Kritik Al-Ghazali atas Ulama Su’ Sebagai Renungan Bagi Pendidikan Tinggi Gizi Masa Kini

Pendahuluan

Pendidikan tinggi tidak hanya bertujuan membentuk mahasiswa yang menguasai pengetahuan, tetapi juga membangun karakter, tanggung jawab, dan integritas. Panduan penulisan esai ilmiah Pendidikan Agama menekankan bahwa mahasiswa perlu menganalisis persoalan berdasarkan perspektif agama sekaligus mengintegrasikannya dengan ilmu pengetahuan dan praktik profesional sesuai bidang keilmuan. Dalam konteks pendidikan gizi, tuntutan tersebut penting karena ilmu yang dipelajari nantinya digunakan untuk memengaruhi perilaku makan dan kesehatan masyarakat.

Al-Ghazali memberikan perhatian besar terhadap hubungan antara ilmu dan akhlak. Kritiknya terhadap ulama su’ atau orang berilmu yang menyalahgunakan ilmu demi kepentingan duniawi menjadi relevan untuk direnungkan dalam pendidikan tinggi. Seorang yang berilmu seharusnya tidak menjadikan ilmu sekadar sarana memperoleh kedudukan, pujian, atau keuntungan, tetapi menggunakannya untuk kebaikan dan kemaslahatan. Persoalan ini penting bagi mahasiswa gizi karena kompetensi profesional tanpa etika dapat menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat.

Esai ini bertujuan menganalisis kritik Al-Ghazali terhadap ulama su’ dan menghubungkannya dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis serta tuntutan pendidikan dan praktik profesional di bidang gizi masa kini.

Pembahasan

Dalam pemikiran Al-Ghazali, ilmu mempunyai kedudukan yang mulia, tetapi kemuliaan ilmu tidak dapat dipisahkan dari tujuan dan pengamalannya. Orang yang memiliki ilmu seharusnya semakin menyadari tanggung jawabnya kepada Allah dan kepada manusia. Sebaliknya, ilmu yang dipakai untuk mengejar kepentingan pribadi dapat menjauhkan seseorang dari tujuan ilmu yang sebenarnya. Kritik terhadap ulama su’ dengan demikian bukan sekadar kritik terhadap profesi tertentu, melainkan peringatan bahwa pengetahuan dapat kehilangan nilai moral ketika tidak disertai keikhlasan dan pengamalan.

Pandangan tersebut dapat dikaitkan dengan firman Allah dalam QS. Ash-Shaff ayat 2–3: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” Ayat ini menunjukkan pentingnya kesesuaian antara pengetahuan, ucapan, dan tindakan. Dalam konteks pendidikan, mahasiswa tidak cukup memahami teori tentang kesehatan dan gizi, tetapi perlu membangun kebiasaan menerapkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian dalam proses belajar maupun ketika menjalankan profesi.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (2) Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (3)” (QS. Ash-Shaff [61]: 2–3).

Landasan lain dapat ditemukan dalam hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Muslim: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” Hadis ini menunjukkan kemuliaan aktivitas mencari ilmu. Namun, kemuliaan tersebut seharusnya mendorong pencari ilmu untuk menggunakan pengetahuannya secara benar. Bagi mahasiswa gizi, belajar bukan hanya proses mendapatkan nilai akademik, tetapi juga persiapan untuk memberikan manfaat kepada manusia. Dengan demikian, mencari ilmu dan mengamalkannya merupakan dua hal yang tidak seharusnya dipisahkan.

Kritik Al-Ghazali menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan perkembangan informasi gizi di era digital. Masyarakat dapat dengan mudah menemukan berbagai informasi mengenai diet, penurunan berat badan, suplemen, dan pola makan melalui media sosial. Kondisi ini menuntut calon ahli gizi memiliki kemampuan ilmiah sekaligus etika dalam menyampaikan informasi. Pengetahuan yang benar dapat memberikan manfaat, sedangkan informasi yang tidak tepat atau sengaja dibuat sensasional dapat menyesatkan masyarakat.

Dalam pendidikan tinggi gizi, nilai tersebut dapat diterapkan sejak masa perkuliahan. Mahasiswa perlu membiasakan diri menggunakan sumber ilmiah yang kredibel, mencantumkan sitasi dengan benar, menghindari plagiarisme, dan tidak memanipulasi data. Sikap tersebut bukan hanya tuntutan akademik, tetapi juga latihan membangun integritas profesional. Ketika kelak menjadi tenaga gizi, kebiasaan tersebut akan membantu mereka mengambil keputusan berdasarkan bukti dan bertanggung jawab terhadap informasi yang diberikan.

Hasil kajian ilmiah mengenai profesionalisme kesehatan juga menunjukkan bahwa kompetensi profesional tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi mencakup etika, komunikasi, tanggung jawab, dan orientasi kepada pasien atau masyarakat. Prinsip ini sejalan dengan gagasan Al-Ghazali bahwa ilmu seharusnya menghasilkan perubahan perilaku dan kemanfaatan. Dalam bidang gizi, seorang profesional harus menempatkan kepentingan kesehatan klien dan masyarakat sebagai pertimbangan utama, bukan sekadar mengejar keuntungan atau popularitas.

Menurut analisis penulis, konsep ulama su’ dapat dijadikan refleksi bagi mahasiswa gizi dalam menghadapi tantangan profesional masa kini. Memang, mahasiswa gizi bukan ulama, tetapi terdapat persamaan tanggung jawab moral sebagai orang yang memiliki pengetahuan dan dipercaya oleh masyarakat. Ketika seorang ahli gizi memberikan rekomendasi, masyarakat dapat menganggapnya sebagai informasi yang benar karena berasal dari orang yang memiliki kompetensi. Oleh sebab itu, penyalahgunaan pengetahuan, penyampaian informasi tanpa dasar, atau penggunaan gelar untuk memperoleh keuntungan semata perlu dihindari.

Implementasinya dapat dilakukan melalui beberapa kebiasaan yang terintegrasi dalam pendidikan dan praktik profesi. Mahasiswa perlu membangun niat belajar untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memeriksa kebenaran sumber informasi, serta menjaga kejujuran akademik. Dalam praktik profesi, nilai tersebut dapat diwujudkan dengan memberikan edukasi gizi berdasarkan bukti, menghargai kondisi dan kebutuhan setiap individu, menjaga kerahasiaan informasi klien, serta tidak memberikan klaim kesehatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dengan cara tersebut, ilmu gizi tidak hanya menjadi kompetensi akademik, tetapi menjadi sarana pelayanan dan kemaslahatan.

Dengan demikian, kritik Al-Ghazali terhadap ulama su’ dapat dipahami sebagai kritik terhadap pemisahan antara ilmu dan akhlak. Pendidikan tinggi gizi masa kini perlu menghasilkan lulusan yang tidak hanya cakap secara ilmiah, tetapi juga memiliki integritas. Ilmu yang tinggi akan memiliki nilai yang lebih besar apabila digunakan secara amanah dan memberikan manfaat bagi manusia.

Penutup

Kritik Al-Ghazali terhadap ulama su’ memberikan pelajaran bahwa kepemilikan ilmu harus disertai tanggung jawab moral dan pengamalan. Nilai tersebut sejalan dengan pesan Al-Qur’an tentang kesesuaian antara perkataan dan perbuatan serta hadis tentang kemuliaan mencari ilmu. Dalam pendidikan tinggi gizi, pemikiran ini relevan karena mahasiswa dipersiapkan menjadi tenaga profesional yang memiliki pengaruh terhadap kesehatan masyarakat.

Oleh karena itu, mahasiswa gizi sebaiknya tidak menjadikan keberhasilan akademik sebagai satu-satunya tujuan. Penguasaan ilmu perlu disertai kejujuran, amanah, sikap kritis, dan kepedulian kepada masyarakat. Pendidikan gizi yang menggabungkan ilmu pengetahuan dengan nilai agama dan etika profesional diharapkan dapat melahirkan tenaga gizi yang kompeten sekaligus dapat dipercaya.

Daftar Pustaka

Al-Ghazali. (n.d.). Ihya’ ‘Ulum al-Din. Dar al-Ma’rifah.

Al-Ghazali. (n.d.). Ayyuha al-Walad. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Ghazali. (n.d.). Bidayat al-Hidayah. Dar al-Minhaj.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Muslim, I. (n.d.). Shahih Muslim.

World Health Organization. (2006). The role of health professionals in nutrition. World Health Organization.

Kontributor: Mutiara Anandita Azzahra

Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *