Mengoptimalkan Potensi Manusia Melalui Pendidikan Keperawatan Berbasis Nilai Islam
I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu proses penting dalam mengembangkan potensi manusia. Melalui pendidikan, seseorang tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membentuk sikap, karakter, tanggung jawab, serta kemampuan dalam menghadapi berbagai persoalan. Dalam bidang kesehatan, pendidikan memiliki peran yang sangat penting karena tenaga kesehatan berhubungan langsung dengan manusia yang membutuhkan pelayanan secara profesional dan manusiawi. Salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran tersebut adalah perawat. Perawat tidak hanya dituntut memiliki kemampuan dalam melakukan tindakan keperawatan, tetapi juga harus memiliki sikap peduli, sabar, jujur, bertanggung jawab, dan mampu menghargai pasien. Oleh karena itu, pendidikan keperawatan perlu mempersiapkan mahasiswa agar menjadi tenaga kesehatan yang kompeten sekaligus memiliki karakter dan etika yang baik.
Pendidikan keperawatan mencakup proses pembelajaran teori, keterampilan klinis, komunikasi, pengambilan keputusan, serta pembentukan sikap profesional. World Health Organization (WHO) menempatkan pendidikan sebagai salah satu aspek penting dalam penguatan tenaga keperawatan. Pendidikan yang berkualitas dapat membantu mempersiapkan perawat agar mampu memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang terus berkembang. Dengan demikian, pengembangan kompetensi perawat tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga perlu memperhatikan nilai, etika, dan tanggung jawab profesional.
Dalam perspektif Islam, manusia memiliki berbagai potensi yang harus dikembangkan dan diarahkan kepada kebaikan. Pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan intelektual, tetapi juga membentuk akhlak dan kesadaran terhadap tanggung jawab kepada Allah Swt. Oleh karena itu, pendidikan keperawatan berbasis nilai Islam dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membentuk perawat yang memiliki keseimbangan antara kemampuan profesional dan nilai spiritual. Nilai seperti amanah, ihsan, rahmah, kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab memiliki hubungan erat dengan profesi keperawatan. Merawat pasien bukan hanya pekerjaan, tetapi juga dapat menjadi bentuk pengabdian kepada Allah Swt. apabila dilakukan dengan niat yang baik, penuh tanggung jawab, dan sesuai dengan kompetensi profesional.
B. Pentingnya Topik
Topik ini penting dibahas karena pelayanan kesehatan membutuhkan perawat yang tidak hanya kompeten secara akademik dan klinis, tetapi juga memiliki karakter yang baik. Perawat menghadapi pasien dengan kondisi, kebutuhan, latar belakang budaya, dan karakter yang berbeda-beda. Dalam situasi tersebut, kemampuan berkomunikasi, berempati, mengendalikan emosi, menjaga privasi, dan mengambil keputusan secara tepat menjadi bagian penting dari profesionalisme keperawatan.
Nilai-nilai etika dalam pendidikan keperawatan juga berkaitan dengan penghormatan terhadap martabat manusia, hubungan yang baik, keadilan, peningkatan kompetensi, komitmen, dan tanggung jawab. Penelitian Boozaripour et al. (2018) menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut dipandang penting oleh mahasiswa dan pendidik keperawatan. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter dan etika bukan merupakan bagian tambahan dalam pendidikan keperawatan, melainkan bagian dari proses pembentukan calon perawat.
Pendidikan keperawatan berbasis nilai Islam dapat membantu mahasiswa mengembangkan potensi secara menyeluruh, baik dari aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, maupun spiritual. Namun, nilai Islam tidak seharusnya hanya dipahami sebagai teori yang dihafalkan. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam perilaku nyata selama proses pembelajaran dan praktik klinik. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu menjadi perawat yang profesional sekaligus memiliki akhlak, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat setiap pasien.
C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan pentingnya pendidikan dalam mengoptimalkan potensi manusia di bidang keperawatan.
2. Menjelaskan hubungan nilai Islam dengan pendidikan keperawatan.
3. Menganalisis penerapan nilai Islam dalam pendidikan dan praktik keperawatan.
4. Menjelaskan peran pendidikan berbasis nilai Islam dalam membentuk perawat profesional dan berkarakter.
II. Pembahasan
Pendidikan keperawatan merupakan proses penting dalam mengembangkan potensi manusia, khususnya dalam mempersiapkan tenaga kesehatan yang mampu memberikan pelayanan secara profesional dan bertanggung jawab. Melalui pendidikan, mahasiswa keperawatan tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai teori dan konsep keperawatan, tetapi juga dilatih untuk memiliki keterampilan klinis, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kerja sama, serta sikap profesional. Pengembangan berbagai kemampuan tersebut diperlukan karena seorang perawat berhadapan langsung dengan pasien yang memiliki kondisi, kebutuhan, serta karakter yang berbeda-beda.
Pendidikan keperawatan tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi proses pembentukan karakter dan identitas seorang calon perawat. WHO menekankan pentingnya pendidikan dan pengembangan tenaga keperawatan sebagai bagian dari penguatan sistem kesehatan. Laporan State of the World’s Nursing 2020 menunjukkan pentingnya investasi dalam pendidikan, pekerjaan, dan kepemimpinan keperawatan. Laporan State of the World’s Nursing 2025 juga memperbarui gambaran mengenai tenaga keperawatan dunia, termasuk pendidikan, pekerjaan, migrasi, regulasi, kondisi kerja, dan kepemimpinan.
Dalam konteks tersebut, optimalisasi potensi mahasiswa keperawatan tidak cukup hanya dilakukan melalui peningkatan nilai akademik. Mahasiswa perlu dibentuk agar mampu menggabungkan pengetahuan dengan keterampilan dan karakter. Misalnya, mahasiswa yang mampu melakukan pemasangan infus secara teknis tetapi tidak mampu menjelaskan prosedur kepada pasien dengan baik belum sepenuhnya menunjukkan kompetensi profesional. Sebaliknya, mahasiswa yang memiliki sikap ramah tetapi tidak memahami prosedur keselamatan pasien juga belum dapat memberikan pelayanan yang optimal. Oleh karena itu, pendidikan keperawatan perlu mengembangkan kemampuan secara seimbang.
Dalam perspektif Islam, pendidikan memiliki kedudukan yang penting dalam mengembangkan potensi manusia. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ٢ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ٣ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ٤ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ٥
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1–5).
Ayat tersebut menunjukkan pentingnya membaca, belajar, dan memperoleh pengetahuan. Dalam pendidikan keperawatan, proses belajar menjadi dasar bagi mahasiswa untuk mengembangkan ilmu dan keterampilan yang nantinya digunakan dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Namun, pengetahuan tidak dapat berdiri sendiri. Pengetahuan yang tidak disertai tanggung jawab dapat disalahgunakan, sedangkan keterampilan tanpa etika dapat menimbulkan tindakan yang tidak menghargai pasien. Oleh karena itu, pendidikan perlu menghasilkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kesadaran moral dan spiritual.
Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga kehidupan manusia. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 32:
وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
Artinya: “Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 32).
Ayat tersebut memiliki keterkaitan yang kuat dengan profesi keperawatan karena perawat memiliki tanggung jawab untuk membantu menjaga kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan pasien. Nilai menjaga kehidupan dapat diterapkan melalui tindakan yang mengutamakan keselamatan pasien, seperti melakukan identifikasi pasien dengan benar, menjaga kebersihan tangan, memastikan pemberian obat sesuai prinsip keselamatan, serta melaporkan kondisi pasien secara jujur dan tepat.
Dengan demikian, nilai menjaga kehidupan tidak hanya menjadi prinsip keagamaan, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam perilaku profesional. Seorang mahasiswa keperawatan yang memahami nilai tersebut akan melihat tindakan keperawatan bukan sekadar prosedur yang harus dilakukan untuk mendapatkan nilai praktik, melainkan sebagai tanggung jawab yang dapat berpengaruh langsung terhadap keselamatan manusia.
Dalam perspektif Islam, manusia juga diarahkan untuk melakukan kebaikan kepada sesama. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Qashash ayat 77:
وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
Artinya: “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash [28]: 77).
Ayat tersebut dapat menjadi landasan penerapan nilai ihsan dalam keperawatan. Ihsan tidak hanya berarti bersikap baik, tetapi juga melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Dalam keperawatan, nilai ihsan dapat diwujudkan melalui pelayanan yang teliti, komunikasi yang sopan, perhatian terhadap kebutuhan pasien, serta kesungguhan dalam melaksanakan tindakan.
Sebagai contoh, ketika mahasiswa melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, penerapan ihsan bukan hanya ditunjukkan dengan mendapatkan hasil pemeriksaan, tetapi juga dengan menjelaskan tindakan kepada pasien, menjaga kenyamanan pasien, melakukan pemeriksaan dengan benar, dan mencatat hasil secara akurat. Dengan demikian, nilai ihsan mendorong mahasiswa untuk menghubungkan kualitas tindakan dengan kualitas sikap dalam memberikan pelayanan.
Selain nilai ihsan, amanah juga sangat penting dalam pendidikan dan profesi keperawatan. Amanah berarti menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh dan dapat dipercaya. Dalam keperawatan, amanah dapat diwujudkan melalui menjaga kerahasiaan pasien, melaksanakan tindakan sesuai kompetensi, mengikuti prosedur yang berlaku, menjaga keselamatan pasien, serta bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan.
Sebagai contoh, apabila seorang mahasiswa belum memiliki kompetensi melakukan suatu tindakan tertentu, sikap amanah bukanlah mencoba melakukan tindakan tersebut secara sembarangan demi terlihat mampu. Sikap amanah justru ditunjukkan dengan mengakui keterbatasan kompetensi, meminta bimbingan pembimbing klinik, dan melakukan tindakan sesuai kewenangan. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai spiritual dapat memperkuat penerapan prinsip keselamatan pasien dan profesionalisme.
Nilai rahmah atau kasih sayang juga sangat relevan dengan profesi keperawatan. Pasien dapat berada dalam keadaan takut, cemas, lemah, kesakitan, atau tidak berdaya. Dalam kondisi tersebut, perawat perlu memberikan dukungan melalui sikap ramah, sabar, dan penuh perhatian. Kasih sayang dalam keperawatan bukan berarti memberikan perlakuan yang berlebihan, melainkan menunjukkan kepedulian dengan tetap menghormati kebutuhan, pilihan, dan martabat pasien.
Misalnya, pasien yang akan menjalani tindakan mungkin merasa takut atau cemas. Perawat dapat memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami, mendengarkan kekhawatiran pasien, dan memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya. Tindakan sederhana tersebut dapat membuat pasien merasa dihargai dan lebih percaya kepada tenaga kesehatan. Dengan demikian, rahmah dapat memperkuat hubungan terapeutik antara perawat dan pasien.
Nilai kejujuran juga menjadi bagian penting dalam pendidikan dan praktik keperawatan. Mahasiswa perlu dibiasakan untuk jujur dalam proses pembelajaran, pelaksanaan praktik, pencatatan, maupun pelaporan. Kejujuran memiliki hubungan langsung dengan keselamatan pasien karena informasi yang tidak benar dapat memengaruhi keputusan tenaga kesehatan.
Sebagai contoh, apabila mahasiswa melakukan kesalahan dalam suatu prosedur, tindakan yang sesuai dengan nilai kejujuran adalah melaporkan kesalahan tersebut kepada pembimbing dan mengikuti langkah yang diperlukan untuk mengurangi risiko terhadap pasien. Menutupi kesalahan mungkin terlihat sebagai cara untuk menghindari teguran, tetapi dapat menimbulkan risiko yang lebih besar. Oleh karena itu, pendidikan keperawatan perlu membangun lingkungan belajar yang mendorong mahasiswa untuk bertanggung jawab dan berani mengakui kesalahan secara konstruktif.
Nilai kesabaran juga diperlukan karena perawat berhadapan dengan pasien yang memiliki berbagai kondisi. Pasien mungkin sulit berkomunikasi, mudah marah, mengeluh berulang kali, atau membutuhkan waktu lebih lama dalam melakukan suatu aktivitas. Kesabaran membantu perawat mengendalikan emosi sehingga pelayanan tetap diberikan secara profesional.
Namun, nilai-nilai tersebut tidak seharusnya diterapkan secara terpisah. Amanah, ihsan, rahmah, kejujuran, dan kesabaran saling melengkapi dalam membentuk karakter perawat. Seorang perawat yang amanah tetapi tidak memiliki empati dapat menjalankan prosedur dengan benar tetapi kurang memperhatikan pengalaman pasien. Sebaliknya, perawat yang penuh kasih sayang tetapi tidak teliti dapat memberikan kenyamanan namun tetap berisiko melakukan kesalahan. Oleh karena itu, optimalisasi potensi manusia dalam pendidikan keperawatan membutuhkan integrasi berbagai nilai tersebut dengan kompetensi profesional.
Penerapan nilai Islam dalam pendidikan keperawatan dapat dilakukan melalui proses pembelajaran maupun praktik klinik. Nilai tersebut dapat diintegrasikan dalam berbagai mata kuliah dan kegiatan pendidikan. Misalnya, ketika mempelajari komunikasi terapeutik, mahasiswa dapat diarahkan untuk memahami pentingnya berbicara dengan sopan, mendengarkan pasien, menjaga privasi, menunjukkan empati, dan menghormati keputusan pasien. Ketika melakukan praktik tindakan keperawatan, mahasiswa dapat dilatih untuk bekerja secara disiplin, teliti, bertanggung jawab, dan mengutamakan keselamatan pasien.
Penerapan tersebut akan lebih efektif apabila nilai Islam tidak hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi juga melalui keteladanan dan pembiasaan. Dosen dan pembimbing klinik memiliki peran penting karena mahasiswa belajar bukan hanya dari materi yang diberikan, tetapi juga dari perilaku yang mereka lihat. Ketika dosen menunjukkan kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan kepada mahasiswa, nilai tersebut dapat menjadi contoh yang lebih konkret bagi mahasiswa.
Aspek spiritual juga menjadi bagian penting dalam pelayanan keperawatan secara holistik. Pasien tidak hanya memiliki kebutuhan fisik, tetapi juga dapat memiliki kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual. Karena itu, perawat perlu memiliki kemampuan untuk mengenali kebutuhan spiritual pasien dan memberikan dukungan yang sesuai dengan kondisi serta keyakinan pasien.
Penelitian de Diego-Cordero et al. (2022) menunjukkan bahwa intervensi religius dan spiritual dalam keperawatan berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan dan spiritualitas serta penurunan beberapa gejala kesehatan mental. Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan adanya heterogenitas intervensi dan keterbatasan kualitas sebagian penelitian, sehingga penerapan pelayanan spiritual tetap perlu dilakukan secara hati-hati dan berpusat pada pasien.
Hal tersebut penting karena pelayanan spiritual tidak boleh berubah menjadi pemaksaan keyakinan. Seorang perawat Muslim dapat menjadikan ajaran Islam sebagai dasar dalam membentuk karakter dan perilakunya, tetapi tetap harus menghormati agama, budaya, dan keyakinan pasien. Misalnya, apabila pasien membutuhkan dukungan spiritual, perawat dapat menanyakan kebutuhan pasien dan membantu menghubungkan pasien dengan tokoh agama atau sumber dukungan spiritual yang sesuai dengan keyakinannya. Dengan demikian, nilai Islam dapat menjadi dasar perilaku profesional tanpa menghilangkan penghormatan terhadap keberagaman pasien.
Dalam hal ini, nilai Islam memiliki sifat yang dapat diterapkan secara universal. Amanah dapat diwujudkan melalui tanggung jawab, ihsan melalui upaya memberikan pelayanan terbaik, rahmah melalui empati dan kepedulian, kejujuran melalui penyampaian informasi yang benar, serta kesabaran melalui pengendalian diri. Nilai tersebut dapat memperkuat prinsip profesionalisme karena berorientasi pada keselamatan, martabat, dan kesejahteraan pasien.
Optimalisasi potensi mahasiswa keperawatan pada akhirnya membutuhkan keseimbangan antara pengetahuan, keterampilan, sikap, etika, dan spiritualitas. Pengetahuan diperlukan agar perawat mampu memahami kondisi pasien dan memberikan tindakan berdasarkan ilmu. Keterampilan diperlukan agar tindakan dapat dilakukan dengan tepat dan aman. Sikap diperlukan agar pelayanan diberikan dengan empati dan tanggung jawab. Etika diperlukan agar keputusan dan tindakan tetap menghormati hak serta martabat pasien, sedangkan spiritualitas dapat memberikan landasan moral dalam menjalankan profesi.
Dengan demikian, pendidikan keperawatan berbasis nilai Islam bukan berarti mengganti standar profesional keperawatan dengan nilai keagamaan, tetapi mengintegrasikan nilai moral dan spiritual ke dalam proses pembentukan calon perawat. Kompetensi profesional tetap menjadi dasar, sedangkan nilai Islam dapat memperkuat motivasi, karakter, dan tanggung jawab mahasiswa dalam menggunakan kompetensi tersebut.
Dosen dan pembimbing klinik juga memiliki peranan penting dalam proses tersebut. Mahasiswa tidak hanya belajar melalui teori, tetapi juga melalui contoh yang mereka lihat selama berada di lingkungan pendidikan dan praktik. Keteladanan dalam bersikap disiplin, jujur, menghargai pasien, bertanggung jawab, dan berkomunikasi dengan baik dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter mahasiswa.
Dengan mengintegrasikan nilai Islam dalam pendidikan keperawatan, mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa profesi keperawatan bukan hanya pekerjaan untuk memperoleh penghasilan, tetapi juga bentuk pengabdian dan pelayanan kepada sesama. Ilmu dan kemampuan yang dimiliki harus digunakan untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Ketika kemampuan profesional disertai dengan akhlak dan nilai spiritual yang baik, potensi manusia dalam bidang keperawatan dapat berkembang secara lebih optimal.
III. Penutup
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam mengoptimalkan potensi manusia, khususnya dalam bidang keperawatan. Pendidikan keperawatan tidak hanya bertujuan menghasilkan tenaga kesehatan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membentuk perawat yang memiliki karakter, etika, tanggung jawab, kemampuan berkomunikasi, dan kepedulian terhadap pasien.
Pendidikan keperawatan berbasis nilai Islam dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengembangkan mahasiswa secara menyeluruh. Nilai amanah, ihsan, rahmah, kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab dapat diterapkan dalam proses pembelajaran maupun praktik klinik. Nilai-nilai tersebut tidak hanya perlu dipahami secara teoritis, tetapi juga diwujudkan melalui perilaku nyata seperti menjaga kerahasiaan pasien, mengutamakan keselamatan, memberikan pelayanan dengan empati, bersikap jujur, dan melaksanakan tindakan sesuai kompetensi.
Optimalisasi potensi manusia dalam pendidikan keperawatan membutuhkan keseimbangan antara pengetahuan, keterampilan, sikap, etika, dan spiritualitas. Integrasi nilai Islam juga harus dilakukan dengan tetap menghormati agama, budaya, keyakinan, hak, dan martabat setiap pasien. Dengan demikian, pendidikan keperawatan berbasis nilai Islam dapat membantu membentuk perawat yang tidak hanya kompeten dalam menjalankan tugasnya, tetapi juga memiliki akhlak yang baik, bertanggung jawab, dan mampu memberikan pelayanan secara manusiawi serta profesional.
B. Saran
Pendidikan keperawatan sebaiknya terus mengembangkan pembelajaran yang mengintegrasikan kompetensi profesional dengan pembentukan karakter dan nilai moral. Institusi pendidikan dapat memberikan pembelajaran yang mendorong mahasiswa memahami pentingnya amanah, ihsan, rahmah, empati, kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan penghormatan terhadap martabat pasien.
Dosen dan pembimbing klinik diharapkan dapat memberikan keteladanan dalam menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga mahasiswa tidak hanya mempelajarinya melalui teori, tetapi juga melihat penerapannya secara langsung dalam lingkungan pendidikan dan pelayanan kesehatan. Selain itu, pembelajaran berbasis kasus dapat digunakan untuk melatih mahasiswa mengambil keputusan yang mempertimbangkan aspek klinis, etika, dan spiritual.
Mahasiswa keperawatan juga diharapkan aktif mengembangkan kemampuan akademik, keterampilan klinis, komunikasi, etika, serta spiritualitas agar dapat menjadi tenaga kesehatan yang profesional dan berkarakter. Penerapan nilai Islam hendaknya tetap dilakukan dengan menghargai agama, budaya, dan keyakinan setiap pasien serta tidak memaksakan keyakinan kepada siapa pun.
Daftar Pustaka
Boozaripour, M., Abbaszadeh, A., Shahriari, M., & Borhani, F. (2018). Ethical values in nurse education perceived by students and educators. Nursing Ethics, 25(2), 253–263. https://doi.org/10.1177/0969733017707009
de Diego-Cordero, R., Suárez-Reina, P., Badanta, B., Lucchetti, G., & Vega-Escaño, J. (2022). The efficacy of religious and spiritual interventions in nursing care to promote mental, physical and spiritual health: A systematic review and meta-analysis. Applied Nursing Research, 67, 151618. https://doi.org/10.1016/j.apnr.2022.151618
International Council of Nurses. (2021). The ICN code of ethics for nurses. International Council of Nurses.
World Health Organization. (2020). State of the world’s nursing 2020: Investing in education, jobs and leadership. World Health Organization.
World Health Organization. (2025). State of the world’s nursing 2025: Investing in education, jobs, leadership and service delivery. World Health Organization.
Kontributor: Renata Syabila
Editor: Arif Islahuddin, M.Pd.

