Hakikat Sakaratul Maut dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis Serta Relevansinya Bagi Keperawatan Paliatif
PENDAHULUAN
Kematian merupakan kepastian yang akan dialami setiap manusia. Dalam Islam, kematian bukanlah akhir dari seluruh kehidupan, melainkan bagian dari ketetapan Allah SWT dan jalan menuju kehidupan akhirat. Salah satu keadaan yang berkaitan dengan proses kematian adalah sakaratul maut, yaitu fase ketika seseorang menghadapi akhir kehidupannya. Pemahaman mengenai fase tersebut penting karena pasien pada akhir kehidupan dapat mengalami kebutuhan yang kompleks, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis, sosial, dan spiritual.
Pasien pada fase akhir kehidupan tidak hanya membutuhkan perawatan terhadap masalah fisik, tetapi juga perhatian terhadap aspek psikologis, sosial, dan spiritual. Keperawatan paliatif bertujuan mencegah dan mengurangi penderitaan serta meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga dengan memperhatikan berbagai aspek tersebut (World Health Organization [WHO], 2020). Dengan demikian, ketika kesembuhan tidak lagi menjadi tujuan utama, perawat tetap memiliki peran penting dalam memberikan kenyamanan, mengendalikan gejala sesuai kewenangan, mendampingi pasien, serta menjaga martabatnya.
Dalam perspektif Islam, manusia memiliki dimensi jasmani dan rohani. Oleh karena itu, pendampingan terhadap pasien menjelang kematian tidak cukup hanya berfokus pada kondisi fisik. Pemahaman terhadap nilai-nilai Islam dapat membantu perawat memberikan pelayanan yang sesuai dengan keyakinan pasien Muslim sekaligus tetap menghargai martabat, pilihan, dan kebutuhan pasien. Topik sakaratul maut penting dibahas karena perawat sering mendampingi pasien pada fase akhir kehidupan. Perawat tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memberikan dukungan emosional, komunikasi terapeutik, dan membantu memenuhi kebutuhan spiritual pasien.
Pemahaman mengenai sakaratul maut membantu perawat menyadari bahwa keberhasilan pelayanan pada pasien terminal tidak selalu berarti kesembuhan. Ketika penyakit tidak dapat disembuhkan, pelayanan dapat diarahkan pada pengendalian gejala, kenyamanan, kualitas hidup, dan penghormatan terhadap martabat pasien. Esai ini bertujuan menjelaskan hakikat sakaratul maut berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis serta menganalisis relevansinya dengan keperawatan paliatif dalam memenuhi kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual pasien pada akhir kehidupan.
PEMBAHASAN
Sakaratul maut merupakan fase ketika seseorang menghadapi proses akhir kehidupan. Dalam Islam, kematian merupakan ketetapan Allah SWT yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari manusia. Oleh karena itu, manusia perlu mempersiapkan diri secara spiritual dan menjalani kehidupan dengan baik. Bagi pasien terminal, pemahaman ini dapat membantu melihat akhir kehidupan sebagai bagian dari perjalanan manusia, tanpa menghilangkan kebutuhan untuk memperoleh perawatan yang aman, nyaman, dan bermartabat.
Keperawatan paliatif merupakan pendekatan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga dengan mencegah serta mengurangi penderitaan akibat penyakit serius. Pendekatan ini mencakup masalah fisik, psikologis, sosial, dan spiritual serta memperhatikan kebutuhan dan pilihan pasien (WHO, 2020). Dengan demikian, sakaratul maut dapat dipahami tidak hanya sebagai proses biologis, tetapi juga sebagai pengalaman yang berkaitan dengan kondisi psikologis, sosial, dan spiritual seseorang. Pemahaman tersebut sejalan dengan pendekatan keperawatan yang memandang pasien sebagai manusia secara utuh.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 57:
كلُُّ نَفْسٍ ذاَئِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثمَُّ إلَِيْنَا ترُْجَعُو نَ
Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2019). Ayat tersebut menegaskan bahwa kematian merupakan sesuatu yang pasti dialami setiap makhluk hidup dan manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT. Dalam keperawatan paliatif, pemahaman ini dapat menjadi dasar untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pasien meskipun kesembuhan tidak lagi menjadi tujuan utama. Perawatan tetap diarahkan pada kenyamanan, pengurangan penderitaan, dan penghormatan terhadap martabat pasien.
Allah SWT juga berfirman dalam QS. Qaf ayat 19:
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ
Artinya: “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2019). Ayat tersebut menggambarkan sakaratul maut sebagai kenyataan yang akan dihadapi manusia. Dalam praktik keperawatan, hal ini menjadi pengingat bahwa pasien pada fase akhir kehidupan membutuhkan pendampingan yang tenang, empatik, dan manusiawi. Perawat dapat memberikan kesempatan kepada pasien untuk menyampaikan perasaan, ketakutan, dan kekhawatirannya.
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya berbaik sangka kepada Allah SWT ketika menghadapi kematian. Dalam Sahih Muslim, Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda tiga hari sebelum wafatnya:
لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Artinya: “Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.” (Sahih Muslim, 2877a). Hadis tersebut mengajarkan pentingnya menjaga harapan dan tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT ketika menghadapi akhir kehidupan. Dalam keperawatan paliatif, nilai tersebut dapat diterapkan melalui dukungan spiritual yang sesuai dengan keinginan pasien. Pada pasien Muslim, perawat dapat memfasilitasi doa, dzikir, membaca atau mendengarkan Al-Qur’an, serta pendampingan keluarga atau tokoh agama apabila pasien menghendakinya. Dukungan diberikan dengan menghormati keyakinan dan pilihan pasien tanpa paksaan.
Suprayitno dan Setiawan (2021) menekankan pentingnya pemahaman terhadap nilai-nilai Islam dalam pemberian pelayanan paliatif agar perawat dapat memberikan pelayanan yang profesional dan sensitif terhadap keyakinan pasien. Spiritual care tidak menggantikan pelayanan medis, tetapi melengkapinya. Perawat perlu memahami kebutuhan spiritual pasien agar asuhan yang diberikan tidak hanya berfokus pada penyakit, tetapi juga memperhatikan pengalaman pasien sebagai manusia yang sedang menghadapi kondisi serius.
Dos Santos et al. (2022) melalui systematic review mengkaji intervensi spiritual yang diberikan perawat di rumah sakit atau fasilitas perawatan jangka panjang. Hasil kajian menunjukkan bahwa intervensi spiritual dapat membantu memenuhi kebutuhan spiritual pasien dan berpotensi memberikan manfaat terhadap kondisi psikologis dan spiritual, meskipun terdapat variasi dalam metode penelitian. Gijsberts et al. (2019) melalui systematic review juga menunjukkan bahwa spiritual care merupakan bagian penting dalam pelayanan paliatif dan perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta keyakinan pasien. Kajian tersebut menekankan pentingnya kompetensi tenaga kesehatan dalam memberikan perawatan spiritual.
De Diego-Cordero et al. (2022) melalui systematic review dan metaanalysis menunjukkan bahwa intervensi religius dan spiritual dalam pelayanan keperawatan dapat memberikan manfaat terhadap beberapa aspek kesehatan mental, fisik, dan spiritual. Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien. Al-Harrasi et al. (2025) menjelaskan bahwa agama, budaya, dan keterlibatan keluarga dapat memengaruhi penerimaan terhadap perawatan paliatif. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya pelayanan yang sensitif terhadap nilai agama dan budaya. Karena penelitian berfokus pada masyarakat Arab, penerapannya pada pasien Muslim di Indonesia tetap perlu mempertimbangkan konteks budaya dan kondisi pasien secara individual.
Berdasarkan pembahasan tersebut, penulis berpendapat bahwa sakaratul maut perlu dipahami sebagai proses akhir kehidupan yang memiliki dimensi biologis dan spiritual. Al-Qur’an menegaskan bahwa kematian merupakan kepastian, sedangkan Hadis mengajarkan pentingnya berbaik sangka kepada Allah SWT ketika menghadapi akhir kehidupan. Pada pasien terminal, keberhasilan pelayanan keperawatan tidak selalu ditentukan oleh kesembuhan. Perawat tetap berperan dalam mengurangi penderitaan, mengendalikan gejala sesuai kewenangan, meningkatkan kenyamanan, dan menjaga martabat pasien.
Pemahaman mengenai sakaratul maut dapat diterapkan melalui pengkajian kebutuhan pasien secara menyeluruh. Perawat dapat mengidentifikasi kondisi fisik, tingkat kenyamanan, kondisi psikologis, dukungan keluarga, serta kebutuhan spiritual pasien. Dalam aspek fisik, perawat membantu mengurangi gejala seperti nyeri, sesak, mual, dan ketidaknyamanan lainnya sesuai kewenangan dan rencana perawatan. Dalam aspek psikologis, perawat menggunakan komunikasi terapeutik, empati, dan mendengarkan secara aktif agar pasien dapat menyampaikan perasaan serta kekhawatirannya.
Dalam aspek spiritual, pasien Muslim dapat difasilitasi untuk berdoa, berdzikir, membaca atau mendengarkan Al-Qur’an, serta memperoleh pendampingan keluarga atau tokoh agama apabila diinginkan. Keluarga juga dapat dilibatkan sebagai sumber dukungan emosional. Perawat perlu memastikan bahwa dukungan spiritual diberikan berdasarkan kebutuhan dan persetujuan pasien, bukan berdasarkan asumsi atau paksaan. Pelayanan paliatif pada pasien Muslim dapat memperhatikan aspek medis dan spiritual secara seimbang sehingga pasien tetap memperoleh perawatan yang holistik dan bermartabat sampai akhir kehidupan.
PENUTUP
Sakaratul maut merupakan fase akhir kehidupan yang pasti akan dialami manusia. Al-Qur’an menjelaskan bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian dan menggambarkan sakaratul maut sebagai kenyataan yang tidak dapat dihindari. Hadis Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar manusia tetap berbaik sangka kepada Allah SWT ketika menghadapi akhir kehidupan. Pemahaman tersebut relevan dengan keperawatan paliatif karena pasien pada akhir kehidupan membutuhkan perawatan secara holistik. Perawat tidak hanya memperhatikan kondisi fisik, tetapi juga aspek psikologis, sosial, dan spiritual.
Dukungan spiritual yang sesuai dengan keyakinan dan pilihan pasien dapat menjadi bagian dari pelayanan yang membantu menjaga kenyamanan dan martabat pasien. Oleh karena itu, perawat perlu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam keperawatan paliatif, terutama mengenai komunikasi akhir kehidupan dan pemenuhan kebutuhan spiritual. Institusi pendidikan dan pelayanan kesehatan juga diharapkan memberikan pembelajaran mengenai spiritual care dan pelayanan yang sensitif terhadap agama serta budaya agar pasien memperoleh perawatan yang manusiawi, holistik, dan bermartabat. Dengan pendekatan tersebut, perawat dapat mendampingi pasien dan keluarga secara profesional sekaligus menghormati nilai, keyakinan, dan pilihan pasien sampai akhir kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Harrasi, A., Al-Riyami, N., AlMusalami, A., AlMujaini, R., AlYafai, E., Al Mahyijari, N., & Al Zaabi, A. (2025). Cultural acceptance of palliative care in Arab societies. In K. Bullock (Ed.), Global perspectives on palliative care. IntechOpen. https://doi.org/10.5772/intechopen.1009422
de Diego-Cordero, R., Suárez-Reina, P., Badanta, B., Lucchetti, G., & VegaEscaño, J. (2022). The efficacy of religious and spiritual interventions in nursing care to promote mental, physical and spiritual health: A systematic review and meta-analysis. Applied Nursing Research, 67, 151618. https://doi.org/10.1016/j.apnr.2022.151618
Dos Santos, F. C., Macieira, T. G. R., Yao, Y., Hunter, S., Madandola, O. O.,
Cho, H., Bjarnadottir, R. I., Dunn Lopez, K., Wilkie, D. J., & Keenan, G. M. (2022). Spiritual interventions delivered by nurses to address patients’ needs in hospitals or long-term care facilities: A systematic review.
Journal of Palliative Medicine, 25(4), 662–677. https://doi.org/10.1089/jpm.2021.0578
Gijsberts, M. J. H. E., Liefbroer, A. I., Otten, R., & Olsman, E. (2019). Spiritual care in palliative care: A systematic review of the recent European literature. Medical Sciences, 7(2), 25.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya.
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Sahih Muslim (Hadith 2877a).
Suprayitno, E., & Setiawan, I. (2021). Nurses’ roles in palliative care: An Islamic perspective. Belitung Nursing Journal, 7(1), 50–54. https://doi.org/10.33546/bnj.1254
World Health Organization. (2020). Palliative care. https://www.who.int/newsroom/fact-sheets/detail/palliative-care
Kontributor: Natasha Alanisa Harahap
Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

