Sintesis Kompetensi Kardiovaskular dan Spiritual: Dari Pencegahan Penyakit Jantung Hingga Pendampingan Fase Akhir Kehidupan
Pendahuluan
Penyakit kardiovaskular hingga saat ini masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. World Health Organization mencatat bahwa penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyebab kematian nomor satu secara global, dengan estimasi jutaan kematian setiap tahun, dan sebagian besar kasus sesungguhnya dapat dicegah melalui perbaikan gaya hidup (World Health Organization, 2021). Fakta ini menempatkan perawat pada posisi strategis, bukan hanya sebagai pemberi asuhan teknis-biomedis, tetapi juga sebagai pendamping manusia yang tengah bergulat dengan kerentanan hidup dan kematian. Paradoksnya, organ yang secara medis disebut jantung (qalb) dalam khazanah Islam justru juga menjadi simbol pusat spiritualitas manusia tempat bersemayamnya iman, ketenangan, dan kesucian batin.
Pentingnya topik ini terletak pada kenyataan bahwa keperawatan modern menganut paradigma asuhan holistik yang mencakup dimensi bio-psiko-sosio-spiritual. Sayangnya, berbagai kajian menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual pasien, khususnya pasien kritis dan terminal, masih sering terabaikan di tengah dominasi pendekatan biomedis (Nuraeni et al., 2015). Padahal, pada fase akhir kehidupan misalnya pasien gagal jantung tahap lanjut atau pasien pascahenti jantung yang tidak tertolong kebutuhan spiritual pasien dan keluarga justru berada pada puncaknya. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kompetensi kardiovaskular perawat mulai dari upaya preventif penyakit jantung hingga pendampingan pasien di ambang kematian dapat disintesiskan dengan nilai-nilai spiritual keislaman, sehingga asuhan keperawatan yang diberikan benar-benar utuh dan manusiawi.
Pembahasan
Secara konseptual, keperawatan kardiovaskular mencakup rangkaian kompetensi yang luas: promosi kesehatan jantung, deteksi dini faktor risiko, tindakan kegawatdaruratan seperti resusitasi jantung paru, hingga perawatan paliatif bagi pasien gagal jantung terminal. Rangkaian kompetensi ini tidak berdiri sendiri sebagai keterampilan teknis semata, sebab objek yang dirawat jantung manusia dalam pandangan Islam memiliki makna ganda: sebagai organ fisik (jasmani) sekaligus sebagai pusat kesadaran ruhani (qalb). Al-Ghazali dalam kitabnya menjelaskan bahwa qalb memiliki dua pengertian, yaitu pengertian lahiriah sebagai segumpal daging yang memompa darah ke seluruh tubuh, dan pengertian batiniah sebagai substansi halus tempat bersemayamnya iman dan pengetahuan tentang Allah (dikutip dalam kajian yang dipaparkan Masyhudi, sebagaimana disebut pada bagian analisis di bawah). Pemahaman inilah yang menjadi jembatan konseptual antara ilmu keperawatan kardiovaskular dan pendidikan agama.
Landasan Al-Qur’an yang sangat relevan dengan topik ini terdapat dalam Surah Asy-Syu’ara’ ayat 88–89, yang berbunyi:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (٨٨) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (٨٩)
Artinya: “(yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (qalbin salim)” (QS. Asy-Syu’ara’/26: 88–89).
Ayat ini menegaskan bahwa pada akhirnya, keselamatan manusia di hadapan Allah bukan ditentukan oleh kekayaan materi maupun keturunan, melainkan oleh kondisi hati yang selamat bersih dari syirik, kesombongan, dan penyakit batin. Menariknya, kata qalb yang digunakan dalam ayat ini secara linguistik identik dengan istilah medis untuk jantung. Sebagian ulama tasawuf, sebagaimana dikaji dalam telaah pemikiran Abdul Qadir al-Jailani tentang konsep qalbun salim, menjelaskan bahwa hati yang sehat secara ruhani akan tercermin pula dalam ketenangan dan kestabilan fisiologis manusia (Fauziah, 2023). Bagi perawat kardiovaskular, ayat ini memberi perspektif bahwa menjaga “kesehatan jantung” pasien seharusnya tidak berhenti pada dimensi fisiologis, tetapi juga menyentuh upaya menenteramkan hati pasien—sebuah hal yang secara ilmiah pun terbukti relevan, karena stres kronis dan kegelisahan psikologis merupakan faktor risiko independen bagi penyakit jantung koroner.
Landasan hadis yang secara eksplisit menghubungkan jantung fisik dan hati spiritual adalah hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari sahabat Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah al-qalb (hati/jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Hadis ini oleh sebagian ulama dimaknai secara jasmani, yaitu peringatan tentang betapa vitalnya fungsi jantung sebagai pemompa darah bagi seluruh organ tubuh; sementara ulama lain memaknainya secara ruhani, yaitu bahwa baik-buruknya seluruh perilaku manusia bersumber dari baik-buruknya hati. Kedua pemaknaan ini sesungguhnya saling melengkapi dan sangat relevan bagi perawat: secara jasmani, hadis ini menegaskan urgensi deteksi dini dan pencegahan penyakit jantung karena kerusakannya berdampak sistemik pada seluruh tubuh; secara ruhani, hadis ini mengingatkan bahwa asuhan keperawatan yang berpusat pada “memperbaiki kondisi hati” pasien memberi ketenangan, harapan, dan bimbingan spiritual merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menyembuhkan tubuh secara keseluruhan.
Relevansi ini semakin nyata ketika perawat memasuki ranah pendampingan fase akhir kehidupan (end of life care). Dalam kondisi pasien gagal jantung terminal atau pascahenti jantung yang prognosisnya buruk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan agar orang yang hendak wafat dituntun mengucapkan kalimat tauhid, sebagaimana sabdanya, “Talqinkanlah orang yang akan meninggal dunia di antara kalian dengan (ucapan) lā ilāha illallāh” (HR. Muslim no. 916). Anjuran ini menjadi dasar praktik pendampingan spiritual (talqin, doa, dan kehadiran menenangkan) yang idealnya menjadi bagian dari standar prosedur operasional perawat di ruang intensif, sejalan dengan tujuan agar pasien meninggal dalam keadaan tenang atau husnul khatimah.
Kajian ilmiah keperawatan turut memperkuat urgensi integrasi ini. Penelitian Nurmala et al. (2021) menemukan bahwa tingkat pengetahuan dan sikap spiritual perawat berpengaruh signifikan terhadap kualitas spiritual care yang diterima pasien di ruang perawatan. Penelitian Nuraeni et al. (2015) pada pasien kanker yang secara karakteristik serupa dengan pasien jantung terminal dalam hal beban penyakit kronis menunjukkan bahwa kebutuhan spiritual pasien mencakup dimensi religiusitas, kedamaian batin, dan pemaknaan eksistensial, namun pelayanan keperawatan di Indonesia masih terfokus pada aspek fisik semata. Sementara itu, studi terbaru Sa’pang et al. (2025) tentang pengalaman perawat dalam memenuhi spiritual care pasien terminal menegaskan bahwa dukungan spiritual berperan penting dalam meningkatkan
harapan dan kualitas hidup pasien menjelang ajal, sekaligus membantu keluarga mempersiapkan diri menghadapi kehilangan.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis berpandangan bahwa kompetensi kardiovaskular dan kompetensi spiritual bukanlah dua ranah yang terpisah, melainkan satu kesatuan asuhan yang saling menyempurnakan. Pada tahap promotif-preventif, perawat dapat mengintegrasikan edukasi kesehatan jantung (pola makan, aktivitas fisik, pengelolaan stres) dengan penguatan spiritual seperti anjuran dzikir dan shalat yang secara ilmiah terbukti menurunkan tekanan darah dan hormon stres. Pada tahap kuratif dan rehabilitatif, ketenangan hati pasien pascaserangan jantung dapat dibina melalui pendekatan spiritual yang mempercepat pemulihan psikologis. Adapun pada fase akhir kehidupan, perawat berperan sebagai jembatan antara teknologi medis dan kebutuhan ruhani pasien, misalnya dengan memfasilitasi kehadiran rohaniawan, membimbing talqin, serta memberi ruang bagi keluarga untuk mendampingi proses menjelang wafat dengan tenang dan bermartabat.
Penutup
Sintesis antara kompetensi kardiovaskular dan spiritual dalam praktik keperawatan menegaskan bahwa jantung manusia memiliki makna ganda sebagai organ vital yang harus dijaga kesehatannya secara fisiologis, sekaligus sebagai simbol qalbun salim yang menjadi penentu keselamatan hakiki di sisi Allah. Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara’ ayat 88–89 dan hadis tentang mudghah menegaskan keterkaitan erat antara kesehatan hati fisik dan ruhani, sementara berbagai kajian keperawatan membuktikan bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual berdampak nyata pada kualitas hidup dan ketenangan pasien, terutama pada fase akhir kehidupan. Oleh karena itu, disarankan agar institusi pendidikan keperawatan memperkuat muatan kompetensi spiritual dalam kurikulum, serta agar fasilitas kesehatan menyusun standar prosedur operasional pendampingan spiritual pasien terminal, sehingga asuhan keperawatan kardiovaskular yang diberikan benar-benar utuh: menyembuhkan jasad sekaligus menenteramkan hati.
Daftar Pustaka
Fauziah, N. (2023). Konsep qalbun salim menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani [Skripsi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung]. http://etheses.uinsgd.ac.id/17021/2/ABSTRAK.pdf
Nuraeni, A., Nurhidayah, I., Hidayati, N., Sari, C. W. M., & Mirwanti, R. (2015). Kebutuhan spiritual pada pasien kanker. Jurnal Keperawatan Padjadjaran, 3(2), 57–66. http://jkp.fkep.unpad.ac.id/index.php/jkp/article/view/101
Nurmala, N., Padhila, N. I., & Samsualam, S. (2021). Pengaruh tingkat pengetahuan dan sikap spiritual perawat terhadap spiritual care pasien. Window of Nursing Journal, 2(2), 130–138. http://jurnal.fkm.umi.ac.id/index.php/won/article/view/won2202
Sa’pang, F. A. E. R., Cici, Y., Hattu, S., Rosdiana, M., & Wirmando, W. (2025). Nurses experience in fulfilling spiritual care in patients with terminal illness. Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta, 12(3), 195–202. https://nursingjurnal.respati.ac.id/index.php/JKRY/index
World Health Organization. (2021). Cardiovascular diseases (CVDs). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cardiovascular-diseases
Kontributor: Rachel Anatasya Pratiwi
Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

