Perumpamaan Penumpang Kapal dalam Hadis Nabi sebagai Ilustrasi Pentingnya Kepatuhan pada Prosedur Kerja
I. Pendahuluan
Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, aturan diperlukan agar kegiatan berjalan tertib dan setiap orang memahami tanggung jawabnya. Hal yang sama berlaku dalam dunia kerja, termasuk pelayanan kesehatan. Setiap tindakan tenaga kesehatan memiliki prosedur yang bertujuan menjaga mutu pelayanan, mengurangi kesalahan, dan melindungi keselamatan pasien. Prosedur tersebut biasanya dituangkan dalam Standard Operating Procedure (SOP). SOP bukan sekadar aturan yang harus dihafalkan, tetapi pedoman agar suatu tindakan dilakukan secara sistematis, konsisten, dan aman.
Keselamatan pasien menjadi alasan penting mengapa kepatuhan terhadap prosedur tidak boleh dianggap sebagai hal kecil. World Health Organization (WHO, 2024) menjelaskan bahwa keselamatan pasien membutuhkan sistem, proses, perilaku, dan prosedur yang dapat mengurangi risiko serta mencegah bahaya yang sebenarnya dapat dihindari. Dalam keperawatan, perawat berhubungan langsung dengan pasien sehingga kepatuhan terhadap prosedur menjadi bagian dari tanggung jawab profesional. Penelitian Labrague (2024) menunjukkan bahwa kepatuhan perawat terhadap protokol keselamatan berkaitan dengan pelayanan yang lebih aman, sedangkan Labrague dan Cayaban (2025) menemukan hubungan negatif antara budaya keselamatan pasien dan tindakan keperawatan yang terlewat.
Pentingnya Topik
Namun, dalam praktiknya, seseorang dapat mengabaikan prosedur karena merasa sudah terbiasa, ingin bekerja lebih cepat, atau menganggap satu langkah tidak terlalu penting. Padahal, satu tindakan yang dilakukan tanpa mengikuti prosedur dapat memengaruhi pekerjaan tenaga kesehatan lain dan berdampak pada pasien. Karena itu, kepatuhan tidak cukup dilakukan ketika ada pengawasan, tetapi perlu menjadi kebiasaan yang didasari kesadaran terhadap tanggung jawab. Dalam ajaran Islam, terdapat hadis Nabi Muhammad saw. tentang perumpamaan penumpang kapal yang dapat memberikan gambaran mengenai pentingnya menjaga kepentingan bersama. Hadis yang diriwayatkan oleh An-Nu’man bin Basyir dan tercantum dalam Shahih al-Bukhari nomor 2493 menggambarkan sekelompok orang yang berada dalam satu kapal. Sebagian berada di bagian atas dan sebagian di bawah. Ketika orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka ingin melubangi bagian kapal agar tidak mengganggu penumpang lain. Jika tindakan tersebut dibiarkan, seluruh penumpang dapat mengalami bahaya.
Tujuan Penulisan
Berdasarkan hal tersebut, esai ini bertujuan menganalisis makna perumpamaan penumpang kapal dalam hadis Nabi dan menghubungkannya dengan kepatuhan terhadap prosedur kerja, khususnya dalam keperawatan. Pembahasan juga diarahkan pada pentingnya keselamatan pasien, kerja sama, dan sikap saling mengingatkan sebagai penerapan nilai Islam dalam kehidupan profesional.
II. Pembahasan
Hadis riwayat Al-Bukhari nomor 2493 menggambarkan sekelompok orang yang berada dalam satu kapal. Sebagian berada di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Orang-orang di bagian bawah membutuhkan air dan ingin melubangi bagian kapal agar tidak mengganggu penumpang di atas. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa jika tindakan tersebut dibiarkan, seluruh penumpang akan mengalami bahaya. Sebaliknya, jika dicegah, seluruh penumpang dapat selamat (Al-Bukhari, n.d.).
Terjemahan hadis:
“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti suatu kaum yang berada di atas sebuah kapal. Sebagian mereka berada di bagian atas dan sebagian lainnya di bagian bawah. Orang-orang yang berada di bagian bawah, ketika mengambil air, harus melewati orang-orang yang berada di atas. Lalu mereka berkata, ‘Seandainya kita melubangi bagian kapal kita sendiri sehingga tidak mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.’ Jika mereka membiarkan tindakan tersebut, mereka semua akan binasa. Namun, jika mereka mencegahnya, mereka semua akan selamat.” (HR. Al-Bukhari No. 2493).
Makna utama hadis ini adalah bahwa tindakan seseorang tidak selalu menjadi urusan pribadi ketika berada dalam kehidupan bersama. Tindakan yang terlihat sederhana dapat memberikan dampak kepada orang lain. Karena itu, mencegah tindakan yang membahayakan merupakan bentuk kepedulian terhadap keselamatan bersama. Jika diterapkan dalam dunia kerja, kapal dapat dianalogikan sebagai organisasi atau tempat kerja, sedangkan penumpang menggambarkan orang-orang yang memiliki tugas berbeda tetapi saling bergantung. Dalam konteks keperawatan, SOP menjadi pedoman agar tindakan dilakukan secara aman dan konsisten. Hadis ini tidak secara langsung membahas SOP modern, tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dapat diterapkan dalam kehidupan profesional, yaitu kesadaran bahwa tindakan individu dapat memberikan dampak kepada kelompok.
Dalam keperawatan, SOP membantu perawat menjalankan tindakan secara terarah. Sebelum melakukan tindakan, perawat perlu memastikan identitas pasien, menjelaskan tindakan, menyiapkan alat, melakukan prosedur sesuai standar, dan mendokumentasikan hasil. Setiap langkah memiliki tujuan tertentu sehingga tidak seharusnya dilewati hanya karena tindakan tersebut sudah sering dilakukan. Labrague (2024) menunjukkan bahwa kepatuhan perawat terhadap protokol keselamatan merupakan bagian penting dari pelayanan dan berkaitan dengan kejadian yang dialami pasien. Berdida dan Grande (2024) juga meneliti hubungan antara iklim keselamatan, kualitas pelayanan, dan kepatuhan terhadap tindakan pencegahan standar pada perawat.
Kepatuhan terhadap SOP tidak seharusnya dipahami sebagai tindakan mekanis. Perawat perlu memahami alasan di balik setiap langkah sehingga kepatuhan muncul dari kesadaran, bukan hanya karena takut ditegur. Misalnya, identifikasi pasien sebelum tindakan mungkin terlihat sederhana, tetapi langkah tersebut membantu memastikan pelayanan diberikan kepada orang yang tepat. Begitu pula dengan pemeriksaan, pemberian obat, dokumentasi, dan prosedur lainnya. Setiap tahap memiliki tujuan untuk mengurangi kemungkinan kesalahan. Ketidakpatuhan terhadap prosedur juga dapat memengaruhi kepercayaan pasien dan citra profesi. Pasien mempercayakan keselamatan dan kebutuhannya kepada tenaga kesehatan sehingga setiap tindakan perlu dilakukan secara hati-hati. Ketika prosedur diabaikan, bukan hanya risiko kesalahan yang meningkat, tetapi proses pelayanan dapat menjadi kurang konsisten. Karena itu, kepatuhan perlu dipandang sebagai bagian dari etika kerja, bukan sekadar kewajiban administratif. Sikap disiplin, bertanggung jawab, dan peduli terhadap anggota tim akan membantu menciptakan pelayanan yang lebih aman. Hal ini juga sesuai dengan tujuan pelayanan kesehatan yang menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama.
WHO (2024) menempatkan proses klinis yang aman, kompetensi tenaga kesehatan, komunikasi, dan kerja sama sebagai bagian dari upaya membangun keselamatan pasien. Budaya keselamatan juga penting karena kepatuhan individu akan lebih kuat apabila didukung lingkungan kerja yang mengutamakan keselamatan. Kyriakeli et al. (2025) melalui tinjauan sistematis dan meta-analisis menunjukkan bahwa budaya keselamatan pasien merupakan aspek penting dalam organisasi pelayanan kesehatan dan masih memiliki beberapa dimensi yang perlu diperkuat.
Hadis penumpang kapal juga mengajarkan pentingnya mencegah kesalahan ketika melihat tindakan yang berpotensi membahayakan. Dalam lingkungan keperawatan, perawat bekerja sebagai bagian dari tim. Jika seorang anggota tim melihat tindakan yang tidak sesuai prosedur, sikap yang tepat bukan membiarkannya, tetapi mengingatkan dengan cara yang sopan dan berorientasi pada keselamatan pasien. Kohanová et al. (2024) melalui systematic review menunjukkan bahwa teamwork berhubungan dengan missed nursing care. Masalah komunikasi, kurangnya kepercayaan dan kerja sama, serta kepemimpinan yang kurang baik dapat berkontribusi terhadap pelayanan keperawatan yang terlewat. Dengan demikian, kerja sama bukan sekadar membuat pekerjaan lebih mudah, tetapi juga menjadi bagian dari keselamatan pasien. Nilai tersebut dapat dikaitkan dengan :
QS. Al-Ma’idah ayat 2
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
Ayat tersebut mengajarkan agar manusia saling membantu dalam kebaikan. Dalam keperawatan, mengingatkan teman untuk mengikuti prosedur dapat menjadi bentuk tolong-menolong karena tujuannya adalah mencegah kesalahan dan menjaga pasien. Sikap tersebut juga membantu membangun lingkungan kerja yang terbuka terhadap perbaikan.
Kepatuhan juga dapat dikaitkan dengan :
QS. An-Nisa ayat 59
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kamu.”
Ayat ini mengajarkan pentingnya ketaatan kepada Allah, Rasul, dan pihak yang memiliki kewenangan. Dalam konteks pekerjaan, nilai tersebut dapat menjadi landasan untuk menghargai aturan dan menjalankan tanggung jawab selama aturan yang diikuti tidak bertentangan dengan ajaran agama. Namun, SOP tidak dapat disamakan secara langsung dengan makna ulil amri. Hubungannya adalah pada penerapan nilai ketaatan dan tanggung jawab dalam menjalankan aturan yang baik. Nilai dalam hadis tersebut biar lebih runtut sejak mahasiswa mengikuti praktikum. Mahasiswa keperawatan tidak cukup hanya menghafal SOP, tetapi perlu memahami tujuan setiap langkah. Pada tahap ini, mahasiswa dapat belajar bahwa prosedur bukan sekadar tuntutan dosen, melainkan latihan untuk membangun kebiasaan aman sebelum memasuki lingkungan kerja. Contohnya, ketika melakukan pemeriksaan tekanan darah, mahasiswa perlu menyiapkan alat, menjelaskan tindakan kepada pasien, memastikan posisi yang sesuai, melakukan pemeriksaan dengan benar, kemudian menyampaikan dan mencatat hasil. Jika ada teman yang lupa terhadap salah satu langkah, teman lainnya dapat mengingatkan dengan bahasa yang sopan. Kebiasaan tersebut dapat membentuk sikap profesional dan kepedulian terhadap keselamatan.
Agbar et al. (2023) melalui systematic review dan meta-analysis menemukan bahwa intervensi pendidikan keselamatan pasien dapat meningkatkan budaya keselamatan pada tenaga kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran keselamatan pasien penting untuk membentuk pengetahuan dan kebiasaan yang mendukung pelayanan aman. Dengan demikian, mahasiswa perlu dibiasakan mengikuti prosedur sekaligus belajar berkomunikasi dan bekerja sama.
III. Penutup
Kesimpulan
Hadis tentang perumpamaan penumpang kapal memberikan pelajaran bahwa tindakan seseorang dapat memberikan dampak kepada orang lain. Orang yang membuat lubang pada kapal mungkin hanya ingin memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi karena kapal digunakan bersama, tindakannya dapat membahayakan seluruh penumpang. Jika dikaitkan dengan dunia kerja, kapal dapat diibaratkan sebagai tempat kerja dan penumpangnya sebagai orang-orang yang bekerja di dalamnya. SOP menjadi pedoman agar pekerjaan dapat dilakukan dengan aman, terarah, dan bertanggung jawab.
Dalam bidang kesehatan dan keperawatan, kepatuhan terhadap SOP merupakan bagian dari tanggung jawab profesional dan budaya keselamatan pasien. Keselamatan juga membutuhkan teamwork, komunikasi, dan keberanian untuk saling mengingatkan ketika terdapat tindakan yang tidak sesuai prosedur. Nilai tersebut sejalan dengan QS. Al-Ma’idah ayat 2 tentang saling menolong dalam kebaikan dan QS. An-Nisa ayat 59 tentang ketaatan dan tanggung jawab. Dengan demikian, mengikuti prosedur dan saling mengingatkan bukan hanya kewajiban dalam pekerjaan, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap keselamatan orang lain.
Saran
Mahasiswa keperawatan sebaiknya membiasakan diri mengikuti SOP sejak kegiatan praktikum dan memahami tujuan setiap langkah, bukan sekadar menghafalnya. Selain itu, mahasiswa perlu membangun kebiasaan bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, dan saling mengingatkan secara sopan. Dengan pembiasaan tersebut, kepatuhan terhadap prosedur dapat berkembang menjadi sikap profesional yang mendukung keselamatan pasien.
Daftar Pustaka
Agbar, F., Zhang, S., Wu, Y., & Mustafa, M. (2023). Effect of patient safety education interventions on patient safety culture of health care professionals: Systematic review and meta-analysis. Nurse Education in Practice, 67, 103565. https://doi.org/10.1016/j.nepr.2023.103565
Al-Bukhari, M. I. I. (n.d.). Sahih al-Bukhari 2493: Partnership. Sunnah.com. https://sunnah.com/bukhari:2493
Berdida, D. J. E., & Grande, R. A. N. (2024). Nurses’ safety climate, quality of care, and standard precautions adherence and compliance: A cross-sectional study. Journal of Nursing Scholarship, 56(3), 442–454. https://doi.org/10.1111/jnu.12960
Kohanová, D., Solgajová, A., & Cubelo, F. (2024). The association of teamwork and missed nursing care in acute care setting: A mixed-methods systematic review. Journal of Clinical Nursing, 33(9), 3399–3413. https://doi.org/10.1111/jocn.17182
Kyriakeli, G., Georgiadou, A., Symeonidou, A., Tsimtsiou, Z., Dardavesis, T., & Kotsis, V. (2025). Patient safety culture among nurses in hospital settings worldwide: A systematic review and meta-analysis. Joint Commission Journal on Quality and Patient Safety, 51(5), 350–360. https://doi.org/10.1016/j.jcjq.2025.01.007
Labrague, L. J. (2024). Nurses’ adherence to patient safety protocols and its relationship with adverse patient events. Journal of Nursing Scholarship, 56(2), 282–290. https://doi.org/10.1111/jnu.12942
Labrague, L. J., & Cayaban, A. R. (2025). Association between patient safety culture and missed nursing care in healthcare settings: A systematic review and meta-analysis. Journal of Advanced Nursing, 81(11), 7992–8004. https://doi.org/10.1111/jan.16758
World Health Organization. (2024). Global patient safety report 2024. https://doi.org/10.2471/9789240095458
Kontributor: Viona Syifa Salsabila
Editor: Dr. Sumaryati, M.Pd.I.

