Metafora Satu Tubuh dalam Sabda Nabi Sebagai Cermin Kerja Sama Antarprofesi Kesehatan
I. Pendahuluan
Pelayanan kesehatan merupakan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh satu profesi saja. Ketika seseorang datang ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan, kebutuhan yang dihadapi pasien bisa berbeda-beda. Ada pasien yang membutuhkan pemeriksaan dokter, asuhan keperawatan, obat dari apoteker, pengaturan makanan dari ahli gizi, atau tindakan dari tenaga kesehatan lainnya. Setiap profesi mempunyai tugas dan kompetensi masing-masing. Namun, semua profesi tersebut tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu pasien mendapatkan pelayanan yang baik dan aman.
Dalam pelaksanaannya, kerja sama antarprofesi menjadi hal yang penting. Setiap tenaga kesehatan memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap kondisi pasien. Perbedaan tersebut sebenarnya dapat menjadi kelebihan karena kondisi pasien dapat dilihat secara lebih lengkap. Masalahnya, kerja sama akan sulit berjalan jika komunikasi tidak dilakukan dengan baik atau jika setiap profesi hanya berfokus pada tugasnya sendiri. Karena itu, diperlukan sikap saling menghargai, komunikasi yang terbuka, dan kesadaran bahwa setiap profesi mempunyai peran yang saling berkaitan.
Hal tersebut dapat dikaitkan dengan sabda Nabi Muhammad saw. yang menggambarkan orang-orang beriman seperti satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh mengalami sakit, bagian tubuh yang lain juga ikut merasakan. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa meskipun setiap bagian mempunyai fungsi yang berbeda, semuanya tetap berada dalam satu kesatuan. Menurut penulis, gambaran tersebut cukup relevan jika diterapkan dalam kerja sama tenaga kesehatan. Perawat, dokter, apoteker, ahli gizi, dan profesi lainnya memang memiliki pekerjaan yang berbeda, tetapi tidak berarti dapat bekerja tanpa berhubungan satu sama lain.
Topik ini penting karena kerja sama antarprofesi berhubungan langsung dengan kualitas pelayanan yang diterima pasien. WHO menyebutkan bahwa praktik kolaboratif melibatkan tenaga kesehatan dari berbagai latar belakang profesi yang bekerja bersama untuk memberikan pelayanan yang berkualitas. Dalam kerja tim, diperlukan pembagian peran yang jelas, komunikasi, saling menghargai, dan tujuan yang sama.
Bagi mahasiswa keperawatan, memahami kerja sama antarprofesi juga penting sejak masa pendidikan. Perawat nantinya tidak bekerja sendiri, tetapi menjadi bagian dari tim kesehatan. Oleh karena itu, kemampuan berkomunikasi dan memahami peran profesi lain perlu dibentuk sejak awal. Dengan begitu, ketika berada di lingkungan pelayanan kesehatan, perawat tidak hanya mampu memberikan asuhan keperawatan, tetapi juga mampu bekerja dengan baik bersama anggota tim lainnya.
Penulisan esai ini bertujuan untuk membahas makna metafora satu tubuh dalam sabda Nabi Muhammad saw. serta hubungannya dengan kerja sama antarprofesi kesehatan. Selain itu, tulisan ini bertujuan menjelaskan bagaimana nilai saling membantu, kepedulian, komunikasi, dan saling menghargai dapat diterapkan dalam praktik keperawatan. Melalui pembahasan ini, diharapkan mahasiswa keperawatan dapat memahami bahwa kerja sama antarprofesi bukan hanya tuntutan dalam dunia kerja, tetapi juga dapat menjadi bentuk penerapan nilai agama dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
II. Pembahasan
Nabi Muhammad saw. bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Artinya: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh turut merasakan sakit dengan tidak dapat tidur dan mengalami demam.” (HR. Muslim, 2586a).
Hadis tersebut menggambarkan adanya hubungan yang erat antara satu bagian dengan bagian lainnya. Tubuh manusia terdiri dari banyak organ dan setiap organ mempunyai fungsi yang berbeda. Mata digunakan untuk melihat, telinga untuk mendengar, jantung memompa darah, sedangkan paru-paru berperan dalam pernapasan. Walaupun fungsinya berbeda, organ-organ tersebut tetap bekerja sebagai satu sistem. Jika salah satu bagian mengalami masalah, fungsi tubuh secara keseluruhan dapat terganggu.
Menurut Imam An-Nawawi dalam penjelasannya mengenai hadis tersebut, perumpamaan satu tubuh menggambarkan adanya kasih sayang, perhatian, dan kepedulian terhadap sesama. Jika dikaitkan dengan profesi kesehatan, nilai tersebut dapat diterapkan dalam bentuk kepedulian terhadap pasien dan anggota tim. Seorang tenaga kesehatan tidak seharusnya menganggap bahwa masalah pasien hanya menjadi tanggung jawabnya sendiri. Ketika membutuhkan bantuan profesi lain, kerja sama perlu dilakukan demi kepentingan pasien.
Dalam pelayanan kesehatan, dokter dan perawat merupakan dua profesi yang sering bekerja dalam satu tim, tetapi bukan berarti hanya kedua profesi tersebut yang berperan. Apoteker, ahli gizi, fisioterapis, analis kesehatan, dan tenaga kesehatan lainnya juga dapat terlibat sesuai dengan kondisi pasien. Setiap profesi mempunyai kompetensi yang berbeda sehingga pelayanan dapat diberikan dari berbagai sisi.
Sebagai contoh, seorang pasien yang dirawat karena penyakit tertentu mungkin membutuhkan pengobatan dari dokter, pemantauan kondisi dari perawat, pengaturan obat dari apoteker, dan pengaturan makanan dari ahli gizi. Jika masing-masing profesi bekerja sendiri tanpa komunikasi, informasi yang diterima pasien bisa berbeda-beda. Sebaliknya, jika komunikasi dilakukan dengan baik, rencana pelayanan dapat lebih mudah disatukan.
Dalam hal ini, perawat mempunyai peran yang cukup penting. Perawat berada dekat dengan pasien dan melakukan pemantauan secara terus-menerus. Perubahan kondisi pasien yang ditemukan saat melakukan pengkajian perlu disampaikan kepada anggota tim yang berkaitan. Misalnya, jika perawat menemukan perubahan tanda-tanda vital atau kondisi umum pasien, informasi tersebut perlu dikomunikasikan sehingga dapat dilakukan tindakan yang sesuai. Perawat tidak harus menyelesaikan semua masalah sendiri. Justru kemampuan untuk mengetahui kapan harus melibatkan profesi lain merupakan bagian dari sikap profesional.
Kerja sama seperti ini sesuai dengan konsep interprofessional collaboration. WHO menjelaskan bahwa kerja sama antarprofesi merupakan salah satu pendekatan yang dapat memperkuat pelayanan kesehatan. Dalam tim yang baik, setiap anggota mempunyai peran dan tanggung jawab yang jelas, tetapi tetap memiliki tujuan bersama. Selain itu, komunikasi dan rasa saling menghargai juga menjadi bagian penting dalam kerja tim.
Menurut penulis, bagian yang paling menarik dari konsep tersebut adalah adanya kesamaan tujuan meskipun cara kerja setiap profesi berbeda. Perawat tidak perlu melakukan pekerjaan dokter, dan dokter juga tidak perlu melakukan seluruh pekerjaan perawat. Yang dibutuhkan adalah pemahaman bahwa pekerjaan masing-masing saling berhubungan. Jika salah satu bagian tidak menjalankan tugasnya dengan baik, proses pelayanan secara keseluruhan dapat ikut terganggu. Hal ini dapat dibandingkan dengan tubuh manusia yang membutuhkan kerja berbagai organ agar dapat berfungsi dengan baik.
Selain hadis, prinsip kerja sama juga terdapat dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”
Ayat tersebut mengajarkan manusia untuk saling membantu dalam melakukan kebaikan. Jika diterapkan dalam pelayanan kesehatan, membantu pasien dapat menjadi salah satu bentuk nyata dari nilai tersebut. Kerja sama antara tenaga kesehatan dilakukan untuk tujuan yang baik, yaitu membantu memenuhi kebutuhan pasien. Namun, kerja sama tetap harus dilakukan sesuai aturan dan kompetensi masing-masing profesi.
Menurut penulis, nilai dalam ayat dan hadis tersebut dapat menjadi pengingat bahwa profesi kesehatan bukan tempat untuk menunjukkan siapa yang paling penting. Setiap profesi mempunyai kelebihan sekaligus keterbatasan. Seorang perawat memiliki pengetahuan dan keterampilan keperawatan, dokter mempunyai kompetensi dalam bidang medis, apoteker mempunyai keahlian dalam bidang obat, dan ahli gizi mempunyai kompetensi dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi. Jika kemampuan tersebut digabungkan melalui kerja sama yang baik, pasien dapat memperoleh pelayanan yang lebih menyeluruh.
Komunikasi menjadi salah satu hal yang tidak boleh diabaikan. Dalam pelayanan kesehatan, informasi yang tidak disampaikan dengan jelas dapat menyebabkan kesalahpahaman. Karena itu, tenaga kesehatan perlu membiasakan diri menyampaikan informasi secara jelas, mendengarkan pendapat anggota tim, dan tidak ragu untuk bertanya jika ada sesuatu yang belum dipahami. Sumber pembelajaran keperawatan juga menempatkan komunikasi, pembagian peran, dan kerja tim sebagai bagian penting dari kompetensi kolaborasi antarprofesi.
Kerja sama juga tidak berarti bahwa semua keputusan harus dibuat bersama dalam setiap keadaan. Setiap tenaga kesehatan tetap mempunyai kewenangan dan tanggung jawab masing-masing. Yang lebih penting adalah mengetahui kapan harus berkomunikasi dan kapan perlu melibatkan profesi lain. Dengan demikian, kolaborasi tidak menghilangkan batas profesi, tetapi justru membuat setiap profesi dapat bekerja sesuai bidangnya.
Menurut penulis, penerapan konsep satu tubuh sebaiknya mulai dibiasakan sejak mahasiswa. Mahasiswa keperawatan perlu belajar bahwa bekerja sebagai tenaga kesehatan nantinya berarti menjadi bagian dari sebuah tim. Kegiatan belajar bersama mahasiswa dari profesi lain dapat membantu memahami bahwa setiap profesi mempunyai cara pandang dan tanggung jawab yang berbeda.WHO juga menekankan pentingnya pendidikan antarprofesi untuk mempersiapkan tenaga kesehatan agar mampu bekerja secara kolaboratif.
Penerapan nilai satu tubuh juga dapat dilihat dari cara tenaga kesehatan memperlakukan anggota tim. Ketika seorang anggota tim mengalami kesulitan dalam menangani suatu masalah pasien, anggota lain seharusnya memberikan dukungan sesuai kemampuan dan kewenangannya. Begitu juga ketika terjadi perbedaan pendapat, masalah sebaiknya diselesaikan melalui komunikasi yang baik. Hal yang paling penting adalah jangan sampai perbedaan antarprofesi justru merugikan pasien.
Dari pembahasan tersebut, dapat dilihat bahwa metafora satu tubuh bukan hanya perumpamaan tentang hubungan antarmanusia. Dalam konteks keperawatan, makna tersebut dapat menjadi nilai yang mendorong tenaga kesehatan untuk lebih peduli, saling menghargai, dan bekerja sama. Perbedaan profesi bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Justru dengan perbedaan tersebut, kebutuhan pasien dapat ditangani dengan lebih lengkap.
III. Penutup
Kesimpulan
Metafora satu tubuh dalam sabda Nabi Muhammad saw. menggambarkan bahwa setiap bagian mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi tetap saling berhubungan. Makna tersebut dapat diterapkan dalam kerja sama antarprofesi kesehatan. Dokter, perawat, apoteker, ahli gizi, fisioterapis, dan profesi lainnya mempunyai tugas dan kompetensi masing-masing, tetapi semuanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien. Dalam praktik keperawatan, penerapannya dapat dilakukan melalui komunikasi yang baik, saling menghargai, berbagi informasi, bekerja sesuai kompetensi, dan melibatkan profesi lain ketika diperlukan. Nilai tersebut juga sesuai dengan QS. Al-Ma’idah ayat 2 tentang anjuran untuk saling membantu dalam kebaikan. Dengan demikian, hadis tentang satu tubuh dapat menjadi salah satu dasar nilai dalam membangun kerja sama antarprofesi yang lebih baik dan berorientasi pada kepentingan pasien.
Saran/Rekomendasi
Kerja sama antarprofesi sebaiknya mulai dibiasakan sejak mahasiswa masih berada dalam proses pendidikan. Mahasiswa keperawatan perlu diberikan kesempatan untuk belajar dan berkomunikasi dengan mahasiswa dari profesi kesehatan lainnya agar memahami peran dan batas kompetensi masing-masing. Dalam pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan juga perlu membangun komunikasi yang terbuka dan saling menghargai. Setiap profesi diharapkan tidak hanya berfokus pada tugasnya sendiri, tetapi juga memahami bahwa pekerjaannya mempunyai hubungan dengan anggota tim lainnya. Dengan menerapkan semangat satu tubuh, kerja sama antarprofesi dapat menjadi kebiasaan yang membantu menciptakan pelayanan kesehatan yang lebih terkoordinasi, manusiawi, dan berpusat pada kebutuhan pasien.
Daftar Pustaka
An-Nawawi, Y. ibn S. (n.d.). Al-Minhaj sharh Sahih Muslim ibn al-Hajjaj.
Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Sahih Muslim 2586a.
National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. (2015). Measuring the impact of interprofessional education on collaborative practice and patient outcomes. The National Academies Press. https://doi.org/10.17226/21726
Reeves, S., Pelone, F., Harrison, R., Goldman, J., & Zwarenstein, M. (2017). Interprofessional collaboration to improve professional practice and healthcare outcomes. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2017(6), CD000072. https://doi.org/10.1002/14651858.CD000072.pub3
World Health Organization. (2010). Framework for action on interprofessional education & collaborative practice. World Health Organization.
Kontributor: Azalea Nandini
Editor: Arif Islahuddin, M.Pd.

