Hakikat dan Martabat Manusia sebagai Makhluk Beriman dalam Menolak Teori Evolusi Agama
Pendahuluan
Asal-usul kehidupan dan keberadaan manusia selalu menjadi topik yang menarik serta memicu perdebatan di ranah akademik. Secara garis besar, terdapat dua pandangan utama dalam melihat persoalan ini. Pandangan pertama adalah kreasionisme, yang meyakini bahwa makhluk hidup diciptakan oleh Allah Swt. secara langsung dan sempurna. Pandangan kedua beranggapan bahwa kehidupan berkembang secara bertahap melalui proses evolusi. Perdebatan ini tidak hanya terjadi pada tataran teori biologi, melainkan juga mencakup perbedaan pandangan yang mendalam antara sains dan agama. Dalam diskursus ilmu gizi dan kesehatan modern, pemahaman mengenai hakikat manusia sering kali tereduksi hanya pada dimensi fisik-biologis semata—seperti kebutuhan asupan nutrisi dan mekanisme fisiologis tubuh. Padahal, bagi mahasiswa gizi, pelayanan kesehatan yang paripurna tidak dapat dilepaskan dari martabat manusia sebagai makhluk beriman yang memiliki keutuhan jasmani dan spiritual.
Di tengah perdebatan mengenai asal-usul kehidupan, pemikiran Harun Yahya hadir dan menarik perhatian publik. Sebagai salah satu tokoh kreasionis asal Turki, ia secara tegas menolak teori evolusi dan mengkritik pandangan yang menganggap kehidupan muncul secara kebetulan. Harun Yahya berpendapat bahwa teori evolusi berpotensi mengarahkan seseorang pada paham ateisme karena mengabaikan peran Tuhan. Untuk memperkuat argumennya, ia mengajukan beberapa alasan utama, seperti tidak ditemukannya fosil transisi, rumitnya struktur tubuh makhluk hidup yang menunjukkan adanya penciptaan, serta klaim bahwa temuan sains modern justru membantah teori evolusi itu sendiri. Mengingat pemikiran Harun Yahya memberikan pengaruh yang besar terhadap pemahaman masyarakat mengenai hubungan antara sains dan Islam, topik ini sangat penting untuk dikaji lebih dalam. Melalui pendekatan studi pustaka (library research) dengan metode deskriptif-analitis, artikel ini bertujuan untuk memahami bagaimana konsep penciptaan menurut perspektif Harun Yahya sekaligus menelaah bentuk sanggahannya terhadap teori evolusi agama, serta mengaitkannya dengan martabat manusia dalam praktik pelayanan gizi holistik.
Pembahasan
Dalam ajaran Islam, manusia dipandang sebagai makhluk multidimensional yang membentang dari aspek biologis hingga potensi spiritual, meliputi tubuh, roh, dan akal. Al-Qur’an memotret karakteristik eksistensial manusia melalui tiga istilah utama, yaitu al-basyar, al-insan, dan an-nas. Konsep al-basyar menekankan dimensi wujud fisik dan kebutuhan jasmani manusia, sedangkan al-insan mengacu pada potensi akal, kesadaran, serta kelebihan spiritual yang membedakannya dari makhluk lain. Sementara itu, istilah an-nas menggambarkan eksistensi manusia dalam konteks kemasyarakatan yang bersifat inklusif tanpa memandang latar belakang kepercayaannya (Siregar, 2017). Proses penciptaan manusia dijelaskan secara bertahap dan terencana dalam Al-Qur’an sebagai wujud kehendak serta kekuasaan Allah Swt. (Husaini, 2021). Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Mu’minun [23] ayat 12–14:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ ١٢ ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ ۖ ١٣ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَاْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَ ۗ فَتَبٰرَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَ ۗ ١٤
Artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah (12). Kemudian, Kami jadikannya air mani di dalam tempat yang kokoh (rahim) (13). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik (14).”
Keutuhan struktur manusia terletak pada kesatuan yang integral antara aspek jasmani sebagai sarana berinteraksi dengan lingkungan, akal sebagai alat berpikir, serta roh yang menghubungkan jiwa manusia dengan nilai-nilai ketuhanan. Kedudukan mulia tersebut membawa konsekuensi berupa tanggung jawab moral yang melingkupi hubungan manusia dengan Pencipta, sesama, dan lingkungan (Damayanti et al., 2021). Landasan teologis mengenai kemuliaan asal penciptaan manusia ditegaskan dalam Surah Al-Isra’ [17] ayat 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ٧٠
Artinya: “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada meeka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
Kebenaran mengenai fitrah tauhid sebagai dimensi awal manusia juga ditegaskan dalam Hadis Riwayat Bukhari nomor 1385 dan Muslim nomor 2658:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Artinya: “Tidak ada seorang bayi pun yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi…”
Perkembangan pemikiran manusia tentang Tuhan menggambarkan dinamika peradaban dalam memahami kekuatan transendental. Dalam tradisi pemikiran Barat, sarjana seperti Max Müller, E.B. Tylor, hingga Robertson Smith merumuskan teori evolusionisme agama. Teori ini berasumsi bahwa konsep ketuhanan berkembang secara gradual, dimulai dari kepercayaan primitif yang sederhana menuju bentuk keyakinan yang lebih sempurna dan rasional (Bakhtiar, 2015). Dalam skema evolusionisme, tahapan tersebut diawali dari dinamisme (kepercayaan pada kekuatan gaib benda mati), berkembang menjadi animisme (keyakinan pada roh/arwah), politeisme (menyembah banyak dewa), henoteisme (menyembah satu tuhan utama tanpa menafikan tuhan lain), hingga mencapai monoteisme (kepercayaan mutlak pada satu Tuhan). Seiring pesatnya saintisme dan filsafat materialisme modern, lahir paham ateisme yang menolak secara total keberadaan Pencipta (Bakhtiar, 2015).
Sebagai tandingan atas narasi Barat tersebut, para pemikir Muslim mengajukan teori revolusionisme. Teori ini menegaskan bahwa titik mula sejarah manusia tidak diawali dari kesesatan primitif, melainkan dari kemurnian tauhid (monoteisme fitri). Perubahan menuju henoteisme, politeisme, animisme, hingga dinamisme justru merupakan bentuk degradasi spiritual akibat dominasi dorongan materialistis dan penyimpangan budaya (Juwaini, Rahmasari, & Suci, 2022). Jika dianalisis secara kritis dari sudut pandang epistemologi, teori evolusionisme Barat berpijak pada asumsi materialistis yang melihat agama sebagai produk kebudayaan semata. Teori tersebut berasumsi secara linear bahwa manusia bergerak dari kebodohan animisme menuju monoteisme atau ateisme rasional.
Namun, klaim evolusionisme ini terbantahkan oleh temuan sosiologi dan antropologi agama modern, salah satunya melalui konsep urmonotheismus (monoteisme purba) yang dikemukakan oleh Wilhelm Schmidt. Penelitian antropologi menunjukkan bahwa masyarakat tradisional paling purba sekalipun telah mengenal konsep Tuhan Penguasa Tunggal, sebelum akhirnya kepercayaan tersebut terdistorsi oleh masuknya pemujaan roh dan benda. Hal ini selaras dengan pandangan ulama klasik seperti Ibnu Katsir saat menafsirkan Surah Nuh. Beliau menjelaskan bahwa berhala kaum Nabi Nuh (Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr) pada mulanya adalah nama orang-orang saleh. Ketika mereka meninggal, masyarakat membuat patung untuk mengenang kebaikan mereka. Seiring berjalannya waktu dan hilangnya ilmu, patung-patung tersebut akhirnya disembah. Fakta historis ini membuktikan bahwa kemusyrikan adalah penyimpangan bertahap dari tauhid awal, bukan hasil evolusi dari animisme primitif. Ibnu Taimiyah dan Imam Al-Ghazali juga menegaskan bahwa mengenal Allah adalah fitrah dasar manusia, sedangkan ateisme modern merupakan bentuk pengabaian fitrah akibat dominasi materialisme.
Pemahaman atas hakikat dan martabat manusia ini memiliki implikasi substantif bagi pelayanan kesehatan dan gizi (Pribadi, Priatama Bagus, & Erniwati, 2022). Apabila manusia dipandang sekadar produk evolusi biologis, penanganan gizi hanya akan berfokus pada pemenuhan kalori dan biokimia tubuh semata secara mekanis. Sebaliknya, pengakuan terhadap manusia sebagai makhluk beriman (al-basyar, al-insan, dan an-nas) menuntut pendekatan pelayanan gizi yang holistik. Dimensi al-basyar diwujudkan melalui terapi gizi medik untuk pemulihan fisik pasien. Dimensi al-insan diterapkan dalam bentuk edukasi gizi yang bijak, rasional, dan memanusiakan pasien. Sementara itu, dimensi fitrah spiritual diwujudkan dengan memperhatikan aspek kehalalan makanan (Majelis Ulama Indonesia, 2003), kebiasaan ibadah, serta ketenangan jiwa pasien yang terbukti berpengaruh positif terhadap proses penyembuhan (healing process).
Penutup
Hakikat dan martabat manusia sebagai makhluk beriman pada dasarnya telah dimuliakan sejak awal penciptaan. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), martabat mencerminkan tingkat harkat kemanusiaan, sedangkan fitrah merujuk pada sifat asal dan kesucian bawaan sejak lahir. Prinsip ini sejalan dengan Surah Al-Isra’ ayat 70 yang menegaskan keutamaan kedudukan manusia di atas ciptaan lainnya, serta diperkuat oleh Hadis Riwayat Bukhari (No. 1385) dan Muslim (No. 2658) tentang fitrah kesucian setiap manusia. Berlandaskan dalil dan analisis tersebut, teori evolusi agama yang memosisikan monoteisme sekadar hasil perubahan bertahap dari kepercayaan primitif secara tegas ditolak. Teori Barat tersebut dinilai mengikis nilai kemuliaan manusia, sebab fenomena kemusyrikan hingga ateisme modern bukanlah proses pematangan pemikiran, melainkan bentuk distorsi atau penyimpangan dari fitrah tauhid awal. Bagi mahasiswa gizi, pemahaman mendalam atas martabat spiritual ini menjadi landasan kritis dalam menghadapi paradigma materialistis ilmu kesehatan modern. Integrasi nilai tauhid dalam ilmu gizi memastikan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya menyembuhkan fisik pasien, tetapi juga menghormati hakikat kemanusiaan dan spiritualitasnya secara utuh.
Daftar Pustaka
Bakhtiar, A. (2015). Filsafat Agama: Wisata Pemikiran Menuju Hakekat Keyakinan. Jakarta: Rajawali Pers.
Damayanti, R., Muliadi, & Firdaus. (2021). Tanggung Jawab Moral Manusia sebagai Khalifah dalam Perspektif Islam. Jurnal Pemikiran Islam, 128–155.
Husaini, A. (2021). Filsafat Ilmu dan Pendidikan Islam. Depok: Attaqwas Press.
Juwaini, Rahmasari, & Suci, L. (2022). Kritik Islam terhadap Teori Evolusionisme Kepercayaan: Kajian Perbandingan dengan Konsep Fitrah Tauhid. Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, 45–58.
Majelis Ulama Indonesia. (2003). Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Jakarta: Sekretariat Majelis Ulama Indonesia.
Pribadi, Priatama Bagus, & Erniwati. (2022). Tauhid Rububiyah sebagai Fondasi Epistemologis Ilmu Gizi Modern. Jurnal Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 89–102.
Siregar, A. (2017). Hakikat Manusia dalam Perspektif Al-Quran (Al-Basyar, Al-Insan dan An-Nas). Jurnal Hikmah, 33–42.
Kontributor: Aisyah
Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

