Ihsan dalam Asuhan Keperawatan: Dari Kesempurnaan Teknis Menuju Kepedulian Tulus

Pendahuluan

Pelayanan Kesehatan tidak hanya memberikan pelayanan berdasarkan keterampilan medis dan prosedur yang benar, tetapi juga memberikan pelayanan yang berorientasi terhadap kepedulian, empati dan ketulusan sesuai dengan kode etik, syariat islam maupun norma baik dalam masyarakat maupun agama. Seorang perawat dituntut untuk mampu memberikan asuhan keperawatan secara profesional, aman dan patuh terhadap kode etik yang berlaku namun, keberhasilan pelayanan keperawatan tidak hanya dapat diukur dari keterampilan teknis dan patuh terhadap peraturan saja. Dibalik setiap tindakan perawat, terdapat manusia yang membutuhkan perhatian, rasa aman, rasa percaya dan dukungan emosional. Oleh karena itu, nilai ihsan menjadi krusial untuk diimplementasikan dalam nilai keperawatan.

Profesi keperawatan sejak awal perkembangannya tidak hanya berlandaskan pada penguasaan kompetensi biomedis. Sejak masa Florence Nightingale, aspek moral, etika, dan spiritual telah menjadi bagian penting dalam membentuk identitas profesional seorang perawat. Nightingale memandang keperawatan sebagai suatu bentuk panggilan yang memiliki nilai spiritual, sehingga seorang perawat dituntut untuk memberikan pelayanan secara menyeluruh. Kehadiran perawat tidak hanya diwujudkan melalui kemampuan fisik dan keterampilan teknis, tetapi juga melalui perhatian emosional serta pemenuhan kebutuhan spiritual pasien. Namun, seiring dengan semakin kuatnya dominasi paradigma biomedis pada abad ke-20, aspek spiritual dalam praktik keperawatan mulai mengalami pengesampingan. Perhatian pelayanan kemudian lebih banyak diarahkan pada tindakan klinis, perkembangan teknologi kesehatan, serta peningkatan efisiensi dalam sistem pelayanan kesehatan. (Setiowati, 2023)

Keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pasien secara menyeluruh. Dalam menghadapi masyarakat yang memiliki latar belakang budaya, keyakinan, dan nilai yang beragam, seorang perawat tidak hanya dituntut untuk meningkatkan kompetensi profesionalnya, tetapi juga mampu memberikan pelayanan yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam. Pada dasarnya, pendidikan agama Islam bertujuan untuk membentuk individu yang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta mampu menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks keperawatan, penerapan nilai-nilai tersebut memiliki karakteristik tersendiri karena harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan tuntutan profesional dalam memberikan asuhan keperawatan. Oleh karena itu, penerapan nilai-nilai pendidikan agama Islam yang berbasis multikultural dalam pendidikan keperawatan diharapkan dapat membentuk lulusan yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga memiliki sikap religius, menghargai keberagaman, serta mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam praktik keperawatan secara tepat. (Wahyudi, 2020)

Menurut Wahyudi (2020), kemampuan perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan kondisi masyarakat yang multikultural. Hal tersebut tercermin dalam tugas dan fungsi profesi keperawatan (the nursing profession) di rumah sakit umum, yang berhadapan dengan masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Dalam menjalankan praktiknya, perawat berinteraksi secara langsung dengan pasien yang memiliki perbedaan ras, adat istiadat, golongan, kelompok, status sosial, hingga keyakinan agama. Oleh karena itu, seorang perawat harus memiliki kapabilitas dalam memberikan pelayanannya secara optimal dengan menghargai keberagaman tersebut. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah pemenuhan kebutuhan secara komprehensif yaitu memandang seorang pasien adalah makhluk utuh (fisik, ruh, jiwa dan spiritual) dengan tetap menghormati dan menyesuaikan pelayanan terhadap agama serta keyakinan yang dianut oleh masing-masing pasien.

Dari penjelasan di atas, Keperawatan dalam islam adalah ibadah mulia yang memandang pasien sebagai makhluk utuh (fisik, jiwa, ruh, spiritual) yang perlu dirawat secara komprehensif, mengintegrasikan nilai-nilai ketulusan, kasih sayang dan tanggung jawab Ilahi (amar ma’ruf nahi munkar). Perawat berperan sebagai hamba Allah yang menolong sesama dengan keahliannya, menjadikan keikhlasan dan ridho Allah sebagai tujuan utama, serta menerapkan prinsip etika seperti simpati, kehati-hatian, dan penghargaan terhadap pasien, sambil menyadari penyembuh hakiki dari Allah SWT. (Muslimin, 2026)

Pembahasan

Islam merupakan salah satu agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam ajaran Islam, Al-Qur’an diyakini sebagai wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman bagi umat Muslim dalam menjalani kehidupan. Al-Qur’an tidak hanya memberikan tuntunan dalam aspek ibadah, tetapi juga menjadi sumber petunjuk bagi manusia dalam menjaga kehidupan dan kesejahteraan. Salah satu kandungan Al-Qur’an menjelaskan bahwa diturunkannya kitab tersebut memiliki tujuan sebagai penawar serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Nilai-nilai tersebut dapat dikaitkan dengan berbagai bidang kehidupan, termasuk ilmu kesehatan. Pengetahuan mengenai kesehatan telah dikenal sejak masa Nabi Muhammad SAW, meskipun perkembangannya belum sekompleks dan secanggih ilmu kesehatan pada masa kini. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi akibat globalisasi, ilmu kesehatan mengalami perkembangan yang sangat pesat sehingga praktik pelayanan kesehatan saat ini memiliki cakupan yang jauh lebih luas (Ucok et al., 2023).

Menurut Azisi (2020), agama memiliki kedudukan yang penting dalam membentuk dan mengarahkan kehidupan manusia. Perilaku seseorang atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan agama dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor eksternal seperti lingkungan maupun faktor internal yang berkaitan dengan kepribadian individu. Meskipun demikian, seseorang yang memiliki keyakinan agama pada dasarnya memiliki kemampuan untuk kembali menjalankan kehidupan sesuai dengan ajaran dan ketentuan agamanya. Hal tersebut berkaitan dengan adanya dimensi batin dalam diri manusia yang secara alamiah mendorong individu untuk tunduk dan patuh kepada Zat Yang Maha Kuasa. Dalam perspektif psikologi kepribadian, dorongan tersebut dapat dipahami sebagai faktor internal yang dikenal sebagai conscience of man atau hati nurani, serta self yang menggambarkan kesadaran dan pribadi seseorang.

Nilai agama Islam dalam profesi keperawatan berpusat pada ihsan, yaitu dorongan untuk melakukan kebaikan secara optimal dengan dilandasi ketulusan, kepedulian dan kesadaran bahwa setiap tindakan berada dalam pengawasan Allah SWT. Keperawatan dalam perspektif Islam dapat dipahami sebagai pelayanan yang tidak hanya berorientasi pada aspek teknis, tetapi juga memperhatikan dimensi spiritual dan emosional pasien. Nilai-nilai seperti profesionalisme, empati, kesabaran, kepedulian, dan spiritualitas merupakan bagian dari Islamic caring yang dapat mendukung pemberian pelayanan keperawatan secara holistik. (Noor et al., 2026)

Penerapan ihsan dalam keperawatan dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk tindakan konkret. Pertama, perawat perlu memberikan pelayanan dengan penuh empati dan kepedulian dengan memperhatikan kondisi fisik, mental, sosial dan spiritual pasien. Kedua, perawat perlu menghormati martabat dan keyakinan pasien tanpa membedakan latar belakang agama, suku, maupun status sosialnya. Ketiga, ihsan juga tercermin melalui tanggung jawab perawat dalam memberikan pelayanan secara profesional, menjaga kerahasiaan pasien, serta berusaha memberikan pelayana terbaik sesuai kompetensi yang dimiliki. Hal tersebut sejalan dengan pembahasan mengenai keperawatan Islam yang menempatkan pasien sebagai makhluk yang utuh serta menekankan ketulusan, kasih sayang, tanggung jawab dan penghargaan terhadap pasien. (Muslimin, 2026)

Dalam masyarakat yang multikultural, penerapan ihsan menjadi semakin penting karena perawat berhadapan dengan pasien yang memiliki latar belakang budaya dan keyakinan yang berbeda. Oleh karena itu, ihsan tidak dapat dipahami hanya sebagai tindakan berbuat baik berdasarkan sudut pandang perawat, tetapi harus diwujudkan dengan memahami kebutuhan dan menghargai nilai yang dianut oleh pasien. Pelayanan yang baik bukan hanya pelayanan yang memenuhi prosedur klinis, tetapi juga pelayanan yang membuat pasien merasa dihargai, aman dan diperlakukan secara manusiawi. Hal ini menunjukkan bahwa ihsan memiliki hubungan erat dengan prinsip pelayanan keperawatan yang bersifat holistik dan berpusat pada pasien. Salah satu bentuk konkret dari ihsan dalam praktik keperawatan adalah ta’awun atau sikap saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Al-Qur’an melalui surah Al-Ma’idah ayat 2 memerintahkan umat islam untuk saling menolong dalam kebajikan dan takwa serta melarang tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Allah Jalla wa’ala berfirman.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al-Ma’idah/5 : 2]

Islam memiliki dasar teologis yang kuat dalam membangun hubungan sosial melalui konsep ta’awun, sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. Al-Maidah ayat 2 mengenai anjuran untuk saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan. Prinsip tersebut tidak hanya dipahami sebagai bentuk anjuran dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi juga sebagai bagian dari kewajiban keagamaan yang memberikan nilai ibadah terhadap setiap aktivitas bersama yang berorientasi pada kebaikan. (Gilbert et al. 2019)

Dalam praktik keperawatan, ihsan tidak hanya berarti membantu pasien secara langsung, tetapi juga diwujudkan melalui kolaborasi antara perawat, dokter, tenaga kesehatan lainnya, pasien, keluarga dan masyarakat. Ihsan dapat diwujudkan melalui pemberian informasi kesehatan, dukungan sosial dan emosional, membantu memfasilitasi akses terhadap pelayanan kesehatan, serta membangun tindakan kolektif untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat. Menurut Gilbert, et al (2019) menunjukkan bahwa ihsan dapat menjadi fondasi modal sosial dalam pengembangan kesehatan melalui mekanisme penyebaran informasi, dukungan sosial-emosional, penguatan kemampuan kolektif, fasilitasi akses layanan kesehatan dan advokasi kebijakan. Dengan demikian, ihsan memiliki relevansi yang nyata dalam membangun pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai pihak.

Namun, penerapan ihsan dalam keperawatan tidak cukup hanya dipahami sebagai kerja sama. Prinsip tersebut perlu diterapkan secara kritis dengan tetap mempertimbangkan kode etik, kompetensi profesional, keselamatan pasien, serta keberagaman latar belakang pasien. Kerja sama antar tenaga kesehatan, misalnya, tidak akan berjalan optimal apabila tidak disertai komunikasi yang baik, pembagian tanggung jawab yang jelas dan penghormatan terhadap kompetensi masing-masing profesi.

Hubungan antara ihsan dengan keperawatan menunjukkan bahwa keduanya memiliki posisi yang berbeda tetapi saling melengkapi. Ihsan merupakan landasan moral yang mendorong seorang perawat untuk memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya, sedangkan ta’awun merupakan salah satu bentuk tindakan nyata untuk mewujudkan nilai tersebut melalui sikap saling membantu dan bekerja sama dalam kebaikan. Oleh karena itu, penerapan ihsan dalam keperawatan tidak seharusnya dibatasi pada hubungan antara perawat dan pasien, tetapi juga mencakup hubungan perawat dengan tenaga kesehatan lain, keluarga pasien dan masyarakat.

Penutup

Kesimpulan dan saran

Berdasarkan esai yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa profesi pelayanan kesehatan khususnya perawat tidak jauh dari karakteristik akhlak (ihsan) yang terpuji seperti kepedulian, empati, tolong menolong dan sabar terhadap pasien tanpa memandang status pasien tersebut. Oleh karena itu, penulis harap untuk tenaga kesehatan mengintegrasikan ihsan yang baik dengan dan bekerja sesuai dengan kode etik agar dapat menghasilkan pelayanan yang tidak hanya berorientasi pada aspek teknis dan profesionalitas, tetapi juga memperhatikan kebutuhan psikologis, sosial dan spritualitas pasien. Penerapan nilai tersebut dapat menjadi salah satu bentuk pengabdian perawat kepada sesama sekaligus upaya menjalankan nilai-nilai islam dalam kehidupan profesional.

Daftar Pustaka

Azisi, A. M. (2020). Peran agama dalam memelihara kesehatan jiwa dan kontrol sosial masyarakat. Jurnal Psikologi Islam Al-Qalb, 11(2). https://doi.org/10.15548/alqalb.v11i2.1683

Gilbert, K. L., Quinn, S. C., Goodman, R. M., Butler, J., & Wallace, J. (2019). Social capital and health: A systematic review of the literature for 2007–2018. Social Science & Medicine, 236, 112373. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2019.112373

Indah, R. (2010). Manfaat bermain peran pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam bagi mahasiswa ilmu keperawatan berbasis kompetensi perawat Muslim. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 10(3). https://doi.org/10.24036/pakar.v23i2.785

Noor, F., Trisyani, Y., & Mirwanti, R. (2024). Islamic caring behavior by nurses on patient satisfaction: A scoping review. Indonesian Journal of Global Health Research, 6(5), 2389–2400. https://doi.org/10.37287/ijghr.v6i5.3437

Setiowati, D., Utomo, W. B., & Agustina, M. (2023). Integration in nursing curriculum for building Islamic nurses’ character in Indonesia: A descriptive qualitative approach. Healthcare in Low-resource Settings, 11(2). https://doi.org/10.4081/hls.2023.11739

Ucok, M., Cibro, C., & Nurdin, A. (2023). Peran agama dalam keperawatan. Public Health Journal, 1(2). https://doi.org/10.62710/ymzgs868

Wahyudi, E. (2020). Pembudayaan nilai-nilai pendidikan agama Islam multikultural pada Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Gresik. Pendidikan Multikultural, 4(2), 142–151. https://doi.org/10.33474/multikultural.v4i2.7399

Kontributor: Nabila RD

Editor: Jumangin, M.Pd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *