Evidence-Based Nutrition Practice sebagai Wujud Amanah Ilmiah dalam Pencegahan Penyakit Jantung

I. Pendahuluan

Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih menjadi perhatian di dunia. Penyakit kardiovaskular menjadi salah satu penyebab utama kematian secara global. Pola makan yang tidak sehat merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, terutama apabila berkaitan dengan konsumsi natrium, gula bebas, lemak jenuh, dan makanan yang sangat diproses. Oleh karena itu, pencegahan penyakit jantung perlu dilakukan sejak dini melalui penerapan pola hidup sehat, salah satunya dengan membangun pola makan yang baik dan sesuai kebutuhan tubuh (World Health Organization [WHO], 2025, 2026).

Dalam bidang gizi, informasi mengenai makanan dan kesehatan seharusnya tidak hanya didasarkan pada pendapat pribadi atau informasi yang sedang populer. Rekomendasi gizi perlu didukung oleh bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Evidence-based nutrition practice merupakan pendekatan yang menggunakan bukti ilmiah terbaik dalam pengambilan keputusan gizi dengan tetap mempertimbangkan keahlian profesional, kondisi, kebutuhan, serta nilai dan preferensi individu (Academy of Nutrition and Dietetics, n.d.). Esai ini bertujuan menganalisis peran praktik gizi berbasis bukti dalam pencegahan penyakit jantung serta mengaitkannya dengan ajaran Islam mengenai makanan yang halal dan baik serta tanggung jawab menjaga tubuh. Menurut penulis, penggunaan ilmu gizi berdasarkan bukti ilmiah juga dapat dipandang sebagai bentuk amanah karena informasi yang diberikan tenaga gizi dapat memengaruhi kebiasaan dan kesehatan seseorang.

II. Pembahasan

Evidence-based nutrition practice tidak hanya berarti mencari hasil penelitian kemudian menerapkannya kepada semua orang. Pendekatan ini membutuhkan kemampuan untuk memilih bukti yang relevan, menilai kualitasnya, memahami keterbatasannya, dan menyesuaikan penerapannya dengan kondisi individu. Setiap orang memiliki kebutuhan gizi, kebiasaan makan, kondisi kesehatan, budaya, lingkungan, dan kemampuan ekonomi yang berbeda. Oleh karena itu, tenaga gizi perlu menggabungkan bukti penelitian dengan keahlian profesional dan kondisi nyata masyarakat. Dengan demikian, rekomendasi yang diberikan tidak hanya benar secara teori, tetapi juga realistis dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hubungan praktik gizi berbasis bukti dengan pencegahan penyakit jantung dapat dilihat melalui pentingnya pola makan sehat. WHOmenjelaskan bahwa pola makan sehat memiliki prinsip kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman. Pola makan tersebut dapat membantu melindungi tubuh dari penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung dan stroke. Makanan yang dianjurkan antara lain sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta sumber protein yang baik, sedangkan konsumsi natrium, gula bebas, dan lemak yang tidak sehat perlu dibatasi. Pada orang dewasa, WHO menganjurkan konsumsi garam kurang dari 5 gram per hari atau setara dengan kurang dari 2.000 mg natrium(WHO, 2026).

Pedoman terbaru American Heart Association juga menekankan bahwa kesehatan jantung lebih baik didukung oleh pola makan secara keseluruhan, bukan hanya dengan menghindari satu jenis makanan. Pola makan yang mendukung kesehatan jantung mencakup konsumsi sayur dan buah yang beragam, lebih banyak biji-bijian utuh daripada biji-bijian olahan, sumber protein yang sehat, serta lemak tidak jenuh sebagai pengganti lemak jenuh. Selain itu, konsumsi makanan ultra-proses, gula tambahan, dan natrium perlu dibatasi. Pedoman tersebut menekankan pentingnya membangun pola makan yang mendukung kesehatan jantung sepanjang kehidupan (Lichtenstein et al., 2026).

Menurut penulis, hal tersebut menunjukkan bahwa pencegahan penyakit jantung tidak harus dilakukan dengan cara yang ekstrem. Seseorang tidak harus menghilangkan seluruh karbohidrat atau lemak dari makanan. Hal yang lebih penting adalah memperhatikan kualitas makanan, jumlah yang dikonsumsi, serta keseimbangan pola makan secara keseluruhan. Prinsip tersebut penting bagi tenaga gizi karena masyarakat membutuhkan penjelasan yang benar mengenai pola makan sehat tanpa harus mengikuti diet yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan tubuh. Dalam konteks Indonesia, penerapan prinsip tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan pangan yang mudah diperoleh, seperti nasi atau sumber karbohidrat lain dalam jumlah sesuai kebutuhan, sayur, buah, ikan, tahu, tempe, dan kacang-kacangan.

Bukti ilmiah mengenai hubungan pola makan dengan kesehatan jantung juga dapat dilihat melalui penelitian PREDIMED. Penelitian tersebut melibatkan 7.447 peserta yang memiliki risiko kardiovaskular tinggi tetapi belum mengalami penyakit kardiovaskular pada awal penelitian. Peserta mengikuti pola makan Mediterania dengan tambahan minyak zaitun extra virgin, pola makan Mediterania dengan tambahan kacang-kacangan, atau kelompok kontrol. Setelah penelitian awal ditarik karena ditemukan penyimpangan dalam proses randomisasi dan dilakukan analisis kembali, hasilnya tetap menunjukkan bahwa kejadian kardiovaskular mayor lebih rendah pada kelompok pola makan Mediterania dibandingkan kelompok kontrol (Estruch et al., 2018). Bagi penulis, penelitian tersebut memberikan pelajaran bahwa penggunaan bukti ilmiah tidak cukup hanya dengan melihat hasil akhirnya. Calon tenaga gizi juga perlu membaca penelitian secara kritis, memahami metode dan keterbatasannya, serta tidak langsung menggeneralisasikan hasil penelitian kepada semua orang.

Hasil penelitian PREDIMED juga tidak berarti bahwa seluruh masyarakat Indonesia harus mengikuti pola makan Mediterania secara persis. Prinsip yang dapat diterapkan adalah memperbanyak pangan nabati, memilih sumber lemak yang lebih sehat, mengonsumsi sumber protein yang baik, dan membatasi makanan yang berlebihan natrium, gula, serta lemak tidak sehat. Penerapannya dapat disesuaikan dengan bahan pangan lokal dan kebiasaan makan masyarakat Indonesia. Dengan cara tersebut, evidence-based nutrition practice tidak berhenti sebagai teori penelitian, tetapi dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat.

Penerapan ilmu gizi berbasis bukti juga dapat dikaitkan dengan ajaran Islam. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 88:

وَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَـٰلًۭا طَيِّبًۭا ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِىٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤْمِنُونَ

Artinya: “Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” (QS. Al-Ma’idah [5]: 88).

Ayat tersebut memiliki keterkaitan dengan konsep halal dan thayyib. Makanan yang dikonsumsi tidak hanya perlu diperhatikan dari segi kehalalannya, tetapi juga kebaikan dan manfaatnya bagi tubuh. Dalam perspektif ilmu gizi, makanan yang baik dapat dikaitkan dengan makanan yang aman, bergizi, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan tubuh. Dengan demikian, memilih makanan yang halal dan baik serta tidak mengonsumsinya secara berlebihan dapat menjadi salah satu bentuk penerapan nilai Islam dalam menjaga kesehatan.

Islam juga mengajarkan bahwa tubuh memiliki hak yang harus diperhatikan. Rasulullah SAW bersabda:

فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Artinya: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu, dan istrimu memiliki hak atasmu” (Al-Bukhari, n.d., Hadis No. 5199).

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya tanggung jawab seseorang dalam menjaga tubuh. Jika dikaitkan dengan ilmu gizi, salah satu bentuk menjaga tubuh adalah memenuhi kebutuhan zat gizi, memilih makanan yang baik, menjaga pola makan, dan menghindari kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko penyakit. Pencegahan penyakit jantung melalui pola makan sehat dapat menjadi salah satu bentuk usaha untuk menjaga tubuh sebagai amanah dari Allah SWT.

Konsep amanah tersebut juga berkaitan dengan tanggung jawab seorang tenaga gizi. Tenaga gizi perlu menyampaikan informasi berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak hanya mengikuti informasi yang sedang populer. Hal ini semakin penting karena informasi mengenai diet dan kesehatan sangat mudah ditemukan di media sosial, sedangkan tidak semua informasi tersebut memiliki dasar ilmiah yang kuat. Seorang calon tenaga gizi harus mampu membedakan informasi berdasarkan bukti dengan informasi yang hanya berasal dari pengalaman pribadi atau tren.

Dalam pencegahan penyakit jantung, tenaga gizi dapat melakukan pengkajian terhadap kebiasaan makan, status gizi, aktivitas fisik, serta faktor risiko seseorang. Setelah itu, edukasi dan intervensi dapat diberikan sesuai dengan kondisi individu. Contohnya adalah meningkatkan konsumsi sayur dan buah, memilih sumber protein seperti ikan, tahu, tempe, dan kacang-kacangan, serta mengurangi makanan yang tinggi natrium, gula tambahan, dan lemak jenuh. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak sesuai anjuran yang berlaku (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2024).

Penerapan pola makan sehat tidak harus menggunakan makanan yang mahal. Tenaga gizi justru perlu membantu masyarakat memilih bahan pangan yang mudah diperoleh, terjangkau, dan sesuai dengan kebiasaan setempat. Edukasi juga sebaiknya tidak hanya berisi larangan, tetapi menjelaskan alasan mengapa konsumsi garam, gula, lemak jenuh, dan makanan ultra-proses perlu dibatasi serta bagaimana memilih alternatif yang lebih sehat. Menurut penulis, kemampuan menyampaikan informasi ilmiah dengan bahasa yang sederhana merupakan bagian penting dari tanggung jawab calon tenaga gizi. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh dari penelitian dapat benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

III. Penutup

Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwaevidence-based nutrition practicememiliki peran penting dalam pencegahan penyakit jantung karena membantu tenaga gizi menggunakan bukti ilmiah dalam menentukan rekomendasi yang sesuai dengan kebutuhan individu. Pola makan yang beragam, cukup, seimbang, dan tidak berlebihan, dengan memperbanyak sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta sumber protein dan lemak yang lebih sehat dapat mendukung kesehatan jantung, sedangkan konsumsi natrium, gula tambahan, lemak jenuh, dan makanan ultra-proses perlu dibatasi. Bukti dari pedoman kesehatan dan penelitian PREDIMED menunjukkan pentingnya melihat pola makan secara keseluruhan dan menerapkan hasil penelitian secara kritis. Prinsip tersebut sejalan dengan ajaran Islam mengenai makanan yang halal dan thayyib serta kewajiban menjaga tubuh sebagai amanah. Oleh karena itu, sebagai calon tenaga gizi, penulis perlu membiasakan diri menggunakan sumber ilmiah yang terpercaya, berpikir kritis terhadap informasi gizi, dan memberikan edukasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Rekomendasi yang diberikan hendaknya realistis, terjangkau, sesuai budaya dan kebutuhan individu, sehingga praktik gizi berbasis bukti dapat membantu masyarakat membangun pola makan yang lebih sehat sekaligus menjadi bentuk amanah ilmiah dalam mencegah penyakit jantung.

Daftar Pustaka

Academy of Nutrition and Dietetics. (n.d.). Evidence-based dietetics practice. Evidence Analysis Library. https://www.andeal.org/content.cfm?cat=0&cid=0&content_code=about%3AEAL

Al-Bukhari, M. I. (n.d.). Sahih al-Bukhari 5199. Sunnah.com. https://sunnah.com/bukhari:5199

Al-Qur’an. (n.d.). Surah Al-Ma’idah [5]: 88. Quran.com. https://quran.com/5/88

Estruch, R., Ros, E., Salas-Salvadó, J., Covas, M.-I., Corella, D., Arós, F., Gómez-Gracia, E., Ruiz-Gutiérrez, V., Fiol, M., Lapetra, J., Lamuela-Raventos, R. M., Serra-Majem, L., Pintó, X., Basora, J., Muñoz, M. A., Sorlí, J. V., Martínez, J. A., Fitó, M., Gea, A., & Martínez-González, M. A. (2018). Primary prevention of cardiovascular disease with a Mediterranean diet supplemented with extra-virgin olive oil or nuts. New England Journal of Medicine, 378(25), e34. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1800389

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Cegah meningkatnya diabetes, jangan berlebihan konsumsi gula, garam, lemak (GGL). https://kemkes.go.id/id/cegah-meningkatnya-diabetes-jangan-berlebihan-konsumsi-gula-garam-lemak

Lichtenstein, A. H., Khera, A., Anderson, C. A. M., Appel, L. J., DeSilva, D. M., Gardner, C., Hu, F. B., Jones, D. W., & Petersen, K. S. (2026). 2026 dietary guidance to improve cardiovascular health: A scientific statement from the American Heart Association. Circulation, 153(18), e1285–e1295. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000001435

World Health Organization. (2025, July 31). Cardiovascular diseases (CVDs). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cardiovascular-diseases-%28cvds%29

World Health Organization. (2026, January 26). Healthy diet. https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet

Kontributor: Shisi Jelita

Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *