Akhlak kepada Sesama Manusia sebagai Fondasi Komunikasi Terapeutik Bidan-Pasien
Pendahuluan
Dalam pelayanan kebidanan, komunikasi merupakan salah satu hal yang sangat penting. Bidan tidak hanya melakukan pemeriksaan dan memberikan tindakan kepada pasien, tetapi juga harus mampu berkomunikasi dengan baik. Hal ini karena pasien yang datang ke pelayanan kebidanan bisa memiliki kondisi dan perasaan yang berbeda-beda. Ada pasien yang merasa takut, cemas, malu, bingung, atau bahkan panik ketika menghadapi kehamilan dan persalinan. Oleh karena itu, cara bidan berbicara dan memperlakukan pasien dapat memengaruhi kenyamanan pasien selama mendapatkan pelayanan.
Komunikasi yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan bukan sekadar berbicara antara bidan dan pasien. Komunikasi tersebut harus memiliki tujuan untuk membantu pasien memahami kondisinya, menyampaikan keluhan, merasa lebih tenang, serta ikut terlibat dalam perawatan yang diberikan. Hal ini berkaitan dengan komunikasi terapeutik. Dalam kajian tentang komunikasi terapeutik, komunikasi yang baik memiliki unsur pertukaran informasi, rasa saling menghargai, keterlibatan pasien, dan membantu menangani masalah kesehatan pasien (Xue & Heffernan, 2021).
Dalam Islam, cara berhubungan dengan orang lain juga tidak dapat dipisahkan dari akhlak. Akhlak kepada sesama manusia mengajarkan untuk menghargai, menghormati, bersikap lembut, tidak merendahkan orang lain, serta menjaga perkataan. Nilai-nilai tersebut menurut saya sangat sesuai jika diterapkan dalam hubungan antara bidan dan pasien.
Bidan yang mempunyai akhlak baik tidak hanya dinilai dari keterampilan dalam melakukan tindakan kebidanan, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan pasien. Oleh karena itu, tulisan ini membahas pentingnya akhlak kepada sesama manusia sebagai dasar dalam membangun komunikasi terapeutik antara bidan dan pasien serta penerapannya dalam praktik kebidanan.
Pembahasan
Akhlak kepada Sesama Manusia dalam Pelayanan Kebidanan
Akhlak dapat dipahami sebagai perilaku atau sikap seseorang yang mencerminkan nilai baik dan buruk dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hubungan dengan sesama manusia, akhlak dapat ditunjukkan melalui sikap menghormati, berkata dengan baik, membantu orang lain, menjaga kepercayaan, dan tidak menyakiti orang lain.
Dalam pelayanan kebidanan, akhlak memiliki peran yang cukup besar. Seorang bidan berhadapan langsung dengan pasien yang membutuhkan bantuan dan perhatian. Pasien tentu berharap mendapatkan pelayanan yang aman dan juga diperlakukan dengan baik. International Confederation of Midwives (ICM, 2026) menempatkan hubungan antara bidan dan perempuan sebagai bagian penting dari dasar etika profesi. Hubungan tersebut dibangun melalui rasa hormat, kepercayaan, martabat, dan kemitraan.
Menurut saya, hal sederhana seperti menyapa pasien, memperkenalkan diri, mendengarkan keluhan tanpa memotong pembicaraan, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami sebenarnya sudah termasuk bentuk akhlak dalam pelayanan. Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi pasien bisa memberikan rasa nyaman.
Sebaliknya, jika bidan berbicara dengan nada tinggi, menunjukkan wajah tidak ramah, mengabaikan pertanyaan pasien, atau membicarakan kondisi pasien di depan orang lain tanpa menjaga privasi, pasien bisa merasa tidak dihargai. Akibatnya, pasien mungkin menjadi takut untuk bertanya atau menyampaikan keluhannya dengan jujur.
Komunikasi Terapeutik antara Bidan dan Pasien
Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang dilakukan dengan tujuan membantu pasien dalam menghadapi masalah kesehatan. Dalam hubungan terapeutik, bidan perlu mendengarkan pasien dengan baik, memberikan informasi yang sesuai, menunjukkan empati, dan menciptakan suasana yang membuat pasien merasa aman.
Komunikasi terapeutik tidak berarti bidan harus selalu berbicara panjang. Terkadang pasien hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa langsung menghakimi. Misalnya, ketika seorang ibu hamil mengatakan bahwa dirinya takut menghadapi persalinan, bidan tidak seharusnya langsung mengatakan bahwa pasien tidak perlu takut. Akan lebih baik jika bidan mendengarkan terlebih dahulu, kemudian memberikan penjelasan dengan bahasa yang sederhana mengenai kondisi dan proses yang akan dihadapi.
WHO (2018) menekankan pentingnya komunikasi yang efektif antara tenaga kesehatan dengan perempuan selama kehamilan dan persalinan. Pelayanan yang menghargai pasien perlu menjaga martabat, privasi, kerahasiaan, serta memberikan kesempatan kepada perempuan untuk mendapatkan informasi dan terlibat dalam pengambilan keputusan.
Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi bukan hanya pelengkap dalam pelayanan kebidanan. Komunikasi merupakan bagian dari pelayanan itu sendiri. Ketika komunikasi dilakukan dengan baik, pasien lebih mudah memahami informasi dan merasa bahwa dirinya dihargai.
Landasan Al-Qur’an tentang Memperlakukan Sesama Manusia
Salah satu ayat yang dapat menjadi dasar dalam membangun akhlak kepada sesama manusia adalah QS. Al-Hujurat ayat 13:
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۚ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan beragam. Perbedaan latar belakang, suku, budaya, maupun kondisi kehidupan tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.
Jika dikaitkan dengan kebidanan, pasien yang ditemui bidan juga memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada pasien yang memiliki pendidikan tinggi, ada yang pendidikannya terbatas, ada yang berasal dari daerah yang berbeda, dan ada juga yang mempunyai kebiasaan atau kepercayaan tertentu. Bidan harus tetap memberikan pelayanan dengan sikap menghargai.
Menurut saya, ayat ini mengingatkan bahwa seorang bidan tidak boleh menilai pasien hanya berdasarkan latar belakangnya. Setiap pasien tetap memiliki martabat yang harus dihormati. Sikap menghargai tersebut dapat diwujudkan melalui cara berbicara yang sopan, tidak membeda-bedakan pasien, menjaga privasi, dan mau mendengarkan pendapat pasien.
Selain itu, QS. An-Nahl ayat 125:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)
Nilai ini dapat diterapkan dalam komunikasi bidan, terutama ketika memberikan edukasi kepada pasien. Informasi kesehatan yang cukup sulit sebaiknya disampaikan secara perlahan dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Hadis tentang Sikap Lembut kepada Orang Lain
Akhlak dalam berkomunikasi juga dapat dikaitkan dengan hadis Rasulullah SAW tentang kelembutan. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberikan melalui kelembutan sesuatu yang tidak diberikan melalui kekerasan, dan tidak pula diberikan melalui selain keduanya.” (HR. Muslim, No. 2593)
Selain hadis tersebut, nilai kelembutan dalam berhubungan dengan sesama manusia juga terdapat dalam QS. Ali ‘Imran ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
Artinya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarah lah dengan mereka dalam urusan itu…” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Hadis dan ayat tersebut menurut saya sangat relevan dengan pelayanan kebidanan. Pasien yang sedang sakit, menghadapi persalinan, atau merasa takut tentu membutuhkan sikap yang lembut dari tenaga kesehatan. Sikap lembut bukan berarti bidan tidak tegas. Bidan tetap harus tegas jika ada tindakan yang perlu dilakukan, tetapi ketegasan tersebut dapat disampaikan dengan cara yang sopan dan tidak membuat pasien merasa direndahkan.
Contohnya, ketika pasien belum memahami pentingnya pemeriksaan kehamilan, bidan sebaiknya menjelaskan manfaat pemeriksaan dengan bahasa yang sederhana daripada langsung menyalahkan pasien. Dengan begitu, pasien akan lebih mudah menerima informasi yang diberikan.
Akhlak sebagai Dasar Kepercayaan Pasien
Menurut saya, salah satu hasil penting dari komunikasi yang baik adalah munculnya rasa percaya. Pasien akan lebih mudah menceritakan keluhannya kepada bidan jika merasa aman dan tidak takut dihakimi. Kepercayaan ini penting karena informasi yang diberikan pasien dapat membantu bidan memahami kondisi pasien.
ICM (2026) juga menekankan bahwa pelayanan kebidanan dibangun melalui hubungan kemitraan, kepercayaan, rasa hormat, dan kesetaraan antara bidan dan perempuan.
Misalnya, seorang ibu mungkin merasa malu untuk menceritakan keluhan tertentu. Jika bidan menunjukkan sikap yang ramah dan menjaga kerahasiaan, pasien akan lebih nyaman untuk menyampaikan apa yang dirasakan. Sebaliknya, jika pasien pernah mendapat respons yang kasar atau merasa dihakimi, ia bisa memilih diam dan tidak menyampaikan informasi yang sebenarnya penting.
Karena itu, akhlak tidak hanya berhubungan dengan kesopanan, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hubungan antara bidan dan pasien.
Penerapan dalam Praktik Kebidanan
Dalam praktiknya, akhlak kepada sesama manusia dapat diterapkan sejak awal bertemu pasien. Bidan dapat menyapa pasien, memperkenalkan diri, menanyakan keadaan pasien, dan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan. Sebelum melakukan pemeriksaan, bidan juga perlu menjaga privasi dan menjelaskan apa yang akan dilakukan sehingga pasien tidak merasa tiba-tiba diperiksa tanpa mengetahui tujuannya.
Ketika pasien sedang menyampaikan keluhan, bidan sebaiknya mendengarkan dengan penuh perhatian. Jika ada informasi yang belum jelas, bidan dapat bertanya kembali dengan bahasa yang sopan. Setelah itu, informasi kesehatan diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.
Dalam kondisi persalinan, penerapan akhlak menjadi semakin penting karena ibu bisa mengalami rasa sakit, takut, dan cemas. WHO (2018) merekomendasikan pelayanan persalinan yang menjaga martabat, privasi, kerahasiaan, pilihan berdasarkan informasi, dan dukungan yang berkelanjutan. Komunikasi yang efektif dan dapat diterima secara budaya juga menjadi bagian dari pelayanan tersebut.
Menurut saya, seorang bidan tidak cukup hanya memiliki kemampuan melakukan tindakan klinis. Bidan juga perlu belajar mengendalikan emosi, terutama ketika menghadapi pasien yang sulit diajak berkomunikasi atau sedang dalam kondisi emosional. Kesabaran dan kemampuan memahami perasaan pasien dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih baik.
Dengan demikian, akhlak dan keterampilan komunikasi seharusnya berjalan bersama. Ilmu kebidanan memberikan dasar mengenai apa yang harus dilakukan, sedangkan akhlak membantu bidan memahami bagaimana cara memperlakukan pasien dengan baik ketika memberikan pelayanan.
Penutup
Kesimpulan
Akhlak kepada sesama manusia dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam komunikasi terapeutik antara bidan dan pasien. Sikap menghargai, ramah, sabar, jujur, menjaga privasi, dan mau mendengarkan merupakan bentuk akhlak yang dapat diterapkan dalam pelayanan kebidanan.
Komunikasi terapeutik bukan hanya tentang menyampaikan informasi kesehatan, tetapi juga tentang membangun rasa aman dan percaya antara bidan dan pasien. Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang mengajarkan manusia untuk saling mengenal, menghargai, serta menggunakan cara yang baik dalam berkomunikasi. QS. Al-Hujurat ayat 13 dan QS. An-Nahl ayat 125 memberikan dasar tentang pentingnya menghargai manusia dan berkomunikasi dengan cara yang baik. Hadis tentang kelembutan juga mengajarkan bahwa sikap lembut memiliki nilai yang besar dalam hubungan dengan orang lain.
Menurut saya, bidan yang memiliki komunikasi baik akan lebih mudah membangun hubungan yang positif dengan pasien. Oleh karena itu, mahasiswa kebidanan perlu mempelajari bukan hanya keterampilan klinis, tetapi juga akhlak dan cara berkomunikasi yang baik sejak masa pendidikan.
Saran
Mahasiswa kebidanan sebaiknya membiasakan diri menerapkan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari karena kebiasaan tersebut akan terbawa ketika memberikan pelayanan kepada pasien. Dalam praktik kebidanan nantinya, bidan diharapkan mampu memberikan pelayanan yang tidak hanya aman secara klinis, tetapi juga menghargai martabat, perasaan, privasi, dan hak setiap pasien.
Daftar Pustaka
International Confederation of Midwives. (2026). International code of ethics for midwives. https://internationalmidwives.org/resources/international-code-of-ethics-for-midwives/
Quran.com. (n.d.). Surah Ali ‘Imran, 3:159. https://quran.com/3/159
Quran.com. (n.d.). Surah An-Nahl, 16:125. https://quran.com/16/125
Quran.com. (n.d.). Surah Al-Hujurat, 49:13. https://quran.com/49/13
Sunnah.com. (n.d.). Hadis riwayat Muslim, No. 2593, Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah wa Al-Adab, Bab Fadl Ar-Rifq. https://sunnah.com/muslim:2593
World Health Organization. (2018). WHO recommendations: intrapartum care for a positive childbirth experience. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789241550215
Xue, W., & Heffernan, C. (2021). Therapeutic communication within the nurse-patient relationship: A concept analysis. International Journal of Nursing Practice, 27(6), e12938. https://doi.org/10.1111/ijn.12938
Kontributor: Nur Hafidzah Anggiani
Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

