Dinamika Keimanan Mahasiswa Kesehatan di Tengah Tekanan Akademik dan Klinik
I. Pendahuluan
Menjadi mahasiswa merupakan fase pendidikan yang penting karena menjadi masa untuk memperoleh pengetahuan, mengembangkan kemampuan, serta mempersiapkan diri menghadapi kehidupan profesional. Namun, proses tersebut tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Sebagai mahasiswa kebidanan, seseorang tidak hanya dituntut memahami materi akademik, tetapi juga mengembangkan keterampilan klinis, tanggung jawab, komunikasi, dan sikap etis. Hal tersebut sejalan dengan tuntutan profesi kebidanan yang menempatkan kompetensi, akuntabilitas, integritas, dan penghormatan terhadap perempuan serta keluarga sebagai bagian penting dalam praktik kebidanan (International Confederation of Midwives [ICM], 2026).
Sejak awal perkuliahan, mahasiswa dihadapkan pada berbagai tuntutan, mulai dari materi teori yang padat, tugas, presentasi, ujian, hingga praktik klinik. Pada tahap klinik, mahasiswa harus menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam lingkungan pelayanan kesehatan serta berhadapan dengan pasien, keluarga pasien, dan tenaga kesehatan. Penelitian pada mahasiswa keperawatan menunjukkan bahwa tuntutan akademik dan lingkungan klinik merupakan sumber stres yang perlu diperhatikan dalam proses pendidikan kesehatan (Suen et al., 2016; Sarfika et al., 2023). Kondisi tersebut dapat menjadi semakin berat apabila mahasiswa mengalami kesulitan dalam mengatur waktu dan menyeimbangkan kewajiban akademik, kehidupan pribadi, serta kehidupan spiritual.
Dalam keadaan tersebut, keimanan memiliki posisi penting sebagai salah satu landasan dalam menjalani kehidupan dan menghadapi berbagai tantangan. Keimanan tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dapat tercermin dalam sikap terhadap diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, esai ini membahas dinamika keimanan mahasiswa kesehatan di tengah tekanan akademik dan klinik, termasuk kemungkinan perubahan semangat dalam menjalankan nilai-nilai agama serta upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara tuntutan pendidikan dan kehidupan spiritual.
II. Pembahasan
Al-Qur’an juga memberikan penguatan bahwa kesulitan tidak selalu menjadi akhir dari suatu proses. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Insyirah ayat 5–6: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Ayat ini dapat menjadi pengingat bagi mahasiswa bahwa tekanan dalam proses pendidikan perlu dihadapi dengan usaha, kesabaran, dan sikap optimistis. Pesan tersebut relevan dengan kondisi mahasiswa kesehatan yang harus menghadapi tuntutan akademik dan klinik secara bersamaan.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ٥ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ٦
(Q.S. Al-Insyirah: 5–6)
Selain itu, Q.S. At-Taubah ayat 51 mengajarkan sikap tawakal: “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa tawakal bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah setelah menjalankan ikhtiar. Dalam konteks mahasiswa kebidanan, sikap ini dapat diterapkan ketika menghadapi ujian, evaluasi keterampilan, maupun tekanan selama praktik klinik.
قُلْ لَّنْ يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا ۚ هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ
(Q.S. At-Taubah: 51)
Hadis Nabi Muhammad saw. juga menjelaskan bahwa iman memiliki banyak cabang. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda: “Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang, dan malu adalah salah satu cabang iman.” (H.R. Muslim, no. 35). Hadis ini menunjukkan bahwa iman tidak hanya berupa keyakinan dalam hati, tetapi juga tercermin melalui sikap dan perilaku. Bagi mahasiswa kesehatan, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui kejujuran, kesopanan, tanggung jawab, kepedulian, dan penghormatan terhadap pasien.
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
(H.R. Muslim, no. 35)
Hadis lain yang relevan dengan keteguhan menghadapi tekanan adalah sabda Rasulullah saw.: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.” Dalam hadis yang sama, Rasulullah saw. menganjurkan untuk mengambil manfaat dari hal yang berguna, memohon pertolongan kepada Allah, dan tidak mudah menyerah. Pesan tersebut dapat menjadi dasar bagi mahasiswa untuk tetap berusaha dalam belajar dan praktik klinik sekaligus mempertahankan sikap tawakal. (H.R. Muslim, no. 2664).
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
(H.R. Muslim, no. 2664)
Keimanan merupakan landasan yang memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan, mengambil keputusan, dan menjalankan tanggung jawab. Dalam perspektif Islam, iman tidak hanya berkaitan dengan keyakinan, tetapi juga berhubungan dengan sikap dan perbuatan. Al-Qur’an menggambarkan bahwa ketika ayat-ayat Allah dibacakan kepada orang-orang beriman, keimanan mereka bertambah. Hal ini terdapat dalam Q.S. Al-Anfal ayat 2 yang menjelaskan bahwa pembacaan ayat-ayat Allah dapat menambah iman dan mendorong seseorang untuk bertawakal (Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2010). Dengan demikian, keimanan dapat dipahami sebagai sesuatu yang perlu dipelihara melalui proses pembelajaran, penghayatan, dan pengamalan.
Dinamika keimanan menjadi semakin relevan ketika mahasiswa menghadapi tekanan pendidikan. Tekanan akademik dapat muncul dari banyaknya tugas, ujian, tuntutan pencapaian, keterbatasan waktu, serta harapan dari diri sendiri maupun lingkungan. Sementara itu, praktik klinik memberikan tantangan tambahan karena mahasiswa perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan pelayanan, memahami kondisi pasien, menerapkan keterampilan secara tepat, dan menerima evaluasi dari pembimbing. Penelitian terhadap mahasiswa keperawatan di Indonesia menunjukkan bahwa stres selama praktik klinik berkaitan dengan kondisi kesehatan, strategi koping, dukungan sosial, dan harga diri (Sarfika et al., 2023). Temuan lain juga menunjukkan bahwa lingkungan pembelajaran klinik dan hubungan dengan pembimbing dapat memengaruhi persepsi stres mahasiswa (Mazalová et al., 2022).
Tekanan yang terus-menerus dapat membuat mahasiswa merasa lelah secara fisik dan mental. Dalam keadaan tersebut, perhatian terhadap kehidupan spiritual dapat berkurang karena mahasiswa lebih banyak memusatkan perhatian pada penyelesaian tugas dan tuntutan praktik. Namun, kondisi tersebut tidak berarti bahwa tekanan secara otomatis menyebabkan penurunan keimanan. Respons setiap mahasiswa dapat berbeda. Sebuah penelitian terhadap mahasiswa kedokteran di perguruan tinggi Islam di Jakarta menemukan adanya hubungan negatif antara spiritualitas dan stres akademik. Semakin tinggi spiritualitas mahasiswa, semakin rendah tingkat stres akademik yang ditemukan dalam penelitian tersebut, meskipun spiritualitas hanya menjelaskan sebagian dari variasi stres (Rena, 2023). Temuan ini menunjukkan bahwa kehidupan spiritual dapat menjadi salah satu sumber daya dalam menghadapi tekanan, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan kondisi mahasiswa.
Hubungan antara spiritualitas dan tekanan juga terlihat pada pendidikan klinik. Hsiao et al. (2010) menemukan bahwa kesehatan spiritual pada mahasiswa keperawatan berkaitan dengan stres praktik klinik dan perilaku yang mendukung kesehatan. Penelitian lain menunjukkan bahwa program pembelajaran spiritual dapat meningkatkan kesehatan spiritual dan membantu menurunkan stres praktik klinik pada mahasiswa keperawatan (Hsiao et al., 2012). Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan dimensi spiritual dapat menjadi bagian yang mendukung proses pendidikan mahasiswa kesehatan. Dalam konteks mahasiswa kebidanan, hal ini dapat diterapkan dengan menjadikan proses belajar dan praktik sebagai kesempatan untuk mengembangkan kesabaran, tanggung jawab, kepedulian, dan keteguhan dalam menjalankan nilai-nilai agama.
Keimanan yang terpelihara juga dapat membantu mahasiswa memaknai proses pendidikan secara lebih positif. Tugas akademik dapat dipandang sebagai bagian dari proses memperoleh kompetensi, sedangkan praktik klinik dapat menjadi kesempatan untuk belajar memberikan pelayanan yang aman, menghargai pasien, dan bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan. Dalam pelayanan kesehatan, keselamatan pasien merupakan bagian mendasar dari mutu pelayanan. Organisasi Kesehatan Dunia menegaskan bahwa keselamatan pasien harus menjadi perhatian dalam seluruh lingkungan pelayanan kesehatan (World Health Organization [WHO], 2021). Karena itu, nilai keagamaan yang mendorong kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama dapat dihubungkan dengan pembentukan sikap profesional mahasiswa.
Dalam pendidikan kebidanan, penerapan nilai tersebut perlu berjalan bersama dengan standar profesional. ICM menempatkan hubungan yang saling menghormati, tanggung jawab profesional, kompetensi, dan penghormatan terhadap hak serta martabat perempuan sebagai bagian dari landasan etika kebidanan (ICM, 2026). Dengan demikian, keimanan tidak cukup hanya dipahami sebagai kegiatan ibadah secara pribadi, tetapi perlu diwujudkan melalui perilaku yang bertanggung jawab ketika belajar dan memberikan pelayanan. Kejujuran dalam mengerjakan tugas, ketelitian saat melakukan keterampilan klinik, menghormati pasien, menjaga kerahasiaan, serta bersedia menerima bimbingan merupakan contoh penerapan nilai yang mendukung pembentukan calon tenaga kesehatan yang profesional.
Manajemen waktu menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan mahasiswa untuk menjaga keseimbangan tersebut. Mahasiswa perlu menyusun prioritas antara kuliah, tugas, praktik klinik, istirahat, keluarga, dan ibadah. Pengaturan waktu yang realistis dapat membantu mahasiswa menghindari penumpukan tugas dan menyediakan ruang untuk kegiatan spiritual. Selain itu, mahasiswa perlu memiliki strategi koping yang sehat dan memanfaatkan dukungan dari keluarga, teman, dosen, serta pembimbing klinik. Penelitian pada mahasiswa keperawatan menunjukkan bahwa dukungan sosial dan strategi koping berkaitan dengan persepsi stres selama praktik klinik (Sarfika et al., 2023). Oleh sebab itu, menjaga keimanan perlu dilakukan bersamaan dengan pengelolaan tuntutan akademik dan pencarian dukungan ketika menghadapi kesulitan.
Perguruan tinggi juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan mahasiswa secara menyeluruh. Dukungan akademik, pembimbingan klinik yang baik, lingkungan belajar yang aman, serta ruang untuk pengembangan spiritual dapat membantu mahasiswa menghadapi tuntutan pendidikan. Hasil penelitian mengenai program pembelajaran spiritual pada mahasiswa keperawatan menunjukkan bahwa pendekatan yang terstruktur dapat memberikan manfaat terhadap kesehatan spiritual dan stres praktik klinik (Hsiao et al., 2012). Hal ini tidak berarti bahwa institusi harus menyeragamkan pengalaman keagamaan mahasiswa, tetapi dapat menyediakan lingkungan yang menghargai kebutuhan spiritual dan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan keseimbangan antara kemampuan akademik, keterampilan klinis, dan pembentukan karakter.
Dengan demikian, tekanan akademik dan klinik dapat menjadi tantangan sekaligus proses pembelajaran bagi mahasiswa kesehatan. Ketika tekanan dihadapi tanpa pengelolaan yang baik, mahasiswa dapat mengalami kelelahan dan kesulitan menjaga keseimbangan spiritual. Sebaliknya, ketika mahasiswa memiliki strategi koping, dukungan sosial, pengelolaan waktu, dan kehidupan spiritual yang baik, tekanan dapat menjadi pengalaman yang membantu membentuk kedewasaan, kesabaran, tanggung jawab, dan keteguhan. Keimanan dalam konteks ini bukan sekadar konsep yang dibahas dalam pembelajaran agama, tetapi nilai yang dapat diwujudkan dalam proses belajar dan praktik profesional.
III. Kesimpulan
Tekanan akademik dan praktik klinik merupakan bagian dari proses pendidikan mahasiswa kesehatan yang dapat memengaruhi kondisi fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Dinamika keimanan mahasiswa dapat dipengaruhi oleh cara mahasiswa menghadapi tuntutan tersebut. Bukti penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas berkaitan dengan tingkat stres pada mahasiswa kesehatan dan dapat menjadi salah satu sumber daya untuk menghadapi tekanan, meskipun pengaruhnya tidak berdiri sendiri (Hsiao et al., 2010; Rena, 2023). Oleh karena itu, keimanan perlu dipelihara melalui penghayatan dan pengamalan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa kebidanan perlu membangun keseimbangan antara kewajiban akademik, praktik klinik, kehidupan pribadi, dan kehidupan spiritual. Pengelolaan waktu, strategi koping yang sehat, dukungan sosial, serta lingkungan pendidikan yang mendukung dapat membantu mahasiswa menghadapi tekanan secara lebih terarah. Pada saat yang sama, nilai keimanan dapat diwujudkan melalui kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, penghormatan terhadap pasien, dan komitmen terhadap keselamatan serta mutu pelayanan. Dengan demikian, keberhasilan mahasiswa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh pencapaian akademik, tetapi juga oleh kemampuan membangun karakter dan menjalankan tanggung jawab profesional secara etis.
Daftar Pustaka
Hsiao, Y.-C., Chien, L.-Y., Wu, L.-Y., Chiang, C.-M., & Huang, S.-Y. (2010). Spiritual health, clinical practice stress, depressive tendency and health-promoting behaviours among nursing students. Journal of Advanced Nursing, 66(7), 1612–1622. https://doi.org/10.1111/j.1365-2648.2010.05328.x
Hsiao, Y.-C., Chiang, H.-Y., Lee, H.-C., & Chen, S.-H. (2012). The effects of a spiritual learning program on improving spiritual health and clinical practice stress among nursing students. The Journal of Nursing Research, 20(4), 281–290. https://doi.org/10.1097/jnr.0b013e318273642f
International Confederation of Midwives. (2026). International Code of Ethics for Midwives. International Confederation of Midwives.
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. (2010). Al-Qur’an dan tafsirnya: Edisi yang disempurnakan. Kementerian Agama Republik Indonesia.
Mazalová, L., Gurková, E., & Štureková, L. (2022). Nursing students’ perceived stress and clinical learning experience. Nurse Education in Practice, 64, 103457. https://doi.org/10.1016/j.nepr.2022.103457
Rena, S. (2023). The relationship between spirituality and stress: A study of medical students at Islamic universities in Jakarta. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 20(2), 181–194. https://doi.org/10.14421/jpai.v20i2.7833
Sarfika, R., Wenny, B. P., Muliantino, M. R., Novrianda, D., & Saifudin, I. M. M. Y. (2023). Exploring predictors of perceived stress: A cross-sectional study among nursing students during their clinical practice. Journal of Research in Nursing, 28(6–7), 469–482. https://doi.org/10.1177/17449871231198770
Suen, W. Q., Lim, S., Wang, W., & Kowitlawakul, Y. (2016). Stressors and expectations of undergraduate nursing students during clinical practice in Singapore. International Journal of Nursing Practice, 22(6), 574–583. https://doi.org/10.1111/ijn.12473
World Health Organization. (2021). Global patient safety action plan 2021–2030: Towards eliminating avoidable harm in health care. World Health Organization. ISBN 978-92-4-003270-5. https://www.who.int/publications/i/item/9789240032705
Al-Qur’an. Q.S. Al-Anfal: 2; Q.S. Al-Insyirah: 5–6; Q.S. At-Taubah: 51. Rujukan ayat digunakan sebagai landasan keagamaan dalam pembahasan keimanan, kesabaran, dan tawakal.
Muslim, I. (n.d.). Shahih Muslim, Kitab Iman, no. 35. Hadis tentang cabang-cabang iman.
Muslim, I. (n.d.). Shahih Muslim, Kitab Takdir, no. 2664. Hadis tentang mukmin yang kuat, ikhtiar, dan memohon pertolongan kepada Allah.
Kontributor: Rayya Nadia.N
Editor: Dr. Sumaryati, M.Pd.I.

