Lima Karakteristik Akhlak Islam (Rabbaniyah, Insaniyah, Syamilah, Tawazun, Waqi’iyah) sebagai Kerangka Etika Keperawatan Modern
I. Pendahuluan
Keperawatan merupakan profesi yang berhubungan langsung dengan manusia sehingga kualitas pelayanan tidak hanya ditentukan oleh keterampilan klinis, tetapi juga oleh sikap moral perawat. Dalam praktik, perawat dapat menghadapi situasi seperti pasien yang menolak tindakan, perbedaan keyakinan, keterbatasan waktu dan sumber daya, kebutuhan privasi, serta kondisi psikologis keluarga. Karena itu, etika diperlukan agar keputusan klinis tetap menghormati keselamatan, martabat, hak, dan kebutuhan pasien.
Dalam perspektif Islam, akhlak dapat menjadi kerangka nilai bagi perawat. Lima karakteristik akhlak Islam, yaitu Rabbaniyah, Insaniyah, Syamilah, Tawazun, dan Waqi’iyah, tidak cukup dipahami sebagai konsep normatif, tetapi perlu diterjemahkan ke dalam keputusan dan perilaku klinis. Pembahasan berikut memperjelas hubungan setiap karakteristik dengan situasi keperawatan yang spesifik.
II. Pembahasan
Akhlak merupakan dasar seseorang dalam bersikap dan berperilaku. Dalam keperawatan, nilai tersebut berkaitan dengan penghormatan terhadap martabat, privasi, hak pasien, komunikasi, tanggung jawab, serta keselamatan. Etika profesi menjadi bagian penting dalam menjaga integritas dan profesionalitas perawat.
1. Rabbaniyah
Rabbaniyah berarti akhlak yang bersumber dari ajaran Allah SWT. Dalam profesi keperawatan, prinsip ini membuat perawat memandang kompetensi dan kewenangan sebagai amanah, sehingga tindakan tidak hanya dilakukan karena perintah atasan tetapi juga karena kesadaran moral. Kejujuran dalam dokumentasi, menjaga rahasia pasien, tidak membeda-bedakan pasien, dan menghindari tindakan yang diketahui tidak aman merupakan bentuk konkret penerapannya.
Contoh kasus klinis: seorang perawat menyadari bahwa dosis obat yang tertulis pada lembar pemberian obat tidak sesuai dengan kondisi pasien dan standar yang berlaku. Walaupun pemberian obat diminta untuk segera dilakukan, perawat tidak langsung memberikan obat. Ia melakukan verifikasi kepada tenaga kesehatan yang berwenang, mendokumentasikan temuan, dan memastikan instruksi yang benar sebelum obat diberikan. Tindakan ini menunjukkan amanah, kejujuran, dan tanggung jawab terhadap keselamatan pasien.
2. Insaniyah
Insaniyah menekankan nilai kemanusiaan. Penerapannya berarti pasien diperlakukan sebagai manusia yang memiliki martabat, perasaan, pilihan, dan kebutuhan, bukan hanya sebagai diagnosis. Dalam praktik, perawat perlu menghindari komunikasi yang merendahkan, meminta izin sebelum tindakan, menjaga privasi, dan memberi kesempatan pasien menyampaikan kekhawatiran.
Contoh kasus klinis: pasien perempuan akan menjalani pemasangan kateter dan tampak malu karena tindakan dilakukan di ruang dengan pasien lain. Perawat menjelaskan prosedur dengan bahasa sederhana, meminta persetujuan, menggunakan tirai penutup, menjaga bagian tubuh yang tidak perlu dibuka, serta memberi kesempatan pasien bertanya. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa keterampilan teknis harus berjalan bersama penghormatan terhadap martabat manusia.
3. Syamilah
Syamilah berarti menyeluruh. Dalam keperawatan, prinsip ini menuntut perawat melakukan pengkajian yang tidak berhenti pada masalah fisik, tetapi mencakup kondisi psikologis, sosial, dan spiritual. Pendekatan holistik penting karena berbagai dimensi tersebut dapat saling memengaruhi proses penyembuhan dan kualitas hidup pasien.
Contoh kasus klinis: pasien dengan penyakit kronis mengalami nyeri, sulit tidur, cemas terhadap biaya pengobatan, dan mengatakan bahwa dirinya kehilangan harapan. Jika perawat hanya berfokus pada skala nyeri, masalah pasien belum ditangani secara utuh. Perawat dapat mengkaji nyeri dan tidur, mendengarkan kecemasan pasien, mengidentifikasi dukungan keluarga, serta menanyakan kebutuhan spiritual pasien sesuai keyakinannya. Selanjutnya perawat berkolaborasi dengan tim kesehatan atau pihak yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
4. Tawazun
Tawazun berarti keseimbangan. Dalam keperawatan, keseimbangan bukan berarti mengurangi standar profesional demi kenyamanan pasien, tetapi mencari keputusan yang sekaligus menjaga keselamatan, hak, kebutuhan, dan martabat pasien. Perawat harus mampu menyeimbangkan tuntutan prosedur dengan komunikasi manusiawi, serta kepentingan pasien dengan kewajiban melindungi pasien dari risiko.
Contoh kasus klinis: pasien dewasa yang sadar menolak suatu tindakan karena memiliki kekhawatiran pribadi. Perawat tidak boleh memaksa hanya agar prosedur cepat selesai, tetapi juga tidak boleh membiarkan pasien mengambil keputusan tanpa informasi yang memadai. Perawat menjelaskan tujuan, manfaat, risiko, dan alternatif sesuai kewenangannya, memastikan pasien memahami informasi, kemudian melaporkan dan mendokumentasikan penolakan sesuai prosedur. Di sini tawazun terlihat pada keseimbangan antara penghormatan terhadap pilihan pasien dan kewajiban profesional menjaga keselamatan.
5. Waqi’iyah
Waqi’iyah berarti realistis dan mempertimbangkan keadaan nyata. Perawat menghadapi pasien dengan kemampuan memahami informasi, kondisi ekonomi, bahasa, budaya, tingkat kecemasan, serta dukungan keluarga yang berbeda. Karena itu, rencana edukasi dan komunikasi perlu disesuaikan dengan kondisi pasien, tetapi tidak boleh mengabaikan standar keselamatan dan batas kewenangan profesional.
Contoh kasus klinis: pasien dengan pendidikan terbatas diminta memahami cara perawatan luka di rumah. Jika perawat hanya memberikan penjelasan panjang dan istilah medis, pasien mungkin mengangguk tetapi belum tentu memahami. Penerapan Waqi’iyah dilakukan dengan menggunakan bahasa sederhana, demonstrasi langkah perawatan, meminta pasien mengulang atau mempraktikkan kembali, serta menyesuaikan edukasi dengan kemampuan dan sumber daya yang tersedia di rumah. Penyesuaian ini bukan menurunkan mutu pelayanan, tetapi membuat pelayanan lebih realistis dan dapat diterapkan.
III. Analisis Keterkaitan Kelima Karakteristik
Kelima karakteristik tidak berdiri sendiri. Rabbaniyah memberi dasar spiritual dan tanggung jawab moral; Insaniyah memastikan manusia tetap menjadi pusat perhatian; Syamilah memperluas pengkajian menjadi holistik; Tawazun membantu perawat menghadapi konflik antara beberapa kepentingan secara seimbang; sedangkan Waqi’iyah membuat penerapan nilai tersebut sesuai dengan kondisi nyata pasien. Dengan demikian, kelima karakteristik dapat membentuk alur berpikir etis: perawat menyadari amanahnya, menghormati manusia, melihat masalah secara menyeluruh, menimbang kepentingan yang berhadapan, lalu memilih tindakan yang realistis dan aman.
Penguatan ini penting karena dilema etika dalam keperawatan sering muncul ketika nilai-nilai yang baik harus diterapkan secara bersamaan. Misalnya, menghormati pilihan pasien tetap harus disertai informasi yang cukup; memberi pelayanan holistik tetap harus berada dalam batas kompetensi; dan menyesuaikan pelayanan dengan kondisi pasien tidak berarti mengabaikan keselamatan. Karena itu, akhlak Islam dapat dipahami bukan hanya sebagai sikap pribadi, tetapi sebagai kerangka pertimbangan dalam tindakan klinis.
IV. Penutup
Lima karakteristik akhlak Islam, yaitu Rabbaniyah, Insaniyah, Syamilah, Tawazun, dan Waqi’iyah, dapat menjadi kerangka nilai dalam etika keperawatan modern. Penerapannya perlu terlihat dalam situasi klinis nyata, seperti verifikasi obat dan kejujuran dokumentasi pada Rabbaniyah, perlindungan privasi pada Insaniyah, pengkajian fisik-psikologis-sosial-spiritual pada Syamilah, pengambilan keputusan yang menyeimbangkan hak pasien dan keselamatan pada Tawazun, serta penyesuaian edukasi dengan kemampuan pasien pada Waqi’iyah. Dengan penerapan tersebut, akhlak tidak berhenti sebagai konsep normatif, tetapi menjadi dasar perilaku profesional yang manusiawi, aman, bertanggung jawab, dan sesuai dengan nilai Islam.
Daftar Pustaka
Kementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Al-Qur’an dan terjemahannya: QS. An-Nahl ayat 90.
Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Sahih Muslim. Hadis tentang ihsan dalam segala sesuatu.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2025). DPP PPNI gelar workshop finalisasi Kode Etik Keperawatan Indonesia dan Pedoman Capaian Pembelajaran Etika.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2026). MKEK Pusat PPNI tinjau ulang capaian pembelajaran etik keperawatan: selaraskan standar etik dan terintegritas.
Çetinkaya-Uslusoy, E., Paslı-Gürdoğan, E., & Aydınlı, A. (2017). Professional values of Turkish nurses: a descriptive study. Nursing Ethics, 24(4), 493–501.
Ismail, M. F. M., Efendi, F., Shahadan, S. Z., & Bukhari, M. R. M. (2026). Moral agency in nursing: Islamic ethical perspectives. Nursing Ethics.
Lo, R., & Brown, R. (1999). Holistic care and spirituality: potential for increasing spiritual dimensions of nursing. Australian Journal of Holistic Nursing, 6(2), 4–9.
Lin, Y.-H., Liou, S.-H., & Chen, C.-H. (2008). Spiritual care in nursing practice. Hu Li Za Zhi, 55(3), 69–74.
World Health Organization. (2024). Patient Safety Rights Charter.
World Health Organization. (2009). Code of Ethics for Nurses and Midwives.
Husted, G. L., & Husted, J. H. (1995). The bioethical standards: the analysis of dilemmas through the analysis of persons. Advanced Practice Nursing Quarterly, 1(2), 69–76.
Kontributor: Diva Yuliarman
Editor: Jumangin, M.Pd.

