Keteladanan Sebagai Sarana Edukasi Kesehatan Paling Berdaya dalam Kacamata Islam
I. Pendahuluan
Kesehatan merupakan nikmat mendasar yang dianugerahkan Allah Swt. kepada manusia, sehingga menjaganya menjadi bagian dari ibadah sekaligus tanggung jawab setiap individu. Namun, laporan kesehatan global terkini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan masyarakat belum selalu diikuti perbaikan perilaku hidup sehat. WHO Results Report 2024 mencatat kemajuan pada sejumlah indikator kesehatan dunia, tetapi beban penyakit tidak menular akibat pola hidup tetap menjadi tantangan besar di banyak negara (World Health Organization, 2025). Bahkan, kajian terbaru menemukan bahwa kesenjangan pengetahuan-praktik (knowledge-to-practice gap) masih dijumpai pada tenaga kesehatan sendiri, kelompok yang idealnya paling memahami prinsip hidup sehat (Protecting the Health of Healers, 2025). Hal ini menegaskan bahwa pendekatan edukasi kesehatan yang selama ini mengandalkan metode verbal—penyuluhan, ceramah, atau media cetak dan digital—belum cukup untuk mengubah perilaku secara konsisten.
Islam, sebagai ajaran yang komprehensif, sejak awal menempatkan keteladanan (uswah hasanah) sebagai metode utama menanamkan nilai dan mengubah perilaku umat, sebagaimana dicontohkan langsung melalui pribadi Rasulullah Saw. Relevansi kajian ini terletak pada kesesuaiannya dengan teori pembelajaran sosial, yang menegaskan bahwa manusia lebih banyak belajar melalui pengamatan dan peniruan terhadap figur yang dihormati daripada melalui instruksi verbal semata (Bandura, 1977). Studi fenomenologis Kurt, Turhal, dan Batmaz (2024) terhadap mahasiswa keperawatan turut memperkuat hal ini: perawat klinis yang dijumpai selama praktik menjadi rujukan utama pembentukan sikap profesional mahasiswa, baik sebagai teladan positif maupun negatif. Dalam profesi keperawatan, perawat tidak hanya berperan sebagai pemberi informasi kesehatan, tetapi juga sebagai figur yang perilakunya diamati dan dijadikan rujukan oleh pasien, keluarga, maupun masyarakat.
Oleh karena itu, esai ini bertujuan mengkaji konsep keteladanan dalam perspektif Islam sebagai sarana edukasi kesehatan yang paling berdaya, menelaah relevansinya dengan kajian ilmiah kontemporer, serta menguraikan implementasinya dalam praktik pelayanan keperawatan masa kini.
II. Pembahasan
Secara etimologis, kata uswah atau qudwah berarti sesuatu yang layak diikuti; dalam pendidikan Islam istilah ini identik dengan keteladanan yang baik atau uswah hasanah. Konsep ini memiliki landasan normatif yang kuat dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 21 sebagai berikut.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab/33:21) (Kementerian Agama RI, 2019).
Ayat ini menegaskan bahwa pribadi Rasulullah Saw. diposisikan sebagai model perilaku paripurna dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk pola hidup sehat, kebersihan, pengaturan makan-minum, serta keseimbangan aktivitas dan istirahat. Kajian terbaru tentang uswah hasanah dalam pendidikan Islam menegaskan bahwa metode keteladanan Qurani tidak sekadar naratif, melainkan diperkuat oleh contoh konkret para nabi dan rasul yang mempraktikkan langsung nilai yang diajarkan, sehingga lebih mudah diinternalisasi umat dibandingkan sekadar perintah tekstual (Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter, 2024).
Selain landasan Al-Qur’an, keteladanan Rasulullah Saw. dalam menjaga kesehatan juga tergambar jelas dalam hadis. Salah satu hadis yang relevan diriwayatkan dari Miqdam bin Ma’dikarib sebagai berikut.
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
Artinya: “Tidak ada wadah yang diisi oleh manusia yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan untuk menegakkan tulang punggungnya. Namun jika ia harus mengisi perutnya, hendaklah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernapasannya.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2380, hasan sahih).
Hadis ini bukan sekadar anjuran lisan, melainkan cerminan praktik hidup Rasulullah Saw. yang senantiasa makan secukupnya dan menjauhi kerakusan. Prinsip pembagian sepertiga ini sejalan dengan konsep gizi seimbang dan pencegahan penyakit metabolik yang kini digaungkan dalam ilmu kesehatan modern, seperti pengendalian porsi makan untuk mencegah obesitas, diabetes melitus, dan penyakit kardiovaskular. Ketika nilai kesehatan disampaikan melalui keteladanan hidup figur yang dihormati, pesan tersebut menjadi jauh lebih membekas dibandingkan anjuran lisan semata.
Ulama pendidikan Islam turut menegaskan keunggulan metode ini. Abdullah Nashih Ulwan menempatkan keteladanan sebagai metode pendidikan paling berpengaruh dalam membentuk aspek moral, spiritual, dan sosial peserta didik, karena kata-kata tanpa disertai perbuatan cenderung kehilangan daya pengaruhnya. Senada dengan itu, Ahmad Tafsir dan Abdurrahman An-Nahlawi (sebagaimana diulas dalam Taklimudin & Febi, 2018) menekankan bahwa efektivitas keteladanan bergantung pada konsistensi antara ucapan dan tindakan sang teladan, sebab ketidaksesuaian antara keduanya dapat menimbulkan kebingungan nilai bagi pihak yang meniru.
Relevansi keteladanan sebagai strategi edukasi juga terus dikuatkan oleh kajian ilmiah terkini di bidang kesehatan. Cruess, Cruess, dan Steinert (2008) menegaskan bahwa role modelling merupakan strategi pengajaran paling berpengaruh dalam pembentukan sikap profesional tenaga kesehatan, karena mampu mentransfer nilai dan perilaku secara implisit yang sulit dicapai melalui pengajaran formal semata. Temuan ini diperbarui oleh studi Kurt, Turhal, dan Batmaz (2024), yang menunjukkan mahasiswa keperawatan secara konsisten menjadikan perawat klinis sebagai acuan pembentukan sikap profesional mereka. Di konteks Indonesia, penelitian Eka, Rumerung, dan Tahulending (2023) pada masa pandemi COVID-19 menemukan bahwa perilaku profesional yang ditampilkan konsisten oleh dosen dan perawat pembimbing berpengaruh signifikan terhadap sikap etis mahasiswa, bahkan di tengah keterbatasan interaksi langsung. Temuan-temuan ini memperkuat teori pembelajaran sosial bahwa observasi terhadap model yang kredibel mempercepat akuisisi perilaku baru dibandingkan instruksi verbal (Bandura, 1977). Urgensi keteladanan ini semakin nyata bila dikaitkan dengan temuan bahwa kesenjangan pengetahuan-praktik ternyata juga dialami tenaga kesehatan sendiri, yang sering memahami risiko penyakit akibat gaya hidup namun tidak selalu menerapkannya (Protecting the Health of Healers, 2025).
Kekuatan keteladanan sebagai sarana edukasi kesehatan terletak pada kemampuannya memadukan dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik secara bersamaan (S., Tang, & Mappatunru, 2024). Ketika seorang figur—Rasulullah Saw., ulama, guru, maupun tenaga kesehatan—tidak hanya menyampaikan anjuran tetapi juga mempraktikkannya secara konsisten, pesan kesehatan memperoleh legitimasi moral sekaligus bukti empiris atas keberhasilan penerapannya. Meski demikian, keteladanan yang efektif tetap menuntut pemahaman mendalam dari pihak yang meniru, bukan sekadar peniruan di permukaan, sehingga perlu disertai penjelasan rasional agar perilaku sehat benar-benar terinternalisasi.
Prinsip ini memiliki implikasi praktis luas bagi profesi keperawatan, khususnya di masyarakat religius. Perawat yang konsisten mencuci tangan dengan benar, menjaga pola makan seimbang, disiplin waktu istirahat, serta bersikap sabar dan santun kepada pasien akan lebih mudah diteladani dibandingkan perawat yang hanya berceramah tanpa mempraktikkannya. Dalam pelayanan berbasis nilai spiritual, perawat dapat mengaitkan anjuran makan secukupnya dalam hadis riwayat At-Tirmidzi dengan edukasi pencegahan obesitas dan diabetes melitus—tantangan yang oleh WHO Results Report 2024 masih ditandai sebagai beban kesehatan global yang terus meningkat (World Health Organization, 2025). Demikian pula dalam edukasi kebersihan diri, perawat perlu lebih dahulu menampilkan diri sebagai figur yang konsisten menerapkannya sebelum menyampaikan anjuran, sejalan dengan konsep asuhan keperawatan holistik yang tidak memisahkan aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual pasien.
III. Penutup
Keteladanan merupakan sarana edukasi kesehatan yang paling berdaya dalam perspektif Islam, karena berakar pada teladan hidup Rasulullah Saw. sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 21 dan diperkuat oleh praktik nyata beliau dalam menjaga pola makan sebagaimana termuat dalam hadis riwayat At-Tirmidzi. Kekuatan metode ini turut dikonfirmasi oleh kajian kontemporer di bidang pendidikan kesehatan dan keperawatan, termasuk temuan terbaru bahwa role modelling tetap menjadi penentu utama pembentukan sikap profesional mahasiswa keperawatan (Kurt, Turhal, & Batmaz, 2024; Eka, Rumerung, & Tahulending, 2023), serta data global yang menegaskan bahwa kesenjangan pengetahuan-praktik masih menjadi tantangan nyata bahkan di kalangan tenaga kesehatan (Protecting the Health of Healers, 2025; World Health Organization, 2025). Oleh karena itu, penulis merekomendasikan agar institusi pendidikan kesehatan dan pelayanan keperawatan secara sengaja mengembangkan budaya keteladanan, baik melalui penguatan kompetensi tenaga kesehatan sebagai role model maupun integrasi nilai-nilai keislaman dalam kurikulum dan praktik asuhan, sehingga edukasi kesehatan benar-benar terwujud dalam perubahan perilaku hidup sehat masyarakat.
Daftar Pustaka
At-Tirmidzi, M. bin I. (t.t.). Sunan At-Tirmidzi (Hadis No. 2380).
Bandura, A. (1977). Social learning theory. Prentice Hall.
Cruess, S. R., Cruess, R. L., & Steinert, Y. (2008). Role modelling—making the most of a powerful teaching strategy. BMJ, 336(7646), 718–721. https://doi.org/10.1136/bmj.39503.757847.BE
Eka, N. G. A., Rumerung, C. L., & Tahulending, P. S. (2023). Role modeling of professional behavior in nursing education during the COVID-19 pandemic: A mixed method study. Journal of Holistic Nursing. https://doi.org/10.1177/08980101231179300
Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Kurt, Y., Turhal, E., & Batmaz, F. (2024). Nursing students’ processes of taking role models and being role models: A descriptive phenomenological study. Nurse Education Today, 132, 106015. https://doi.org/10.1016/j.nedt.2023.106015
Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter. (2024). Konsep uswah hasanah dalam pendidikan Islam. Masagi, 1(1), 1–20.
Protecting the health of healers: Knowledge-to-practice gap among healthcare professionals. (2025). Journal of Family Medicine and Primary Care, 14(11), 4409–4411. https://doi.org/10.4103/jfmpc.jfmpc_2024_25
S, R., Tang, M., & Mappatunru, S. (2024). Keteladanan sebagai metode pendidikan Islam dalam pembentukan karakter peserta didik. Al-Ta’lim Journal.
Taklimudin, & Febi. (2018). Metode keteladanan pendidikan Islam dalam perspektif Quran. BELAJEA: Jurnal Pendidikan Islam, 3(1), 1–14.
World Health Organization. (2025). WHO results report 2024 shows health progress across regions overcoming critical challenges. https://www.who.int/news/item/12-05-2025-who-results-report-2024-shows-health-progress-across-regions-overcoming-critical-challenges
Kontributor: Asy Syifa
Editor: Dr. Sumaryati, M.Pd.I.

