Tingkatan Keyakinan dari Taklid Menuju Haqqul Yakin dalam Perjalanan Profesionalisme Perawat
I. Pendahuluan
Salah satu profesi yang memainkan peran penting dalam menyediakan layanan kesehatan kepada masyarakat adalah perawat. Seorang perawat tidak hanya harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan tindakan keperawatan; mereka juga harus memiliki moral, etika, tanggung jawab, dan nilai-nilai yang sesuai dengan profesi mereka. Selain itu, menjadi seorang perawat profesional membutuhkan proses yang tidak sebentar. Proses ini dapat dicapai melalui praktik, pengalaman, dan pendidikan terus-menerus. Dalam Islam, terdapat beberapa tingkat keyakinan yang dapat digunakan untuk menggambarkan bagaimana seseorang memahami pengetahuan. Ketika seseorang menerima atau mengikuti suatu pengetahuan berdasarkan apa yang disampaikan oleh orang lain yang dianggap memiliki pengetahuan yang lebih besar, ini disebut taqlid. Haqqul yaqin, di sisi lain, adalah tingkat keyakinan yang lebih mendalam karena seseorang tidak hanya mengetahui apa yang mereka ketahui, tetapi juga telah mengalami, mengalami, dan memahaminya. Ilm al-yaqin (keyakinan yang diperoleh melalui pengetahuan) dan ayn al-yaqin (keyakinan yang diperkuat melalui pengamatan atau pengalaman langsung). Tingkatan ini dapat dikaitkan dengan karir perawat karena mahasiswa keperawatan pada tahap awal banyak menerima arahan dan pengetahuan dari pembimbing, tenaga kesehatan yang lebih berpengalaman. Setelah teori dipelajari dan diterapkan dalam kegiatan praktik, seorang perawat dapat memahami dan merasakan apa yang sebelumnya hanya dipelajari secara teoretis.
Dengan demikian, esai ini membahas tingkat keyakinan dari taqlid menuju haqqul yaqin dalam perjalanan profesionalisme perawat. Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk melihat bagaimana pengetahuan yang awalnya hanya diterima dari orang lain dapat berkembang menjadi pemahaman melalui proses belajar, yang kemudian dapat digunakan dalam praktik keperawatan untuk menghasilkan pengalaman. Seorang perawat profesional tidak hanya diharuskan untuk mematuhi peraturan atau melakukan tindakan sesuai prosedur, tetapi mereka juga harus memahami alasan di balik tindakan mereka dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Oleh karena itu, topik ini sangat penting. Dengan proses ini, pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan tidak hanya akan diingat, tetapi juga dapat digunakan oleh seorang perawat dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Oleh karena itu, perjalanan dari taqlid menuju haqqul yaqin dapat menjadi cara untuk melihat bagaimana seorang calon perawat berkembang dari tahap menerima ilmu hingga mampu memahami, mengalami, dan menghayati nilai-nilai dalam profesi keperawatan.
II. Pembahasan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menyebutkan bahwa salah satu hal yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan masyarakat adalah sumber daya manusia yang berkualitas dan produktif. Tenaga kesehatan yang berkualitas dapat terbentuk apabila memiliki identitas profesional yang baik. Identitas profesional merupakan konsep diri seseorang dalam memahami dan memandang profesi yang dijalaninya, salah satunya sebagai seorang perawat. Identitas tersebut dapat dilihat dari karakter, nilai, keyakinan, dan pengalaman yang dimiliki oleh seorang perawat dalam membentuk dirinya sebagai bagian dari profesi keperawatan (Mediawati et al., 2025). Dalam penelitian (Shudifat et al., 2024) menunjukkan bahwa dalam mempersiapkan mahasiswa keperawatan untuk menjadi tenaga keperawatan yang profesional, diperlukan proses untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman profesional, memiliki panutan yang baik, menunjukkan kepedulian, serta membangun komunikasi yang efektif.
Sebelum seseorang dapat menjalankan tugas sebagai perawat profesional, tentunya terdapat proses yang harus dilalui, terutama melalui pendidikan dan pembelajaran. Seorang mahasiswa keperawatan tidak langsung memiliki kemampuan dan pemahaman yang dibutuhkan dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Pada awalnya, mahasiswa mempelajari berbagai pengetahuan dasar mengenai keperawatan melalui dosen, buku, maupun pembelajaran di kelas. Pengetahuan tersebut kemudian dikembangkan melalui praktik dan pengalaman di lingkungan klinik. Dengan demikian, proses belajar menjadi bagian penting dalam membentuk seorang mahasiswa hingga nantinya mampu menjalankan peran sebagai perawat profesional. Proses tersebut tidak hanya membuat seseorang mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga membantu seseorang memahami alasan dari tindakan yang dilakukan dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
Dalam proses belajar tersebut, pengetahuan yang diperoleh juga berkaitan dengan bagaimana seseorang membentuk keyakinan terhadap ilmu yang dipelajarinya. Pada awalnya, seorang mahasiswa mungkin hanya menerima dan mengikuti pengetahuan yang diberikan oleh dosen atau pembimbing karena menganggap bahwa pengetahuan tersebut benar. Namun, setelah mempelajari lebih dalam dan menerapkannya dalam praktik, mahasiswa mulai memahami alasan dan tujuan dari pengetahuan tersebut. Pengalaman yang diperoleh selama proses pembelajaran juga dapat membuat pemahaman tersebut menjadi semakin kuat. Dari sinilah pembahasan mengenai tingkatan keyakinan menjadi penting, karena proses memperoleh ilmu tidak hanya berhenti pada tahap mengetahui, tetapi dapat berkembang menjadi pemahaman dan keyakinan yang lebih mendalam.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak langsung memiliki keyakinan yang kuat terhadap sesuatu yang baru diketahuinya. Seseorang biasanya terlebih dahulu menerima informasi dari orang lain, kemudian mempelajarinya, melihat penerapannya, dan akhirnya mendapatkan pengalaman yang membuat pemahamannya semakin kuat. Dalam perspektif Islam, proses keyakinan tersebut dapat dikaitkan dengan istilah taqlid, ‘ilm al-yaqin, ‘ayn al-yaqin, dan haqq al-yaqin. Taqlid secara umum dapat dipahami sebagai mengikuti pendapat atau pengetahuan dari pihak yang dianggap lebih mengetahui. Selanjutnya, ‘ilm al-yaqin berkaitan dengan keyakinan yang diperoleh melalui pengetahuan, ‘ayn al-yaqin berkaitan dengan keyakinan yang diperoleh melalui pengamatan secara langsung, sedangkan haqq al-yaqin menggambarkan keyakinan yang lebih mendalam setelah seseorang mengalami dan memahami suatu kebenaran. Tingkatan tersebut dapat digunakan sebagai gambaran dalam melihat proses seseorang dalam memperoleh ilmu, walaupun tidak dapat dikatakan sebagai teori perkembangan profesionalisme keperawatan.
Al-Hujwiri menjelaskan bahwa Ilm Al-Yaqin, Ain Al-Yaqin, dan Haq Al-Yaqin berhubungan dengan bagaimana seseorang memperoleh dan memahami ilmu. Menurut pandangan kaum sufi, ilmu tidak hanya digunakan untuk mengetahui sesuatu, tetapi juga harus dapat menumbuhkan keyakinan dalam diri seseorang. Imam Al-Qusyairi juga menjelaskan bahwa Al-Yaqin merupakan ilmu yang membuat seseorang memiliki keyakinan yang kuat dan. tidak lagi merasa ragu. Jadi, ketiga istilah tersebut sama-sama membahas tentang keyakinan, tetapi memiliki perbedaan dalam tingkat kekuatan keyakinan yang dimiliki seseorang (Rohim, 2024).
Konsep mengenai tingkatan keyakinan juga dapat ditemukan dalam Al-Qur’an. Salah satunya terdapat dalam Surah At-Takatsur [102]: 5-7. Allah Swt. berfirman:
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِۗ ٥ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَۙ ٦ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِۙ ٧
Artinya: “Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti berdasarkan ilmu pengetahuan, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim, kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri dengan sebenar-benarnya.” Ayat tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara mengetahui melalui ilmu dan mengetahui melalui penglihatan secara langsung. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa pengetahuan seseorang dapat berkembang dari sesuatu yang diketahui berdasarkan ilmu menuju keyakinan yang semakin kuat ketika disertai pengalaman atau pengamatan langsung. Konsep ini dapat menjadi dasar untuk memahami bahwa proses memperoleh pengetahuan tidak hanya berhenti pada mengetahui secara teori.
Selain ‘ilm al-yaqin dan ‘ayn al-yaqin, Al-Qur’an juga menyebut istilah haqq al-yaqin. Dalam Surah Al-Haqqah [69]: 51, Allah Swt. berfirman:
وَاِنَّهٗ لَحَقُّ الْيَقِيْنِ ٥١
Artinya: “Sesungguhnya ia (Al-Qur’an itu) adalah kebenaran yang meyakinkan..” Ayat tersebut menunjukkan adanya istilah haqq al-yaqin yang menggambarkan suatu kebenaran yang sangat kuat. Surat Al-Haqqah ayat 51: 49-51. Allah mengabarkan bahwasanya Dia Maha Mengetahui dari manusia siapa yang mendustakan Al Qur’an ini yang jelas ayat-ayatnya. Kemudian Allah mengabarkan bahwa Al Qur’an ini didustkan oleh kafir dan ia akan dibangkitkan dan menyesal atas mereka (di hari kiamat). Allah juga mengabrkan bahwa hari kiamat adalah benar adanya dimana, apa saja yang Allah katakan pasti benar dan tidaklah Allah berkata kecuali kebenaran. Kebenarannya berada pada posisi paling tinggi, yaitu sampai meyakinkan yang merupakan ilmu yang tetap, tidak goyang dan tidak ragu-ragu lagi. Yakin ada tiga tingkatan: (1) ‘Ilmul yaqiin, yaitu ilmu yang diambil dari berita, (2) ‘Ainul yaqiin, yaitu ilmu yang diperoleh dari melihat langsung, (3) Haqqul yaqiin, yaitu ilmu yang diperoleh dari merasakan langsung. Nah, Al Qur’an ini menempati posisi paling tinggi, yaitu haqqul yaqiin karena di dalamnya terdapat ilmu yang diperkuat dengan bukti-bukti yang pasti, hakikat dan ma’rifat keimanan sehingga dengannya seseorang merasakan kebenarannya secara haqqul yaqiin (TafsirWeb, 2020).
Dalam pembahasan keislaman, istilah tersebut kemudian banyak digunakan oleh para ulama ketika menjelaskan tingkatan keyakinan. Dengan demikian, haqq al-yaqin dapat dipahami sebagai tingkat keyakinan yang tidak hanya didasarkan pada informasi, tetapi mempunyai dasar yang kuat sehingga seseorang benar-benar meyakini kebenaran tersebut. Namun, konsep ini tetap perlu dipahami dalam konteks yang tepat dan tidak disamakan secara langsung dengan teori ilmiah mengenai perkembangan kompetensi seorang perawat.
Dalam hadis juga terdapat penekanan mengenai pentingnya memperoleh dan mengembangkan ilmu. Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Artinya: “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan ia dalam urusan agama.” (HR. Bukhari).Hadis tersebut menunjukkan bahwa pemahaman memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang muslim. Jika dikaitkan dengan pendidikan keperawatan, seorang mahasiswa tidak cukup hanya menerima informasi dari dosen atau menghafal materi perkuliahan. Pengetahuan tersebut perlu dipahami agar dapat digunakan secara tepat ketika menghadapi kondisi nyata. Dengan demikian, proses belajar seharusnya menghasilkan pemahaman, bukan hanya kemampuan untuk mengingat materi.
Pendapat para ulama mengenai tingkatan keyakinan juga memperlihatkan bahwa pengetahuan memiliki tingkat kedalaman yang berbeda. Para ulama menjelaskan ‘ilm al-yaqin sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui informasi atau dalil yang memberikan keyakinan, sedangkan ‘ayn al-yaqin berkaitan dengan sesuatu yang diketahui melalui penglihatan atau penyaksian langsung. Sementara itu, haqq al-yaqin dipahami sebagai bentuk keyakinan yang lebih kuat karena seseorang telah memperoleh hakikat atau mengalami sesuatu secara langsung. Perbedaan tersebut dapat memberikan gambaran bahwa proses memperoleh ilmu tidak berhenti pada tahap mengetahui, tetapi dapat berkembang menjadi pengalaman dan penghayatan. Dalam pendidikan keperawatan, proses seperti ini juga penting karena ilmu yang diperoleh di ruang kelas akan menghadapi kondisi yang lebih kompleks ketika diterapkan dalam praktik.
Dalam perjalanan menjadi perawat profesional, mahasiswa pada awalnya berada pada tahap banyak menerima pengetahuan dari dosen, buku, instruktur klinik, dan tenaga kesehatan yang lebih berpengalaman (Febriani et al., 2024). Misalnya, mahasiswa mengetahui bahwa mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan merupakan bagian penting dalam pencegahan infeksi. Pada tahap awal, mahasiswa mungkin melakukan tindakan tersebut karena mengikuti arahan dosen atau prosedur yang telah ditetapkan. Kondisi ini dapat menjadi gambaran sederhana dari tahap taqlid, yaitu mengikuti sesuatu berdasarkan sumber yang dianggap memiliki pengetahuan. Namun, mahasiswa kemudian mempelajari alasan ilmiah di balik tindakan tersebut, termasuk hubungan kebersihan tangan dengan pencegahan infeksi. Pada tahap ini, pengetahuan yang sebelumnya hanya diterima mulai dipahami melalui ilmu.
Ketika mahasiswa mulai melakukan praktik klinik, pengetahuan tersebut tidak lagi hanya dipelajari melalui buku atau penjelasan dosen. Mahasiswa dapat melihat secara langsung kondisi pasien, melakukan tindakan sesuai prosedur di bawah pengawasan pembimbing, dan mengetahui bagaimana suatu tindakan dapat memengaruhi keselamatan pasien. Pengalaman tersebut membuat pengetahuan yang sebelumnya bersifat teoritis menjadi lebih nyata (Taswin et al., 2025). Proses ini dapat dikaitkan dengan ‘ayn al-yaqin, karena mahasiswa memperoleh pemahaman yang semakin kuat melalui pengalaman dan pengamatan langsung. Setelah mendapatkan pengalaman secara berulang dan melakukan refleksi terhadap tindakan yang dilakukan, mahasiswa diharapkan semakin memahami pentingnya ilmu dan nilai-nilai dalam profesi keperawatan. Pada tahap inilah konsep haqq al-yaqin dapat digunakan sebagai gambaran mengenai penghayatan yang lebih mendalam terhadap ilmu dan tanggung jawab profesi.
Secara ilmiah, proses tersebut sejalan dengan pandangan bahwa profesionalisme keperawatan berkembang melalui pendidikan, pengalaman, interaksi, dan pembelajaran yang berkelanjutan. Profesionalisme tidak hanya berkaitan dengan kemampuan melakukan tindakan secara benar, tetapi juga mencakup pengetahuan, sikap, perilaku, tanggung jawab, kepedulian terhadap pasien, serta kemampuan menerapkan ilmu berdasarkan bukti (Febriana et al., 2025). Pengalaman klinis juga berperan dalam membentuk identitas profesional karena mahasiswa mulai memahami bagaimana seorang perawat seharusnya bersikap, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap pasien (Attamimi et al., 2024). Oleh sebab itu, pengalaman dalam praktik tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan keterampilan, tetapi juga membantu mahasiswa memahami makna dari profesi yang sedang dijalaninya.
Jika dikaitkan dengan pelayanan keperawatan, perjalanan dari taqlid menuju haqq al-yaqin dapat dilihat dalam cara seorang perawat memberikan pelayanan kepada pasien. Perawat yang hanya mengikuti prosedur karena diperintahkan mungkin dapat menjalankan tugas secara benar, tetapi pemahamannya terhadap alasan dan tujuan tindakan tersebut belum tentu mendalam. Sebaliknya, perawat yang memahami dasar ilmiah, memiliki pengalaman klinis, dan menghayati nilai profesinya akan lebih mampu memberikan pelayanan dengan penuh tanggung jawab. Misalnya dalam memberikan edukasi kepada pasien, perawat tidak hanya menyampaikan informasi karena merupakan bagian dari tugas, tetapi juga memahami kondisi pasien, menyesuaikan cara komunikasi, dan menyadari bahwa edukasi merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesehatan pasien. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh tidak hanya digunakan sebagai pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam tindakan yang bermanfaat bagi pasien.
Pada akhirnya, perjalanan dari taqlid menuju haqq al-yaqin dapat dipahami sebagai sebuah proses reflektif dalam perjalanan seseorang menjadi perawat profesional. Taqlid menggambarkan tahap awal ketika seseorang banyak menerima dan mengikuti pengetahuan dari pihak lain. Pengetahuan tersebut kemudian berkembang menjadi ‘ilm al-yaqin ketika mulai dipahami melalui proses belajar, menjadi ‘ayn al-yaqin ketika diperkuat melalui pengalaman dan pengamatan langsung, serta menuju haqq al-yaqin ketika ilmu tersebut semakin dihayati dan menjadi bagian dari kesadaran dalam menjalankan profesi. Konsep ini tidak menggantikan teori profesionalisme keperawatan, tetapi dapat menjadi perspektif untuk memahami bahwa menjadi perawat profesional merupakan proses yang tidak hanya membutuhkan ilmu dan keterampilan, tetapi juga pengalaman, refleksi, tanggung jawab, dan penghayatan terhadap nilai-nilai profesi.
III. Penutup
Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa perjalanan menjadi perawat profesional merupakan proses yang berlangsung secara bertahap, dimulai dari memperoleh pengetahuan melalui pendidikan hingga mampu menerapkannya dalam pengalaman praktik. Dalam proses tersebut, seseorang tidak hanya dituntut untuk mengetahui dan mengikuti ilmu yang diberikan, tetapi juga perlu memahami, membuktikan, dan menghayatinya dalam menjalankan profesi. Konsep taqlid, ‘ilm al-yaqin, ‘ayn al-yaqin, dan haqq al-yaqin dapat digunakan sebagai gambaran bahwa keyakinan terhadap ilmu dapat berkembang dari sekadar menerima pengetahuan hingga mencapai pemahaman yang lebih kuat melalui pengalaman dan penghayatan. Jika dikaitkan dengan keperawatan, proses tersebut dapat membantu membentuk identitas dan profesionalisme seorang perawat sehingga ilmu, keterampilan, pengalaman, nilai, dan tanggung jawab tidak hanya menjadi sesuatu yang dipelajari, tetapi juga diterapkan dalam memberikan pelayanan yang baik dan bertanggung jawab kepada pasien.
Daftar Pustaka
Attamimi, H. R., Lestari, Y., & Rinenggantyas, N. M. (2024). Pentingnya Kemampuan Komunikasi Dalam Pelayanan Kesehatan The. Compromise Journal : Community Proffesional Service Journal, 2(1).https://doi.org/10.57213/compromisejournal.v2i1.169
Febriana, A., Arif, R. N. A., & Heryyanoor. (2025). Konsep Diri Mahasiswa Keperawatan Untuk Menjadi Perawat Profesional. Jurnal Ilmiah, 8(1).
Febriani, P., Haryani, A., Wulandari, I., Kamal, M., & Rizkianti, I. (2024). Persepsi Perawat Tentang Profesionalisme Perawat. 8, 65–75.
Mediawati, A. S., Aulia, S. N., Agustina, H. R., & Dheandra, P. V. (2025). Literature Review: Identitas Profesional Perawat Bagi Mahasiswa Sarjana Keperawatan. 10(02). https://doi.org/10.32419/jppni.v10i2.627
Rohim, L. H. (2024). Perbedaan Ilmu Al-Yaqin, Ain Al-Yaqin, dan Haq Al-Yaqin dalam Pandangan Sufi. Tawazun.ID. https://tawazun.id/perbedaan-ilmu-al-yaqin-ain-al-yaqin-dan-haq-al-yaqin-dalam-pandangan-sufi/
Shudifat, R., Algunmeeyn, A., Mahasne, D., Al-Oran, H., Alduraidi, H., & Shosha, G. A. (2024). Nursing students ’ perceptions of the qualities of clinical instructors in a public university in Jordan : A qualitative study. 10(4), 481–489.
TafsirWeb. (2020). Tafsir Mendalam Mengenai Surat Al-Haqqah Ayat 51. TafsirWeb.Com. https://tafsirweb.com/11243-surat-al-haqqah-ayat-51.html
Taswin, D., A, A. S., Ramadani, S., Selviani, Siregar, S., Hariana, W. A., Salsabila, I., Simbolon, R. D. H., Harahap, L. M., & Puspita, D. (2025). Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kesehatan melalui Manajemen Kepemimpinan yang Efektif Pendahuluan. 3(4), 12–22.
Kontributor: Bunga Radeis
Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

