Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir sebagai Teladan Adab Menuntut Ilmu Bagi Mahasiswa Kesehatan

I. Pendahuluan

Ilmu pengetahuan di bidang kebidanan berkembang sangat pesat, sehingga seorang bidan dituntut untuk terus belajar sepanjang hayat agar mampu memberikan asuhan yang aman dan bermutu bagi ibu serta bayi. Proses menuntut ilmu tersebut tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan dan ketekunan semata, sebab ia juga memerlukan adab, yaitu sikap batin dan perilaku yang menyertai upaya pencarian ilmu itu sendiri. Islam telah memberikan teladan yang sangat kaya mengenai adab menuntut ilmu, salah satunya melalui kisah pertemuan Nabi Musa dengan seorang hamba saleh yang dikenal sebagai Khidir, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an surah Al-Kahfi. Kisah tersebut memuat pelajaran mendalam tentang kerendahan hati, kesabaran, dan kepatuhan seorang penuntut ilmu kepada gurunya, nilai-nilai yang sangat relevan untuk diterapkan oleh mahasiswa kesehatan, khususnya calon bidan, dalam menjalani proses pendidikan maupun praktik klinis.

Esai ini bertujuan menguraikan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir sebagai cermin adab menuntut ilmu, mengaitkannya dengan dalil Al-Qur’an, hadis, pandangan ulama, serta relevansinya bagi pembentukan karakter mahasiswa kebidanan. Melalui pembahasan berikut, diharapkan dapat dipahami bahwa keberhasilan seorang bidan dalam mengemban amanah profesinya tidak hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu teknis, tetapi juga oleh akhlak dan kesungguhan dalam proses memperolehnya.

II. Pembahasan

Adab menuntut ilmu dapat dipahami sebagai seperangkat sikap dan perilaku yang menyertai proses belajar, mencakup kerendahan hati terhadap guru, kesungguhan, kesabaran menghadapi proses yang belum tentu langsung dapat dipahami, serta kepatuhan pada bimbingan orang yang lebih berpengalaman. Kisah Nabi Musa dan Khidir termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Kahfi ayat 60 hingga 82. Dikisahkan bahwa Nabi Musa merasa dirinya sebagai orang yang paling berilmu pada zamannya, hingga Allah menegurnya dengan memberitahukan bahwa ada seorang hamba yang lebih berilmu, yaitu Khidir, yang berada di pertemuan dua lautan. Musa kemudian menempuh perjalanan jauh bersama muridnya untuk menemui Khidir dan meminta diperkenankan berguru kepadanya.

Ketika bertemu dengan Khidir, Musa tidak langsung memaksakan diri untuk diajari, melainkan meminta izin dengan penuh santun. Allah mengabadikan permintaan tersebut dalam firman-Nya:

قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Artinya: “Musa berkata kepada Khidir, ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?‘” (QS. Al-Kahfi/18:66).

Ayat ini menunjukkan sikap tawaduk seorang nabi yang telah memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, namun tetap merendahkan diri di hadapan seorang guru demi memperoleh tambahan ilmu. Sikap semacam ini menjadi teladan penting bagi mahasiswa kebidanan, sebab betapapun tinggi prestasi akademik yang telah diraih, sikap rendah hati kepada dosen, pembimbing klinik, maupun tenaga kesehatan senior tetap harus dijaga agar proses transfer ilmu dan keterampilan dapat berjalan secara optimal.

Khidir kemudian menetapkan syarat kepada Musa sebelum bersedia mengajarinya, sebagaimana termaktub dalam firman Allah:

قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

Artinya: “Dia berkata, ‘Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.‘” (QS. Al-Kahfi/18:70).

Syarat ini mengajarkan bahwa proses menuntut ilmu, terutama ilmu praktis yang berbasis pengalaman, sering kali menuntut kesabaran untuk tidak tergesa menilai atau mempertanyakan setiap tindakan gurunya sebelum memahami keseluruhan latar dan hikmah di baliknya. Situasi seperti ini kerap dijumpai ketika mahasiswa mendampingi bidan senior menangani kasus persalinan yang kompleks. Keputusan klinis terkadang harus diambil dengan cepat berdasarkan pengalaman, dan mahasiswa perlu bersikap sabar mengamati serta bertanya pada waktu yang tepat, bukan menyela di tengah proses yang berisiko membahayakan keselamatan ibu dan bayi.

Selama perjalanan bersama Khidir, Musa menyaksikan tiga peristiwa yang pada mulanya tampak ganjil baginya, yaitu perahu yang dilubangi, seorang anak yang dibunuh, dan dinding rumah yang ditegakkan kembali tanpa upah. Ketiga tindakan tersebut kemudian dijelaskan oleh Khidir memiliki hikmah tersembunyi, yaitu menyelamatkan perahu nelayan miskin dari perampasan raja yang zalim, mencegah kelak lahirnya kedurhakaan besar dari anak tersebut kepada orang tuanya yang saleh, serta menjaga harta warisan dua anak yatim yang tersimpan di bawah dinding itu. Pelajaran yang dapat dipetik ialah bahwa sebuah tindakan atau keputusan, termasuk keputusan klinis dalam pelayanan kesehatan, tidak selalu dapat dinilai secara sepintas oleh orang yang belum memahami keseluruhan pertimbangan yang melatarinya, sehingga penuntut ilmu perlu menahan diri dari sikap terburu-buru menghakimi sebelum memperoleh penjelasan yang utuh.

Semangat menuntut ilmu yang tergambar dalam kisah tersebut sejalan dengan hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya: “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, No. 2699).

Hadis ini menegaskan bahwa setiap upaya sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, termasuk ilmu kesehatan dan kebidanan yang bermanfaat menyelamatkan nyawa manusia, memiliki nilai ibadah yang tinggi di sisi Allah. Perjalanan panjang yang ditempuh Musa demi menemui Khidir merupakan gambaran konkret dari jalan menuntut ilmu yang dimaksud dalam hadis tersebut, sebab ilmu yang bernilai sering kali tidak diperoleh dengan mudah, melainkan melalui kesungguhan, pengorbanan waktu, tenaga, bahkan kerelaan menempuh perjalanan jauh.

Ulama klasik seperti Al-Ghazali dalam karyanya Ihya’ Ulumuddin menekankan bahwa adab seorang murid terhadap gurunya merupakan salah satu kunci keberkahan ilmu (Al-Ghazali, t.t.). Menurutnya, seorang penuntut ilmu hendaknya merendahkan diri, tidak merasa lebih tahu daripada gurunya, serta menghormati proses pembelajaran meskipun terasa berat atau maknanya belum segera dipahami. Pandangan ini selaras dengan sikap Musa yang, meskipun sempat mempertanyakan tindakan Khidir yang tampak ganjil, pada akhirnya menerima penjelasan gurunya dengan lapang dada setelah hikmah di balik setiap tindakan tersebut diungkapkan.

Dalam kajian pendidikan kesehatan kontemporer, konsep pembimbingan klinis atau clinical mentorship menempatkan kepercayaan dan kepatuhan mahasiswa terhadap arahan preseptor sebagai faktor penting bagi keberhasilan proses pembelajaran keterampilan klinis (International Confederation of Midwives, 2019). Mahasiswa yang terlalu sering meragukan atau menyela instruksi pembimbing tanpa memahami rasionalnya berisiko kehilangan kesempatan belajar yang berharga, sedangkan mahasiswa yang menunjukkan kesabaran, kerendahan hati, dan kesediaan mengikuti arahan justru cenderung lebih cepat menguasai kompetensi klinis. Kondisi ini menegaskan relevansi kisah Musa dan Khidir sebagai model pembelajaran yang mengedepankan kepercayaan terhadap otoritas keilmuan pembimbing tanpa mengabaikan pentingnya berpikir kritis pada waktu dan cara yang tepat.

Keterkaitan kisah ini dengan pelayanan kebidanan tampak jelas ketika dihubungkan dengan tuntutan profesi yang mengharuskan bidan senantiasa memperbarui ilmu melalui pendidikan berkelanjutan, pelatihan, maupun bimbingan dari tenaga kesehatan yang lebih berpengalaman. Organisasi kesehatan dunia menegaskan bahwa kompetensi esensial kebidanan harus terus dikembangkan sepanjang karier melalui proses belajar yang berkesinambungan (World Health Organization, 2021). Sikap adab seperti yang dicontohkan Musa, yaitu meminta izin dengan santun, bersabar mengikuti proses, serta menahan diri dari sikap sok tahu, perlu diinternalisasi oleh mahasiswa kebidanan agar mereka mampu belajar secara maksimal dari dosen, pembimbing lahan praktik, maupun sejawat yang lebih senior. Lebih jauh, keteladanan ini juga mengajarkan bahwa penguasaan ilmu semata tidak cukup tanpa disertai akhlak mulia, sebab pelayanan kebidanan yang bermutu lahir dari perpaduan antara kompetensi teknis dan kepribadian yang rendah hati, sabar, serta amanah dalam menjalankan tugas menolong sesama manusia.

III. Penutup

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir memberikan teladan yang utuh mengenai adab menuntut ilmu, mulai dari kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan diri, kesungguhan menempuh perjalanan panjang demi ilmu, kesabaran mengikuti bimbingan guru meskipun belum sepenuhnya dipahami, hingga kelapangan hati menerima hikmah di balik setiap peristiwa yang dialami. Nilai-nilai tersebut sangat relevan bagi mahasiswa kesehatan, khususnya calon bidan, yang senantiasa dituntut untuk terus belajar sepanjang karier demi memberikan pelayanan terbaik bagi ibu dan bayi. Semoga keteladanan ini dapat menjadi pijakan bagi generasi bidan masa depan untuk menuntut ilmu dengan akhlak yang mulia sekaligus kompetensi yang mumpuni.

Daftar Pustaka

Al-Ghazali, A. H. (t.t.). Ihya’ Ulumuddin. Dar al-Ma’rifah.

Bakhtiar, N. (2013). Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Aswaja Pressindo.

International Confederation of Midwives. (2019). Essential competencies for midwifery practice. ICM Press.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahnya. Kementerian Agama RI.

Muslim, I. (t.t.). Shahih Muslim (Kitab al-‘Ilm, Hadis No. 2699).

World Health Organization. (2021). Global strategic directions for nursing and midwifery 2021-2025. World Health Organization.

Kontributor: Wulan Sazkya Mekha

Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *