Tabayyun Sebagai Penawar Banjir Misinformasi Gizi di Media Sosial

Pendahuluan

    Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi, termasuk informasi mengenai kesehatan dan gizi. Instagram, TikTok, YouTube, Facebook, dan berbagai platform digital lainnya memungkinkan masyarakat memperoleh informasi mengenai pola makan, diet, penurunan berat badan, suplemen, vitamin, makanan sehat, hingga pencegahan penyakit dalam waktu yang sangat singkat. Kemudahan tersebut memberikan manfaat karena informasi kesehatan menjadi semakin mudah diakses. Namun, di sisi lain, media sosial juga menjadi tempat berkembangnya misinformasi, yaitu informasi yang salah atau tidak akurat tetapi dipercaya dan disebarkan tanpa pemeriksaan yang memadai. Kajian sistematis menunjukkan bahwa informasi mengenai gizi di internet dan media sosial masih banyak yang memiliki kualitas atau akurasi rendah. Hampir setengah penelitian yang dikaji dalam sebuah systematic review melaporkan kualitas atau akurasi informasi gizi yang rendah (Al-faqiha & Azzahra, 2026).

    Misinformasi gizi dapat menimbulkan dampak terhadap perilaku dan keputusan masyarakat dalam menjaga kesehatan. Informasi seperti klaim bahwa diet tertentu dapat menyembuhkan berbagai penyakit, tidak mengonsumsi karbohidrat pasti lebih sehat, penggunaan suplemen tanpa indikasi, atau konsumsi bahan makanan tertentu dapat menurunkan berat badan secara cepat berpotensi mendorong masyarakat mengambil keputusan yang tidak tepat. Karena itu, diperlukan sikap kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi. Dalam perspektif Islam, sikap tersebut dapat dikaitkan dengan konsep Tabayyun, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran suatu berita sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Tabayyun relevan diterapkan dalam menghadapi derasnya informasi gizi di media sosial karena mendorong seseorang untuk memeriksa sumber, kebenaran, dan konteks informasi terlebih dahulu. Esai ini bertujuan menganalisis Tabayyun sebagai prinsip Islam yang relevan untuk menghadapi misinformasi gizi di media sosial serta menghubungkannya dengan literasi gizi dan praktik profesional bidang kesehatan (Nasoha, 2025).

    Pembahasan

      Tabayyun merupakan sikap berhati-hati dalam menerima informasi dengan melakukan pemeriksaan terhadap kebenaran berita sebelum mengambil keputusan atau menyebarkannya kepada orang lain. Prinsip ini relevan dengan kondisi komunikasi digital saat ini karena media sosial memungkinkan informasi tersebar dengan sangat cepat, sedangkan proses pemeriksaan kebenarannya sering kali tidak dilakukan. Seseorang dapat melihat video atau unggahan mengenai kesehatan, kemudian langsung mempercayai dan membagikannya hanya karena informasi tersebut disampaikan oleh seseorang yang memiliki banyak pengikut. Padahal, jumlah pengikut, jumlah tayangan, atau popularitas seseorang tidak secara otomatis membuktikan bahwa informasi gizi yang disampaikannya benar secara ilmiah (Putricia, 2026).

      Al-Qur’an memberikan landasan mengenai pentingnya melakukan verifikasi informasi. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

      يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍۢ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَـٰلَةٍۢ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَـٰدِمِينَ

      Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

      Ayat tersebut menekankan pentingnya Tabayyun, yaitu sikap untuk tidak menerima informasi secara langsung tanpa pemeriksaan, dan hal ini sangat relevan dalam kehidupan digital. Meskipun ayat itu secara khusus menyebut berita dari orang fasik, prinsip verifikasi informasi dapat diterapkan lebih luas, terutama pada arus informasi di media sosial yang sering cepat menyebar tanpa kepastian kebenaran. Dalam konteks gizi, Tabayyun berarti tidak serta-merta mempercayai klaim mengenai makanan atau diet hanya karena viral, melainkan menilai siapa yang menyampaikan, apakah memiliki kompetensi di bidang gizi, serta apakah klaim tersebut didukung oleh sumber ilmiah yang kredibel. Selain itu, penting untuk memastikan apakah informasi tersebut sesuai dengan pedoman kesehatan yang berlaku umum atau hanya relevan pada kondisi tertentu. Dengan kata lain, Tabayyun menjadi metode kritis yang membantu kita memilah informasi secara bijak, sehingga keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan kebenaran dan membawa manfaat bagi kesehatan.

      Prinsip Tabayyun juga diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah saw. bersabda:

      كَفَىٰ بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

      Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan segala sesuatu yang ia dengar.” (HR. Muslim, No. 5). (Sunnah)

      Hadis tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan perilaku pengguna media sosial, karena seseorang tidak harus menjadi pembuat berita palsu untuk ikut berkontribusi dalam penyebaran informasi yang salah. Membagikan informasi yang belum diperiksa kebenarannya dapat membuat orang lain menerima informasi yang keliru, sehingga tindakan seperti share, repost, atau meneruskan konten mengenai kesehatan tidak seharusnya dilakukan secara otomatis. Seorang Muslim dituntut untuk memiliki tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan kepada orang lain, memastikan bahwa apa yang dibagikan benar-benar telah melalui proses verifikasi dan sesuai dengan prinsip Tabayyun.

      Dalam pandangan ulama, prinsip Tabayyun berkaitan erat dengan kehati-hatian dalam menerima berita. Imam Al-Qurthubi dalam penafsiran Surah Al-Hujurat ayat 6 menjelaskan pentingnya memeriksa berita sebelum menetapkan suatu keputusan berdasarkan berita tersebut. Prinsip ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan sikap mudah percaya terhadap suatu informasi, tetapi mendorong umat untuk melakukan pertimbangan dan pemeriksaan. Tabayyun bukan berarti menolak semua informasi, melainkan melakukan proses penilaian sebelum menentukan apakah suatu informasi dapat dipercaya.

      Jika diterapkan pada informasi gizi, prinsip Tabayyun dapat dijalankan melalui tahapan berpikir kritis yang sistematis. Pertama, seseorang perlu mengidentifikasi sumber informasi, sebab kredibilitas ahli gizi, dokter, lembaga kesehatan, perguruan tinggi, jurnal ilmiah, atau organisasi kesehatan tentu berbeda dengan akun anonim atau individu tanpa latar belakang keilmuan. Kedua, penting untuk menilai bukti yang digunakan, karena klaim mengenai kesehatan seharusnya memiliki dasar ilmiah yang jelas dan tidak hanya bersandar pada pengalaman pribadi. Ketiga, informasi harus dilihat dalam konteks yang lengkap, sebab manfaat suatu makanan bagi seseorang belum tentu sama bagi individu lain, mengingat faktor usia, jenis kelamin, penyakit, kebutuhan energi, penggunaan obat, dan pola makan dapat memengaruhi kebutuhan gizi. Dengan cara ini, Tabayyun menjadi landasan kritis untuk memastikan bahwa informasi gizi yang diterima benar-benar valid dan sesuai dengan pedoman kesehatan.

      Permasalahan tersebut semakin penting karena penelitian menunjukkan bahwa misinformasi mengenai diet dan nutrisi merupakan masalah yang berkembang di media sosial. Systematic review yang dilakukan oleh Amro et al. (2025) menunjukkan bahwa misinformasi gizi ditemukan di berbagai platform media sosial dan berkaitan dengan berbagai klaim mengenai diet dan kesehatan. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya literasi digital dan kemampuan masyarakat dalam menilai kredibilitas informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya (Amro et al., 2025).

      Temuan tersebut menunjukkan bahwa banyaknya informasi gizi yang tersedia tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat, karena informasi yang melimpah tetap dapat menimbulkan pemahaman keliru apabila kualitasnya rendah. Dalam situasi seperti ini, Tabayyun dapat dipahami sebagai bentuk literasi informasi yang memiliki landasan moral sekaligus keagamaan, yang menekankan bahwa kecepatan memperoleh informasi tidak boleh menghilangkan kewajiban untuk memeriksa kebenarannya. Prinsip ini berjalan seiring dengan pendekatan ilmiah dalam ilmu gizi, yang menilai apakah suatu klaim mengenai makanan dan kesehatan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan sesuai dengan pedoman kesehatan.

      Misalnya, terdapat unggahan media sosial yang menyatakan bahwa seseorang dapat menurunkan berat badan dengan hanya mengonsumsi satu jenis makanan tertentu selama beberapa hari. Jika menerapkan Tabayyun, seseorang tidak langsung mengikuti informasi tersebut. Ia akan mencari sumber ilmiah, melihat kandungan zat gizi makanan tersebut, memahami kebutuhan energi tubuh, dan mempertimbangkan dampak pembatasan makanan terhadap kesehatan. Apabila informasi tersebut tidak didukung bukti ilmiah atau bertentangan dengan prinsip gizi seimbang, informasi tersebut seharusnya tidak dijadikan dasar dalam menentukan pola makan (Alami, 2026).

      Tabayyun juga penting dalam menghadapi informasi mengenai suplemen dan produk kesehatan. Media sosial sering digunakan untuk mempromosikan produk dengan klaim yang berlebihan, misalnya dapat membakar lemak, meningkatkan metabolisme secara instan, atau menyembuhkan penyakit tertentu. Masyarakat perlu memahami bahwa pengalaman seseorang setelah menggunakan suatu produk bukan merupakan bukti bahwa produk tersebut efektif untuk semua orang. Informasi mengenai keamanan, dosis, interaksi dengan obat, serta kelompok yang tidak dianjurkan mengonsumsi produk tertentu juga perlu diperhatikan. Dalam hal ini, tenaga kesehatan dan ahli gizi memiliki peran penting dalam memberikan penjelasan yang berbasis bukti (Khairunnisa et al., 2026).

      Penutup

        Tabayyun merupakan prinsip penting dalam Islam yang relevan untuk menghadapi banjir misinformasi gizi di media sosial, karena Al-Qur’an melalui Surah Al-Hujurat ayat 6 menekankan kewajiban memeriksa berita sebelum bertindak dan hadis Nabi Muhammad saw. mengingatkan agar tidak menyampaikan semua informasi yang didengar. Prinsip ini sejalan dengan kebutuhan masyarakat modern untuk memiliki literasi gizi dan literasi digital yang baik, sehingga dalam praktiknya Tabayyun dapat diterapkan dengan memeriksa sumber informasi, menilai kredibilitas penyampai, mencari bukti ilmiah, memahami konteks, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila diperlukan. Dengan membiasakan Tabayyun, masyarakat tidak hanya menjalankan sikap keagamaan, tetapi juga membangun dasar etika dalam menerima dan menyebarkan informasi kesehatan, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh klaim diet, makanan, dan suplemen yang tidak terbukti, serta mampu mengambil keputusan gizi yang lebih rasional, aman, dan bertanggung jawab.

        Daftar Pustaka

        Al-faqiha, M. H., & Azzahra, F. (2026). Peran Tabayyun dalam Islam untuk Mengatasi Hoax dan Misinformasi di Media Sosial. April, 122-133.

        Alami, Y. (2026). Konsep Tabayyun dalam Konteks Media Sosial (Penafsiran Tabayyun Dalam Al-Qur’an Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah). 2(1), 1-10. https://doi.org/10.65802/nihayah.v2i1.110

        Amro, H., Sinaga, B., Azhar, A. A., Islam, U., Sumatera, N., & Medan, K. (2025). Literasi Media sebagai Solusi Tabayyun Berita Hoax di Media Sosial pada Mahasiswa FDK. 4(2), 464-475. https://doi.org/10.54259/mukasi.v4i2.4339

        Khairunnisa, A., Sari, S. A., Muhamad, R., & Maulana, H. (2026). Etika Tabayyun di Era Digital : Melawan Misinformasi dalam Pandangan Islam komunikasi ini sejak 14 abad lalu melalui konsep Tabayyun . Sayangnya , etika profetik ini sering Konsep Tabayyun dalam Islam Secara epistemologis , kata Tabayyun berakar dari bahasa Arab yang berarti mencari. April 2025.

        Nasoha, A. M. M. (2025). Etika Komunikasi dalam Islam : Analisis terhadap Konsep Tabayyun dalam Media Sosial. 3(April).

        Putricia, Z. (2026). Analisis Fenomena Hoaks Dan Misinformasi Dalam Perspektif Etika Komunikasi Islam : Urgensi Prinsip Tabayyun Di Era Digital. 3(1), 55-62.

        Kontributor: R.Intan Istikfharrah Deska

        Editor: Dr. Sumaryati, M.Pd.I.

        Tinggalkan Balasan

        Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *