Amanah Kesehatan Jantung Sebagai Sintesis Akhir Pembelajaran Hakikat Manusia Bagi Calon Bidan

I. Pendahuluan

Jantung adalah organ yang tidak pernah berhenti bekerja selama manusia masih hidup. Setiap detiknya, jantung memompa darah ke seluruh tubuh, membawa oksigen dan zat gizi ke setiap sel. Kalau dipikir-pikir, kita jarang menyadari betapa besar peran organ ini, padahal ia bekerja terus tanpa kita minta. Data dari World Health Organization (2025) memperlihatkan bahwa penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia, dengan sekitar 19,8 juta orang meninggal karena penyakit ini pada tahun 2022, atau hampir sepertiga dari seluruh kematian secara global. Angka ini cukup mengejutkan, dan menurut saya menunjukkan bahwa menjaga kesehatan jantung bukan sekadar urusan medis semata, tetapi juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana manusia memaknai dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. yang diberi bentuk terbaik sekaligus dititipi tanggung jawab atas tubuhnya sendiri.

Bagi saya sebagai mahasiswa kebidanan, topik ini terasa dekat dan relevan. Bidan adalah tenaga kesehatan yang mendampingi perempuan mulai dari masa hamil, bersalin, sampai nifas, yaitu masa-masa yang sebenarnya cukup rentan terhadap gangguan jantung, misalnya preeklamsia dan peripartum cardiomyopathy (Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, 2023). Karena itu, memahami jantung tidak bisa dilepaskan dari memahami hakikat manusia secara utuh, baik dari sisi jasmani maupun rohani, sebagai pribadi yang memikul amanah, sekaligus sebagai subjek pelayanan kebidanan yang harus dipandang seutuhnya, bukan hanya dilihat dari sisi biologisnya saja. Melalui esai ini, saya ingin membahas bagaimana amanah menjaga kesehatan jantung dapat menjadi semacam rangkuman dari apa yang selama ini dipelajari tentang hakikat manusia, sekaligus melihat apa artinya bagi praktik kebidanan nantinya.

II. Pembahasan

Dalam pandangan Islam, manusia diberi dua kedudukan sekaligus, yaitu sebagai khalifah fil ardh atau pemimpin di bumi, dan sebagai pemegang amanah. Manusia tidak diciptakan begitu saja tanpa tujuan, melainkan diberi tanggung jawab atas dirinya, termasuk atas jasadnya sendiri. Tubuh manusia, dengan jantung sebagai pusatnya, merupakan titipan Allah Swt. yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana ia dijaga dan digunakan (Aufa, Firdaus, & Fadilurrahman, 2024). Dari sini saya jadi berpikir, menjaga kesehatan jantung sebenarnya adalah bentuk amanah paling dasar, sebab tanpa jantung yang sehat, ibadah dan aktivitas manusia sehari-hari juga akan ikut terganggu.

Konsep amanah ini disebutkan langsung dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 72 berikut ini:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusialah satu-satunya makhluk yang bersedia memikul amanah, termasuk amanah menjaga jasadnya sendiri. Secara lebih khusus, jantung juga disinggung dalam Al-Qur’an surah Asy-Syu’ara ayat 88-89 berikut:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (٨٨) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (٨٩)

Artinya: “(yaitu) di hari ketika harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (qalbun salim).” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)

Ayat di atas memperlihatkan bahwa kata qalb dalam bahasa Arab punya makna ganda, yaitu organ fisik yang memompa darah sekaligus pusat spiritual tempat keimanan bersemayam. Makna ganda ini semakin diperkuat oleh sebuah hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir, di mana Rasulullah Saw. bersabda sebagai berikut:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya: “Ketahuilah, di dalam jasad terdapat segumpal daging; apabila ia baik maka baik pula seluruh jasad, dan apabila ia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati (qalb).” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

Kalau diperhatikan, hadis ini sebenarnya cukup menarik karena seperti sudah ‘menebak’ apa yang sekarang dibuktikan ilmu kedokteran modern, yaitu bahwa jantung adalah organ sentral yang kondisinya memengaruhi kesehatan seluruh tubuh. Begitu pula dengan qalb secara spiritual, yang menentukan baik atau buruknya akhlak seseorang. Kerusakan jantung secara fisik, misalnya karena gaya hidup yang kurang sehat, punya kemiripan makna dengan kerusakan hati secara spiritual, misalnya karena sifat iri atau sombong. Keduanya sama-sama membuat kondisi manusia secara keseluruhan menjadi tidak baik.

Pendapat ulama juga mendukung pandangan ini. Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aspek jasmani dan rohani sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan (Aufa et al., 2024). Ada juga prinsip maqasid al-syariah, khususnya hifz al-nafs atau menjaga jiwa dan raga, yang menempatkan pemeliharaan kesehatan sebagai salah satu tujuan pokok syariat. Artinya, upaya mencegah penyakit jantung sebenarnya bisa dilihat sebagai bagian dari ibadah, bukan sekadar urusan gaya hidup (Aufa et al., 2024). Pandangan ini juga selaras dengan larangan Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah ayat 195 agar manusia tidak menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kebinasaan, yang bisa menjadi dasar untuk menghindari kebiasaan yang merusak jantung, seperti merokok, makan berlebihan, dan malas bergerak.

Dari sisi ilmiah, urgensi topik ini juga cukup jelas terlihat. Laporan Institute for Health Metrics and Evaluation (2025) mencatat bahwa penyakit kardiovaskular menyebabkan satu dari tiga kematian di dunia pada tahun 2023, dan bebannya terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, penuaan, serta faktor risiko seperti obesitas dan diabetes. Roth dan kolega (2023) dalam Journal of the American College of Cardiology juga menyebutkan bahwa tekanan darah tinggi menjadi salah satu faktor risiko utama di balik tingginya angka kematian akibat penyakit jantung koroner dan stroke di berbagai negara. Khusus dalam konteks kebidanan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta (2023) melaporkan adanya kasus peripartum cardiomyopathy pada ibu hamil dan pascasalin, yang sebagian besar disertai preeklamsia. Temuan ini menegaskan bahwa deteksi dini gangguan jantung sebenarnya perlu menjadi bagian rutin dari asuhan antenatal yang dilakukan bidan, bukan sesuatu yang dianggap jarang terjadi.

Dari semua yang sudah dipaparkan, saya melihat bahwa amanah menjaga kesehatan jantung menjadi titik temu yang paling jelas antara sisi jasmani dan rohani dalam diri manusia. Jantung secara fisik dan qalb secara spiritual, walaupun bisa dibedakan secara konsep, sebenarnya mengarah pada satu kesadaran yang sama, yaitu bahwa manusia dipercaya untuk merawat titipan Allah Swt., baik pada dirinya sendiri maupun, khusus bagi calon bidan, pada diri pasien yang dilayaninya. Kesadaran seperti inilah yang membuat topik kesehatan jantung terasa pas untuk dijadikan semacam rangkuman dari apa yang sudah dipelajari tentang hakikat manusia, karena di dalamnya bertemu tiga hal sekaligus, yaitu pengetahuan ilmiah tentang tubuh, keyakinan tentang amanah, dan tanggung jawab etik sebagai calon tenaga kesehatan.

Pemahaman ini tentu perlu diwujudkan dalam praktik kebidanan sehari-hari, bukan hanya berhenti sebagai teori. Pertama, bidan perlu rutin melakukan skrining tekanan darah dan mendeteksi tanda-tanda bahaya kardiovaskular pada setiap kunjungan pemeriksaan kehamilan, mengingat preeklamsia dan gangguan jantung kehamilan sebenarnya bisa dicegah kalau dikenali sejak awal. Kedua, bidan juga berperan mengedukasi ibu hamil dan keluarganya tentang pola hidup sehat, seperti makan bergizi seimbang, cukup bergerak, serta menjauhi rokok dan stres berlebihan, sebagai wujud nyata dari larangan menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan yang sudah dibahas sebelumnya. Ketiga, pelayanan kebidanan sebaiknya dilandasi kesadaran bahwa merawat kesehatan pasien adalah bagian dari amanah profesi sekaligus amanah keagamaan, sehingga sikap empati, teliti, dan bertanggung jawab bukan sekadar formalitas, melainkan benar-benar tertanam dalam setiap asuhan yang diberikan.

III. Penutup

Kesehatan jantung, baik secara fisik maupun spiritual, merupakan amanah paling mendasar yang dipikul manusia sebagai khalifah di bumi. Kajian atas Al-Qur’an, hadis, pendapat ulama, serta data ilmiah yang sudah dibahas menunjukkan bahwa menjaga jantung sekaligus menjaga qalb adalah bentuk utuh dari hakikat manusia sebagai kesatuan jasmani dan rohani. Bagi saya dan calon bidan lainnya, pemahaman ini bisa menjadi semacam benang merah yang menyatukan ilmu kebidanan, keimanan, dan etika profesi menjadi satu kesadaran pelayanan yang menyeluruh terhadap perempuan dan keluarganya.

Saya berharap institusi pendidikan kebidanan dapat mempertimbangkan untuk memasukkan nilai-nilai keislaman tentang amanah kesehatan ke dalam kurikulum asuhan kardiovaskular pada kehamilan, agar lulusan bidan tidak hanya kompeten secara teknis dalam skrining dan deteksi dini gangguan jantung, tetapi juga memiliki landasan spiritual yang kuat dalam menjalankan profesinya. Penelitian lanjutan juga masih perlu dilakukan untuk melihat lebih dalam sejauh mana pendekatan spiritual-religius dapat membantu meningkatkan kepatuhan ibu hamil terhadap perilaku hidup sehat, demi mencegah komplikasi kardiovaskular di kemudian hari.

Daftar Pustaka

Aufa, E. S., Firdaus, M. N., & Fadilurrahman, M. A. (2024). Kesehatan sebagai ibadah: Mengapa menjaga tubuh adalah bagian dari keimanan. Ikhlas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, 1(4), 48-56. https://doi.org/10.61132/ikhlas.v1i4.121

Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. (2023, Februari 9). Deteksi dini penyakit jantung pada ibu hamil. https://kesehatan.jogjakota.go.id/berita/id/430/deteksi-dini-penyakit-jantung-pada-ibu-hamil/

Institute for Health Metrics and Evaluation. (2025, September 24). Report: Cardiovascular diseases caused 1 in 3 global deaths in 2023. https://www.healthdata.org/news-events/newsroom/news-releases/report-cardiovascular-diseases-caused-1-3-global-deaths-2023

Roth, G. A., et al. (2023). A heart-healthy and stroke-free world: Using data to inform global action. Journal of the American College of Cardiology. https://doi.org/10.1016/j.jacc.2023.11.003

World Health Organization. (2025). Cardiovascular diseases (CVDs) [Fact sheet]. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cardiovascular-diseases-(cvds)

Kontributor: Echa Plavixa

Editor: Arif Islahuddin, M.Pd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *