Empati Sebagai Implementasi Akhlak Rasulullah dalam Asuhan Keperawatan
Pendahuluan
Keperawatan tidak hanya berhubungan dengan tindakan klinis, tetapi juga dengan manusia yang sedang berada dalam kondisi rentan. Pasien dapat datang dengan rasa takut, nyeri, bingung, atau khawatir terhadap penyakit dan tindakan yang akan dijalani. Dalam keadaan seperti itu, cara perawat memperlakukan pasien ikut menentukan bagaimana pasien memaknai pengalaman perawatannya. Karena itu, keterampilan teknis perlu berjalan bersama kemampuan memahami perasaan dan kebutuhan pasien.
Empati menjadi salah satu sikap yang penting dalam hubungan perawat dan pasien. Empati bukan berarti perawat larut dalam emosi pasien, melainkan berusaha memahami pengalaman pasien dari sudut pandangnya lalu merespons secara tepat. Dalam praktik keperawatan, empati terlihat melalui cara mendengarkan, memilih kata, memberi kesempatan pasien bertanya, menghargai keputusan pasien, dan menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan yang tidak selalu tampak secara fisik. Komunikasi yang efektif sendiri merupakan dasar hubungan perawat-pasien dan berperan dalam membangun kepercayaan serta kenyamanan selama pelayanan (Afriyie, 2020).
Empati dalam Perspektif Akhlak Rasulullah
Dalam Islam, kepedulian terhadap orang lain bukan sekadar tuntutan sosial, tetapi bagian dari akhlak. Rasulullah saw. memberikan contoh bahwa manusia perlu diperlakukan dengan kelembutan dan perhatian. Prinsip tersebut relevan dengan profesi keperawatan karena perawat berhadapan langsung dengan pasien yang membutuhkan bantuan, baik secara fisik maupun psikologis.
Salah satu landasan yang dapat digunakan adalah firman Allah Swt. dalam QS. Ali ‘Imran ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اہللِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Artinya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kelembutan bukan kelemahan. Justru, kelembutan dapat membuat seseorang merasa aman sehingga lebih terbuka dalam berinteraksi. Dalam konteks keperawatan, pasien yang merasa dihargai akan lebih mudah menyampaikan keluhan, rasa takut, maupun kebutuhan yang sebenarnya. Dengan demikian, nilai kelembutan dapat diterjemahkan menjadi perilaku profesional dalam komunikasi terapeutik.
Prinsip kasih sayang juga tampak dalam hadis riwayat Muslim: “Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” Pesan tersebut dapat dipahami sebagai dorongan untuk menumbuhkan kepedulian dalam hubungan antarmanusia. Hadis lain yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menggambarkan orang-orang beriman seperti satu tubuh; ketika salah satu bagian merasakan sakit, bagian yang lain ikut merasakan dampaknya. Nilai ini sejalan dengan semangat kepedulian: penderitaan orang lain tidak dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya asing, tetapi sebagai keadaan yang perlu direspons dengan perhatian dan bantuan.
Empati sebagai Bagian dari Asuhan Keperawatan
Empati memiliki hubungan yang erat dengan komunikasi terapeutik. Perawat tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi perlu memastikan bahwa informasi tersebut dipahami dan disampaikan dengan cara yang sesuai dengan kondisi pasien. Xue dan Heffernan (2021) menjelaskan bahwa komunikasi terapeutik merupakan bagian penting dari hubungan perawat-pasien dan membutuhkan kejelasan mengenai cara komunikasi digunakan dalam praktik. Artinya, komunikasi bukan sekadar percakapan biasa, tetapi merupakan bagian dari proses keperawatan.
Empati juga berkaitan dengan pendekatan person-centred care. Pasien memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan tindakan medis. Feo et al. (2017) menekankan pentingnya hubungan antara kebutuhan pasien, tindakan perawat, dan pendekatan perawatan yang berpusat pada individu. Dalam pendekatan seperti ini, perawat perlu melihat pasien sebagai pribadi yang memiliki pengalaman, nilai, kekhawatiran, dan pilihan, bukan hanya sebagai diagnosis.
Hubungan yang baik juga dapat memengaruhi kualitas pelayanan. Penelitian Molina-Mula dan Gallo-Estrada (2020) menunjukkan bahwa hubungan perawat-pasien berkaitan dengan kualitas perawatan dan otonomi pasien dalam pengambilan keputusan. Temuan ini memperkuat alasan bahwa empati bukan hanya sikap “baik” secara moral, tetapi mempunyai fungsi praktis dalam pelayanan. Ketika perawat mampu membangun hubungan yang saling percaya, pasien memiliki ruang yang lebih baik untuk terlibat dalam proses perawatannya.
Penerapan Empati pada Situasi Klinis
Penerapan empati akan lebih mudah dipahami melalui situasi sederhana. Misalnya, seorang pasien akan menjalani tindakan yang belum pernah dialaminya. Sebelum tindakan dimulai, pasien terlihat tegang dan berkata, “Saya takut, Kak. Sakit tidak?” Respons yang kurang empatik dapat berupa jawaban singkat seperti, “Tenang saja, tidak usah takut.” Walaupun bermaksud menenangkan, jawaban tersebut belum tentu membuat pasien merasa dipahami.
Perawat dapat memberikan respons yang lebih terapeutik: “Saya mengerti Bapak merasa takut karena ini pertama kalinya. Boleh ceritakan bagian mana yang paling Bapak khawatirkan?” Setelah pasien menjelaskan kekhawatirannya, perawat dapat memberikan informasi sesuai kebutuhan, misalnya menjelaskan tahapan tindakan secara singkat, sensasi yang mungkin dirasakan, dan kesempatan bagi pasien untuk bertanya. Perawat juga dapat memastikan bahwa pasien memahami penjelasan sebelum tindakan dilakukan.
Perbedaan kedua respons tersebut terletak pada prosesnya. Pada respons pertama, perawat langsung berusaha menghilangkan rasa takut. Pada respons kedua, perawat terlebih dahulu mengakui perasaan pasien, menggali sumber kekhawatiran, kemudian memberikan informasi. Inilah bentuk empati yang lebih konkret: memahami pengalaman pasien sebelum menentukan cara meresponsnya.
Dalam kondisi lain, misalnya pasien menolak berbicara karena sedang kecewa atau lelah, empati tidak berarti memaksa pasien untuk bercerita. Perawat dapat memberi ruang, tetap menunjukkan kesiapan membantu, dan kembali melakukan komunikasi ketika kondisi pasien lebih memungkinkan. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa menghargai pasien juga berarti menghargai batas dan kebutuhannya.
Empati, Profesionalisme, dan Batas dalam Keperawatan
Walaupun empati penting, perawat tetap perlu menjaga batas profesional. Empati tidak berarti menyetujui semua keinginan pasien atau mengambil keputusan berdasarkan perasaan semata. Perawat harus tetap mempertimbangkan keselamatan pasien, standar profesi, kondisi klinis, dan kewenangan dalam menjalankan tindakan. Dengan kata lain, empati perlu berjalan bersama pengetahuan dan penalaran klinis.
Hal ini penting karena hubungan yang terlalu emosional dapat membuat perawat kehilangan objektivitas. Sebaliknya, hubungan yang terlalu kaku dapat membuat pasien merasa tidak diperhatikan. Titik keseimbangannya adalah mampu memahami pasien tanpa mengabaikan tanggung jawab profesional. Komunikasi yang baik membantu membangun kepercayaan, tetapi kepercayaan tersebut harus digunakan untuk mendukung proses asuhan, bukan untuk menggantikan pertimbangan klinis.
Bukti penelitian juga menunjukkan bahwa empati dapat memberikan dampak yang terukur. Keshtkar et al. (2024), melalui systematic review terhadap 14 uji acak, menilai pengaruh empati tenaga kesehatan terhadap kepuasan pasien. Hasil kajian tersebut memperkuat bahwa peningkatan empati dalam pelayanan dapat berhubungan dengan pengalaman pasien yang lebih baik. Temuan ini membuat nilai empati semakin relevan untuk dipandang sebagai bagian dari mutu pelayanan, bukan hanya sebagai sifat pribadi seorang perawat.
Refleksi bagi Calon Perawat
Bagi mahasiswa keperawatan, membangun empati tidak cukup dilakukan dengan menghafal definisi. Empati perlu dilatih dalam interaksi sehari-hari, termasuk ketika melakukan komunikasi dengan teman, dosen, keluarga, maupun pasien saat praktik. Kebiasaan mendengarkan tanpa buru-buru memotong pembicaraan, memperhatikan bahasa tubuh, dan memilih kata yang tidak menghakimi merupakan latihan sederhana yang dapat dibawa ke lingkungan klinis.
Calon perawat juga perlu menyadari bahwa setiap pasien mempunyai cara berbeda dalam menghadapi penyakit. Ada pasien yang banyak bertanya, ada yang lebih diam, ada yang mudah cemas, dan ada pula yang tampak tenang tetapi sebenarnya menyimpan kekhawatiran. Karena itu, perawat tidak seharusnya menggunakan satu pola komunikasi untuk semua pasien. Empati menuntut kemampuan menyesuaikan pendekatan tanpa menghilangkan prinsip profesional.
Pada akhirnya, akhlak Rasulullah dapat menjadi dasar pembentukan sikap perawat yang tidak hanya terampil, tetapi juga manusiawi. Kelembutan, kasih sayang, perhatian, dan penghargaan terhadap sesama dapat diwujudkan dalam tindakan yang sederhana, tetapi bermakna: mendengarkan pasien, menjelaskan dengan sabar, menjaga martabatnya, dan hadir ketika pasien membutuhkan bantuan.
Kesimpulan
Empati merupakan salah satu sikap yang dapat menghubungkan nilai akhlak Rasulullah dengan praktik asuhan keperawatan. Prinsip kelembutan dalam QS. Ali ‘Imran ayat 159 serta ajaran tentang kasih sayang dan kepedulian dalam hadis memberikan dasar moral bagi perawat untuk memperlakukan pasien secara manusiawi. Dalam praktiknya, empati dapat diwujudkan melalui komunikasi terapeutik, pendekatan yang berpusat pada pasien, penghargaan terhadap pilihan pasien, dan kemampuan memahami kekhawatiran sebelum memberikan respons.
Empati juga memiliki nilai profesional karena hubungan perawat-pasien yang baik dapat mendukung komunikasi, kepercayaan, keterlibatan pasien, dan pengalaman terhadap pelayanan. Namun, empati harus tetap berada dalam batas profesional dan berjalan bersama pengetahuan serta pertimbangan klinis. Dengan demikian, implementasi akhlak Rasulullah dalam keperawatan bukan sekadar menampilkan sikap ramah, melainkan membentuk cara perawat memandang, mendengarkan, dan memperlakukan pasien. Seorang perawat yang mampu menggabungkan kompetensi dengan empati akan lebih mampu memberikan asuhan yang aman, bermartabat, dan berpusat pada manusia.
Daftar Pustaka
Afriyie, D. (2020). Effective communication between nurses and patients: An evolutionary concept analysis. British Journal of Community Nursing, 25(9), 438–445. https://doi.org/10.12968/bjcn.2020.25.9.438
Feo, R., Rasmussen, P., Wiechula, R., Conroy, T., & Kitson, A. (2017). Developing effective and caring nurse-patient relationships. Nursing Standard, 31(28), 54–63. https://doi.org/10.7748/ns.2017.e107356
Keshtkar, L., Madigan, C. D., Ward, A., Ahmed, S., Tanna, V., Rahman, I., Bostock, J., Nockels, K., Wang, W., Gillies, C. L., & Howick, J. (2024). The effect of practitioner empathy on patient satisfaction: A systematic review of randomized trials. Annals of Internal Medicine, 177(2), 196–209. https://doi.org/10.7326/M23-2168
Molina-Mula, J., & Gallo-Estrada, J. (2020). Impact of nurse-patient relationship on quality of care and patient autonomy in decision-making. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(3), 835. https://doi.org/10.3390/ijerph17030835
Xue, W., & Heffernan, C. (2021). Therapeutic communication within the nurse-patient relationship: A concept analysis. International Journal of Nursing Practice, 27(6), e12938. https://doi.org/10.1111/ijn.12938
Kontributor: Restu Lailul Haj
Editor: Jumangin, M.Pd.

