Pelayanan Keperawatan Berbasis Nilai Kemanusiaan Universal dalam Islam

I.  Pendahuluan

Dunia keperawatan modern belakangan ini menghadapi tantangan kompleksitas klinis dan pergeseran lanskap sosial Budaya. Di tengah tingginya arus modernisasi medis dan integrasi teknologi keperawatan, ada bahaya laten di mana interaksi antarmanusia terdegradasi menjadi sekadar hubungan teknokratis mekanis. Pasien kerap dipandang hanya sebagai serangkaian gejala medis, bukan sebagai individu utuh yang memiliki martabat, kebutuhan emosional, serta spiritual. Kondisi ini mendesakperlunya artikulasi ulang filosofi keperawatan yang mampu menyatukan kecanggihan klinis dengan kehangatan kasih sayang universal. Islam, sebagai ajaran yang melingkupi seluruh ranah kehidupan, menyajikan fondasi spiritual yang kokoh mengenai penghormatan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan.

Nilai kemanusiaan universal dalam Islam melampaui batas-batas ras, suku, agama, mapun status sosial ekonomi. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap individu pada hakikatnya adalah mahluk mulia yang wajib dilindungi dan dihormati. Tugas perawat tidak hanya terbatas pada intervensi fisik atau pemenuhan advis medis dokter, melainkan merupakan bentuk manifestasi nyata dari ikhtiar memelihara kehidupan dan menyebarkan rahmat bagi semesta alam. Guna mempertegas landasan etik dan moral ini, Al-Qur’an menggambarkan kemuliaan derajat manusia secara eksplisit.

 وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami utamakan mereka dengan keutamaan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S. Al-Isra’ [17]: 70)

Ayat di atas menjadi argumentasi teologis fundamental bahwa kemuliaan manusia bersifat bawaan (inbound dignity) yang dianugerahkan langsung oleh Sang Pencipta. Oleh karena itu, pelayanan keperawatan bernafaskan Islam harus menjadikan penghormatan atas martabat ini sebagai pilar utama. Perawat dituntut hadir tidak sekadar sebagai tenaga medis terlatih, tetapi sebagai agen kemanusiaan yang memandang penderitaan pasien dengan pandangan empati mendalam, terlepas dari latar belakang personal pasien tersebut.

II.  Pembahasan

Konsep Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Landasan Holistik Keperawatan Dalam tinjauan filosofis, praktik keperawatan Islami senantiasa berakar pada doktrin utama Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) (Ismail dkk., 2015). Doktrin ini menuntut perawat untuk menghadirkan kasih sayang, kepedulian, dan kelembutan dalam setiap tindakan klinis. Pengasuhan keperawatan berbasis nilai universal ini menolak segala bentuk diskriminasi. Baik pasien muslim maupun non-muslim, kaya maupun miskin, berhak mendapatkan tingkat perawatan kesehatan yang setara, berkualitas, dan dipenuhi rasa hormat (Ardian dkk., 2023). Pendekatan holistik yang diusung oleh Islam mencakup empat dimensi utama manusia: fisik (jismiyyah), mental/psikologis (nafsiyyah), sosial (ijtima’iyyah), dan spiritual (ruhiyyah) (Sadat Hoseini, 2019). Perawat tidak boleh hanya memfokuskan perhatian pada penyembuhan luka fisik atau normalisasi parameter tanda-tanda vital semata, melainkan juga harus peka terhadap kecemasan jiwa dan kebutuhan spiritual pasien. Penyembuhan sejati terjadi ketika seluruh aspek ini dibina secara seimbang. Kerangka pemikiran ini ditegaskan kembali dalam firman Allah:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

 “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (Q.S. Al-Anbiya’ [21]: 107)

Aplikasi nyata dari ayat ini dalam praktik perawatan sehari-hari adalah pembentukan kebiasaan bertutur kata yang santun, memberikan ketenangan jiwa bagi pasien yang panik, serta menghadirkan rasa aman. Perawat yang menjiwai nilai ini akan memandang tugas shift mereka yang berat bukan sekadar kewajiban profesional berbayar, melainkan sebagai sarana mengekspresikan sifat kasih sayang ilahiah kepada sesama manusia yang sedang berada dalam kondisi rentan.

Etika Pelayanan Keperawatan dan Prinsip Menjaga Jiwa (Hifz an-Nafs) Di dalam Maqashid al-Shari’ah (tujuan utama syariat Islam), pemeliharaan jiwa atau hifz an-nafs menempati posisi prioritas yang sangat tinggi. Keperawatan adalah salah satu profesi yang paling secara langsung berinteraksi dengan ikhtiar penyelamatan dan pemeliharaan jiwa manusia. Setiap tindakan preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh perawat berbanding lurus dengan amanat teologis untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia.

Secara teologis, menyelamatkan satu nyawa manusia disetarakan nilainya dengan menyelamatkan seluruh umat manusia. Nilai apresiasi yang begitu tinggi ini memberikan bobot spiritual yang sangat mendalam pada tindakan-tindakan keperawatan, mulai dari tindakan pertolongan gawat darurat yang kritis hingga perawatan personal higiene pasien total care (Suprayitno & Setiawan, 2021). Allah SWT berfirman mengenai pentingnya menjaga kehidupan:

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا ۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ 

“Barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Dan barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (Q.S. Al-Ma’idah [5]: 32)

Dalam konteks praktis di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan, penerapan prinsip hifz an-nafs diwujudkan melalui kepatuhan ketat terhadap standar operasional prosedur (SOP), penerapan budaya patient safety yang cermat, serta pencegahan infeksi nosokomial. Kelalaian yang disengaja atau ketidakpedulian dalam perawatan pasien dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap amanat menjaga jiwa ini.

Integrasi Kebijakan Transkultural dan Keadilan Sosial dalam Keperawatan Modern Dalam era globalisasi saat ini, perawat sering kali dihadapkan pada latar belakang pasien yang sangat beragam (multikultural). Islam menyediakan kerangka kerja transkultural yang sangat inklusif. Perbedaan etnis, ras, bahasa, dan keyakinan tidak boleh menjadi hambatan dalam memberikan perawatan yang optimal. Islam memandang keragaman manusia sebagai sunnatullah yang bertujuan agar manusia saling mengenal, memahami, dan bekerjasama dalam kebaikan (Noor dkk., 2024).

Prinsip keadilan sosial (‘adalah) dan kebajikan (ihsan) mewajibkan perawat untuk bersikap adil dalam mengalokasikan waktu, perhatian, dan sumber daya perawatan kepada setiap pasien tanpa memandang status sosial ekonomi mereka. Konsep keimanan dalam Islam bahkan dikaitkan langsung dengan sejauh mana seorang individu memiliki empati dan kepedulian terhadap sesamanya, sebagaimana tercermin dalam dorongan untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًاۗ وَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْاۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (Q.S. Al-Ma’idah [5]: 2)

Implementasi dari tolong-menolong dalam keperawatan berbasis nilai universal ini terekspresikan dalam bentuk kolaborasi interprofesional yang harmonis demi keselamatan pasien. Perawat bekerja sama dengan dokter, ahli gizi, apoteker, dan pekerja sosial dengan semangat solidaritas kemanusiaan untuk mempercepat proses pemulihan kesehatan pasien.

III. Penutup

Pelayanan keperawatan berbasis nilai kemanusiaan universal dalam Islam memberikan kerangka etik dan filosofis yang kokoh serta komprehensif bagi praktik keperawatan modern. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai universal seperti penghormatan terhadap martabat manusia (Q.S. Al-Isra’: 70), prinsip kasih sayang universal rahmatan lil ‘alamin (Q.S. Al-Anbiya’: 107), pemeliharaan jiwa hifz an-nafs (Q.S. Al-Ma’idah: 32), serta keadilan dan kerjsama kemanusiaan (Q.S. Al-Ma’idah: 2), profesi keperawatan ditingkatkan dari sekadar pekerjaan teknis menjadi sebuah bentuk ibadah dan pengabdian luhur.

Penerapan konsep ini secara konsisten diharapkan mampu mengikis kecenderungan dehumanisasi dalam pelayanan kesehatan modern. Perawat yang menjiwai nilai-nilai ini tidak hanya akan menghasilkan outcome klinis yang lebih baik melalui pelayanan holistik berkualitas, tetapi juga mampu memberikan kenyamanan emosional dan spiritual yang sangat dibutuhkan oleh pasien. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan keperawatan dan tata kelola rumah sakit perlu terus memperkuat internalisasi nilai-nilai kemanusiaan universal berlandaskan spiritualitas ini secara bersinambungan.

IV. Daftar Pustaka

Ardian, I., Nursalam, Ahsan, Haiya, N. N., & Azizah, I. R. (2023). Investigating the complex relationships between nurses’ work factors, Sharia-based nursing care, and patient satisfaction in an Islamic hospital: A PLS-SEM approach. Belitung Nursing Journal, 9(6). https://doi.org/10.33546/bnj.2865

Ismail, S., Hatthakit, U., & Chinawong, T. (2015). Caring science within Islamic contexts: A literature review. Nurse Media Journal of Nursing, 5(1), 34–47. https://doi.org/10.14710/nmjn.v5i1.10189

Noor, F., Trisyani, Y., & Mirwanti, R. (2024). Islamic caring behavior by nurses on patient satisfaction: A scoping review. Indonesian Journal of Global Health Research, 6(5), 2389–2400. https://doi.org/10.37287/ijghr.v6i5.3437

Sadat Hoseini, A. (2019). A proposed Islamic nursing conceptual framework. Nursing Science Quarterly, 32(2). https://doi.org/10.1177/0894318418807944

Suprayitno, E., & Setiawan, I. (2021). Nurses’ roles in palliative care: An Islamic perspective. Belitung Nursing Journal, 7(1), 50–54. https://doi.org/10.33546/bnj.1254

Kontributor: Selvy Pratama Putri

Editor: Dr. Sumaryati, M.Pd.I.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *