Tauhid Rububiyah sebagai Fondasi Epistemologis Ilmu Keperawatan Modern
I. Pendahuluan
Pemisahan antara pendidikan agama dan ilmu sosial dapat menimbulkan pandangan bahwa keduanya memiliki ruang lingkup yang berbeda dan tidak dapat diintegrasikan. Pandangan tersebut dapat menyebabkan para ahli agama kurang peka terhadap kehidupan masyarakat serta kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman yang berlangsung pesat (Sholihah & Barizi, 2026).
Pola pikir yang memisahkan kedua bidang tersebut juga dapat menjauhkan seseorang dari dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan, serta kehidupan sosial dan budaya di sekitarnya. Akibatnya, nilai-nilai kemanusiaan berisiko diabaikan, baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan maupun dalam praktik keagamaan.
Anggapan bahwa agama dan ilmu sosial memiliki bidang, metode, dan ukuran kebenaran yang sepenuhnya berbeda dapat membatasi pemahaman terhadap suatu persoalan. Jika ilmu dianggap tidak berkaitan dengan nilai agama, sementara agama dipandang tidak memiliki hubungan dengan ilmu, suatu masalah akan sulit dipahami secara menyeluruh (Muna et al., 2024).
Tauhid menjadi dasar penting yang mengarahkan berbagai aspek dalam kehidupan umat Islam. Keyakinan terhadap keesaan Allah menjadikan Allah sebagai sumber utama kebenaran, pedoman moral, serta landasan dalam membentuk sikap dan perilaku manusia. Pemahaman mengenai tauhid yang mencakup keesaan Allah dalam zat, sifat, dan perbuatan tidak hanya mempererat hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga menjadi dasar dalam menerapkan nilai sosial dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tauhid dapat menjadi pedoman bagi umat Islam untuk memahami alam sebagai ciptaan Allah yang memiliki berbagai tanda kebesaran-Nya. Oleh karena itu, kegiatan mencari ilmu tidak hanya dipandang sebagai proses memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai bagian dari ibadah dan usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah (Mujtahid, 2023).
Epistemologi merupakan bagian dari filsafat yang membahas tentang hakikat, makna, sumber, serta proses terbentuknya pengetahuan. Dengan demikian, epistemologi dapat dipahami sebagai kajian yang membahas bagaimana pengetahuan diperoleh dan dianggap benar. Epistemologi juga berkaitan dengan cara manusia mendapatkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan olehnya. Hal ini menjadikan epistemologi penting dalam ilmu pengetahuan karena membantu seseorang dalam menilai, menguji, dan memahami kebenaran dari suatu informasi.
Dalam perkembangan ilmu keperawatan modern, pembahasan tentang dasar filosofis dan epistemologis menjadi semakin penting karena keperawatan tidak hanya berkaitan dengan tindakan klinis, tetapi juga menyangkut cara pandang terhadap manusia, kesehatan, dan tujuan perawatan itu sendiri. Ilmu keperawatan yang selama ini banyak bertumpu pada pendekatan empiris dan rasional perlu dipahami secara lebih utuh agar tidak terjebak pada pandangan yang semata-mata teknis, melainkan juga menyentuh aspek nilai, moral, dan kemanusiaan.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memperkaya landasan tersebut adalah konsep tauhid rububiyah. Konsep ini menegaskan bahwa Allah adalah Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur seluruh alam semesta, sehingga segala bentuk pengetahuan pada hakikatnya berada dalam bingkai ketuhanan. Dalam konteks epistemologi, tauhid rububiyah memberi arah bahwa ilmu tidak berdiri bebas dari nilai, melainkan harus mengantarkan manusia pada pemahaman yang benar tentang realitas, tanggung jawab, dan kemaslahatan. Dengan demikian, ilmu keperawatan tidak hanya diposisikan sebagai seperangkat prosedur ilmiah, tetapi juga sebagai praktik yang bernilai ibadah dan pengabdian.
Relevansi tauhid rububiyah dalam keperawatan modern tampak pada kebutuhan untuk memandang pasien sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar objek intervensi medis. Pendekatan ini mendorong perawat untuk mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan kepekaan spiritual, etika, dan kepedulian terhadap martabat manusia. Oleh karena itu, tauhid rububiyah dapat dipandang sebagai fondasi epistemologi yang memberi landasan kokoh bagi pengembangan ilmu keperawatan yang lebih holistik, bermakna, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Berdasarkan uraian tersebut, esai ini akan membahas bagaimana tauhid rububiyah dapat dijadikan dasar epistemologis bagi ilmu keperawatan modern, sekaligus menjelaskan dampaknya terhadap cara berpikir, sikap profesional, dan praktik keperawatan dalam konteks modern.
II. Pembahasan
Tauhid Rububiyah pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta, Pemelihara, dan Pengaturmemberi kerangka epistemologis yang memadukan wahyu dan rasio untuk ilmu keperawatan modern. Konsep ini menegaskan bahwa pengetahuan tentang kesehatan bersumber dari observasi empiris sekaligus diberi arah oleh nilai-nilai ilahiyah; Allah sebagai Rubb menetapkan tujuan moral (maqashid) seperti penjagaan jiwa (hifzh al-nafs) dan kemaslahatan umum (maslahah) yang mengarahkan prioritas klinis.
Al-Qur’an menyatakan:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. At-Takwir [81]: 29).
Dalam tradisi hadis, prinsip ikhtiar diimbangi tawakal, misalnya ungkapan yang diajarkan Rasulullah ﷺ:
اعقلها وتوكل
(“Ikatlah [untamu], kemudian bertawakallah”). Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi dan dinilai hasan oleh al-Tirmidzi. Ungkapan ini menunjukkan keseimbangan antara usaha profesional dan penyerahan kepada kehendak Ilahi.
Epistemologi berbasis tauhid rububiyah menempatkan wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah) sebagai kerangka tujuan dan etika, sementara akal dan metode ilmiah sebagai sarana memahami sebab-sebab penyakit dan menentukan intervensi. Ulama klasik seperti al-Ghazali menegaskan perlunya harmoni antara ilmu syar’i (tujuan moral) dan ilmu rasional (alat), sehingga ilmu menjadi manfaat bukan sekadar pengetahuan teoretis (Al-Ghazali, 2000). Pemikir kontemporer seperti Fazlur Rahman dan Syed Naquib al-Attas menyorot integrasi epistemik serupa untuk membangun ilmu yang relevan secara budaya dan spiritual (Al-Attas, 1995; Rahman, 1980).
Dari perspektif ilmiah modern, bukti menunjukkan dimensi spiritual berpengaruh pada outcome kesehatan. Meta-analisis dan studi observasional melaporkan korelasi antara dukungan spiritual/coping religius dengan penurunan kecemasan, peningkatan kepatuhan pengobatan, dan peningkatan kualitas hidup pada pasien kronis dan paliatif (Koenig, 2012; Puchalski et al., 2014). Pendekatan penelitian yang konsisten dengan epistemologi ini bersifat pluralistik: metode kuantitatif untuk efektivitas intervensi klinis dan kualitatif untuk memahami makna subjektif dan pengalaman pasien.
Dalam praktik keperawatan, aplikasi tauhid rububiyah konkret: asesmen holistik mencakup riwayat spiritual; intervensi mencakup fasilitasi ibadah, konseling spiritual, dan dukungan keluarga sesuai nilai agama; evaluasi keberhasilan mencakup outcome klinis dan indikasi kesejahteraan spiritual. Etika perawatan mendapat landasan normatif: merawat dipandang sebagai amanah (amanah) dan wujud ibadah, menguatkan motivasi profesionalisme dan empati. Maqashid al-shariahkhususnya hifzh al-nafs (menjaga jiwa)menjadi dasar prioritas medis menurut pemikiran seperti al-Shatibi (Al-Shatibi, 2002) dan Ibn Qudamah (Ibn Qudamah, n.d.), relevan dengan prinsip beneficence dan non-maleficence dalam keperawatan modern.
Kendati demikian, penerapan harus menjaga pluralitas keyakinan pasien dan menghindari normativitas yang memaksakan; interpretasi teologis harus terbuka terhadap kritik ilmiah; dan kebutuhan bukti empiris lebih lanjut untuk intervensi spiritual tertentu harus diakui. Dalam pendidikan keperawatan, integrasi kompetensi asesmen spiritual, komunikasi sensitif agama, dan metodologi penelitian campuran direkomendasikan untuk menghasilkan perawat yang mampu memberi perawatan holistik yang bermakna dan berbasis bukti.
Secara ringkas, tauhid rububiyah memperkaya epistemologi keperawatan modern dengan memberikan tujuan moral ilahiyah, menegaskan tanggung jawab manusia sebagai agen, dan mendorong pendekatan holistik yang menggabungkan bukti ilmiah dengan perhatian spiritual, selama penerapan menghormati pluralitas, berlandaskan bukti, dan mempertahankan kebebasan ilmiah.
III. Penutup
Berdasarkan pembahasan di atas, tauhid rububiyah dapat menjadi fondasi epistemologi ilmu keperawatan modern karena menanamkan keyakinan bahwa Allah SWT adalah pencipta, pemelihara, dan pengatur seluruh kehidupan. Landasan ini mendorong perawat untuk memahami pasien secara holistik, mencakup aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual, serta menerapkan ilmu pengetahuan dan praktik berbasis bukti dengan penuh tanggung jawab. Dengan dilandasi keimanan, keikhlasan, kasih sayang, kejujuran, dan penghormatan terhadap martabat manusia, ilmu keperawatan tidak hanya berorientasi pada penyembuhan fisik, tetapi juga memberikan pelayanan yang humanis, etis, profesional, dan bermakna sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Daftar Pustaka
Agus, A. (2025). Konsep tauhid perspektif Nashir Al-Umar: Implementasi dalam dakwah dan pendidikan di era modern. Jurnal Bina Ummat: Membina dan Membentengi Ummat, 8(1), 145–158.
Al-Attas, S. N. (1995). Prolegomena to the metaphysics of Islam: An exposition of the fundamental elements of the worldview of Islam. International Institute of Islamic Thought and Civilization.
Al-Bukhari, M. I. (n.d.). Sahih al-Bukhari (M. M. Khan, Trans.). Darussalam.
Al-Ghazali, A. H. (2000). Ihya’ ‘ulum al-din (F. al-Karim, Trans.). Darul-Ishaat.
Al-Shatibi. (2002). Al-Muwafaqat fi usul al-Shari’ah (A. R. Hamid, Trans.). Islamic Research Institute.
Al-Tirmidzi, M. I. (2007). Jami’ at-Tirmidhi (Abu Khaliyl, Trans.). Darussalam.
Balboni, T. A., Pirl, W., Block, S. D., Vanderwerker, L., Connolly, A., Chen, A., … & Prigerson, H. G. (2010). Provision of spiritual care to patients with advanced cancer: Associations with medical care and quality of life near death. Journal of Clinical Oncology, 28(3), 445–452. https://doi.org/10.1200/JCO.2009.23.0697
Damanik, M. Z., Nasabilla, T. S., & Zannah, N. (2025). Penguatan nilai tauhid dalam pendidikan remaja Islam. At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam, 2(2), 485–492.
Fahmi, K., Salminawati, S., & Usiono, U. (2024). Epistemological questions: Hubungan akal, penginderaan, wahyu dan intuisi pada fondasi keilmuan Islam. Journal of Education Research, 5(1), 570–575.
Fatah, M. H. (2021). Tauhid sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan. OSF Preprints, 1(1).
Habibi, M. D. (2024). Tauhid sebagai dasar prinsip pengetahuan dalam pandangan Ismail R. al-Faruqi. Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, 6(1), 73–86. https://doi.org/10.24042/ijitp.v6i1.22023
Ibn Qudamah, A. A. (1997). Al-Mughni (Juz 9). Dar Alam al-Kutub.
Kamal, M. H. (2008). Maqasid al-Shari’ah: The objectives of Islamic law. International Institute of Islamic Thought.
Koenig, H. G. (2012). Religion, spirituality, and health: The research and clinical implications. ISRN Psychiatry, 2012, Article 278730. https://doi.org/10.5402/2012/278730
Koenig, H. G., King, D. E., & Carson, V. B. (2012). Handbook of religion and health (2nd ed.). Oxford University Press.
Mujtahid, M. (2023). Aqidah dan tauhid: Pengertian, prinsip-prinsip, metode peningkatan dalam kehidupan. UIN Malang. http://repository.uin-malang.ac.id/17895/
Pesut, B., & Reimer-Kirkham, S. (2020). Spiritual care in nursing practice: An integrative review. Nursing Ethics, 27(5), 1184–1203. https://doi.org/10.1177/0969733019868641
Puchalski, C. M., Vitillo, R., Hull, S. K., & Reller, N. (2014). Improving the spiritual dimension of whole person care: Reaching national and international consensus. Journal of Palliative Medicine, 17(6), 642–656. https://doi.org/10.1089/jpm.2014.9427
Rahman, F. (1980). Major themes of the Qur’an. University of Chicago Press.
Sholihah, S. I., & Barizi, A. (2026). Tauhid sebagai fondasi epistemologi ilmu dalam Islam. Maliki Interdisciplinary Journal, 4(3), 114–118. https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mij/article/view/24961
The Holy Qur’an. (1989). (A. Y. Ali, Trans.). Amana Publications. (Original work published 1934)
Wilkens, T., & Skomarovsky, M. (2016). Spirituality and nursing: A systematic review of measurement instruments. Journal of Nursing Measurement, 24(1), 1–22. https://doi.org/10.1891/1061-3749.24.1.1
Wisuda, A. C., Suraya, C., Isrizal, & Emiliasari, D. (2026). Development of Kolcaba-based Islamic spiritual nursing care for patients with chronic illnesses. Al-Asalmiya Nursing: Jurnal Ilmu Keperawatan, 15(1), 220–237. https://doi.org/10.35328/zf4gnw97
Kontributor: Keisha Dzulaikha
Editor: Jumangin, M.Pd.

