Bidan Muslimah Belajar dari Filosofi Khudi Muhammad Iqbal

I. Pendahuluan

Profesi bidan menghadapi tuntutan yang terus berkembang seiring perubahan pola penyakit, kemajuan teknologi kesehatan, dan meningkatnya harapan masyarakat terhadap pelayanan yang humanis. Seorang bidan muslimah dituntut tidak sekadar menguasai keterampilan klinis, tetapi juga memiliki kepribadian yang kokoh, kepercayaan diri, dan daya cipta untuk menghadapi situasi yang tidak selalu tertulis dalam buku teks, seperti kegawatdaruratan persalinan atau kondisi psikologis pasien yang beragam. Dalam kondisi seperti inilah gagasan filsafat Muhammad Iqbal tentang khudi menjadi relevan untuk direnungkan kembali.

Iqbal, seorang pemikir sekaligus penyair asal anak benua India, mengajukan konsep khudi sebagai kekuatan batin manusia yang harus terus ditumbuhkan melalui iman, ilmu, kerja keras, dan tindakan kreatif agar seseorang mampu menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi. Esai ini bertujuan menguraikan pokok pemikiran khudi Iqbal serta menelaah relevansinya dalam membentuk kepribadian bidan muslimah yang tangguh, percaya diri, dan kreatif dalam menjalankan tugas pelayanan kepada ibu dan bayi.

II. Pembahasan

Istilah khudi berasal dari bahasa Persia yang secara harfiah berarti kedirian atau keakuan. Iqbal memperkenalkan gagasan ini secara mendalam dalam karyanya Asrar-i Khudi, yang diterjemahkan oleh Nicholson ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Secret of the Self (Iqbal, 1983). Bagi Iqbal, khudi bukanlah dorongan egoisme yang mementingkan diri sendiri, melainkan kesadaran akan martabat, potensi, dan tanggung jawab yang dimiliki setiap individu untuk mencipta dan memperbaiki kehidupan. Pemikiran ini lahir dari keresahan Iqbal terhadap kemunduran umat Islam yang menurutnya banyak dipengaruhi oleh paham-paham yang mengajarkan penyangkalan diri dan peniadaan pribadi, sehingga umat kehilangan semangat berkarya. Iqbal menempatkan penguatan khudi melalui tiga tahap, yaitu ketaatan kepada hukum ilahi, pengendalian diri, dan puncaknya berupa kekhalifahan, ketika manusia menjadi wakil Tuhan yang aktif mencipta kebaikan di muka bumi (Masuri et al., 2020). Gagasan ini menempatkan manusia bukan sebagai makhluk pasif yang menyerah pada takdir, melainkan sebagai pribadi yang aktif berikhtiar dan berkarya.

Semangat penguatan diri yang digagas Iqbal ini sejalan dengan firman Allah dalam surah Ar-Ra’d ayat 11 berikut ini.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

Ayat tersebut bermakna, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11). Ayat ini menegaskan bahwa perubahan nasib seseorang maupun suatu kaum sangat ditentukan oleh usaha dan kesungguhan yang tumbuh dari dalam diri, bukan semata menunggu ketetapan dari luar. Prinsip ini beresonansi kuat dengan gagasan khudi Iqbal yang menolak sikap pasrah tanpa ikhtiar. Bagi seorang bidan muslimah, ayat ini mengingatkan bahwa kompetensi, ketenangan menghadapi kegawatdaruratan, maupun kemampuan berinovasi dalam asuhan kebidanan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan melalui pembelajaran yang terus-menerus, refleksi diri, dan keberanian mencoba pendekatan baru demi keselamatan ibu dan bayi.

Selain landasan Al-Qur’an, semangat pengembangan diri untuk keselamatan orang lain juga dikuatkan oleh hadis Nabi Muhammad ﷺ berikut ini.

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Hadis tersebut bermakna, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Ad-Daruquthni). Hadis ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari seberapa besar kekuatan atau kecerdasan yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama. Khudi dalam pandangan Iqbal juga tidak berhenti pada penguatan diri semata, melainkan harus bermuara pada tindakan nyata yang membawa kebaikan bagi masyarakat. Profesi bidan pada dasarnya adalah panggilan untuk menjadi bermanfaat, mendampingi perempuan sejak masa kehamilan, persalinan, hingga masa nifas, serta menjaga keselamatan generasi penerus. Ketika seorang bidan muslimah menghayati hadis ini, kekuatan khudi yang ia bangun tidak menjelma menjadi ambisi pribadi, melainkan energi kreatif yang diarahkan untuk memberi pelayanan terbaik.

Gagasan penguatan jiwa semacam ini sesungguhnya telah lama menjadi perhatian ulama klasik. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menguraikan pentingnya mujahadah al-nafs, yaitu upaya sungguh-sungguh menundukkan hawa nafsu serta mendidik jiwa agar condong pada kebaikan (Al-Ghazali, t.t.). Latihan batin yang ditekankan Al-Ghazali ini memiliki kemiripan struktural dengan tahapan ketaatan dan pengendalian diri yang digagas Iqbal, meskipun keduanya menulis pada zaman dan konteks yang berbeda. Bakhtiar (2013) turut menegaskan bahwa pendidikan agama Islam semestinya diarahkan untuk membentuk kepribadian yang utuh, mencakup kecerdasan intelektual, kematangan emosional, dan kepekaan spiritual, agar seorang muslim mampu berperan aktif dalam profesinya masing- masing. Khudi Iqbal dengan begitu dapat dipandang sebagai jembatan yang menghubungkan warisan tasawuf klasik tentang penyucian jiwa dengan kebutuhan manusia modern akan kepercayaan diri dan daya cipta dalam menjalani kehidupan profesional.

Kajian ilmiah kontemporer turut memperkuat relevansi gagasan khudi ini. Konsep efikasi diri yang berkembang dalam psikologi positif menunjukkan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri berperan besar dalam menentukan ketekunan, ketahanan menghadapi tekanan kerja, dan kualitas pengambilan keputusan pada profesi yang penuh risiko seperti kebidanan. International Confederation of Midwives (2019) menekankan bahwa kompetensi esensial seorang bidan tidak hanya mencakup keterampilan klinis, tetapi juga kematangan pribadi dan kemampuan mengambil keputusan secara mandiri, terutama pada situasi kegawatdaruratan maternal dan neonatal. Organisasi Kesehatan Dunia pun menegaskan bahwa pelayanan antenatal yang berkualitas menuntut tenaga kesehatan yang mampu membangun hubungan aktif dan bermakna dengan setiap perempuan yang didampinginya, bukan sekadar menjalankan kunjungan rutin (World Health Organization, 2016). Titik temu antara temuan ilmiah ini dengan gagasan khudi terletak pada keyakinan yang sama, bahwa kekuatan pribadi yang matang bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari proses pembentukan yang disengaja dan berkelanjutan.

Implementasi khudi dalam praktik kebidanan dapat dilihat dari berbagai sisi. Seorang bidan yang memiliki khudi yang kuat akan berani mengambil inisiatif ketika menghadapi kondisi persalinan yang tidak berjalan sesuai rencana, mampu menenangkan pasien dengan pendekatan komunikasi yang kreatif, serta terus memperbarui pengetahuannya agar asuhan yang diberikan senantiasa berbasis bukti terkini. Kreativitas semacam ini bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan buah dari kepribadian yang telah melalui proses ketaatan pada nilai, pengendalian diri di tengah tekanan, dan kesadaran akan peran sebagai wakil kebaikan di tengah masyarakat, persis sebagaimana tiga tahap yang digagas Iqbal. Bidan muslimah yang menghidupkan semangat khudi akan memandang setiap tantangan pelayanan bukan sebagai beban, melainkan ruang untuk terus tumbuh dan memberi manfaat, sehingga profesi ini dijalani dengan penuh makna dan bukan sekadar rutinitas harian.

III. Penutup

Konsep khudi yang digagas Muhammad Iqbal menawarkan perspektif yang kaya bagi pembentukan kepribadian bidan muslimah yang percaya diri, tangguh, dan kreatif. Melalui penghayatan terhadap perintah Allah untuk terus mengusahakan perubahan dari dalam diri, teladan Rasulullah untuk senantiasa bermanfaat bagi sesama, warisan ulama tentang penyucian jiwa, serta dukungan kajian ilmiah kontemporer mengenai efikasi diri dan kompetensi profesional, seorang bidan dapat membangun kekuatan batin yang menuntunnya untuk terus berinovasi dalam pelayanan tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai keislaman. Pada akhirnya, khudi bukan sekadar gagasan filosofis peninggalan masa lalu, melainkan sumber inspirasi yang tetap hidup untuk mendorong setiap bidan muslimah menjadi pribadi yang berdaya cipta dan bermanfaat luas bagi keselamatan ibu dan generasi penerus bangsa.

Berdasarkan pemaparan tersebut, penulis merekomendasikan agar institusi pendidikan kebidanan mulai mengintegrasikan penguatan kepribadian bergaya khudi ke dalam kurikulum pembelajaran, misalnya melalui pembiasaan refleksi diri, pelatihan pengambilan keputusan klinis, dan penguatan nilai spiritual dalam setiap praktik lapangan. Bagi calon bidan muslimah secara pribadi, penting untuk terus mengasah kepercayaan diri dan kreativitas profesional melalui pembelajaran berkelanjutan, sehingga pelayanan yang diberikan kepada ibu dan bayi senantiasa berpijak pada kompetensi klinis yang mumpuni sekaligus kematangan kepribadian yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Daftar Pustaka

Al-Ghazali, A. H. (t.t.). Ihya’ Ulumuddin. Dar al-Ma’rifah.

Bakhtiar, N. (2013). Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Aswaja Pressindo.

International Confederation of Midwives. (2019). Essential competencies for midwifery practice. ICM Press.

Iqbal, M. (1983). The secret of the self (Asrar-i Khudi) (R. A. Nicholson, Terj.). Ashraf Press. (Karya asli terbit 1915)

Masuri, M., Muqowin, & Radzjasa. (2020). Konsep khudi Iqbal dalam pengembangan kreatifitas pembelajaran di madrasah. Jurnal Penelitian Keislaman, 16(1), 49–60.

World Health Organization. (2016). WHO recommendations on antenatal care for a positive pregnancy experience. World Health Organization.

Kontributor: Vita Agustin

Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *