Tahapan Penciptaan Manusia dalam Al-Qur’an dan Relevansinya bagi Pembelajaran Embriologi Gizi
I. Pendahuluan
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah Swt. yang memiliki kedudukan istimewa karena dianugerahi akal, perasaan, dan kemampuan untuk memahami kehidupan. Dalam perspektif Islam, penciptaan manusia merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Swt. yang perlu direnungkan. Al-Qur’an tidak hanya menjelaskan manusia sebagai makhluk yang berasal dari tanah, tetapi juga menggambarkan proses perkembangannya di dalam rahim secara bertahap. Pemahaman terhadap proses tersebut menjadi menarik ketika dikaji bersama ilmu pengetahuan, khususnya embriologi yang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan manusia sejak fertilisasi hingga kelahiran.
Pembelajaran Embriologi Gizi memiliki keterkaitan yang kuat dengan kajian tersebut karena perkembangan embrio dan janin tidak terlepas dari kondisi kesehatan serta kecukupan gizi ibu. Ilmu embriologi menjelaskan proses fertilisasi, pembelahan sel, implantasi, diferensiasi, dan pembentukan organ, sedangkan ilmu gizi membahas zat gizi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan selama kehamilan. Oleh karena itu, esai ini membahas tahapan penciptaan manusia berdasarkan Al-Qur’an dan hadis, mengaitkannya secara proporsional dengan ilmu embriologi, serta menjelaskan relevansinya bagi pembelajaran Embriologi Gizi.
II. Pembahasan
Al-Qur’an memberikan gambaran mengenai proses penciptaan manusia melalui beberapa tahapan. Salah satu ayat yang paling jelas membahasnya adalah QS. Al-Mu’minun ayat 12–14. Allah Swt. berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ ١٢
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ ١٣
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ ١٤
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat (‘alaqah), lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging (mudghah), dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun: 12–14).
QS. Al-Mu’minun ayat 12–14 menunjukkan bahwa penciptaan manusia digambarkan sebagai suatu proses yang bertahap. Istilah nutfah, ‘alaqah, dan mudghah menjadi bagian penting dari narasi tersebut. Ayat ini dapat menjadi dasar keagamaan untuk mengajak mahasiswa memahami bahwa perkembangan manusia berlangsung secara teratur. Dalam kajian ilmiah, istilah Al-Qur’an tidak perlu dipaksakan menjadi padanan satu per satu dengan istilah embriologi modern karena Al-Qur’an dan ilmu embriologi memiliki konteks serta metode penjelasan yang berbeda.
Penjelasan tentang perkembangan manusia di dalam rahim juga terdapat dalam QS. Az-Zumar ayat 6. Allah Swt. berfirman:
يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِّن بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ۚ
Artinya: “Dia menciptakan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, milik-Nya segala kerajaan. Tidak ada tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (QS. Az-Zumar: 6).
Frasa “kejadian demi kejadian” menunjukkan adanya perkembangan manusia secara bertahap di dalam rahim. Hal ini dapat menjadi pengantar pembelajaran sebelum mahasiswa mempelajari tahapan perkembangan embrio secara biologis. Al-Qur’an dalam konteks ini dapat memberikan landasan spiritual dan reflektif, sedangkan embriologi menjelaskan mekanisme perkembangan berdasarkan penelitian ilmiah.
Penjelasan mengenai tahapan penciptaan manusia juga ditemukan dalam hadis Nabi Muhammad saw. Salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud r.a. dan tercantum dalam Sahih al-Bukhari nomor 3208 menjelaskan bahwa penciptaan manusia di dalam rahim berlangsung melalui tahapan nutfah, kemudian ‘alaqah, dan kemudian mudghah. Hadis tersebut juga menjelaskan adanya pengutusan malaikat serta peniupan ruh setelah tahapan penciptaan yang disebutkan (Al-Bukhari, n.d.).
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا
“Sesungguhnya penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan di dalam perut ibunya selama empat puluh hari…” (HR. Al-Bukhari No. 3208).
Hadis tersebut memperkuat pemahaman bahwa penciptaan manusia berlangsung melalui tahapan. Namun, keterangan waktu dalam hadis sebaiknya tidak langsung disamakan dengan pembagian waktu embriologi modern secara sederhana. Dalam penulisan ilmiah, hadis diposisikan sebagai sumber keagamaan, sedangkan rincian mekanisme perkembangan embrio dikaji berdasarkan ilmu embriologi.
Menurut ilmu embriologi, perkembangan manusia dimulai dari fertilisasi, yaitu pertemuan sel sperma dan ovum yang menghasilkan zigot. Zigot kemudian mengalami pembelahan sel berturut-turut hingga membentuk morula dan blastokista. Blastokista selanjutnya melakukan implantasi pada dinding rahim. Perkembangan berikutnya melibatkan diferensiasi sel dan pembentukan lapisan embrional yang menjadi dasar terbentuknya berbagai jaringan dan organ tubuh (Khan & Ackerman, 2023; Oliver & Basit, 2023).
Perkembangan embrio merupakan proses yang kompleks dan melibatkan banyak perubahan yang berlangsung saling berkaitan. Pada masa awal kehamilan terjadi pembentukan dasar berbagai organ, kemudian pertumbuhan dan pematangan organ berlanjut selama masa janin. Plasenta juga berperan penting sebagai organ yang menjadi penghubung antara ibu dan janin serta mendukung pertukaran zat yang diperlukan untuk perkembangan janin.
Jika dibandingkan secara hati-hati, Al-Qur’an dan hadis sama-sama memberikan gambaran bahwa penciptaan manusia berlangsung melalui tahapan, sedangkan embriologi modern memberikan uraian yang lebih rinci mengenai mekanisme biologisnya. Keterkaitan tersebut lebih tepat digunakan sebagai pendekatan integratif daripada sebagai klaim bahwa seluruh istilah Al-Qur’an merupakan istilah teknis embriologi. Pendekatan ini membuat pembelajaran tetap ilmiah sekaligus mempertahankan nilai keagamaan.
Dalam konteks gizi, perkembangan embrio dan janin sangat dipengaruhi oleh keadaan kesehatan dan kecukupan zat gizi ibu. Kehamilan meningkatkan kebutuhan beberapa zat gizi karena tubuh ibu harus mendukung perubahan fisiologis sekaligus pertumbuhan janin. WHO merekomendasikan suplementasi harian zat besi dan asam folat selama kehamilan karena kebutuhan kedua zat tersebut meningkat dan kekurangannya dapat berdampak pada kesehatan ibu serta perkembangan janin (World Health Organization [WHO], 2024).
Asam folat memiliki peranan penting pada perkembangan awal sistem saraf, sedangkan zat besi diperlukan dalam pembentukan hemoglobin dan mendukung kebutuhan ibu serta janin. Yodium juga penting untuk perkembangan otak janin dan kebutuhan yodium meningkat selama kehamilan (WHO, 2023). Selain itu, energi, protein, kalsium, vitamin D, vitamin A, dan berbagai mikronutrien dibutuhkan dalam jumlah yang sesuai untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan. Oleh sebab itu, pembelajaran Embriologi Gizi perlu menghubungkan perubahan perkembangan embrio dengan faktor gizi yang dapat mendukung atau mengganggu proses tersebut.
Integrasi Al-Qur’an, hadis, embriologi, dan ilmu gizi dapat diterapkan dalam pembelajaran melalui analisis ayat, diskusi hadis, studi literatur embriologi, serta pembahasan kasus gizi pada kehamilan. Mahasiswa dapat terlebih dahulu memahami konsep penciptaan manusia dari sumber keagamaan, kemudian mempelajari mekanisme biologis berdasarkan literatur ilmiah, dan akhirnya menghubungkannya dengan kebutuhan gizi ibu serta perkembangan janin. Pendekatan seperti ini dapat membantu mahasiswa tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kesadaran spiritual, dan tanggung jawab profesional sebagai calon tenaga gizi.
III. Penutup
Penciptaan manusia dalam Al-Qur’an dan hadis berlangsung melalui tahapan yang teratur di dalam rahim, seperti nutfah, ‘alaqah, dan mudghah. Tahapan tersebut dapat dikaitkan dengan ilmu embriologi yang menjelaskan proses fertilisasi, pembelahan sel, implantasi, dan perkembangan organ. Dalam pembelajaran Embriologi Gizi, pemahaman ini penting karena pertumbuhan janin juga dipengaruhi oleh kecukupan zat gizi ibu, seperti asam folat, zat besi, dan yodium. Integrasi antara nilai keagamaan, embriologi, dan ilmu gizi dapat memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh serta menumbuhkan rasa syukur dan tanggung jawab dalam menjaga kesehatan ibu dan janin.
Daftar Pustaka
Al-Bukhari, M. I. (n.d.). Sahih al-Bukhari (Hadith No. 3208). Sunnah.com.
Khan, Y. S., & Ackerman, K. M. (2023). Embryology, week 1. In StatPearls. StatPearls Publishing.
Oliver, R., & Basit, H. (2023). Embryology, fertilization. In StatPearls. StatPearls Publishing.
Quran.com. (n.d.). Al-Mu’minun 12–14. Quran.com.
Quran.com. (n.d.). Az-Zumar 6. Quran.com.
World Health Organization. (2023). Iodine supplementation in pregnant and lactating women. WHO.
World Health Organization. (2024). Daily iron and folic acid supplementation during pregnancy. WHO.
Kontributor: Aisyah Najla Maharani
Editor: Jumangin, M.Pd.

