Itqan Sebagai Standar Mutu: Titik Temu Etos Kerja Islami dengan Manajemen Kualitas Modern

Pendahuluan

Kualitas pekerjaan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan seseorang maupun suatu organisasi. Dalam kehidupan profesional, seseorang tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga harus mampu menghasilkan pekerjaan yang tepat, teliti, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Perkembangan dunia kerja yang semakin kompleks membuat kualitas tidak cukup hanya dinilai berdasarkan hasil akhir, tetapi juga berdasarkan proses, ketepatan, konsistensi, serta adanya perbaikan secara berkelanjutan.

Dalam perspektif Islam, nilai kualitas dalam pekerjaan dapat dikaitkan dengan konsep itqan. Secara umum, itqan menggambarkan sikap melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, teliti, teratur, dan sebaik mungkin. Konsep ini memiliki hubungan yang erat dengan etos kerja Islami karena pekerjaan dipandang bukan hanya sebagai aktivitas untuk memperoleh keuntungan, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab dan amanah. Penelitian mengenai konsep itqan dalam kehidupan profesional menunjukkan bahwa nilai tersebut berkaitan dengan ketertiban, kedisiplinan, ketepatan, keindahan pekerjaan, dan tanggung jawab profesional (Ismail et al., 2009).

Pada saat yang sama, manajemen kualitas modern berkembang dengan pendekatan yang lebih sistematis. ISO menjelaskan bahwa manajemen mutu mencakup prinsip seperti fokus pada pelanggan, kepemimpinan, keterlibatan orang, pendekatan proses, perbaikan, pengambilan keputusan berdasarkan bukti, dan pengelolaan hubungan. Prinsip-prinsip tersebut bertujuan menciptakan proses kerja yang konsisten dan mendorong peningkatan kualitas secara terus-menerus.

Oleh karena itu, konsep itqan memiliki relevansi yang kuat dengan manajemen kualitas modern. Keduanya sama-sama menekankan pentingnya kualitas, ketelitian, tanggung jawab, dan perbaikan. Perbedaannya terletak pada dasar motivasinya. Manajemen kualitas modern banyak menggunakan standar, prosedur, pengukuran, dan evaluasi, sedangkan itqan memberikan dimensi moral dan spiritual karena seseorang bekerja dengan kesadaran bahwa pekerjaannya merupakan bagian dari tanggung jawab kepada Allah Swt.

Pembahasan mengenai itqan sebagai standar mutu penting karena dunia kerja membutuhkan tenaga profesional yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab moral. Dalam bidang kesehatan, termasuk profesi gizi, kesalahan kecil dalam melakukan pengukuran, perhitungan kebutuhan gizi, pencatatan data, maupun pemberian informasi dapat memengaruhi kualitas pelayanan kepada pasien. Oleh sebab itu, penerapan itqan dapat menjadi dasar pembentukan budaya kerja yang teliti, amanah, dan berorientasi pada mutu.

Esai ini bertujuan untuk menjelaskan konsep itqan sebagai bagian dari etos kerja Islami, menganalisis hubungannya dengan prinsip manajemen kualitas modern, mengkaji landasannya berdasarkan Al-Qur’an dan hadis serta pendapat ahli, dan menjelaskan penerapannya dalam praktik profesi gizi.

Pembahasan

Itqan merupakan salah satu konsep penting dalam Islam yang berkaitan dengan kualitas dan kesempurnaan kerja. Secara umum, itqan dapat dipahami sebagai sikap melakukan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh, teliti, teratur, dan penuh tanggung jawab sehingga menghasilkan hasil yang terbaik sesuai kemampuan yang dimiliki. Dalam kehidupan profesional, konsep ini tidak hanya menekankan pencapaian hasil akhir, tetapi juga memperhatikan proses yang dilalui untuk mencapai hasil tersebut. Dengan demikian, itqan mengajarkan bahwa kualitas lahir dari keseriusan, ketelitian, dan komitmen terhadap pekerjaan yang dilakukan.

Konsep itqan memiliki hubungan yang erat dengan nilai ihsan, yaitu melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Dalam perspektif Islam, kualitas pekerjaan tidak hanya diukur dari aspek teknis, tetapi juga dari aspek moral seperti kejujuran, amanah, disiplin, dan tanggung jawab. Ismail et al. (2009) menjelaskan bahwa itqan mencerminkan profesionalisme seorang Muslim melalui kemampuan menghasilkan pekerjaan yang berkualitas, teratur, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, seseorang yang menerapkan itqan tidak akan merasa cukup hanya dengan menyelesaikan tugas, tetapi akan berusaha memastikan bahwa tugas tersebut benar-benar dikerjakan secara optimal.

Pentingnya kualitas kerja dalam Islam dapat dilihat dari firman Allah Swt. dalam QS. Al-Mulk ayat 2:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah tidak hanya menilai banyaknya amal yang dilakukan manusia, tetapi juga kualitas amal tersebut. Frasa ahsanu ‘amalan menegaskan bahwa ukuran keberhasilan bukan sekadar kuantitas pekerjaan, melainkan mutu dari pekerjaan itu sendiri. Dalam konteks profesional, ayat ini mengajarkan bahwa seseorang tidak cukup hanya produktif, tetapi juga harus memastikan bahwa pekerjaannya dilakukan secara benar, bermanfaat, dan bertanggung jawab.

Selain itu, QS. Al-Qasas ayat 77 mengajarkan agar manusia berbuat baik dan tidak menimbulkan kerusakan di muka bumi. Nilai tersebut menunjukkan bahwa setiap pekerjaan seharusnya memberikan manfaat bagi orang lain serta tidak menimbulkan dampak yang merugikan. Dengan demikian, konsep mutu dalam Islam tidak hanya berorientasi pada efisiensi dan pencapaian target, tetapi juga pada kemaslahatan dan tanggung jawab sosial.

Landasan lain yang sering dikaitkan dengan itqan adalah hadis Rasulullah saw.:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.”

Meskipun terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai kekuatan sanad hadis tersebut, maknanya sejalan dengan berbagai ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk bekerja secara profesional dan bertanggung jawab. Hadis ini memberikan pesan bahwa kualitas pekerjaan merupakan nilai yang dihargai dalam Islam sehingga setiap individu dianjurkan untuk memberikan hasil terbaik dalam setiap tugas yang diembannya.

Apabila dibandingkan dengan manajemen kualitas modern, konsep itqan memiliki banyak kesamaan. ISO 9001 menjelaskan bahwa kualitas organisasi dibangun melalui fokus pada pelanggan, kepemimpinan yang efektif, keterlibatan seluruh anggota organisasi, pendekatan proses, pengambilan keputusan berdasarkan bukti, pengelolaan hubungan, serta perbaikan berkelanjutan. Prinsip-prinsip tersebut bertujuan memastikan bahwa setiap kegiatan dilakukan secara sistematis sehingga mampu menghasilkan mutu yang konsisten dan dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Titik temu antara itqan dan manajemen kualitas modern terlihat pada penekanan terhadap kualitas hasil dan kualitas proses. Keduanya menolak praktik kerja yang asal selesai tanpa memperhatikan ketepatan dan standar yang berlaku. Prinsip fokus pada pelanggan, misalnya, memiliki kesamaan dengan ajaran Islam yang mendorong seseorang untuk memberikan manfaat dan pelayanan terbaik kepada sesama. Begitu pula prinsip keterlibatan orang dan pendekatan proses yang menuntut kedisiplinan, kerja sama, serta tanggung jawab pada setiap tahapan pekerjaan. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat itqan yang menekankan ketelitian dan kesungguhan dalam bekerja.

Kesamaan lainnya terlihat pada prinsip continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan. Dalam manajemen mutu modern, organisasi dituntut untuk terus melakukan evaluasi dan pembaruan agar mampu meningkatkan kualitas pelayanan maupun produk yang dihasilkan. Semangat yang sama juga terdapat dalam itqan, karena seseorang dituntut untuk terus memperbaiki kualitas dirinya dan tidak merasa puas dengan hasil yang masih dapat ditingkatkan. Oleh sebab itu, itqan bukan sekadar konsep tentang bekerja dengan baik, tetapi juga tentang komitmen untuk selalu menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Meskipun demikian, terdapat perbedaan mendasar antara itqan dan manajemen kualitas modern. Manajemen mutu modern pada umumnya dibangun melalui standar operasional, indikator kinerja, audit, evaluasi, dan sistem pengawasan yang terukur. Sistem tersebut efektif dalam menjaga konsistensi mutu organisasi, tetapi tidak selalu mampu menjamin terbentuknya integritas individu. Seseorang mungkin tetap mematuhi standar ketika berada dalam pengawasan, tetapi belum tentu memiliki motivasi yang sama ketika pengawasan tersebut tidak ada.

Di sinilah itqan memiliki keunggulan yang khas. Itqan membangun kesadaran bahwa setiap pekerjaan merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt. Kesadaran tersebut melahirkan motivasi internal yang mendorong seseorang untuk tetap menjaga kualitas pekerjaannya meskipun tidak sedang diawasi. Dengan kata lain, jika manajemen mutu modern berfungsi sebagai pengendali eksternal, maka itqan berfungsi sebagai pengendali internal yang berasal dari nilai moral dan spiritual. Kedua pendekatan ini tidak saling bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi dalam membangun budaya kerja yang profesional sekaligus berintegritas.

Relevansi itqan semakin terlihat dalam bidang kesehatan, khususnya profesi gizi. Pelayanan gizi menuntut tingkat ketelitian yang tinggi karena berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan pasien. Kesalahan dalam pengukuran antropometri, interpretasi data laboratorium, perhitungan kebutuhan energi, maupun penyusunan intervensi gizi dapat menyebabkan pelayanan yang diberikan menjadi kurang tepat. Oleh karena itu, tenaga gizi tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga sikap profesional yang didasari oleh tanggung jawab moral.

Penerapan itqan dalam profesi gizi dapat diwujudkan melalui ketelitian dalam mengumpulkan data pasien, kejujuran dalam pencatatan dan pelaporan, kehati-hatian dalam melakukan analisis, serta kesungguhan dalam memberikan edukasi kepada pasien. Selain itu, itqan juga tercermin dalam kemauan untuk terus meningkatkan kompetensi melalui pembelajaran dan pelatihan berkelanjutan. Sikap tersebut sejalan dengan prinsip perbaikan berkelanjutan yang menjadi salah satu dasar manajemen mutu modern.

Dengan demikian, itqan dan manajemen kualitas modern memiliki hubungan yang saling melengkapi. Manajemen mutu modern menyediakan standar, prosedur, dan sistem evaluasi yang terukur, sedangkan itqan memberikan landasan moral dan spiritual yang mendorong seseorang untuk menjalankan standar tersebut secara konsisten. Perpaduan keduanya dapat menghasilkan budaya kerja yang tidak hanya efektif dan berkualitas, tetapi juga amanah, berintegritas, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.

Penutup

Itqan merupakan salah satu nilai penting dalam etos kerja Islami yang menekankan kesungguhan, ketelitian, tanggung jawab, dan usaha menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Nilai tersebut memiliki titik temu yang kuat dengan manajemen kualitas modern yang menekankan standar, pendekatan proses, evaluasi, pengambilan keputusan berdasarkan bukti, kepuasan penerima layanan, dan perbaikan berkelanjutan.

Landasan Al-Qur’an, khususnya QS. Al-Mulk ayat 2, menunjukkan pentingnya kualitas amal manusia. Hadis mengenai itqan juga memberikan gambaran tentang pentingnya menyempurnakan pekerjaan, meskipun terdapat perbedaan penilaian ulama terhadap kekuatan sanadnya. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa itqan dapat dipahami sebagai konsep yang menggabungkan dimensi spiritual, moral, dan profesional.

Dalam profesi gizi, penerapan itqan dapat dilakukan melalui ketelitian dalam pengkajian data, perhitungan kebutuhan gizi, pemberian edukasi, pencatatan, pelayanan kepada pasien, evaluasi intervensi, serta peningkatan kompetensi. Dengan demikian, itqan dapat menjadi nilai yang memperkuat penerapan manajemen kualitas modern karena memberikan dasar moral dan spiritual bagi terciptanya budaya kerja yang berkualitas.

Penerapan itqan sebaiknya tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi diwujudkan dalam kebiasaan kerja sehari-hari. Institusi pendidikan maupun tempat kerja di bidang kesehatan dapat mengintegrasikan nilai itqan dengan standar operasional, evaluasi kinerja, peningkatan kompetensi, dan sistem manajemen mutu. Bagi mahasiswa gizi, penerapan itqan dapat dimulai sejak masa pendidikan melalui kebiasaan belajar dengan teliti, mengerjakan tugas secara jujur, melakukan praktikum sesuai prosedur, dan membangun sikap bertanggung jawab sebagai persiapan menjadi tenaga gizi yang professional.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an. QS. Al-Mulk [67]: 2. Diakses dari https://quran.com/67/2

Al-Qur’an. QS. Al-Qasas [28]: 77. Diakses dari https://quran.com/28/77

International Organization for Standardization (ISO). (2015). ISO 9001:2015 Quality Management Systems—Requirements. Geneva: International Organization for Standardization. Diakses dari https://www.iso.org/standard/62085.html

International Organization for Standardization (ISO). (2015). Quality Management Principles. Geneva: International Organization for Standardization. Diakses dari https://www.iso.org/publication/PUB100080.html

Ismail, A. F., Shuriye, A. O., & Adam, I. A. H. (2009). The Concept of Itqan and Its Role in Muslim Professional Life. Dalam Ethics of Engineering Education (hlm. 99–105). Kuala Lumpur: IIUM Press. Diakses dari https://irep.iium.edu.my/1250/

Rofie, M. K. H., Abd. Khalid, A. Z., & Abdullah, S. (2025). Prinsip Itqan sebagai Amalan Etika Kerja Berlandaskan Al-Quran dan Sunnah. Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam. Diakses dari https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/alfikr/article/view/63968

Kontributor: Suci Cahyati Ummi

Editor: Dr. Sumaryati, M.Pd.I.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *