Budaya Membaca Sebagai Tradisi Ilmiah dalam Peradaban Islam dan Relevansinya Bagi Perawat

I. Pendahuluan

Peradaban Islam pada masa keemasannya dikenal sebagai peradaban yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Salah satu pilar utama yang mengantarkan umat Islam pada puncak kejayaan intelektual adalah budaya membaca. Membaca bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang, melainkan sebuah tradisi ilmiah yang menjadi fondasi lahirnya rumah sakit, perpustakaan, observatorium, dan universitas pertama di dunia. Al-Qur’an sendiri dibuka dengan wahyu pertama “Iqra'” yang berarti “bacalah”, sebuah perintah yang menegaskan bahwa membaca adalah kunci pembuka gerbang peradaban.

Di era modern, tantangan terbesar dunia kesehatan bukan hanya keterbatasan alat, tetapi juga keterbatasan literasi ilmiah tenaga kesehatan. Perawat sebagai garda terdepan pelayanan kebidanan dan kesehatan dituntut tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki wawasan yang luas, kritis, dan terus berkembang. Oleh karena itu, menghidupkan kembali budaya membaca sebagai tradisi ilmiah Islam menjadi sangat relevan. Esai ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana budaya membaca dalam peradaban Islam dapat menjadi landasan etika dan praktik profesionalisme bagi perawat, khususnya dalam pelayanan kebidanan, agar pelayanan yang diberikan tidak hanya berdasar keterampilan tetapi juga ilmu dan nilai spiritual.

II. Pembahasan

Budaya membaca dalam Islam bukanlah hal baru. Ia merupakan warisan peradaban yang dimulai sejak wahyu pertama diturunkan di Gua Hira. Allah SWT berfirman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan” [QS. Al-‘Alaq: 1]

Ayat ini adalah perintah pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW. Kata “Iqra'” tidak hanya berarti membaca teks, tetapi juga membaca tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Para ulama menafsirkan bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk membaca dua hal: Qur’aniyah yaitu ayat-ayat Al-Qur’an, dan Kauniyah yaitu fenomena alam dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, membaca dalam Islam adalah ibadah sekaligus jalan untuk mencapai kemajuan.

Tradisi ini kemudian diwujudkan dalam sejarah oleh para khalifah dan cendekiawan Muslim. Pada masa Abbasiyah, Khalifah Al-Ma’mun mendirikan Baitul Hikmah di Baghdad pada abad ke-9. Baitul Hikmah berfungsi sebagai perpustakaan, pusat penerjemahan, dan akademi ilmu pengetahuan. Para ulama dari berbagai agama diterjemahkan karyanya ke dalam bahasa Arab. Gerakan penerjemahan besar-besaran ini melahirkan ratusan ribu manuskrip di bidang kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat. Ibnu Sina dengan Al-Qanun fi al-Tibb nya dan Al-Razi dengan Al-Hawi nya adalah bukti nyata bagaimana budaya membaca dan menulis melahirkan sistem kesehatan yang maju. Rumah sakit pertama di Baghdad, Bimaristan, tidak hanya tempat mengobati tetapi juga tempat pendidikan dan penelitian bagi para dokter dan perawat.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan pentingnya ilmu bagi setiap muslim. Beliau berkata bahwa menuntut ilmu adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim. Begitu pula hadis Nabi SAW:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” [HR. Ibnu Majah]

Hadis ini menjadi dasar etos kerja intelektual umat Islam. Membaca adalah pintu utama menuntut ilmu. Karena itu, ulama seperti Ibnu Qayyim Al-Jauziyah juga menegaskan bahwa orang yang berilmu akan memiliki kedudukan tinggi dan mampu memberikan manfaat lebih besar kepada masyarakat.

Lalu apa relevansinya dengan perawat, khususnya dalam pelayanan kebidanan? Pelayanan kebidanan bukan hanya tentang membantu persalinan. Ia menuntut pemahaman mendalam tentang anatomi, fisiologi, psikologi ibu, nutrisi, infeksi, hingga etika komunikasi. Seorang perawat yang hanya mengandalkan prosedur tanpa memperbarui ilmunya akan tertinggal. Sementara ilmu kedokteran dan kebidanan berkembang sangat cepat. Budaya membaca membuat perawat memiliki 3 hal penting:

1. Kompetensi ilmiah yang terus diperbarui.

Perawat yang rajin membaca jurnal, buku, dan pedoman terbaru seperti dari WHO, Kemenkes RI, atau PPNI akan mampu memberikan asuhan berbasis bukti atau Evidence Based Nursing. Misalnya dalam penanganan perdarahan postpartum, perawat yang membaca akan tahu bahwa selain oksitosin, ada protokol baru tentang penggunaan traneksamat. Membaca membuat perawat tidak bekerja dengan “katanya”, tetapi dengan data dan penelitian. Ini sejalan dengan semangat Islam yang menolak taklid buta dan memerintahkan untuk bertanya kepada ahlinya. Allah berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” [QS. An-Nahl: 43]

2. Empati dan komunikasi terapeutik yang lebih baik.

Membaca tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga menambah rasa. Dengan membaca buku psikologi, kisah pasien, atau literatur komunikasi, perawat akan lebih memahami ketakutan ibu hamil, trauma, atau kecemasan keluarga. Dalam Islam, perawat dipandang sebagai profesi mulia karena menolong nyawa. Nabi bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin di dunia, Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan di hari kiamat” [HR. Muslim]

Membaca membantu perawat memahami “kesusahan” pasien secara utuh, sehingga pelayanan menjadi lebih manusiawi.

3. Etika dan spiritualitas dalam bekerja.

Tradisi membaca dalam Islam selalu dikaitkan dengan niat liIlaahi ta’ala. Seorang perawat yang membaca sejarah pelayanan kesehatan Islam akan sadar bahwa rumah sakit dulu adalah tempat wakaf. Dokter dan perawat digaji dari baitul mal agar mereka fokus melayani tanpa membebani pasien. Ini menanamkan nilai ikhlas. Dengan membaca, perawat akan mengingatkan dirinya bahwa setiap tindakan, dari mengukur TD sampai menemani ibu bersalin, adalah ibadah jika diniatkan untuk Allah dan kemanusiaan.

Sayangnya, budaya ini mulai memudar. Survei UNESCO 2016 menyebut minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Di institusi kesehatan, banyak perawat yang jarang membaca setelah lulus. Padahal Institusi Pelayanan Kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas, dan Klinik Bersalin adalah tempat utama perawat bekerja. Institusi Pendidikan seperti Akademi Keperawatan, STIKes, dan Universitas juga memiliki peran besar untuk menanamkan budaya ini sejak mahasiswa. Begitu pula Institusi Profesi seperti PPNI dan IBI harus aktif mengadakan bedah jurnal, seminar, dan menyediakan akses e-library bagi anggotanya.

Untuk menghidupkan kembali, ada beberapa langkah. Pertama, menjadikan 15 menit membaca ilmiah sebagai budaya di setiap shift di rumah sakit. Kedua, pimpinan institusi menyediakan pojok baca dan akses jurnal gratis. Ketiga, menjadikan membaca sebagai bagian dari penilaian kinerja dan pengembangan karir perawat. Ketika membaca menjadi tradisi, maka perawat tidak hanya menjadi pelaksana, tetapi juga agen perubahan dalam sistem kesehatan.

III. Penutup

Budaya membaca adalah warisan agung peradaban Islam yang telah melahirkan kemajuan di bidang ilmu, termasuk kesehatan. Perintah “Iqra'” bukan hanya untuk ulama, tetapi untuk semua profesi termasuk perawat. Dalam konteks pelayanan kebidanan, budaya membaca sangat relevan untuk meningkatkan kompetensi ilmiah, empati, dan etika kerja perawat. Institusi pendidikan, pelayanan kesehatan, dan profesi memiliki tanggung jawab bersama untuk menghidupkan kembali tradisi ini. Dengan membaca, perawat tidak hanya menyembuhkan raga, tetapi juga mencerdaskan dan memuliakan profesinya, serta melanjutkan semangat peradaban Islam yang berlandaskan ilmu.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an Al-Karim.

Al-Ghazali, A. H. (2005). Ihya’ Ulumuddin. Beirut: Dar Ibn Hazm.

Ibnu Majah. (2009). Sunan Ibnu Majah. Riyadh: Darussalam.

Muslim, I. (2008). Shahih Muslim. Riyadh: Darussalam.

Kementerian Kesehatan RI. (2020). Standar Pelayanan Kebidanan. Jakarta: Kemenkes.

World Health Organization. (2022). Guidelines for the management of postpartum haemorrhage. Geneva: WHO.

PPNI. (2021). Kode Etik Perawat Indonesia. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.

Nasution, H. (2018). Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek. Jakarta: UI Press.

Kontributor: Bianca Savitri

Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *