Ma’rifatullah Lewat Tanda Kauniyah:Merenungi Kerumitan Sistem Kardiovaskular Sebagai Bukti Kekuasaan-Nya
A. Pendahuluan
Ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita: organ yang paling setia bekerja di dalam tubuh justru paling jarang direnungkan keberadaannya. Jantung telah berdetak sejak seseorang masih berada di dalam rahim, terus bekerja tanpa jeda, dan memompa darah melalui jaringan pembuluh ke seluruh tubuh. Proses tersebut melibatkan koordinasi antara jantung, pembuluh darah, darah, sistem listrik jantung, serta berbagai mekanisme pengaturan tekanan dan aliran darah. Kemajuan ilmu kedokteran memungkinkan sistem kardiovaskular dipelajari semakin rinci. Namun, semakin dalam mekanisme tersebut dipahami, semakin terlihat pula tingkat keteraturan yang layak menjadi bahan perenungan.
Dalam tradisi Islam, tubuh manusia dapat dipandang sebagai ayat kauniyah, yaitu tanda kekuasaan Allah yang dapat diamati dan direnungkan. Ayat kauniyah dapat dibaca bersama ayat qauliyah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Maman, Suhartini, dan Nurwadjah (2022) menjelaskan ma’rifatullah sebagai pengenalan kepada Allah yang melibatkan akal sekaligus hati sehingga pengetahuan tidak berhenti pada informasi, tetapi mendorong kecintaan dan ketaatan kepada-Nya. Dengan demikian, mempelajari tubuh manusia tidak hanya menghasilkan pengetahuan biologis, tetapi juga dapat menjadi jalan refleksi spiritual.
Mahasiswa dan tenaga kesehatan mempelajari anatomi serta fisiologi secara teknis karena pengetahuan tersebut diperlukan dalam praktik profesional. Namun, penguasaan ilmu dapat menjadi lebih bermakna apabila disertai kesadaran bahwa manusia tidak mengendalikan seluruh proses kehidupan di dalam tubuhnya. Esai ini bertujuan menganalisis sistem kardiovaskular sebagai tanda kauniyah untuk membangun ma’rifatullah, dengan mengintegrasikan perspektif Al-Qur’an dan hadis, kajian ilmiah mengenai jantung dan kesehatan kardiovaskular, serta penerapannya dalam praktik profesi kesehatan.
B. Pembahasan
Ma’rifatullah secara sederhana bukan sekadar mengetahui bahwa Allah itu ada, tetapi mengenal-Nya melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya sehingga pengetahuan tersebut berpengaruh terhadap sikap manusia. Al-Ghazali menempatkan pengenalan diri sebagai bagian penting dalam perjalanan mengenal Allah. Maman et al. (2022) juga menekankan bahwa pengetahuan yang benar semestinya menghubungkan akal dengan kesadaran hati. Karena itu, tubuh manusia dapat menjadi ruang perenungan yang konkret: sesuatu yang setiap hari hadir dalam diri manusia, tetapi memiliki kerumitan yang jauh melampaui kemampuan manusia untuk mengaturnya secara sadar.
Al-Qur’an secara langsung mengarahkan manusia untuk memperhatikan dirinya sendiri. Allah berfirman:
وَفِيٓ أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
““Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?””
(QS. Adz-Dzariyat [51]: 21)
Ayat tersebut menjadi landasan utama perenungan dalam esai ini. Tubuh manusia bukan hanya objek pemeriksaan medis, tetapi juga tanda yang dapat mengantarkan manusia kepada kesadaran tentang kebesaran Allah. Ketika seseorang mempelajari jantung dan menemukan adanya koordinasi yang sangat teratur antara kontraksi, relaksasi, sistem listrik, katup, serta aliran darah, pengetahuan tersebut dapat mendorong pertanyaan yang lebih mendalam tentang keteraturan ciptaan. Alamsyah, Rahmani, Atika, dan Sadat (2024) menjelaskan bahwa ayat-ayat kauniyah mengajak manusia mengamati ciptaan Allah secara saksama dan menarik pelajaran darinya.
Pesan tersebut diperkuat oleh QS. Fushshilat ayat 53 yang menjelaskan bahwa Allah akan memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya pada ufuk dan pada diri manusia hingga menjadi jelas kebenaran. Dua ayat tersebut memberikan kerangka penting bagi integrasi agama dan ilmu pengetahuan. Penelitian terhadap tubuh dapat menjadi sarana tadabbur, selama temuan ilmiah tidak dipaksakan sebagai makna tunggal dari teks agama.
Sistem kardiovaskular merupakan salah satu contoh yang jelas. Jantung bekerja sebagai pompa yang mempertahankan sirkulasi darah ke seluruh tubuh. Kerja ini melibatkan empat ruang jantung, katup, sistem konduksi listrik, pembuluh darah, serta mekanisme pengaturan tekanan dan aliran. Tsuroyya et al. (2024) menjelaskan bahwa jantung memiliki peran sentral dalam sistem kardiovaskular dan bekerja melalui siklus sistol dan diastol yang berlangsung terus-menerus.
Kajian ilmiah modern juga menunjukkan kemampuan sistem kardiovaskular untuk beradaptasi. Moreira, Wohlwend, dan Wisløff (2020) menjelaskan bahwa aktivitas fisik menimbulkan berbagai adaptasi fisiologis dan molekuler pada jantung. Isath et al. (2023) meninjau manfaat olahraga terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah, sedangkan Lavie et al. (2015) menunjukkan pentingnya aktivitas fisik dan kebugaran kardiorespirasi dalam pencegahan serta penanganan penyakit kardiovaskular. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa tubuh manusia merupakan sistem yang dinamis dan memiliki kemampuan regulasi yang kompleks.
Kerumitan tersebut dapat menjadi bahan ma’rifatullah bukan karena ilmu kedokteran membuktikan seluruh ajaran agama, melainkan karena pengetahuan ilmiah memperluas kesadaran manusia terhadap keteraturan ciptaan. Manusia dapat mengukur denyut, tekanan darah, aliran, dan aktivitas listrik jantung, tetapi manusia tidak secara sadar mengatur setiap denyut yang terjadi sepanjang hidup. Di sinilah ilmu pengetahuan seharusnya melahirkan kerendahan hati. Semakin dalam manusia memahami mekanisme kehidupan, semakin jelas pula bahwa kemampuan manusia adalah mengamati, memahami, dan merawat, bukan menciptakan kehidupan dari ketiadaan.
Selain Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad saw. memberikan dimensi moral-spiritual terhadap pembahasan tubuh. Rasulullah saw. bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
““Ingatlah, dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ingatlah, ia adalah qalbu.””
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut tidak tepat jika diperlakukan semata-mata sebagai pernyataan fisiologi mengenai organ jantung. Qalbu dalam konteks hadis berkaitan dengan keadaan batin dan kualitas diri. Namun, secara reflektif, pesan tersebut dapat ditempatkan berdampingan dengan fakta biologis bahwa kesehatan jantung memang berpengaruh terhadap fungsi tubuh secara sistemik. Pembedaan antara makna spiritual dan fakta biologis membuat integrasi hadis dengan ilmu kedokteran tetap proporsional dan akademis.
Al-Qur’an juga menyebut “urat leher” dalam QS. Qaf ayat 16 ketika menggambarkan kedekatan Allah dengan manusia. Dalam konteks pembahasan ini, penyebutan tersebut lebih tepat menjadi bahan perenungan tentang tubuh dan kedekatan makna tanda-tanda penciptaan, bukan klaim bahwa Al-Qur’an merupakan buku anatomi yang menjelaskan vena jugularis secara rinci. Pendekatan seperti ini penting agar integrasi agama dan sains tidak melakukan klaim ilmiah yang melampaui teks.
Kesadaran tersebut memiliki konsekuensi praktis. Jika tubuh dipandang sebagai amanah dan tanda kekuasaan Allah, menjaga kesehatan bukan hanya persoalan biologis, tetapi juga tanggung jawab moral. Isath et al. (2023) menunjukkan manfaat aktivitas fisik terhadap kesehatan kardiovaskular, sedangkan Lavie et al. (2015) menegaskan pentingnya aktivitas fisik dan kebugaran kardiorespirasi. Karena itu, menjaga pola makan, melakukan aktivitas fisik yang sesuai, menghindari kebiasaan yang merusak kesehatan, dan melakukan pemeriksaan ketika diperlukan dapat dipahami sebagai bentuk menjaga amanah tubuh.
Bagi mahasiswa dan tenaga kesehatan, refleksi ini dapat memengaruhi cara memandang profesi. Ilmu anatomi, fisiologi, diagnosis, dan terapi tidak semestinya hanya dipahami sebagai keterampilan teknis. Pengetahuan tersebut dapat disertai sikap amanah, empati, dan kerendahan hati. Tenaga kesehatan menggunakan ilmu untuk membantu proses pemulihan, sedangkan kesembuhan tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Dengan demikian, integrasi ilmu agama dan ilmu kesehatan bukan sekadar menambahkan kutipan ayat ke dalam materi kesehatan, tetapi membentuk cara berpikir yang menghubungkan pengetahuan, tanggung jawab, dan kesadaran kepada Sang Pencipta.
C. Penutup
Sistem kardiovaskular merupakan salah satu tanda kauniyah yang dekat dengan kehidupan manusia. Kerja jantung yang berlangsung terus-menerus, keteraturan sirkulasi, serta kemampuan sistem kardiovaskular beradaptasi menunjukkan tingkat kompleksitas yang layak direnungkan. QS. Adz-Dzariyat ayat 21 mengarahkan manusia untuk memperhatikan dirinya sendiri, sedangkan QS. Fushshilat ayat 53 menegaskan adanya tanda-tanda kekuasaan Allah pada diri manusia. Hadis tentang qalbu memberikan dimensi moral-spiritual bahwa kualitas batin manusia memiliki kedudukan penting dalam kehidupannya.
Integrasi agama dan sains perlu dilakukan secara hati-hati. Ilmu kedokteran digunakan untuk menjelaskan mekanisme biologis, sedangkan Al-Qur’an dan hadis memberikan kerangka makna, nilai, dan arah perenungan. Dengan pendekatan tersebut, mempelajari sistem kardiovaskular tidak berhenti pada penguasaan ilmu, tetapi dapat menumbuhkan ma’rifatullah, kerendahan hati, dan kesadaran untuk menjaga kesehatan sebagai amanah.
Ke depan, integrasi ilmu agama dan ilmu kesehatan perlu terus dikembangkan dalam pendidikan melalui pembelajaran yang mendorong mahasiswa tidak hanya terampil secara akademik dan profesional, tetapi juga memiliki kesadaran etis dan spiritual. Penelitian lanjutan dapat mengkaji secara lebih empiris hubungan antara spiritualitas, perilaku hidup sehat, kepatuhan terhadap pencegahan penyakit, dan kesehatan kardiovaskular.
Wallahu a’lam bishawab.
Daftar Pustaka
Alamsyah, Rahmani, M. F., Atika, N., & Sadat, A. (2024). Integrasi ayat kauniyah dan kauliyah dalam keilmuan Islam: Pendekatan holistik dan komprehensif. Jurnal Keilmuan dan Keislaman, 3(4). doi:10.23917/jkk.v3i4.350
Isath, A., Koziol, K., Martinez, M., Garber, C., Martinez, M., Emery, M., . . . Krittanawong, C. (2023). Exercise and cardiovascular health: A state-of-the-art review. Progress in Cardiovascular Diseases, 79, 44-52. doi:10.1016/j.pcad.2023.04.008
Kemeterian Agama RI. (n.d.). Al-Qur’an dan terjemahan. Retrieved from https://quran.kemenag.go.id/
Lavie, C., Arena, R., Swift, D., Johannsen, N., Sui, X., Lee, D.-C., . . . Blair, S. (2015). Exercise and the cardiovascular system: Clinical science and cardiovascular outcomes. Circulation Research, 117(2), 207-219. doi:10.1161/CIRCRESAHA.117.305205
Maman, Suhartini, A., & Nurwadjah, A. (2022). Konsep pengenalan Allah (ma’rifatullah) dan implikasinya dalam pendidikan Islam. Asian Journal of Philosophy and Religion, 1(1), 37-50. doi:10.55927/ajpr.v1i1.2010
Moreira, J., Wohlwend, M., & Wisløff, U. (2020). xercise and cardiac health: Physiological and molecular insights. Nature Metabolism, 2(9), 829-839. doi:10.1038/s42255-020-0262-1
Tsuroyyoa, F., Rahmadhani, K., Rahmadhani, E., & Arini, L. (2024). Tinjauan organ jantung sebagai pusat kehidupan dalam sistem kardiovaskular. Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan, 3(1), 6-11. doi:10.59841/jumkes.v3i1.2010
Kontributor: Fauzah Lufia
Editor: Dr. Sumaryati, M.Pd.I.

