Ma’rifatullah Melalui Kajian Embriologi Al-Qur’an dan Kontribusinya Bagi Pemahaman Perkembangan Janin

Pendahuluan

    Manusia merupakan salah satu ciptaan Allah Swt. yang proses penciptaannya berlangsung melalui tahapan yang kompleks dan teratur. Kehidupan manusia tidak terbentuk secara sempurna sejak awal, melainkan mengalami serangkaian proses perkembangan secara bertahap, dimulai dari terjadinya pembuahan hingga berkembang menjadi embrio dan janin. Rangkaian proses tersebut menjadi salah satu bukti kekuasaan dan kebesaran Allah Swt. yang dapat dijadikan bahan perenungan untuk meningkatkan keimanan serta ma’rifatullah, yaitu upaya mengenal Allah Swt. melalui berbagai tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya. Al-Qur’an juga mengajak manusia untuk memperhatikan dan merenungkan proses penciptaan dirinya sebagai salah satu bukti kebesaran Allah Swt. Dengan demikian, kajian mengenai manusia, khususnya proses perkembangan embrio dan janin, tidak hanya memiliki nilai ilmiah, tetapi juga dapat menjadi sarana refleksi spiritual dalam mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

     Al-Qur’an menjelaskan proses penciptaan manusia, salah satunya dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12–14 yang menggambarkan beberapa tahapan perkembangan, mulai dari nuthfah, ‘alaqah, mudghah, pembentukan tulang, pembungkusan tulang dengan daging, hingga penciptaan manusia dalam bentuk yang sempurna (Irawan dkk., 2025). Sementara itu, ilmu embriologi modern menguraikan perkembangan manusia berdasarkan hasil penelitian ilmiah yang mencakup proses fertilisasi, pembelahan sel, implantasi, pembentukan lapisan embrional, organogenesis, serta pertumbuhan dan perkembangan janin selama masa kehamilan (Ainul Hayati dkk., 2026). Setiap tahapan tersebut mengalami perubahan struktur dan fungsi yang berlangsung secara bertahap hingga terbentuknya janin. Oleh sebab itu, kajian mengenai embriologi dalam perspektif Al-Qur’an penting untuk dipahami, khususnya oleh mahasiswa kebidanan, karena dapat memberikan pemahaman yang menggabungkan landasan ilmiah dengan nilai-nilai keagamaan, sehingga tidak hanya meningkatkan pengetahuan tentang perkembangan janin, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual serta rasa tanggung jawab dalam menghargai dan menjaga kehidupan manusia sejak tahap awal perkembangannya.

    Pembahasan

      Ma’rifatullah dapat dipahami sebagai kesadaran manusia untuk mengenal Allah Swt. melalui berbagai tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya. Salah satu tanda tersebut dapat dilihat melalui keberadaan dan penciptaan manusia itu sendiri. Allah Swt. berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 20–21:

      وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ ۝ وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ۝ 

      Artinya: “Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 20–21).

      Ayat tersebut mengajarkan manusia untuk mengamati dan merenungkan dirinya sebagai salah satu bukti kebesaran Allah Swt. Dalam bidang kesehatan, proses pertumbuhan dan perkembangan manusia sejak berada di dalam kandungan dapat menjadi salah satu hal yang menunjukkan kekuasaan tersebut. Kehidupan manusia yang bermula dari proses biologis yang sangat sederhana kemudian berkembang melalui pembelahan dan diferensiasi sel hingga menghasilkan berbagai macam jaringan dan organ. Keseluruhan proses tersebut berlangsung secara bertahap, teratur, dan melibatkan mekanisme biologis yang kompleks, sehingga dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran manusia terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah Swt (Hanafi, 1970).

       Penjelasan mengenai proses penciptaan dan perkembangan manusia dapat ditemukan dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12–14. Allah Swt. berfirman:

      وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ ۝ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ ۝ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ۝

      Artinya: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu lalu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun: 12–14).

      Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut menggambarkan proses penciptaan manusia yang berlangsung melalui beberapa tahapan secara berurutan. Nuthfah dijelaskan sebagai cairan reproduksi yang kemudian berkembang menjadi ‘alaqah, lalu berubah menjadi mudghah. Tahap berikutnya ditandai dengan terbentuknya tulang yang kemudian dilapisi dengan daging, hingga akhirnya manusia berkembang menjadi makhluk dengan bentuk dan keadaan yang berbeda (Harrie A. Fernando Zen, 2024). Uraian tersebut menunjukkan bahwa penciptaan manusia berlangsung melalui proses yang bertahap dan teratur, sekaligus menjadi gambaran mengenai kebesaran serta kekuasaan Allah Swt. dalam mengatur setiap proses penciptaan manusia.

      Meskipun demikian, kandungan ayat Al-Qur’an tersebut perlu dipahami secara tepat dan proporsional apabila dikaitkan dengan kajian embriologi. Al-Qur’an tidak dimaksudkan sebagai buku teks yang menguraikan seluruh proses dan mekanisme biologis secara terperinci, melainkan memberikan petunjuk serta mengarahkan manusia untuk merenungkan proses penciptaan dirinya. Sementara itu, ilmu embriologi berperan dalam menjelaskan tahapan dan mekanisme perkembangan manusia berdasarkan hasil penelitian, pengamatan, serta kajian ilmiah. Oleh karena itu, keterkaitan antara Al-Qur’an dan ilmu embriologi sebaiknya tidak dipahami dengan memaksakan kesesuaian setiap istilah secara harfiah dan satu per satu, tetapi sebagai keterkaitan antara nilai-nilai spiritual yang diberikan Al-Qur’an dengan pengetahuan ilmiah yang menjelaskan proses perkembangan manusia.

      Dalam kajian embriologi, perkembangan manusia diawali dengan proses fertilisasi, yaitu penyatuan antara sel sperma dan oosit yang kemudian menghasilkan zigot. Setelah terbentuk, zigot mengalami serangkaian pembelahan sel secara bertahap hingga berkembang menjadi morula dan selanjutnya blastokista. Blastokista kemudian menempel dan melakukan implantasi pada lapisan endometrium rahim, yang merupakan salah satu tahapan penting dalam mendukung kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan embrio pada fase awal.

       Setelah proses implantasi berlangsung, embrio terus mengalami perkembangan melalui tahapan diferensiasi sel dan pembentukan berbagai struktur tubuh. Memasuki minggu ketiga, terjadi proses gastrulasi yang menghasilkan tiga lapisan germinal, yaitu ektoderm, mesoderm, dan endoderm. Ketiga lapisan tersebut kemudian berkembang menjadi dasar pembentukan berbagai organ dan jaringan tubuh manusia. Perkembangan pada minggu ketiga hingga minggu kedelapan dikenal sebagai periode embrionik, yang menjadi tahap penting karena pada fase ini berlangsung proses organogenesis atau pembentukan organ-organ tubuh.

      Rangkaian perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa proses pembentukan manusia berlangsung secara kompleks dan terstruktur. Pertumbuhan sel tidak hanya ditandai dengan peningkatan jumlah sel, tetapi juga diikuti oleh proses diferensiasi yang menyebabkan setiap sel berkembang dengan bentuk, struktur, dan fungsi yang berbeda. Dalam Langman’s Medical Embryology, perkembangan manusia dijelaskan melalui beberapa tahapan, yang mencakup gametogenesis, perkembangan pada minggu pertama mulai dari ovulasi hingga implantasi, perkembangan pada minggu kedua dan ketiga, periode embrionik dari minggu ketiga sampai kedelapan, serta perkembangan janin yang berlangsung sejak bulan ketiga hingga proses kelahiran (Lash, 1964).

      Jika dipelajari dengan seksama, terdapat kesamaan mendasar antara penjelasan Al-Qur’an dan kajian embriologi, yaitu keduanya menggambarkan bahwa proses penciptaan dan perkembangan manusia berlangsung melalui beberapa tahapan. Namun, istilah yang digunakan dalam Al-Qur’an memiliki latar belakang bahasa serta pemaknaan berdasarkan tafsir, sedangkan istilah dalam embriologi merupakan bagian dari terminologi ilmiah yang digunakan dalam bidang kedokteran. Dengan demikian, kurang tepat apabila istilah-istilah Al-Qur’an secara langsung disamakan dengan istilah teknis dalam ilmu kedokteran modern. Pendekatan yang lebih tepat adalah memanfaatkan pemahaman mengenai embriologi sebagai sarana untuk mengamati, memahami, dan merenungkan keteraturan serta kebesaran Allah Swt. dalam proses penciptaan manusia.

      Hal tersebut sesuai dengan kandungan QS. Ali ‘Imran ayat 190–191 yang menggambarkan orang-orang yang senantiasa mengingat Allah Swt. sembari merenungkan penciptaan langit dan bumi. Pesan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan berpikir, mengamati, dan mempelajari berbagai fenomena yang ada di alam dapat menjadi bagian dari ibadah apabila mampu menumbuhkan kesadaran akan kebesaran dan kekuasaan Allah Swt. Oleh karena itu, dalam konteks ilmu kesehatan, mempelajari proses perkembangan embrio dan janin tidak semata-mata dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akademik, tetapi juga dapat dijadikan sebagai sarana tafakkur dan perenungan terhadap keteraturan serta kebesaran ciptaan Allah Swt (D. Mahmudin, 2023).

      Pembahasan tentang proses penciptaan manusia juga dijelaskan dalam hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud. Rasulullah saw. bersabda:

      إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ

      Artinya: “Sesungguhnya penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi ‘alaqah selama masa yang sama, kemudian menjadi mudghah selama masa yang sama. Kemudian malaikat diutus kepadanya lalu meniupkan ruh kepadanya…” (HR. Muslim No. 2643a).

      Hadis tersebut menunjukkan bahwa proses penciptaan manusia di dalam rahim memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam. Selain menjelaskan tahapan penciptaan manusia, hadis tersebut juga menghubungkannya dengan berbagai ketentuan kehidupan manusia, seperti rezeki, ajal, amal perbuatan, dan keadaan manusia. Dengan demikian, pembahasan mengenai penciptaan manusia dalam perspektif Islam tidak terbatas pada perkembangan fisik semata, tetapi juga mencakup dimensi kehidupan manusia secara menyeluruh, termasuk aspek spiritual dan ketentuan Allah Swt.

      Dalam memahami hadis tersebut, tahapan penciptaan manusia yang disebutkan di dalamnya perlu dipahami dalam konteks ajaran Islam dan tidak secara langsung disamakan dengan pembagian waktu dalam ilmu embriologi modern. Perbedaan istilah dan penyebutan tahapan dalam beberapa riwayat menunjukkan adanya aspek keagamaan yang memiliki konteks tersendiri. Oleh karena itu, pembahasan mengenai perkembangan manusia perlu menempatkan perspektif keagamaan dan ilmiah secara proporsional, tanpa mencampuradukkan keduanya. Dalam bidang kebidanan, pemahaman terhadap kedua perspektif tersebut dapat memberikan sudut pandang yang lebih luas mengenai proses kehamilan dan perkembangan embrio serta janin. Aspek ilmiah digunakan untuk memahami proses biologis selama kehamilan, sedangkan perspektif keagamaan dapat memberikan pemaknaan terhadap kehidupan dan proses penciptaan manusia. Keduanya dapat menjadi bagian yang saling melengkapi dalam memahami kehamilan secara menyeluruh.

      Pemahaman tentang proses pertumbuhan dan perkembangan embrio serta janin mempunyai hubungan yang erat dengan bidang kebidanan. Selama masa kehamilan, perkembangan janin terjadi melalui tahapan yang sistematis, dimulai dari proses fertilisasi, pembelahan sel, implantasi, pembentukan organ, hingga tahap pertumbuhan janin. Pengetahuan mengenai setiap tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam pelayanan kebidanan, khususnya untuk memantau keadaan ibu dan janin selama kehamilan. Dengan memahami proses perkembangan janin, kondisi kehamilan dapat dinilai sesuai dengan tahapan pertumbuhan yang sedang berlangsung sehingga berbagai perubahan selama kehamilan dapat diketahui dan dipahami dengan lebih baik.

      Selain itu, pemahaman mengenai perkembangan janin juga berperan dalam pemberian informasi dan edukasi kepada ibu hamil. Pengetahuan mengenai proses perkembangan embrio dan janin dapat membantu tenaga kebidanan dalam menjelaskan pertumbuhan janin, perubahan yang dialami selama kehamilan, serta pentingnya menjaga kesehatan ibu dan janin. Oleh karena itu, embriologi memiliki keterkaitan yang penting dengan ilmu kebidanan karena menjadi salah satu dasar ilmiah untuk memahami proses perkembangan manusia sejak tahap awal kehamilan.

      Pemahaman mengenai pertumbuhan dan perkembangan manusia memiliki keterkaitan yang erat dengan bidang kebidanan. Proses perkembangan sejak awal kehamilan berlangsung melalui tahapan yang teratur, mulai dari fertilisasi, pembelahan sel, implantasi, diferensiasi, hingga pembentukan organ dan pertumbuhan janin. Pemahaman terhadap tahapan tersebut menjadi salah satu dasar dalam mendukung pelayanan kebidanan, khususnya dalam memahami kondisi ibu dan janin selama masa kehamilan. Selain aspek ilmiah, pemahaman mengenai proses kehidupan juga dapat membentuk sikap profesional dalam memberikan pelayanan yang berorientasi pada keselamatan, kenyamanan, serta kesejahteraan ibu dan bayi.

      Dalam perspektif kebidanan, kajian embriologi tidak hanya berkaitan dengan pemahaman mengenai mekanisme biologis perkembangan embrio dan janin, tetapi juga memiliki hubungan dengan nilai-nilai keagamaan. Ilmu embriologi menjelaskan proses pertumbuhan manusia berdasarkan kajian ilmiah, sedangkan ajaran Islam memberikan pemaknaan terhadap kehidupan sebagai bagian dari ciptaan Allah Swt. Keterkaitan antara ilmu pengetahuan dan nilai keagamaan tersebut dapat menjadi landasan dalam memahami proses kehamilan secara lebih menyeluruh (Nasriyah & Ediyono, 2023). Dengan demikian, ilmu embriologi dapat mendukung pemahaman mengenai perkembangan embrio dan janin sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga kehidupan dalam praktik kebidanan.

      Perkembangan manusia merupakan proses yang kompleks dan berlangsung secara teratur. Berbagai tahapan, seperti fertilisasi, pembelahan sel, implantasi, diferensiasi, hingga pembentukan organ, menunjukkan adanya proses biologis yang saling berkaitan. Meskipun perkembangan manusia dapat dipelajari melalui pendekatan ilmiah, proses tersebut tetap memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi. Dalam konteks keagamaan, keteraturan tersebut dapat menjadi sarana untuk memahami serta menghayati kebesaran dan kekuasaan Allah Swt. Pemahaman tersebut juga dapat mendukung terbentuknya sikap profesional dalam pelayanan kebidanan yang mengedepankan tanggung jawab, kepedulian, dan penghargaan terhadap kehidupan.

      Berdasarkan hal tersebut, kajian embriologi dalam perspektif Al-Qur’an memiliki dua keterkaitan utama. Pertama, dari sisi ilmiah, kajian tersebut memberikan pemahaman mengenai proses pertumbuhan dan perkembangan embrio hingga menjadi janin. Kedua, dari sisi spiritual, pemahaman mengenai proses kehidupan dapat memperkuat kesadaran terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah Swt. Kedua aspek tersebut memiliki hubungan yang relevan dengan bidang kebidanan karena pelayanan kebidanan tidak hanya berkaitan dengan penerapan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga mencakup nilai tanggung jawab, kepedulian, serta penghormatan terhadap kehidupan ibu dan bayi.

      Penutup

        Kajian embriologi dalam perspektif Al-Qur’an memperlihatkan bahwa proses penciptaan manusia berlangsung melalui tahapan yang sistematis, teratur, dan kompleks. QS. Al-Mu’minun ayat 12–14 menggambarkan proses tersebut melalui beberapa tahap, yaitu nuthfah, ‘alaqah, mudghah, pembentukan tulang, pembungkusan tulang dengan daging, hingga penciptaan manusia dalam bentuk yang berbeda. Sementara itu, ilmu embriologi modern menjelaskan perkembangan manusia berdasarkan proses ilmiah, seperti fertilisasi, implantasi, diferensiasi sel, organogenesis, dan pertumbuhan janin. Kedua perspektif tersebut dapat dipahami secara beriringan dengan tetap membedakan antara pemaknaan berdasarkan tafsir keagamaan dan penggunaan istilah dalam ilmu pengetahuan. Bagi mahasiswa kebidanan, pemahaman ini tidak hanya dapat meningkatkan pengetahuan mengenai proses pertumbuhan dan perkembangan janin, tetapi juga dapat menumbuhkan rasa syukur, tanggung jawab, empati, serta penghargaan terhadap kehidupan. Oleh karena itu, mempelajari perkembangan manusia tidak sekadar menjadi bagian dari proses pembelajaran akademik, tetapi juga dapat menjadi sarana tafakkur untuk mengenali kebesaran Allah Swt. serta membentuk calon bidan yang memiliki kompetensi keilmuan sekaligus karakter moral dan spiritual yang baik.

        DAFTAR PUSTAKA

        Ainul Hayati, Y., Pitriyani, S., & Rifni Rosita, T. (2026). HAKIKAT PENCIPTAAN MANUSIA MELALUI DALIL AL-QUR’AN DAN HADIS SERTA INTEGRASI SAINS DAN SOSIAL. AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, 6(2), 158–167. https://doi.org/10.51476/03vdee47

        D. Mahmudin. (2023). Interpretasi Imam Al-Maraghi dan Ibnu Katsir Terhadap Q.S Ali Imran Ayat 190—191. Progressive of Cognitive and Ability, 2(4), 505–516. https://doi.org/10.56855/jpr.v2i4.869

        Hanafi, I. (1970). Perkembangan Manusia Dalam Tinjauan Psikologi dan Al-Qur’an. IQ (Ilmu Al-qur’an): Jurnal Pendidikan Islam, 1(01), 84–99. https://doi.org/10.37542/iq.v1i01.7

        Harrie A. Fernando Zen. (2024). KONSEP PENCIPTAAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN DAN ALKITAB: STUDI INTERTEKSTUALITAS JULIA KRISTEVA. Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, 1(2), 208–222. https://doi.org/10.62509/hjis.v1i2.133

        Irawan, J., Hamzani, A. A., Mujahid, A., Ramadhan, H. G., & Pratama, I. P. (2025). Penciptaan Manusia menurut QS. Al-Mu’minun Ayat 12-14: Studi Tafsir dan Sains. Jimmi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Multidisiplin, 2(3), 346–360. https://doi.org/10.71153/jimmi.v2i3.314

        Lash, J. W. (1964). Normal embryology and teratogenesis. American Journal of Obstetrics and Gynecology, 90(7), 1193–1207. https://doi.org/10.1016/0002-9378(64)90841-5

        Nasriyah, N., & Ediyono, S. (2023). DAMPAK KURANGNYA NUTRISI PADA IBU HAMIL TERHADAP RISIKO STUNTING PADA BAYI YANG DILAHIRKAN. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan, 14(1), 161–170. https://doi.org/10.26751/jikk.v14i1.1627

        Kontributor: Asyifaulima Fissudur

        Editor: Dr. Sumaryati, M.Pd.I.

        Tinggalkan Balasan

        Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *