Kelelahan Emosional Pada Profesi Kesehatan Ditinjau dari Konsep Futur dan Upaya Pemeliharaan Iman
1. Pendahuluan
Profesi kesehatan, termasuk bidan, perawat, dan dokter, dituntut untuk senantiasa siaga menghadapi kondisi kegawatdaruratan, memberikan pelayanan yang bermutu, serta menjaga stabilitas emosional ketika berhadapan dengan pasien dan keluarga yang berada dalam kondisi rentan. Tuntutan pekerjaan yang tinggi, jam kerja panjang, serta beban emosional yang terus-menerus berpotensi menimbulkan kelelahan emosional (emotional exhaustion), yaitu salah satu dimensi utama dari sindrom burnout sebagaimana ditinjau kembali dalam kajian terkini oleh Bianchi dan Schonfeld (2023). Berbagai kajian menunjukkan bahwa kelelahan emosional banyak dialami oleh tenaga kesehatan, termasuk bidan, dan berdampak negatif terhadap kinerja serta kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien (Aifu et al., 2025; Enășoni et al., 2025).
Khazanah keislaman terdapat konsep yang secara fenomenologis memiliki keterkaitan erat dengan kelelahan emosional tersebut, yaitu futur, yakni kondisi melemahnya semangat beribadah dan ketaatan setelah sebelumnya berada dalam kondisi giat dan bersemangat. Konsep ini telah lama dibahas sebagai fitrah manusiawi yang dapat menimpa siapa saja, termasuk seorang mukmin yang taat sekalipun. Berangkat dari kesejajaran fenomena tersebut, esai ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara kelelahan emosional pada profesi kesehatan dengan konsep futur dalam Islam, menelaah dalil Al-Qur’an, hadis, dan pandangan ulama yang relevan, serta merumuskan upaya pemeliharaan iman sebagai salah satu strategi menghadapi kelelahan tersebut, dengan penekanan khusus pada keterkaitannya dengan pelayanan kebidanan.
2. Pembahasan
Kelelahan emosional merupakan salah satu dari tiga dimensi burnout, sinisme/depersonalisasi dan penurunan pencapaian pribadi, sebagaimana ditinjau kembali dalam kajian terkini oleh Bianchi dan Schonfeld (2023). Kelelahan emosional ditandai dengan berkurangnya energi psikis, perasaan terkuras secara emosional, serta hilangnya semangat dalam menjalankan pekerjaan akibat tuntutan kerja yang berkepanjangan (Ungur et al., 2024). World Health Organization telah memasukkan burnout ke dalam International Classification of Diseases (ICD-11) sejak tahun 2019 sebagai fenomena okupasional yang dihasilkan oleh stres kerja kronis yang tidak dikelola dengan baik (Bianchi & Schonfeld, 2023). Tenaga kesehatan, termasuk bidan dan perawat, memiliki risiko tinggi mengalami kondisi ini karena pekerjaan mereka melibatkan tuntutan emosional yang besar, interaksi intens dengan pasien dalam kondisi kritis, beban kerja tinggi, serta jam kerja bergilir yang menguras energi (Enășoni et al., 2025; Ungur et al., 2024).
Fenomena psikologis tersebut memiliki kemiripan mendasar dengan konsep futur dalam Islam. Secara bahasa, futur berasal dari kata fatara-yafturu-futūr yang bermakna melemah atau menjadi lunak setelah sebelumnya kuat dan bersemangat. Dalam konteks keimanan, futur menggambarkan kondisi menurunnya semangat beribadah dan ketaatan kepada Allah setelah sebelumnya berada pada puncak gairah spiritual. Fenomena ini dijelaskan secara eksplisit dalam sebuah hadis dari Ja’dah bin Hubairah, ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang seorang hamba yang memaksakan diri beribadah tanpa henti. Beliau bersabda:
أَنَا أُصَلِّي وَأَنَامُ، وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَلِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ يَكُنْ فَتْرَتُهُ إِلَى السُّنَّةِ فَقَدِ اهْتَدَى، وَمَنْ يَكُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ ضَلَّ
“Aku salat dan aku tidur, aku berpuasa dan aku berbuka. Setiap amal memiliki masa semangat, dan setiap masa semangat memiliki masa futur (lemah). Maka barang siapa futurnya (kembali) kepada sunnahku, sungguh ia telah mendapat petunjuk, dan barang siapa futurnya kepada selain itu, sungguh ia telah tersesat.” (Ahmad; dinilai sahih sesuai syarat Bukhari-Muslim oleh Syaikh Syu’aib al-Arna’uth, sebagaimana dikutip dalam Harapanrakyat.com, 2024)
Hadis ini menegaskan bahwa naik-turunnya semangat, baik dalam ibadah maupun pekerjaan, merupakan sunnatullah yang wajar dialami manusia. Yang membedakan seseorang selamat atau binasa bukanlah ada-tidaknya futur, melainkan ke mana arah futur tersebut membawanya. Dalam riwayat lain yang senada disebutkan peringatan yang lebih tegas, bahwa siapa yang futurnya membuatnya keluar sepenuhnya dari jalan kebaikan, maka ia termasuk golongan yang merugi. Prinsip ini relevan dengan temuan ilmiah bahwa kelelahan emosional yang dibiarkan tanpa penanganan dapat berkembang menjadi depersonalisasi dan penurunan pencapaian pribadi, dua dimensi burnout lain yang jauh lebih merusak dibandingkan kelelahan itu sendiri (Ungur et al., 2024).
Al-Qur’an memberikan landasan yang menenangkan bagi siapa pun yang merasa berada di titik lelah, termasuk para pekerja di bidang kesehatan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)
Ayat ini mengandung pesan bahwa beban pekerjaan seberat apa pun, termasuk beban emosional dalam pelayanan kesehatan, pada hakikatnya masih berada dalam batas kesanggupan manusia apabila disikapi dengan tawakal dan pengelolaan diri yang tepat. Selanjutnya, sebagai penguat semangat di tengah kelelahan, Allah SWT berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 139:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 139)
Ayat ini menjadi motivasi spiritual bagi tenaga kesehatan yang beriman agar tidak larut dalam keputusasaan ketika dihadapkan pada kelelahan kerja. Harapan akan kemudahan setelah kesulitan juga ditegaskan secara berulang dalam Surah Al-Insyirah ayat 5-6:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 5-6)
Sebagai jalan praktis mengatasi kelelahan tersebut, Allah SWT menunjukkan mekanisme koping spiritual dalam Surah Al-Baqarah ayat 153:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153)
Ulama klasik telah lama mengkaji fenomena futur secara mendalam. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Madārij as-Sālikīn (2019) menjelaskan bahwa hati manusia senantiasa mengalami pasang surut keimanan, dan futur adalah bagian dari dinamika alami tersebut selama tidak dibiarkan berlarut hingga meninggalkan kewajiban. Beliau menganjurkan sikap i’tidal (moderat dan seimbang) dalam beribadah maupun bekerja, tidak berlebihan hingga memaksakan diri, sebab pemaksaan diri yang melampaui batas justru mempercepat datangnya futur. Prinsip ini selaras dengan sabda Nabi ﷺ riwayat Bukhari dan Muslim: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus (istikamah) meskipun sedikit” (Kompas.com Cahaya, 2026). Sementara itu, Hasan al-Banna dalam Risalah Ta’lim (2007) mengidentifikasi beberapa penyebab futur di kalangan para pekerja dakwah, di antaranya sikap berlebihan (al-ghuluw) dalam beramal tanpa memperhatikan keseimbangan diri, minimnya ilmu sebagai bahan bakar keimanan, serta lemahnya lingkungan pendukung yang saleh. Ketiga sebab ini memiliki kesejajaran nyata dengan faktor-faktor pemicu burnout yang diidentifikasi secara ilmiah, yaitu beban kerja berlebihan, kurangnya dukungan organisasi, dan lingkungan kerja yang tidak suportif.
Sudut pandang psikologi kontemporer, upaya pemeliharaan iman ini juga sejalan dengan konsep self-compassion, yaitu sikap berbelas kasih terhadap diri sendiri ketika menghadapi kegagalan atau kelelahan, alih-alih menghakimi diri secara berlebihan. Penelitian terbaru oleh Arafat, Kulintang, Ngo, Alkhuraif, dan Aburmeishan (2025) terhadap perawat di Arab Saudi menunjukkan bahwa self-compassion berhubungan negatif dan signifikan dengan tingkat burnout, sehingga berperan sebagai faktor protektif yang penting bagi tenaga kesehatan. Sejalan dengan itu, kajian Apisarnthanarak et al. (2024) terhadap tenaga kesehatan di Thailand menemukan bahwa kedekatan spiritual dan keagamaan berasosiasi dengan kepuasan kerja yang lebih tinggi serta membantu mencegah burnout. Nilai-nilai ini memiliki semangat yang sama dengan ajaran Islam untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah ketika futur melanda, melainkan segera kembali (taubat) dan memperbaiki diri secara bertahap, bukan dengan memaksakan diri secara ekstrem yang justru berisiko menimbulkan kelelahan berulang.
Keterkaitan seluruh pembahasan di atas dengan pelayanan kebidanan sangatlah nyata. Bidan berada pada garis terdepan pelayanan maternal dan neonatal yang penuh dengan situasi kegawatdaruratan, taruhan nyawa ibu dan bayi, serta tuntutan kerja bergilir yang menguras energi fisik dan emosional. Penelitian Aifu, Rahmania, dan Rianse (2025) terhadap 123 bidan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna membuktikan bahwa kelelahan emosional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja bidan, sementara perbaikan kualitas kehidupan kerja (quality of work life) memberikan pengaruh positif terhadap kinerja tersebut. Ketika kelelahan emosional ini dibiarkan berlarut layaknya futur yang tidak dikelola, dampaknya dapat berupa menurunnya empati, ketelitian, dan kewaspadaan bidan dalam menangani pasien, yang pada akhirnya membahayakan keselamatan ibu dan bayi. Oleh karena itu, upaya pemeliharaan iman, seperti menjaga salat, memperbanyak zikir dan tilawah Al-Qur’an, bersabar dalam menjalankan tugas, serta menjaga kedekatan dengan lingkungan dan rekan kerja yang saleh, dapat menjadi strategi resiliensi spiritual yang bersifat komplementer terhadap intervensi organisasi seperti perbaikan quality of work life, sehingga bidan mampu menjalankan tugas pelayanan dengan hati yang tenang, stabil secara emosional, dan tetap istikamah dalam ketaatan.
3. Penutup
Kelelahan emosional pada profesi kesehatan, khususnya bidan, merupakan fenomena nyata yang telah dibuktikan secara ilmiah berdampak negatif terhadap kinerja dan kualitas pelayanan. Islam, melalui konsep futur, telah lama mengantisipasi fenomena serupa sebagai bagian dari fitrah manusia yang wajar dialami, sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi ﷺ, ayat-ayat Al-Qur’an tentang kesanggupan hamba, larangan berputus asa, janji kemudahan setelah kesulitan, serta anjuran bersabar dan mendirikan salat, maupun pandangan ulama seperti Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dan Hasan al-Banna tentang pentingnya keseimbangan dan istikamah. Solusi menghadapi kelelahan emosional dalam pelayanan kebidanan karenanya perlu bersifat holistik, memadukan perbaikan sistem dan lingkungan kerja secara organisasional dengan upaya pemeliharaan iman secara personal dan spiritual, sehingga tenaga kesehatan mampu memberikan pelayanan yang bermutu tanpa mengorbankan kesehatan jiwa dan keimanannya sendiri.
Daftar Pustaka
Aifu, D. K., Rahmania, S., & Rianse, M. S. (2025). Pengaruh Quality of Work Life, kelelahan emosional dan kompetensi terhadap kinerja bidan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna. GALENICAL: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh, 4(4), 97–105. https://doi.org/10.29103/jkkmm.v4i4.22826
Al-Banna, H. (2007). Risalah pergerakan Ikhwanul Muslimin (Himpunan Risalah Ta’lim). Solo: Era Intermedia.
Al-Jauziyyah, I. Q. (2019). Ranks of the divine seekers (Madārij as-Sālikīn): A parallel English-Arabic text (O. Anjum, Terj., Vol. 1). Leiden: Brill.
Apisarnthanarak, A., Greene, M. T., Collier, K. M., Kasatpibal, N., Fowler, K. E., & Saint, S. (2024). The influence of spirituality, religiosity, and self-care on well-being among Thai infection preventionists during the COVID-19 pandemic. Antimicrobial Stewardship & Healthcare Epidemiology, 4, e1. https://doi.org/10.1017/ash.2023.510
Arafat, A. E. A. E., Kulintang, M. B. M., Ngo, A. D., Alkhuraif, R. A. M., & Aburmeishan, R. H. S. (2025). The influence of demographic factors and professional burnout on nurses’ self-compassion in a healthcare facility in Qassim, Kingdom of Saudi Arabia. Jurnal Keperawatan Soedirman, 20(1), 76–83. https://doi.org/10.20884/1.jks.2025.20.1.13929
Bianchi, R., & Schonfeld, I. S. (2023). Examining the evidence base for burnout. Bulletin of the World Health Organization, 101(11), 743–745. https://doi.org/10.2471/BLT.23.289996
Enășoni, S., Szekely, D., Cosoroabă, R. M., Zara, F., Novacescu, D., Dumitru, C. S., Patrascu, R., & Enache, A. (2025). Burnout and moral injury in healthcare workers: An observational study in a Romanian chronic care hospital. Healthcare, 13(18), 2278. https://doi.org/10.3390/healthcare13182278
Harapanrakyat.com. (2024, Agustus 13). Mengenal isi dari hadits tentang futur. Diakses dari https://www.harapanrakyat.com/2024/08/mengenal-isi-dari-hadits-tentang-futur/
Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan terjemahnya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Kompas.com Cahaya. (2026, Januari 21). Futur dalam Islam: Pengertian, tanda-tanda, dan cara mengatasinya. Diakses dari https://cahaya.kompas.com/doa-dan-niat/26A21185920290/futur-dalam-islam-pengertian-tanda-tanda-dan-cara-mengatasinya
Ungur, A.-P., Bârsan, M., Socaciu, A.-I., Râjnoveanu, A. G., Ionuț, R., Goia, L., & Procopciuc, L. M. (2024). A narrative review of burnout syndrome in medical personnel. Diagnostics, 14(17), 1971. https://doi.org/10.3390/diagnostics14171971
Kontributor: Permata Tyara Luthfia
Editor: Dr. Sumaryati, M.Pd.I.

