Fitrah Kembalinya Kesadaran Kesehatan: Kritik Terhadap Teori Tabula Rasa dalam Pendidikan Kesehatan

I. Pendahuluan

Kesehatan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia yang perlu dijaga sejak dini. Dalam pendidikan kesehatan, seseorang tidak hanya membutuhkan pengetahuan mengenai cara menjaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan kesadaran dari dalam diri untuk menerapkan perilaku hidup sehat. Dalam perspektif Islam, manusia memiliki fitrah, yaitu potensi dasar yang diberikan Allah SWT sejak penciptaannya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ar-Rum ayat 30 yang menjelaskan tentang fitrah manusia. Konsep tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak sepenuhnya berada dalam keadaan kosong tanpa potensi, melainkan memiliki kecenderungan dan kemampuan dasar yang dapat dikembangkan melalui pendidikan dan pengalaman. Pandangan ini menarik untuk dikaji sebagai kritik terhadap teori Tabula Rasa yang dikemukakan John Locke, yang menggambarkan manusia sebagai “kertas kosong” yang pengetahuan dan perilakunya banyak dibentuk oleh pengalaman serta lingkungan.

Pembahasan mengenai fitrah sebagai kembalinya kesadaran kesehatan menjadi penting karena pendidikan kesehatan seharusnya tidak hanya berfokus pada pemberian informasi, tetapi juga membangun kesadaran, tanggung jawab, dan kemampuan individu dalam menjaga kesehatan dirinya. Hal ini juga relevan dalam pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan kebidanan, karena tenaga kesehatan tidak hanya memberikan informasi dan tindakan, tetapi juga membantu individu memahami kondisi dirinya dan mengambil keputusan yang tepat mengenai kesehatan. Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk membahas konsep fitrah sebagai kembalinya kesadaran kesehatan, mengkaji teori Tabula Rasa dalam pendidikan kesehatan, memberikan kritik terhadap keterbatasannya, serta menjelaskan bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis dapat menjadi landasan dalam membangun pendidikan kesehatan yang lebih manusiawi, sadar, dan holistik.

II. Pembahasan

Konsep fitrah merupakan salah satu konsep penting dalam memahami manusia dalam perspektif Islam. Fitrah dapat dipahami sebagai keadaan dasar atau potensi yang Allah SWT berikan kepada manusia sejak penciptaannya. Manusia tidak hanya dipandang sebagai individu yang menerima pengaruh dari lingkungan, tetapi juga memiliki potensi untuk mengenal kebaikan, menjaga dirinya, dan mengembangkan kehidupannya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 30:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki keadaan dasar yang diberikan oleh Allah SWT. Dalam konteks pendidikan kesehatan, fitrah dapat dipahami sebagai potensi dasar manusia untuk mengenali dan memenuhi kebutuhan dirinya, termasuk kebutuhan untuk menjaga kesehatan.

Pemahaman mengenai fitrah tersebut dapat menjadi sudut pandang kritis terhadap teori Tabula Rasa yang dikaitkan dengan pemikiran John Locke. Tabula Rasa menggambarkan pikiran manusia sebagai suatu “kertas kosong” yang pengetahuan dan perkembangannya banyak dibentuk oleh pengalaman serta lingkungan. Pemikiran ini memberikan kontribusi penting karena menunjukkan bahwa pendidikan dan lingkungan mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan seseorang. Akan tetapi, apabila konsep tersebut diterapkan secara mutlak, manusia seolah-olah hanya menjadi penerima pengaruh dari luar. Perspektif fitrah memberikan pemahaman yang lebih luas bahwa manusia memiliki potensi dasar yang kemudian dikembangkan melalui pendidikan, pengalaman, lingkungan, dan proses pembentukan diri. Dengan demikian, pendidikan kesehatan tidak seharusnya hanya dipandang sebagai proses mengisi seseorang dengan informasi, tetapi juga sebagai proses membangkitkan kesadaran yang telah memiliki dasar dalam diri manusia.

Para ulama juga memberikan perhatian terhadap konsep fitrah. Dalam penjelasan para ulama tafsir, fitrah pada QS. Ar-Rum ayat 30 berkaitan dengan keadaan dasar manusia yang sesuai dengan ketetapan Allah dan kecenderungan kepada kebenaran. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa fitrah berkaitan dengan keadaan yang Allah ciptakan pada manusia dan kesesuaian manusia dengan agama yang benar. Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa manusia mempunyai potensi dasar, tetapi potensi tersebut tetap membutuhkan pendidikan dan pengarahan. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Artinya: “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (H.R. Bukhari No. 1385 & Muslim No. 2658). Hadis ini menunjukkan bahwa manusia memiliki keadaan dasar, sementara lingkungan dan pendidikan mempunyai pengaruh terhadap perkembangan dirinya. Oleh karena itu, konsep fitrah dan teori Tabula Rasa sebenarnya dapat dipertemukan pada pentingnya lingkungan dan pendidikan, tetapi konsep fitrah memberikan penekanan tambahan terhadap adanya potensi dasar manusia.

Dalam pendidikan kesehatan, kesadaran menjadi hal yang sangat penting karena pengetahuan tidak selalu secara otomatis menghasilkan perilaku sehat. Seseorang dapat mengetahui bahwa menjaga kebersihan, mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, melakukan aktivitas fisik, dan menjaga kesehatan mental merupakan hal penting, tetapi belum tentu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara ilmiah, perubahan perilaku kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengetahuan, sikap, motivasi, lingkungan, dukungan sosial, pengalaman, dan kemampuan individu. Oleh sebab itu, pendidikan kesehatan yang efektif perlu mendorong seseorang untuk memahami alasan di balik perilaku sehat, melakukan refleksi terhadap kebiasaannya, dan memiliki motivasi untuk melakukan perubahan. Pendekatan ini lebih menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif daripada hanya sebagai penerima informasi.

Kesadaran untuk menjaga tubuh juga memiliki dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Artinya: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari). Hadis tersebut menunjukkan bahwa tubuh perlu mendapatkan perhatian dan tidak boleh diabaikan. Dalam konteks kesehatan, menjaga tubuh dapat diwujudkan melalui pola hidup bersih dan sehat, pemenuhan kebutuhan gizi, istirahat yang cukup, menjaga kesehatan mental, serta mencari pertolongan kesehatan ketika diperlukan. Dengan demikian, menjaga kesehatan dapat dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab manusia terhadap dirinya.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

Artinya: “Bersuci adalah sebagian dari iman.” (H.R. Muslim No. 223). Hadis ini dapat dikaitkan dengan pentingnya membangun kemampuan dan menjaga kondisi diri. Kekuatan dalam konteks ini tidak hanya dipahami sebagai kekuatan fisik, tetapi juga dapat mencakup kemampuan menghadapi kehidupan, menjaga diri, serta menjalankan tanggung jawab dengan baik. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan perlu membantu seseorang mengembangkan kemampuan untuk mengambil keputusan yang mendukung kesehatannya.

Konsep fitrah sebagai kembalinya kesadaran kesehatan dapat diwujudkan melalui pendidikan yang bersifat dialogis dan reflektif. Peserta didik tidak hanya diberikan informasi tentang kesehatan, tetapi juga diajak mengenali kebiasaan dirinya, memahami kebutuhan tubuh, menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman sehari-hari, dan menentukan perilaku yang lebih sehat. Dengan cara tersebut, pendidikan kesehatan menjadi proses yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kesadaran dan tanggung jawab. Pendekatan ini dapat dirumuskan sebagai proses mengenali diri, memahami kebutuhan kesehatan, memperoleh pengetahuan, melakukan refleksi, kemudian menerapkan perilaku sehat.

Konsep tersebut juga memiliki keterkaitan yang kuat dengan pelayanan kebidanan. Bidan tidak hanya berperan memberikan tindakan atau informasi medis, tetapi juga memberikan pendidikan dan pendampingan kepada perempuan, ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi, serta keluarga. Dalam pelayanan kebidanan, pendekatan yang menghargai fitrah berarti memandang perempuan sebagai individu yang memiliki pengalaman, kebutuhan, kemampuan mengambil keputusan, dan nilai-nilai yang perlu dihargai. Pendidikan kesehatan kepada ibu, misalnya mengenai nutrisi selama kehamilan, pemeriksaan kehamilan, persiapan persalinan, perawatan bayi, pemberian ASI, kesehatan reproduksi, dan tanda bahaya, sebaiknya dilakukan melalui komunikasi yang mudah dipahami dan melibatkan ibu secara aktif.

Pendekatan berbasis kesadaran juga mendukung pelayanan kebidanan yang berpusat pada perempuan (woman-centered care). Bidan dapat membantu klien memahami kondisi kesehatannya sehingga keputusan mengenai kesehatan tidak hanya berasal dari tenaga kesehatan, tetapi juga melibatkan klien dan keluarganya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Dengan demikian, pelayanan kebidanan tidak hanya berorientasi pada tindakan klinis, tetapi juga pada pemberdayaan, edukasi, komunikasi, dan peningkatan kesadaran kesehatan. Hal tersebut penting karena kesehatan ibu dan bayi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis, tetapi juga oleh kondisi psikologis, sosial, lingkungan, pengetahuan, dan dukungan keluarga.

Berdasarkan uraian tersebut, kritik terhadap teori Tabula Rasa bukan berarti menolak pentingnya pendidikan dan lingkungan. Pendidikan tetap mempunyai peran yang sangat besar dalam membentuk pengetahuan dan perilaku manusia. Kritiknya adalah bahwa manusia tidak seharusnya dipahami hanya sebagai “kertas kosong” yang harus diisi dari luar. Dalam perspektif fitrah, manusia memiliki potensi dasar yang perlu dikenali, dibimbing, dan dikembangkan. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan yang ideal adalah pendidikan yang menggabungkan pengetahuan ilmiah, pengalaman, lingkungan, kesadaran diri, nilai kemanusiaan, dan nilai keislaman sehingga seseorang tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan untuk sehat, tetapi juga memahami mengapa kesehatan perlu dijaga dan mampu menerapkannya secara sadar.

III. Penutup

Fitrah sebagai kembalinya kesadaran kesehatan memberikan perspektif bahwa manusia memiliki potensi dasar yang perlu dikembangkan melalui pendidikan dan pengalaman. Teori Tabula Rasa memberikan kontribusi dalam menjelaskan pentingnya lingkungan dan pendidikan, tetapi memiliki keterbatasan apabila manusia dipandang sepenuhnya sebagai kertas kosong. Dalam perspektif Islam, QS. Ar-Rum ayat 30 dan hadis Nabi صلى الله عليه وسلم tentang fitrah menunjukkan bahwa manusia memiliki keadaan dasar yang kemudian dipengaruhi oleh pendidikan dan lingkungan. Dalam pendidikan kesehatan dan pelayanan kebidanan, pendekatan berbasis fitrah dapat membantu individu menjadi lebih sadar, aktif, dan bertanggung jawab terhadap kesehatannya. Dengan menggabungkan nilai Al-Qur’an dan hadis dengan ilmu kesehatan yang berbasis bukti, pendidikan kesehatan diharapkan tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran dan perilaku sehat yang berkelanjutan.

Daftar Pustaka

Al-Bukhari, M. I. (1997). Sahih al-Bukhari. Riyadh: Darussalam.

Brady, S., Lee, N., Gibbons, K., & Bogossian, F. (2019). Woman-centred care: An integrative review of the empirical literature. International Journal of Nursing Studies, 94, 107–119. https://doi.org/10.1016/j.ijnurstu.2019.01.001.

Ibn Kathir, I. (2000). Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Darussalam.

Kim, S., et al. (2020). Establishing the efficacy of interventions to improve health literacy and health behaviours: A systematic review. BMC Public Health.

Locke, J. (1975). An Essay Concerning Human Understanding. Oxford: Clarendon Press. (Karya asli diterbitkan tahun 1690).

Muslim, I. H. (2007). Sahih Muslim. Riyadh: Darussalam.

World Health Organization. (1986). Ottawa Charter for Health Promotion. Geneva: World Health Organization.

Kontributor: Yedia Mecha

Editor: Arif Islahuddin, M.Pd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *