi pasien dalam menghadapi kondisi penyakit dan akhir kehidupan (Rochmawati et al., 2018).

Kematian merupakan bagian yang pasti dari kehidupan manusia. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Ali ‘Imran ayat 185:

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ

فَازَۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ۝١٨٥

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” Ayat tersebut menegaskan bahwa kematian merupakan kepastian bagi setiap manusia dan bahwa keberhasilan yang sesungguhnya berkaitan dengan kehidupan akhirat (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 185).

Dalam konteks perawatan paliatif pasien Muslim, ayat tersebut dapat menjadi landasan bahwa pendampingan pada fase akhir kehidupan perlu membantu pasien menghadapi kenyataan kematian secara spiritual, tanpa mengabaikan kebutuhan fisik dan psikologisnya. Perawat tidak menentukan hasil akhir kehidupan pasien, tetapi dapat memberikan ruang agar pasien tetap menjalankan ibadah dan praktik keagamaannya sesuai kemampuan. Dengan demikian, pelayanan keperawatan dapat membantu pasien menjalani fase akhir kehidupan dengan lebih tenang dan sesuai dengan keyakinannya.

Hal tersebut juga sejalan dengan hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Jabir:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّاءَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ،

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلاَثٍ يَقُولُ ” لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ

إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

“Janganlah salah seorang dari kalian meninggal kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah” (H.R. Muslim, 2877). Hadis ini secara langsung berkaitan dengan kondisi seseorang menjelang kematian dan menekankan pentingnya husnuzan kepada Allah. Dalam konteks keperawatan paliatif, makna tersebut dapat menjadi dasar untuk memberikan dukungan spiritual yang memungkinkan pasien mempertahankan hubungan keagamaannya, berdoa, dan memperoleh ketenangan tanpa perawat memaksakan keyakinan tertentu kepada pasien.

Landasan tersebut menunjukkan bahwa dukungan spiritual dalam perawatan paliatif bukan berarti perawat menjanjikan tercapainya husnul khatimah, karena keadaan akhir seseorang merupakan perkara yang berada dalam ketetapan Allah. Peran perawat adalah memberikan perawatan yang menghormati keyakinan pasien, mendukung praktik keagamaan yang diinginkan pasien, dan membantu menciptakan suasana yang nyaman serta bermartabat pada fase akhir kehidupan.

Hasil penelitian Rochmawati et al. (2018) menunjukkan bahwa praktik spiritual dan keagamaan tidak hanya dilakukan oleh pasien dan keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari budaya tim perawatan paliatif. Tim melakukan doa bersama dan memberikan dukungan terhadap praktik keagamaan pasien. Selain itu, pasien dan keluarga juga menghormati kebutuhan keagamaan tenaga kesehatan. Hubungan tersebut menunjukkan adanya penghormatan dan dukungan timbal balik dalam pelayanan paliatif.

Dalam praktik keperawatan, temuan tersebut dapat diterapkan dengan memberikan kesempatan kepada pasien Muslim untuk menjalankan praktik keagamaan sesuai kemampuan fisiknya. Perawat dapat membantu menyediakan fasilitas yang dibutuhkan, melibatkan keluarga, dan memfasilitasi pemuka agama apabila pasien menginginkannya. Pendekatan ini tetap harus berpusat pada pasien, sehingga dukungan spiritual diberikan berdasarkan kebutuhan dan keinginan pasien serta tidak dilakukan secara memaksa.

Dengan demikian, dukungan spiritual dapat menjadi bagian dari pelayanan paliatif yang holistik. Pasien tetap memperoleh pengelolaan kondisi dan kenyamanan, sementara kebutuhan keagamaan juga diperhatikan. Hal ini sejalan dengan penelitian mengenai spiritualitas dalam perawatan paliatif yang menunjukkan bahwa perhatian terhadap dimensi spiritual merupakan bagian dari perawatan yang komprehensif (Puchalski et al., 2009; Ronaldson et al., 2012).

Dalam praktik profesional, perawat perlu mengintegrasikan kebutuhan spiritual ke dalam proses pemberian asuhan tanpa menggantikan peran pemuka agama. Perawat dapat mengidentifikasi kebutuhan dan preferensi spiritual pasien melalui komunikasi yang sensitif, kemudian membantu pasien mempertahankan praktik keagamaan yang diinginkannya. Pada pasien Muslim, dukungan tersebut dapat berupa memberikan kesempatan untuk berdoa, berdzikir, membaca atau mendengarkan Al-Qur’an, serta menjalankan ibadah sesuai kondisi fisik. Keluarga dapat dilibatkan sebagai sumber dukungan, sedangkan pemuka agama dapat difasilitasi apabila pasien atau keluarga membutuhkannya.

Penerapan tersebut perlu dilakukan dengan menghormati martabat, pilihan, dan keyakinan pasien. Perawat juga perlu menghindari pemberian janji mengenai hasil akhir kehidupan. Tujuan keperawatan bukan menjamin seseorang mencapai husnul khatimah, melainkan memberikan pendampingan yang mendukung kenyamanan, ketenangan, dan pelaksanaan keyakinan pasien sampai akhir kehidupan. Dengan pendekatan tersebut, perawatan paliatif dapat menjadi bentuk pelayanan profesional yang selaras dengan kebutuhan pasien Muslim sekaligus menghargai dimensi spiritual dalam menghadapi kematian.

III. Penutup

Keperawatan paliatif pada pasien Muslim tidak hanya berfokus pada pengurangan penderitaan dan peningkatan kualitas hidup, tetapi juga perlu memperhatikan kebutuhan spiritual pada fase akhir kehidupan. Berdasarkan kajian ilmiah, praktik keagamaan seperti doa, membaca atau mendengarkan Al-Qur’an, menjalankan ibadah sesuai kemampuan, dukungan keluarga, dan pendampingan pemuka agama dapat memberikan kenyamanan dan rasa normalitas bagi pasien. Landasan Q.S. Ali ‘Imran ayat 185 dan hadis riwayat Muslim tentang berbaik sangka kepada Allah menunjukkan pentingnya memandang fase akhir kehidupan sebagai bagian dari perjalanan manusia yang juga memiliki dimensi spiritual. Oleh karena itu, dukungan spiritual dalam perawatan paliatif dapat membantu pasien Muslim menjalani akhir kehidupan dengan lebih tenang dan sesuai dengan keyakinannya. Namun, tercapainya husnul khatimah tidak dapat dijanjikan oleh tenaga kesehatan karena merupakan perkara yang berada dalam ketetapan Allah.

Perawat diharapkan memberikan perawatan paliatif secara holistik dengan mengintegrasikan kebutuhan spiritual pasien ke dalam pelayanan. Perawat perlu memberikan kesempatan dan fasilitas kepada pasien Muslim untuk menjalankan praktik keagamaan sesuai kemampuan dan keinginannya, melibatkan keluarga, serta memfasilitasi pendampingan pemuka agama apabila dibutuhkan. Pelayanan kesehatan juga perlu mendukung lingkungan perawatan yang menghormati keyakinan pasien agar kebutuhan spiritual dapat terpenuhi secara bermartabat hingga akhir kehidupan.

Daftar Pustaka

Agil, N. M., Agustina, M., Judijanto, L., Ulfah, M., Nurhayati, C., & Fatma, E. P. L. (2025). Keperawatan paliatif: Pendekatan holistik dalam perawatan akhir kehidupan. PT Sonpedia Publishing Indonesia.

Puchalski, C., Ferrell, B., Virani, R., Otis-Green, S., Baird, P., Bull, J., Chochinov, H., Handzo, G., Nelson-Becker, H., Prince-Paul, M., Pugliese, K., & Sulmasy, D. (2009). Improving the quality of spiritual care as a dimension of palliative care: The report of the consensus conference. Journal of Palliative Medicine, 12(10), 885–904. https://doi.org/10.1089/jpm.2009.0142

Rahman, I. K., Yusup, N. M., & Hafidhuddin, D. (2021). Pesantren lansia sebagai wadah pembinaan husnul khatimah. Atthulab: Islamic Religion Teaching and Learning Journal, 6(1), 73–87. https://doi.org/10.15575/ath.v6i1.10243

Rochmawati, E., Wiechula, R., & Cameron, K. (2018). Centrality of spirituality/religion in the culture of palliative care service in Indonesia: An ethnographic study. Nursing & Health Sciences, 20, 231–237. https://doi.org/10.1111/nhs.12407

Ronaldson, S., Hayes, L., Aggar, C., Green, J., & Carey, M. (2012). Spirituality and spiritual caring: Nurses’ perspectives and practice in palliative and acute care environments. Journal of Clinical Nursing, 21, 2126–2135. https://doi.org/10.1111/j.1365-2702.2012.04180.x

Yusup, N. M., Hafidhuddin, D., & Rahman, I. K. (2021). Husnul khatimah perspektif Mahmud Al-Mishri. Rayah Al-Islam, 5(1), 183–195. https://doi.org/10.37274/rais.v5i1.396

Kontributor: Anggi Suryani

Editor: Dr. Sumaryati, M.Pd.I.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *