Fitrah sebagai Dasar Perilaku Hidup Sehat Refleksi bagi Pendekatan Edukasi Kesehatan Keperawatan

Pendahuluan

Kesehatan merupakan salah satu nikmat yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan perlu dijaga sebagai bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Dalam perspektif Islam, manusia diciptakan dengan fitrah yang mengarahkan kepada kebaikan dan kehidupan yang seimbang. Menjaga kesehatan melalui kebersihan diri, pola makan yang baik dan seimbang, aktivitas fisik, istirahat yang cukup, serta menghindari perilaku yang dapat membahayakan tubuh merupakan bagian dari upaya mempertahankan kualitas kehidupan. Namun, masih banyak individu yang memiliki pengetahuan mengenai kesehatan tetapi belum mampu menerapkannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan tidak cukup hanya memberikan informasi mengenai penyakit dan cara pencegahannya, tetapi juga perlu membangun kesadaran, nilai, dan motivasi dalam diri individu. Oleh karena itu, konsep fitrah menjadi penting untuk dikaji sebagai salah satu pendekatan dalam membentuk perilaku hidup sehat yang tidak hanya berorientasi pada aspek fisik, tetapi juga memperhatikan nilai spiritual.

Topik ini penting dalam bidang keperawatan karena perawat memiliki peran sebagai edukator yang membantu pasien dan masyarakat meningkatkan kemampuan dalam mempertahankan serta meningkatkan kesehatan. Integrasi konsep fitrah dalam edukasi kesehatan dapat membantu pasien memahami bahwa menjaga kesehatan merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri dan amanah dari Allah, sehingga motivasi untuk berperilaku sehat diharapkan tidak hanya berasal dari anjuran tenaga kesehatan, tetapi juga dari kesadaran pribadi. Berdasarkan hal tersebut, esai ini bertujuan untuk menganalisis konsep fitrah sebagai dasar perilaku hidup sehat dalam perspektif Islam, menjelaskan pentingnya nilai-nilai Islam dalam edukasi kesehatan, serta merefleksikan penerapan konsep tersebut dalam praktik keperawatan agar edukasi kesehatan dapat dilakukan secara lebih holistik, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan pasien.

Pembahasan

Konsep fitrah merupakan salah satu konsep penting dalam Islam yang menjelaskan keadaan dasar manusia sejak diciptakan oleh Allah Swt. Dalam QS. Ar-Rum ayat 30, Allah Swt. berfirman:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ۝٣٠

Artinya, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai).fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia diciptakan dengan fitrah yang mengarah kepada agama yang lurus dan tauhid. Dalam kaitannya dengan kesehatan, konsep fitrah dapat menjadi dasar untuk memahami bahwa manusia memiliki potensi untuk menjaga dirinya, mengembangkan kebiasaan yang baik, dan menghindari sesuatu yang dapat merusak kehidupannya. Dengan demikian, menjaga kesehatan dapat dipandang sebagai salah satu bentuk tanggung jawab manusia dalam memelihara kehidupan yang telah diberikan Allah.

Pemahaman mengenai kesehatan dalam Islam juga tidak hanya terbatas pada kondisi fisik. Manusia dipandang sebagai suatu kesatuan yang memiliki berbagai dimensi, sehingga kesehatan perlu dilihat secara menyeluruh. Kajian Alimohammadi dan Taleghani menunjukkan bahwa dalam pemikiran Islam, manusia merupakan kesatuan yang terintegrasi dan kesehatan memiliki makna dalam keseimbangan berbagai dimensi kehidupan. Pandangan tersebut memiliki kesesuaian dengan paradigma keperawatan holistik yang memandang pasien secara utuh, bukan hanya berdasarkan penyakit atau gangguan pada organ tertentu. Oleh karena itu, perilaku hidup sehat tidak hanya berkaitan dengan menjaga tubuh, tetapi juga dapat mencakup pemeliharaan keseimbangan psikologis, sosial, dan spiritual.

Pentingnya menjaga kesehatan juga dapat dipahami melalui hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Rasulullah saw. bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Artinya, “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu pada keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari No. 6412). Hadis ini memberikan pelajaran bahwa kesehatan merupakan nikmat yang sering kali kurang disadari ketika seseorang masih dalam keadaan sehat. Oleh sebab itu, kesehatan seharusnya dijaga sebelum munculnya penyakit. Dalam konteks keperawatan, pesan tersebut sejalan dengan upaya promotif dan preventif, yaitu membantu individu mempertahankan kesehatan dan mencegah terjadinya masalah kesehatan melalui perubahan perilaku.

Dalam pandangan ulama, manusia memiliki fitrah yang perlu dipelihara dan diarahkan agar tetap berada pada jalan yang sesuai dengan tujuan penciptaannya. Penjelasan Kementerian Agama terhadap QS. Ar-Rum ayat 30 menerangkan bahwa fitrah berkaitan dengan ciptaan Allah dan kecenderungan manusia kepada agama tauhid. Berdasarkan pemahaman tersebut, fitrah tidak dapat diartikan bahwa manusia secara otomatis selalu berperilaku sehat. Manusia tetap memiliki kehendak, kebiasaan, lingkungan, serta berbagai kondisi yang dapat memengaruhi perilakunya. Karena itu, potensi baik yang terdapat dalam diri manusia perlu diarahkan melalui pendidikan dan pembiasaan. Edukasi kesehatan menjadi salah satu bentuk pendidikan yang dapat membantu seseorang mengenali kebutuhan tubuhnya dan membangun kebiasaan yang lebih sehat.

Secara ilmiah, pendekatan kesehatan yang memperhatikan berbagai dimensi manusia juga mendukung konsep keperawatan holistik. Penelitian mengenai kesehatan dalam pemikiran Islam menemukan bahwa kesehatan manusia memiliki hubungan dengan aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual dalam suatu kesatuan yang seimbang. Hal ini penting bagi perawat karena pasien tidak hanya membutuhkan tindakan untuk mengatasi penyakit, tetapi juga membutuhkan edukasi, dukungan emosional, dan penghormatan terhadap nilai serta keyakinannya. Penelitian mengenai penerapan nilai-nilai Islam dalam pelayanan kesehatan di beberapa klinik juga menunjukkan bahwa nilai Islam dapat diterapkan dalam pelayanan keperawatan dan aspek spiritual. Dengan demikian, nilai agama dapat menjadi salah satu unsur pendukung dalam pemberian pelayanan yang berpusat pada pasien.

Dalam praktik keperawatan, konsep fitrah dapat diterapkan melalui edukasi kesehatan yang disesuaikan dengan kondisi dan keyakinan pasien. Perawat dapat memberikan edukasi mengenai kebersihan diri, pola makan seimbang, aktivitas fisik, istirahat yang cukup, pengelolaan stres, serta pemeriksaan kesehatan. Misalnya, ketika memberikan edukasi tentang kebersihan diri kepada pasien Muslim, perawat dapat menjelaskan manfaat kebersihan bagi kesehatan sekaligus menghubungkannya dengan nilai kebersihan dalam Islam apabila pasien merasa nyaman dengan pendekatan tersebut. Demikian pula dalam edukasi pola makan, perawat dapat menjelaskan pentingnya makanan yang bergizi dan sesuai kebutuhan tubuh, kemudian mengaitkannya dengan prinsip memilih makanan yang halal dan baik. Pendekatan tersebut dapat membuat edukasi lebih bermakna karena pasien tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga memahami alasan mengapa perilaku tersebut penting bagi dirinya.

Perbedaan antara edukasi kesehatan yang hanya berfokus pada pemberian informasi dengan edukasi yang mengintegrasikan konsep fitrah terletak pada aspek yang ingin dibangun dalam diri pasien. Edukasi yang hanya memberikan informasi dapat meningkatkan pengetahuan seseorang mengenai apa yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan, tetapi pengetahuan belum tentu menghasilkan perubahan perilaku. Seseorang dapat mengetahui bahwa olahraga penting, makanan bergizi perlu dikonsumsi, atau kebersihan diri harus dijaga, tetapi tetap tidak menerapkannya secara konsisten karena kurangnya motivasi, kebiasaan, lingkungan yang tidak mendukung, atau alasan pribadi yang dianggap bermakna. Dalam hal ini, konsep fitrah dapat memberikan pendekatan yang lebih mendalam karena informasi kesehatan tidak hanya disampaikan sebagai aturan atau anjuran medis, tetapi dihubungkan dengan nilai dan kesadaran individu mengenai tanggung jawab dalam menjaga kehidupan yang diberikan Allah Swt.

Pendekatan berbasis fitrah berpotensi memperkuat motivasi intrinsik pasien. Ketika pasien memahami bahwa menjaga kesehatan bukan hanya untuk menghindari penyakit, tetapi juga merupakan bentuk menjaga amanah dari Allah Swt., perilaku sehat dapat memiliki makna personal dan spiritual yang lebih kuat. Misalnya, edukasi mengenai pola makan tidak hanya menjelaskan kebutuhan gizi, tetapi dapat membantu pasien memahami bahwa memilih makanan yang halal dan baik merupakan bagian dari upaya menjaga tubuh. Demikian pula, anjuran menjaga kebersihan, beristirahat cukup, melakukan aktivitas fisik, dan menghindari kebiasaan yang merusak tubuh dapat dipahami sebagai bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Makna tersebut dapat membantu pasien memiliki alasan yang berasal dari dalam dirinya, sehingga perubahan perilaku tidak semata-mata bergantung pada pengawasan atau instruksi perawat.

Dengan demikian, konsep fitrah tidak menggantikan edukasi kesehatan berbasis ilmu pengetahuan, tetapi dapat memperkuat proses perubahan perilaku dengan memberikan dimensi makna dan motivasi. Informasi kesehatan tetap menjadi dasar agar pasien mengetahui perilaku yang benar, sedangkan nilai fitrah dapat membantu pasien memahami alasan mengapa perilaku tersebut penting bagi dirinya. Perpaduan antara pengetahuan dan kesadaran ini menjadi penting karena perubahan perilaku kesehatan membutuhkan lebih dari sekadar pemahaman terhadap informasi. Perawat tidak hanya berperan sebagai pemberi informasi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu pasien menemukan alasan personal dan spiritual yang dapat mendukung perubahan perilaku.

Dari perspektif keperawatan, pendekatan ini juga sesuai dengan prinsip pelayanan yang berpusat pada pasien karena perawat mempertimbangkan nilai, keyakinan, pengalaman, dan kebutuhan spiritual individu. Pasien yang memiliki keyakinan agama yang kuat dapat merasa lebih dihargai ketika nilai tersebut diperhatikan dalam proses edukasi. Namun, pendekatan ini tidak berarti bahwa setiap pasien Muslim pasti akan lebih termotivasi dengan pendekatan agama. Efektivitasnya tetap bergantung pada kesiapan, keyakinan, kebutuhan, dan preferensi pasien. Oleh karena itu, perawat perlu melakukan komunikasi terapeutik dan pengkajian terlebih dahulu sebelum mengintegrasikan nilai agama dalam edukasi kesehatan. Dengan cara tersebut, konsep fitrah dapat digunakan secara tepat sebagai penguat motivasi, sementara informasi dan bukti ilmiah tetap menjadi dasar utama dalam menentukan perilaku kesehatan yang dianjurkan.

Namun, integrasi nilai agama dalam edukasi kesehatan tetap harus dilakukan secara profesional dan tidak memaksakan keyakinan kepada pasien. Perawat perlu menghargai otonomi, budaya, kondisi, dan pilihan setiap individu. Nilai agama sebaiknya digunakan sebagai sumber dukungan dan motivasi apabila sesuai dengan kebutuhan pasien, bukan sebagai pengganti ilmu kesehatan. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pemahaman terhadap keyakinan Islam dapat membantu perawat memberikan pelayanan yang profesional sekaligus sensitif terhadap budaya dan kebutuhan spiritual pasien. Dengan demikian, edukasi kesehatan tetap harus berdasarkan ilmu pengetahuan dan bukti ilmiah, sedangkan nilai fitrah berfungsi memperkuat kesadaran dan motivasi pasien dalam menjaga kesehatan.

Berdasarkan analisis tersebut, penulis memandang bahwa konsep fitrah dapat menjadi pendekatan yang relevan dalam edukasi kesehatan keperawatan, terutama pada pasien Muslim yang menginginkan pendekatan spiritual. Perawat dapat membantu pasien melihat kesehatan bukan hanya sebagai kondisi bebas dari penyakit, tetapi sebagai kesempatan untuk menjalankan kehidupan secara lebih baik. Pendekatan ini juga dapat membantu membangun motivasi dari dalam diri pasien sehingga perubahan perilaku tidak semata-mata dilakukan karena instruksi tenaga kesehatan. Dengan menggabungkan ilmu keperawatan dan nilai Islam secara tepat, edukasi kesehatan dapat menjadi lebih holistik, manusiawi, dan sesuai dengan kebutuhan pasien.

Penutup

Konsep fitrah dalam perspektif Islam dapat menjadi salah satu dasar dalam membentuk perilaku hidup sehat karena manusia pada dasarnya memiliki potensi untuk mengarah kepada kebaikan dan menjaga kehidupan yang diberikan Allah. Al-Qur’an dan hadis memberikan landasan bahwa kesehatan merupakan nikmat yang harus disyukuri dan dipelihara. Dalam praktik keperawatan, konsep fitrah dapat diterapkan melalui edukasi kesehatan yang menggabungkan pengetahuan ilmiah dengan nilai spiritual sesuai kebutuhan dan keyakinan pasien. Pendekatan ini dapat membantu meningkatkan kesadaran dan motivasi pasien untuk menerapkan perilaku hidup sehat, sekaligus mendukung pelayanan keperawatan yang holistik dengan memperhatikan aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.

Daftar Pustaka

Al-Bukhari, M. I. (n.d.). Sahih al-Bukhari (Hadith 6412). Sunnah.com.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Rassool, G. H. (2000). The crescent and Islam: Healing, nursing and the spiritual dimension. Some considerations towards an understanding of the Islamic perspectives on caring. Journal of Advanced Nursing, 32(6), 1476–1484. https://doi.org/10.1046/j.1365-2648.2000.01614.x

World Health Organization. (2021). Health promotion glossary of terms 2021. World Health Organization. https://doi.org/10.26719/2021.1018

World Health Organization. (2021). WHO guideline on self-care interventions for health and well-being, 2021 revision. World Health Organization.

Kontributor: Nur Shabrina

Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *