Metode Al-Ghazali dalam Membentuk Karakter Perawat Berbasis Mujahadah dan Riyadah

I. Pendahuluan

Profesi keperawatan merupakan profesi yang menuntut keterpaduan antara kompetensi teknis dan kematangan karakter. Perawat tidak hanya membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan, tetapi juga harus memiliki empati, kesabaran, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap pasien. Nilai care, compassion, dan kemanusiaan merupakan bagian penting dalam praktik keperawatan karena perawat berinteraksi secara langsung dan intensif dengan pasien yang berada dalam kondisi rentan secara fisik maupun psikologis (Sellman, 2011). Dalam pelaksanaannya, tuntutan pekerjaan, tekanan emosional, serta berbagai kondisi pasien dapat menjadi tantangan bagi perawat dalam mempertahankan nilai-nilai tersebut. Oleh karena itu, pembentukan karakter perawat tidak cukup hanya melalui pendidikan pengetahuan dan keterampilan klinis, tetapi juga memerlukan pembinaan moral dan spiritual secara berkelanjutan agar perawat mampu memberikan pelayanan yang profesional sekaligus manusiawi.

Dalam khazanah pemikiran Islam, Imam Al-Ghazali menawarkan konsep mujahadat dan riyadat sebagai metode dalam membentuk dan menyempurnakan akhlak. Mujahadat merupakan kesungguhan dalam melawan dan mengendalikan sifat atau kecenderungan tercela dalam diri, sedangkan riyadat merupakan latihan dan pembiasaan diri secara terus-menerus untuk menanamkan perilaku terpuji hingga menjadi bagian dari karakter seseorang (Harits, 2022; Siregar, 2026). Konsep ini memiliki relevansi dengan profesi keperawatan karena perawat dituntut mampu mengendalikan emosi, menjaga kesabaran, serta membiasakan sikap empati, kepedulian, kejujuran, dan tanggung jawab dalam memberikan pelayanan. Melalui mujahadat dan riyadat, pembentukan karakter dapat dilakukan secara sadar, bertahap, dan berkelanjutan sehingga nilai-nilai moral tidak hanya dipahami sebagai teori, tetapi diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Oleh karena itu, pemikiran Al-Ghazali dapat dikaji sebagai salah satu pendekatan alternatif dalam memperkuat dimensi moral dan spiritual pada pendidikan keperawatan. Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini bertujuan untuk mengkaji konsep mujahadat dan riyadat menurut Al-Ghazali serta menganalisis relevansinya dalam membentuk karakter perawat yang kompeten secara profesional, memiliki moral dan spiritualitas, serta mampu memberikan pelayanan yang berorientasi pada kepedulian terhadap pasien.

II. Pembahasan

Pembentukan karakter dalam pemikiran Imam Al-Ghazali berkaitan erat dengan upaya manusia untuk memperbaiki kondisi batin sehingga melahirkan perilaku yang baik secara konsisten. Al-Ghazali memandang bahwa akhlak bukan hanya tindakan yang dilakukan sesekali, tetapi merupakan kondisi jiwa yang telah tertanam kuat sehingga suatu perbuatan dapat dilakukan dengan mudah tanpa membutuhkan pertimbangan yang panjang. Dengan demikian, karakter seseorang tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses pendidikan, pengendalian diri, latihan, dan pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus. Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, salah satu metode yang ditekankan dalam pembentukan akhlak adalah mujahadat dan riyadat. Mujahadat dapat dipahami sebagai kesungguhan seseorang dalam melawan dan mengendalikan kecenderungan diri yang dapat mengarah kepada perilaku tercela, sedangkan riyadat merupakan latihan diri secara bertahap dan berulang untuk membiasakan perilaku yang baik. Keduanya saling berkaitan karena perjuangan mengendalikan diri perlu diikuti dengan latihan untuk menumbuhkan sifat-sifat terpuji. Kajian terhadap pemikiran Al-Ghazali juga menunjukkan bahwa pembentukan akhlak dilakukan melalui mujahadah, riyadhah, muhasabah, istiqamah, pembiasaan, dan keteladanan (Harits, 2022; Anggraini, 2017).

Konsep tersebut menunjukkan bahwa perubahan karakter menurut Al-Ghazali membutuhkan proses yang aktif dari dalam diri. Seseorang tidak cukup hanya mengetahui bahwa suatu perilaku merupakan perilaku yang baik, tetapi harus berusaha mengamalkannya sampai perilaku tersebut menjadi kebiasaan. Dalam konteks ini, mujahadat memiliki fungsi sebagai usaha untuk menghadapi dorongan negatif dalam diri, sedangkan riyadat menjadi sarana untuk membangun kebiasaan positif sebagai pengganti perilaku tersebut. Al-Ghazali menempatkan latihan dan pembiasaan sebagai bagian penting dalam proses perubahan akhlak. Seseorang yang ingin memiliki sifat tertentu perlu membiasakan dirinya melakukan perilaku yang mencerminkan sifat tersebut meskipun pada awalnya terasa berat. Melalui pengulangan dan kesungguhan, perilaku tersebut secara perlahan dapat menjadi kebiasaan dan akhirnya melekat sebagai bagian dari karakter. Pandangan ini memperlihatkan bahwa karakter bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap, tetapi dapat dibentuk dan disempurnakan melalui pendidikan dan latihan yang berkelanjutan (Harits, 2022; Siregar, 2026).

Landasan penting mengenai proses penyucian dan pembinaan jiwa terdapat dalam firman Allah Swt. dalam QS. Asy-Syams ayat 9–10:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

Ayat tersebut menunjukkan pentingnya upaya manusia dalam membersihkan dan memperbaiki jiwa. Jika dikaitkan dengan pemikiran Al-Ghazali, penyucian jiwa tidak berhenti pada pemahaman secara teoritis, tetapi membutuhkan usaha nyata untuk mengendalikan sifat-sifat tercela dan menumbuhkan sifat-sifat terpuji. Dalam proses tersebut, mujahadat dapat dipahami sebagai kesungguhan dalam menghadapi kelemahan diri, sedangkan riyadat merupakan latihan untuk membangun kebiasaan yang sesuai dengan nilai-nilai kebaikan. Dengan demikian, pembentukan karakter memiliki dimensi internal sekaligus praktis, yaitu memperbaiki kondisi batin dan mewujudkannya dalam perilaku nyata.

Prinsip kesungguhan dalam memperbaiki diri juga sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 69:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa kesungguhan dalam menjalani proses kebaikan merupakan bagian penting dalam perjalanan manusia menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam konteks pembentukan karakter, kesungguhan tersebut dapat diwujudkan melalui usaha untuk mengendalikan emosi, memperbaiki kebiasaan, dan mempertahankan perilaku baik meskipun menghadapi berbagai kesulitan. Bagi seorang perawat, proses tersebut memiliki relevansi yang kuat karena lingkungan pelayanan keperawatan dapat menghadirkan berbagai situasi yang menuntut pengendalian diri. Perawat berhadapan dengan pasien yang memiliki kondisi kesehatan, karakter, latar belakang, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itu. perawat perlu memiliki kemampuan untuk tetap bersikap sabar, tenang, empatik, dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya.

Pentingnya karakter baik dalam kehidupan seorang muslim juga ditegaskan melalui hadis Nabi Muhammad saw.:

“أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا”,

yang berarti, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” Hadis tersebut menunjukkan bahwa kualitas akhlak memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang manusia. Jika diterapkan dalam profesi keperawatan, nilai tersebut dapat menjadi dasar bahwa kemampuan profesional tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu dan keterampilan klinis, tetapi juga dengan bagaimana ilmu dan keterampilan tersebut digunakan untuk memberikan pelayanan kepada manusia secara bermartabat. Seorang perawat yang memiliki pengetahuan tinggi tetapi tidak mampu menghargai pasien, mengendalikan emosi, atau menunjukkan kepedulian akan menghadapi kesulitan dalam memberikan pelayanan yang benar-benar berorientasi pada pasien.

Dalam praktik keperawatan, mujahadat dapat diwujudkan melalui kemampuan perawat dalam mengendalikan berbagai kecenderungan negatif yang dapat muncul selama memberikan pelayanan. Misalnya, ketika menghadapi pasien yang sulit diajak berkomunikasi, keluarga pasien yang banyak bertanya, kondisi kerja yang melelahkan, atau situasi pelayanan yang penuh tekanan, seorang perawat dapat mengalami rasa lelah, jengkel, kecewa, atau kehilangan kesabaran. Mujahadat dalam konteks tersebut bukan berarti menghilangkan emosi manusia, melainkan berusaha mengendalikan respons terhadap emosi tersebut agar tidak diwujudkan dalam tindakan yang merugikan pasien. Perawat tetap dapat menyadari bahwa dirinya sedang lelah atau mengalami tekanan, tetapi berusaha memilih respons yang sesuai dengan etika profesi, kebutuhan pasien, dan nilai kemanusiaan. Dengan demikian, mujahadat dapat dipahami sebagai proses pengendalian diri agar tekanan yang dihadapi tidak menghilangkan sikap profesional.

Sementara itu, riyadat dapat diterapkan melalui latihan dan pembiasaan perilaku positif dalam kehidupan akademik maupun profesional. Mahasiswa keperawatan, misalnya, dapat membiasakan diri untuk datang tepat waktu, menjaga komunikasi yang sopan, mendengarkan pasien dengan penuh perhatian, menghormati privasi pasien, melaksanakan prosedur sesuai standar, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Pembiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi apabila dilakukan secara konsisten akan membentuk pola perilaku yang semakin kuat. Ketika seseorang terbiasa melakukan tindakan yang baik, perilaku tersebut pada akhirnya tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang dipaksakan. Inilah titik penting riyadat dalam pemikiran Al-Ghazali, yaitu menjadikan perilaku baik sebagai kebiasaan yang melekat dalam diri.

Prinsip riyadat juga dapat dilihat dalam penjelasan Al-Ghazali mengenai latihan diri yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Dalam kajian terhadap Ihya’ ‘Ulum al-Din, metode riyadhah dan mujahadah dijelaskan sebagai bagian dari usaha memperbaiki serta menyucikan jiwa. Riyadhah dilakukan dengan latihan yang terus-menerus, sedangkan mujahadah menuntut kesungguhan dalam menghadapi kecenderungan hawa nafsu dan kelemahan diri. Dengan demikian, keduanya tidak dapat dipisahkan. Mujahadat memberikan kekuatan untuk menahan diri dari perilaku yang buruk, sedangkan riyadat memberikan kesempatan untuk melatih diri melakukan perilaku yang baik secara berulang. Proses tersebut kemudian diperkuat melalui muhasabah atau evaluasi terhadap diri sendiri sehingga seseorang dapat mengetahui kekurangan yang masih perlu diperbaiki (Harits, 2022).

Dalam kehidupan perawat, muhasabah dapat diterapkan sebagai bentuk refleksi setelah memberikan pelayanan. Seorang perawat dapat mengevaluasi apakah komunikasi yang dilakukan sudah baik, apakah pasien telah diperlakukan dengan hormat, apakah tindakan yang diberikan telah dilakukan dengan penuh tanggung jawab, serta apakah terdapat sikap atau respons yang perlu diperbaiki. Refleksi semacam ini penting karena pembentukan karakter membutuhkan kesadaran terhadap kekuatan dan kelemahan diri. Perawat yang mampu melakukan evaluasi diri akan memiliki kesempatan untuk memperbaiki perilakunya secara berkelanjutan. Dengan demikian, muhasabah dapat menjadi jembatan antara mujahadat dan riyadat: seseorang mengenali kelemahan dirinya, berusaha mengendalikan kelemahan tersebut, kemudian melatih perilaku yang lebih baik agar perubahan tersebut menjadi kebiasaan.

Pandangan Al-Ghazali mengenai pembentukan akhlak juga memiliki hubungan dengan pentingnya keteladanan. Pembentukan karakter tidak hanya dilakukan melalui pemberian pengetahuan, tetapi juga melalui contoh perilaku yang dapat diamati dan ditiru. Dalam pendidikan keperawatan, keteladanan dapat diberikan oleh dosen, pembimbing klinik, perawat senior, maupun tenaga kesehatan lain. Mahasiswa tidak hanya belajar dari buku atau prosedur tertulis, tetapi juga mengamati bagaimana seorang perawat berkomunikasi dengan pasien, menghormati keluarga pasien, menjaga kerahasiaan, menghadapi situasi sulit, serta bekerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya. Apabila mahasiswa mendapatkan contoh perilaku profesional secara konsisten, proses pembentukan karakter menjadi lebih mudah karena nilai yang dipelajari tidak hanya disampaikan sebagai teori, tetapi dapat dilihat secara langsung dalam praktik.

Hal tersebut sesuai dengan pandangan dalam kajian pendidikan akhlak Al-Ghazali bahwa keteladanan, pembiasaan, riyadhah, dan mujahadah merupakan bagian yang saling melengkapi dalam pembentukan akhlak. Karakter tidak cukup dibangun melalui nasihat, tetapi perlu diwujudkan melalui lingkungan yang mendukung dan memberikan contoh nyata. Penelitian mengenai pemikiran Al-Ghazali juga menunjukkan bahwa proses pembentukan akhlak dapat dilakukan melalui tahapan takhalli, tahalli, dan tajalli. Takhalli berkaitan dengan usaha meninggalkan sifat tercela, tahalli berkaitan dengan menghiasi diri dengan sifat terpuji, sedangkan tajalli berkaitan dengan munculnya penghayatan nilai dalam diri. Jika diterapkan secara konseptual pada pendidikan keperawatan, proses tersebut dapat dipahami sebagai usaha meninggalkan perilaku yang tidak sesuai dengan etika profesi, membangun kebiasaan profesional yang baik, kemudian menjadikan nilai tersebut sebagai bagian dari karakter perawat (Harits, 2022).

Konsep tersebut semakin terlihat apabila dikaitkan dengan nilai-nilai profesional dalam keperawatan. Pelayanan keperawatan pada dasarnya tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga membutuhkan nilai kemanusiaan, kepedulian, empati, kesabaran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap pasien. Penelitian Işık, Dönmez, dan Özdemir (2022) terhadap 215 perawat menunjukkan bahwa perawat memiliki tingkat nilai profesional, empati, dan kesabaran yang tinggi serta terdapat hubungan di antara aspek-aspek tersebut. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa nilai profesional, empati, dan kesabaran merupakan aspek yang saling berkaitan dalam kehidupan profesional perawat.

Hubungan antara nilai profesional dan perilaku caring juga menunjukkan pentingnya karakter dalam pelayanan keperawatan. Nilai profesional memberikan arah terhadap tindakan perawat dan menjadi dasar dalam menentukan bagaimana pelayanan diberikan. Penelitian mengenai hubungan nilai profesional dan perilaku caring pada perawat menunjukkan bahwa internalisasi nilai profesional berperan penting dalam memberikan pelayanan profesional dan menjaga kualitas pelayanan (Basit et al., 2022). Hal ini sejalan dengan konsep riyadat Al-Ghazali karena nilai yang baik perlu diinternalisasikan melalui latihan dan pembiasaan agar tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi tercermin dalam perilaku. Seorang mahasiswa keperawatan mungkin telah mengetahui bahwa pasien harus dihormati, bahwa komunikasi harus dilakukan dengan sopan, dan bahwa privasi pasien harus dijaga. Namun, pengetahuan tersebut akan menjadi karakter profesional apabila diterapkan secara konsisten dalam berbagai situasi.

Konsep mujahadat dan riyadat juga dapat dikaitkan dengan tantangan emosional yang terdapat dalam pelayanan keperawatan. Perawat sering berada dalam situasi yang membutuhkan kesabaran dan kemampuan mengelola respons emosional. Karena itu, pembentukan karakter tidak dapat hanya dilakukan ketika seseorang telah bekerja sebagai perawat, tetapi sebaiknya dimulai sejak masa pendidikan. Mahasiswa keperawatan dapat dilatih untuk mengenali emosi, melakukan refleksi, menerima kritik, memperbaiki kesalahan, dan membangun kebiasaan komunikasi yang baik. Dalam perspektif Al-Ghazali, proses tersebut merupakan bagian dari latihan diri yang membutuhkan konsistensi. Dengan latihan yang dilakukan sejak dini, nilai profesional diharapkan tidak hanya menjadi aturan yang harus ditaati, tetapi berkembang menjadi bagian dari kepribadian.

Dalam hal ini, pendidikan keperawatan memiliki peran penting sebagai lingkungan pembentukan karakter. Pembelajaran di kelas dapat memberikan pengetahuan mengenai etika dan profesionalisme, sedangkan praktik laboratorium dan praktik klinik memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan nilai tersebut. Dosen dan pembimbing klinik dapat membantu mahasiswa melakukan refleksi terhadap pengalaman praktik sehingga mahasiswa tidak hanya mengetahui apa yang benar secara prosedural, tetapi juga memahami alasan moral dan kemanusiaan di balik suatu tindakan. Pendekatan seperti ini sejalan dengan prinsip riyadat karena mahasiswa diberi kesempatan untuk berlatih secara bertahap, mendapatkan umpan balik, memperbaiki kesalahan, dan mengulangi perilaku yang benar sampai menjadi kebiasaan.

Penerapan mujahadat dan riyadat dalam pembentukan karakter perawat juga dapat mencakup beberapa nilai utama, seperti sabar, empati, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, rendah hati, dan kepedulian. Kesabaran dapat dilatih melalui kemampuan menghadapi pasien dengan kebutuhan yang berbeda tanpa menunjukkan sikap kasar. Empati dapat dibangun dengan membiasakan diri memahami kondisi pasien dari sudut pandang pasien. Kejujuran dapat dilatih melalui keterbukaan dalam melaporkan tindakan dan kondisi pasien. Tanggung jawab dapat dibangun melalui kebiasaan menyelesaikan tugas sesuai standar. Disiplin dapat ditanamkan melalui kepatuhan terhadap waktu dan prosedur. Rendah hati dapat diwujudkan melalui kesediaan menerima kritik dan belajar dari orang lain. Sementara itu, kepedulian dapat diwujudkan melalui perhatian terhadap kebutuhan fisik dan psikologis pasien. Seluruh nilai tersebut membutuhkan latihan berulang agar dapat menjadi karakter yang stabil.

Konsep ini juga dapat dipahami melalui prinsip bahwa perubahan karakter berlangsung secara bertahap. Al-Ghazali tidak menggambarkan pembentukan akhlak sebagai perubahan yang terjadi dalam satu waktu, tetapi sebagai proses yang memerlukan usaha, latihan, dan pembiasaan. Hal tersebut menjadi penting bagi mahasiswa keperawatan karena proses menjadi perawat profesional juga merupakan perjalanan yang panjang. Mahasiswa mungkin belum mampu menguasai seluruh keterampilan atau menghadapi semua situasi klinis dengan sempurna pada awal pendidikan. Namun, melalui latihan yang konsisten, evaluasi diri, keteladanan, dan pengalaman, kemampuan profesional serta karakter dapat berkembang secara bertahap. Dengan demikian, mujahadat dan riyadat dapat memberikan kerangka pembinaan diri yang menekankan proses, bukan kesempurnaan secara instan.

Apabila konsep tersebut diterapkan secara konsisten, pembentukan karakter perawat tidak hanya menghasilkan tenaga kesehatan yang terampil dalam melakukan tindakan keperawatan, tetapi juga perawat yang mampu menghadirkan nilai kemanusiaan dalam pelayanan. Perawat yang memiliki karakter baik akan lebih mampu melihat pasien sebagai manusia yang memiliki kebutuhan, perasaan, martabat, dan hak yang harus dihormati, bukan sekadar sebagai objek tindakan medis. Nilai profesional dalam keperawatan memang memiliki hubungan dengan arah dan kualitas praktik pelayanan, sehingga internalisasi nilai tersebut menjadi bagian penting dalam profesionalisme perawat.

Dengan demikian, metode mujahadat dan riyadat menurut Al-Ghazali memiliki relevansi yang kuat dalam pembentukan karakter perawat. Mujahadat memberikan kerangka untuk melatih pengendalian diri dan menghadapi kecenderungan negatif, sedangkan riyadat memberikan kerangka untuk membangun perilaku positif melalui latihan dan pembiasaan. Keduanya dapat diperkuat dengan muhasabah, istiqamah, keteladanan, serta lingkungan pendidikan yang mendukung. Dalam konteks keperawatan, penerapan metode tersebut dapat diarahkan pada pembentukan perawat yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kesabaran, empati, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan kemampuan menjaga martabat pasien. Oleh karena itu, pemikiran Al-Ghazali mengenai pembentukan akhlak dapat menjadi salah satu landasan konseptual yang relevan untuk mengembangkan karakter profesional perawat, khususnya karakter yang berorientasi pada pelayanan yang manusiawi, etis, dan penuh kepedulian.

III. Penutup

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa metode Al-Ghazali dalam pembentukan karakter yang bertumpu pada dua pilar utama, yaitu mujahadah sebagai kesungguhan dalam mengendalikan diri dan riyadhah sebagai latihan jiwa secara bertahap dan berkelanjutan, memiliki relevansi dalam pembentukan karakter profesi keperawatan. Konsep tersebut menunjukkan bahwa karakter tidak terbentuk secara instan, tetapi melalui proses pengendalian diri, latihan, pembiasaan, refleksi, dan keteladanan. Nilai-nilai tersebut memiliki dasar dalam ajaran Islam serta dapat dipahami secara relevan dengan kebutuhan pembentukan karakter dalam pendidikan dan praktik keperawatan.

Proses takhalli, yaitu usaha meninggalkan sifat tercela, dan tahalli, yaitu membiasakan diri dengan sifat terpuji, apabila dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk perawat yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis-klinis, tetapi juga memiliki kematangan dalam bersikap. Karakter tersebut dapat tercermin melalui kesabaran, empati, kelembutan, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap pasien. Karakter yang baik menjadi salah satu dasar penting dalam memberikan pelayanan keperawatan yang menghargai martabat dan kebutuhan pasien secara menyeluruh. Selain memberikan manfaat bagi pasien, kemampuan mengendalikan diri dan melakukan refleksi juga dapat membantu perawat menghadapi berbagai tuntutan dan tekanan dalam lingkungan kerja.

Dengan demikian, mujahadah dan riyadhah menurut Al-Ghazali dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pendekatan dalam pembinaan karakter perawat yang memadukan nilai spiritual, moral, dan profesional. Penerapannya dapat dilakukan melalui pembiasaan perilaku baik, refleksi diri, keteladanan, serta latihan yang dilakukan secara konsisten sejak masa pendidikan keperawatan. Meskipun demikian, diperlukan kajian dan penelitian lebih lanjut untuk menguji secara empiris penerapan metode tersebut dalam pendidikan dan pembinaan karakter tenaga keperawatan di lingkungan pelayanan kesehatan.

Daftar Pustaka

Harits, A. (2022). Metode pendidikan akhlak Imam Al-Ghazali (Studi analisis Kitab Ihya Ulum ad-Din) [Tesis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta].

Hui, Z., Dai, X., & Wang, X. (2020). Mediating effects of empathy on the association between nursing professional values and professional quality of life in Chinese female nurses: A cross-sectional survey. Nursing Open, 7(1), 411–418. https://doi.org/10.1002/nop2.404

Işık, M. T., Dönmez, Ç. Ç., & Özdemir, R. C. (2022). Relationship between nurses’ professional values, empathy, and patience: A descriptive cross-sectional study. Perspectives in Psychiatric Care, 58(4), 2433–2441. https://doi.org/10.1111/ppc.13078

Mariyanti, H., Yeo, K. J., Klankhajhon, S., & Arifin, H. (2025). Indonesian nursing students’ perceptions of caring in clinical setting: A descriptive qualitative study. SAGE Open Nursing, 11, 23779608241312485. https://doi.org/10.1177/23779608241312485

Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Understanding the burnout experience: Recent research and its implications for psychiatry. World Psychiatry, 15(2), 103–111. https://doi.org/10.1002/wps.20311

Schmidt, B. J., & McArthur, E. C. (2018). Professional nursing values: A concept analysis. Nursing Forum, 53(1), 69–75. https://doi.org/10.1111/nuf.12211

Sellman, D. (2011). Professional values and nursing. Medicine, Health Care and Philosophy, 14(2), 203–208. https://doi.org/10.1007/s11019-010-9295-7

Siregar, N. A. (2026). Metode pendidikan akhlak Imam Al-Ghazali (Studi analisis Kitab Ihya Ulum Ad-Din). Jurnal Pendidikan Tambusai, 10(1), 382–390. https://doi.org/10.31004/jptam.v10i1.35879

Watson, J. (2008). Nursing: The philosophy and science of caring (Rev. ed.). University Press of Colorado.

Zulfahmi, Agustianda, An Nu’man, & Noorhayati, S. M. (2026). Konsep pembiasaan (riyadhah) dalam pendidikan karakter menurut Al Ghazali. AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisiplin, 3(5), 84–95. https://doi.org/10.71282/at-taklim.v3i5.1905

Kontributor: Andini Saprianti

Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *