Tauhid Sebagai Landasan Resiliensi Spiritual Perawat dalam Menghadapi Krisis Pelayanan Kesehatan
1. Pendahuluan
Krisis pelayanan kesehatan baik dalam bentuk pandemi, bencana, keterbatasan sumber daya, maupun beban kerja yang ekstrem menempatkan perawat pada garis depan yang penuh tekanan fisik, emosional, dan spiritual. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tenaga kesehatan, khususnya perawat, rentan mengalami kelelahan emosional, kecemasan, dan burnout ketika dihadapkan pada situasi krisis yang berkepanjangan (Jannah, 2018, dalam Jurnal Spirit, 2023). Dalam kondisi seperti inilah resiliensi kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit dari tekanan menjadi kebutuhan mendasar, bukan sekadar kemampuan psikologis semata, tetapi juga kekuatan yang bersumber dari keyakinan spiritual yang mendalam.
Dalam perspektif Islam, sumber resiliensi yang paling fundamental adalah tauhid, yaitu keyakinan yang mengesakan Allah sebagai satu-satunya pengatur, penolong, dan pemberi kekuatan dalam hidup manusia. Tauhid bukan hanya doktrin teologis, melainkan juga kerangka kognitif dan emosional yang membentuk cara seseorang memaknai ujian, penderitaan, dan ketidakpastian. Esai ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana tauhid dapat menjadi landasan resiliensi spiritual bagi perawat dalam menghadapi krisis pelayanan kesehatan, dengan merujuk pada ayat Al-Qur’an, hadis, pendapat ulama, serta kajian ilmiah kontemporer mengenai spiritualitas dan resiliensi tenaga kesehatan.
2. Pembahasan
Tauhid secara bahasa berarti mengesakan, dan secara istilah dimaknai sebagai keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, satu-satunya pemilik kekuasaan mutlak, dan satu-satunya sumber pertolongan sejati (rububiyyah, uluhiyyah, dan asma wa sifat). Ketika seorang perawat menanamkan tauhid dalam dirinya, ia memiliki kerangka berpikir bahwa segala peristiwa termasuk krisis kesehatan, keterbatasan alat, kematian pasien, maupun risiko tertular penyakit berada sepenuhnya dalam kendali dan pengetahuan Allah. Keyakinan ini menumbuhkan sikap tenang (sakinah) di tengah ketidakpastian, karena rasa takut dan cemas yang berlebihan digantikan oleh penyerahan diri (tawakal) kepada Allah setelah upaya maksimal dilakukan.
Al-Qur’an secara eksplisit menegaskan bahwa ujian merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 155-157:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155-157)
Ayat ini menegaskan bahwa krisis dan musibah, termasuk krisis pelayanan kesehatan, adalah sunnatullah yang pasti dihadapi manusia, namun respons ideal terhadapnya adalah kesabaran (shabr) dan pengembalian segala urusan kepada Allah. Maknun (2026) dalam kajian tafsirnya terhadap ayat ini menjelaskan bahwa sabar bukanlah sikap pasif, melainkan resiliensi spiritual aktif yang memungkinkan seseorang tetap produktif dan berorientasi pada makna di tengah tekanan berat. Bagi perawat, ucapan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) saat menghadapi kematian pasien atau kegagalan penanganan bukan sekadar ungkapan lisan, tetapi mekanisme kognitif yang membantu memaknai kehilangan sebagai bagian dari kehendak Allah, sehingga mengurangi beban psikologis yang berlarut-larut.
Selain itu, Allah juga menegaskan batas kemampuan manusia dalam menanggung ujian, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)
Menurut Lubis (2024), penggalan ayat ini mengandung jaminan ilahiah bahwa setiap beban yang ditimpakan kepada seorang hamba termasuk beban kerja perawat yang menghadapi krisis kesehatan seperti pandemi senantiasa proporsional dengan kapasitas yang telah Allah berikan kepadanya. Pemahaman ini menjadi sumber optimisme dan efikasi diri (self-efficacy) yang mencegah perawat jatuh pada keputusasaan, karena ia meyakini bahwa dirinya memiliki kapasitas untuk melalui krisis tersebut, sekalipun terasa berat secara manusiawi.
Dimensi tauhid sebagai landasan resiliensi juga diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad ﷺ yang menjelaskan hikmah di balik penderitaan dan sakit yang dialami seorang muslim. Dalam riwayat yang disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, sakit, kecemasan, kesedihan, gangguan, maupun duka cita, bahkan duri yang menusuknya sekalipun, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dengan musibah tersebut.” (HR. Bukhari, no. 5641, dan Muslim, no. 2573)
Hadis ini menanamkan makna positif atas penderitaan, sehingga tekanan yang dialami perawat dalam masa krisis kelelahan fisik, tekanan emosional, hingga risiko paparan penyakit dapat dimaknai sebagai sarana penghapus dosa dan peningkatan derajat spiritual, bukan semata beban yang sia-sia. Selain itu, terdapat pula hadis riwayat Muslim yang relevan dengan konsep resiliensi atau ketangguhan mental seorang mukmin:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing terdapat kebaikan.” (HR. Muslim, no. 2664)
Meskipun secara harfiah hadis ini berbicara tentang kekuatan iman dalam konteks ibadah, para ulama seperti Ibnu al-Qayyim dalam Zad al-Ma’ad memaknainya secara luas, mencakup kekuatan tekad (himmah), ketahanan jiwa, dan kesungguhan dalam menjalankan amanah, termasuk amanah profesi seperti keperawatan. Kekuatan ini, menurut penafsiran tersebut, bersumber dari kedekatan seorang hamba dengan Allah, bukan semata kekuatan fisik atau psikologis yang berdiri sendiri.
Kajian ilmiah kontemporer memperkuat relevansi konsep tauhid ini secara empiris. Hidayat dan Nurhayati (2021) menemukan bahwa individu dengan pemahaman tauhid yang kuat cenderung memiliki tingkat resiliensi spiritual yang lebih tinggi dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, karena tauhid memberikan kerangka makna (meaning-making framework) yang memungkinkan seseorang menafsirkan penderitaan secara konstruktif. Sejalan dengan itu, kajian pada jurnal Al-Tadabbur (2025) menegaskan bahwa tauhid dapat berfungsi sebagai kerangka holistik yang mengintegrasikan spiritualitas dengan resiliensi psikologis, menjadikannya model yang relevan untuk kesehatan mental di tengah tekanan psikososial kontemporer. Dalam konteks tenaga kesehatan secara khusus, Wardhani (2025) melalui penelitian mixed-method terhadap perawat generasi Z di rumah sakit menemukan bahwa penguatan model sosial-spiritual secara signifikan meningkatkan skor resiliensi perawat, yang pada gilirannya berkontribusi pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada pasien.
Keterkaitan tauhid dengan resiliensi juga tampak jelas dalam pelayanan kebidanan dan keperawatan pada masa krisis, seperti yang terjadi selama pandemi COVID-19. Bidan dan perawat yang bertugas menangani ibu hamil, bersalin, dan bayi baru lahir di tengah keterbatasan alat pelindung diri serta risiko penularan menghadapi tekanan psikologis luar biasa. Penghayatan tauhid bahwa rezeki, ajal, dan keselamatan sepenuhnya berada di tangan Allah memberikan ketenangan batin yang memungkinkan mereka tetap memberikan pelayanan optimal tanpa dikuasai rasa takut berlebihan. Sikap tawakal setelah ikhtiar maksimal (memakai APD, menerapkan protokol kesehatan, dan menjaga kompetensi klinis) mencerminkan keseimbangan antara ikhtiar manusiawi dan penyerahan diri kepada Allah, sebagaimana ditegaskan dalam kajian Dalimuthe dan Rambe (2025) tentang keselarasan antara ikhtiar dan tawakal dalam membentuk mental yang positif. Dengan demikian, tauhid tidak menegasikan pentingnya kompetensi profesional dan manajemen risiko klinis, tetapi justru menjadi fondasi batin yang menopang stabilitas emosi bidan dan perawat agar tetap mampu berpikir jernih, berempati, dan bertahan secara berkelanjutan (sustainable resilience) di tengah krisis pelayanan kesehatan yang berkepanjangan.
3. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tauhid merupakan landasan fundamental bagi resiliensi spiritual perawat dalam menghadapi krisis pelayanan kesehatan. Melalui pemahaman bahwa segala ujian berada dalam kehendak dan kemampuan yang telah ditetapkan Allah sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 155-157 dan 286, serta melalui hadis-hadis Nabi ﷺ tentang hikmah penderitaan dan keutamaan kekuatan iman, perawat memperoleh kerangka makna yang menenangkan jiwa, menumbuhkan kesabaran, dan mendorong sikap tawakal setelah ikhtiar maksimal. Temuan kajian ilmiah kontemporer turut mengonfirmasi bahwa penguatan nilai tauhid dan spiritualitas berkorelasi positif dengan peningkatan resiliensi tenaga kesehatan, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas dan keberlanjutan pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan kebidanan, di tengah situasi krisis. Oleh karena itu, penguatan tauhid perlu diintegrasikan secara sistematis dalam pembinaan mental-spiritual tenaga kesehatan sebagai pelengkap dari dukungan psikologis dan manajemen institusional yang sudah ada.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Bukhari, M. bin I. (t.t.). Shahih al-Bukhari (No. Hadis 5641).
Muslim bin al-Hajjaj. (t.t.). Shahih Muslim (No. Hadis 2573, 2664).
Dalimuthe, S. M., & Rambe, M. H. (2025). Keselarasan antara ikhtiar dan tawakal dalam membentuk mental positif. An-Nawa: Jurnal Studi Islam, 7(1), 1-14.
Hasanah, R. (2023). Pendidikan tauhid solusi penguatan online resilience peserta didik di era digital. Paedagoria: Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Kependidikan, 14(1).
Hidayat, R., & Nurhayati, F. (2021). Hubungan internalisasi nilai tauhid dengan resiliensi spiritual. Journal of Islamic Studies, 9(2), 145-160.
Jurnal Al-Tadabbur: Ilmu Al-Quran dan Tafsir. (2025). Integrasi tauhid dan resiliensi psikologis sebagai kerangka kesehatan mental holistik, 10(2).
Jurnal Spirit. (2023). Hubungan antara hardiness dengan resiliensi perawat di masa pandemi Covid-19. Jurnal Spirit, 13(2), 58-61.
Lubis, Z. (2024). Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 286: Allah tidak membebani manusia di luar kemampuannya. Jurnal Tafsir, 1-8.
Maknun, L. I. (2026). Sabar sebagai resiliensi spiritual: Analisis tafsir QS. Al-Baqarah 155-157 dalam perspektif psikologi Islam. Jurnal Studi Keislaman, 6(1), 679-689.
Wardhani, D. (2025). Peningkatan resiliensi perawat generasi Z melalui model sosial spiritual berbasis web di rumah sakit. JIK (Jurnal Ilmu Kesehatan), 9(1).
Kontributor: Aisyah Triwulandari
Editor: Dr. Sumaryati, M.Pd.I.

