Konsep Asyifa dalam Al’quran dan Kaitanya dengan Peran Bidan Sebagai Perantara Penyambuhan
PENDAHULUAN
Konsep kesehatan dan penyembuhan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Ketika seseorang mengalami gangguan kesehatan, berbagai upaya dilakukan untuk memperoleh kesembuhan, baik melalui pengobatan, pelayanan tenaga kesehatan, maupun pendekatan spiritual. Dalam ajaran Islam, penyembuhan dikenal dengan istilah syifa atau asy-syifa’, yang secara umum memiliki makna obat dan kesembuhan. Konsep syifa dalam Al-Qur’an menjadi salah satu pembahasan yang penting karena menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya memberikan petunjuk dalam kehidupan spiritual, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai ketenangan jiwa dan penyembuhan manusia.
Berbagai kajian mengenai konsep syifa dalam Al-Qur’an menjelaskan bahwa makna syifa memiliki cakupan yang luas. Syifa tidak hanya dikaitkan dengan penyembuhan penyakit fisik, tetapi juga dengan penyembuhan penyakit hati, kondisi psikologis, dan spiritual manusia. Penelitian yang dilakukan oleh Tazkia Nur Fateha dan Syafiin Mansur mengenai konsep penyembuhan dalam Al-Qur’an menunjukkan adanya pembahasan mengenai ayat-ayat yang berkaitan dengan penyembuhan dan kondisi manusia. Selain itu, pemikiran para ahli tafsir, termasuk M. Quraish Shihab, menjadi salah satu rujukan penting dalam memahami makna syifa secara lebih mendalam melalui penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
Konsep syifa dapat ditemukan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya QS. At-Taubah ayat 14, QS. Yunus ayat 57, QS. An-Nahl ayat 69, QS. Al-Isra ayat 82, QS. Asy-Syu’ara ayat 80, dan QS. Fussilat ayat 44. Ayat-ayat tersebut memberikan gambaran mengenai penyembuhan dan rahmat Allah SWT bagi manusia. Salah satu ayat yang sangat berkaitan dengan konsep kesembuhan terdapat dalam QS. Asy-Syu’ara ayat 80 yang menjelaskan bahwa ketika seseorang mengalami sakit, Allah SWT-lah yang memberikan kesembuhan. Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa dalam Islam, kesembuhan pada akhirnya berasal dari Allah SWT, sedangkan manusia tetap memiliki kewajiban untuk melakukan ikhtiar.
Ikhtiar dalam memperoleh kesembuhan dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya dengan memanfaatkan pelayanan tenaga kesehatan. Dalam dunia kesehatan, tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat menjaga dan meningkatkan kondisi kesehatannya. Khususnya dalam bidang kebidanan, bidan merupakan tenaga kesehatan yang memiliki peran dalam memberikan pelayanan kepada perempuan, ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi baru lahir, serta keluarga. Pelayanan yang diberikan oleh bidan didasarkan pada ilmu pengetahuan, keterampilan, kompetensi, dan standar profesi.
Dalam menjalankan perannya, seorang bidan tidak hanya berhubungan dengan kondisi fisik pasien. Pasien memiliki kebutuhan yang beragam, termasuk kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual. Oleh karena itu, pelayanan kebidanan perlu dilakukan secara menyeluruh atau holistik. Pendekatan holistik memungkinkan bidan untuk memberikan perhatian terhadap kondisi pasien secara lebih lengkap, sehingga pelayanan yang diberikan tidak hanya berfokus pada penyakit atau masalah fisik, tetapi juga pada kenyamanan dan kebutuhan pasien secara keseluruhan.
Kaitan antara konsep syifa dalam Al-Qur’an dengan peran bidan dapat dipahami melalui konsep ikhtiar dalam memperoleh pertolongan dan kesembuhan. Bidan berperan membantu pasien melalui pelayanan profesional, pemberian edukasi kesehatan, tindakan kebidanan sesuai kewenangan, serta dukungan emosional kepada pasien. Dalam konteks ini, bidan dapat dipandang sebagai salah satu perantara atau sarana dalam proses ikhtiar penyembuhan. Namun, bidan bukanlah pihak yang menentukan hasil akhir dari kesembuhan seseorang, karena kesembuhan tetap merupakan kehendak dan kekuasaan Allah SWT.
Pentingnya pembahasan mengenai konsep syifa dan peran bidan juga berkaitan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan yang memperhatikan manusia secara utuh. Pemahaman terhadap aspek spiritual dapat membantu tenaga kesehatan, khususnya bidan, dalam menghargai keyakinan dan kebutuhan pasien selama proses pelayanan. Meskipun demikian, pendekatan spiritual tetap harus berjalan bersama dengan pelayanan kesehatan yang profesional dan berdasarkan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, nilai spiritual dan profesionalisme dapat saling melengkapi dalam memberikan pelayanan yang aman dan bermakna bagi pasien.
Berdasarkan uraian tersebut, konsep syifa dalam Al-Qur’an dan kaitannya dengan peran bidan sebagai perantara penyembuhan merupakan topik yang penting untuk dikaji. Pembahasan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai makna syifa berdasarkan Al-Qur’an serta hubungannya dengan peran bidan dalam proses pelayanan kesehatan. Melalui pemahaman tersebut, bidan diharapkan mampu menjalankan perannya secara profesional sekaligus memberikan pelayanan yang memperhatikan aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual pasien.
PEMBAHASAN
Konsep syifa dalam Al-Qur’an merupakan salah satu pembahasan penting yang berkaitan dengan kesehatan dan penyembuhan. Secara umum, syifa atau asy-syifa’ berarti obat, penawar, atau penyembuhan. Namun, berdasarkan berbagai kajian mengenai ayat-ayat syifa, makna penyembuhan dalam Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada penyakit fisik. Syifa juga berkaitan dengan penyembuhan hati, jiwa, kondisi psikologis, serta kehidupan spiritual manusia. Tazkia Nur Fateha dan Syafiin Mansur dalam kajiannya mengenai konsep penyembuhan dalam Al-Qur’an menjelaskan bahwa konsep penyembuhan dapat dipahami melalui berbagai ayat yang menunjukkan adanya hubungan antara kondisi fisik dan spiritual manusia. Oleh karena itu, konsep syifa memberikan pemahaman bahwa manusia perlu dipandang secara menyeluruh dalam proses menjaga kesehatan dan memperoleh kesembuhan.
Salah satu ayat yang berkaitan dengan konsep syifa terdapat dalam QS. At-Taubah ayat 14, yaitu:
قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ
Artinya: “Perangilah mereka, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan perantaraan tangan-tanganmu dan Dia akan menghinakan mereka serta menolong kamu terhadap mereka dan melegakan hati orang-orang yang beriman.”
Pada ayat tersebut terdapat kata wa yasyfi, yang memiliki kaitan dengan penyembuhan atau kelegaan. Dalam konteks ayat ini, syifa lebih berkaitan dengan penyembuhan hati dan perasaan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya dapat mengalami sakit secara fisik, tetapi juga dapat mengalami luka batin dan tekanan emosional. Dalam pelayanan kesehatan, kondisi emosional seseorang juga perlu diperhatikan. Seorang ibu hamil atau ibu yang akan menghadapi persalinan, misalnya, dapat mengalami rasa takut, cemas, dan khawatir. Dalam kondisi tersebut, bidan memiliki peran untuk memberikan dukungan, rasa aman, serta komunikasi yang baik kepada pasien.
Konsep syifa juga dijelaskan dalam QS. Yunus ayat 57, yaitu:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk sekaligus penyembuh bagi penyakit yang berada di dalam dada. Penyakit yang dimaksud dapat dikaitkan dengan kondisi batin manusia, seperti kegelisahan, ketakutan, keraguan, dan berbagai penyakit hati. Berdasarkan kajian tentang konsep syifa, ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki peran penting dalam memberikan ketenangan dan petunjuk bagi kehidupan manusia. Dalam kaitannya dengan pelayanan kebidanan, seorang bidan perlu memahami bahwa kondisi psikologis pasien dapat memengaruhi kenyamanan pasien. Oleh sebab itu, pelayanan yang baik tidak hanya berfokus pada tindakan fisik, tetapi juga memberikan dukungan dan ketenangan kepada pasien.
Selanjutnya, konsep syifa juga terdapat dalam QS. An-Nahl ayat 69, yaitu:
ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: “Kemudian makanlah dari segala macam buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu. Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang yang berpikir.”
Ayat tersebut membahas tentang madu yang memiliki manfaat bagi manusia. Dalam pembahasan syifa, ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT menciptakan berbagai hal di alam yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan dan kesehatan manusia. Hal ini dapat dipahami sebagai salah satu bentuk tanda kekuasaan Allah SWT. Namun, dalam penggunaan pengobatan atau bahan alami, manusia tetap perlu memperhatikan keamanan dan pengetahuan kesehatan. Dalam dunia kebidanan, bidan memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi yang tepat kepada pasien agar tidak menggunakan pengobatan secara sembarangan, terutama pada ibu hamil dan bayi.
Ayat berikutnya yang sangat penting dalam pembahasan konsep syifa adalah QS. Al-Isra ayat 82, yaitu:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang zalim Al-Qur’an itu hanya akan menambah kerugian.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an dapat menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dalam berbagai kajian, syifa pada ayat ini sering dikaitkan dengan penyembuhan spiritual dan penyakit hati. M. Quraish Shihab melalui penafsiran Al-Qur’an menjadi salah satu tokoh yang banyak dijadikan rujukan dalam memahami makna ayat-ayat syifa. Konsep penyembuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa kesehatan manusia tidak hanya berkaitan dengan kondisi tubuh, tetapi juga berkaitan dengan kondisi hati dan jiwa. Dalam pelayanan kebidanan, kebutuhan spiritual pasien perlu dihargai. Bidan dapat memberikan pelayanan dengan tetap menghormati keyakinan pasien dan memberikan kesempatan kepada pasien untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya selama tidak mengganggu keselamatan dan proses pelayanan kesehatan.
Salah satu ayat yang paling jelas menjelaskan tentang kesembuhan adalah QS. Asy-Syu’ara ayat 80, yaitu:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Artinya: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT merupakan sumber utama kesembuhan. Ketika manusia mengalami sakit, pada akhirnya kesembuhan terjadi atas kehendak Allah SWT. Akan tetapi, pemahaman tersebut tidak berarti bahwa manusia hanya berdiam diri tanpa melakukan usaha. Islam juga mengajarkan pentingnya melakukan ikhtiar dalam menjaga kesehatan dan mencari pertolongan. Dalam kehidupan sehari-hari, salah satu bentuk ikhtiar adalah berobat dan memperoleh pelayanan dari tenaga kesehatan. Dalam bidang kebidanan, bidan menjalankan perannya dengan menggunakan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang dimiliki untuk membantu pasien. Dengan demikian, bidan dapat dipahami sebagai bagian dari proses ikhtiar manusia dalam memperoleh pertolongan dan kesehatan.
Selain itu, konsep syifa juga terdapat dalam QS. Fussilat ayat 44, yaitu:
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ
Artinya: “Katakanlah, Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan Al-Qur’an itu merupakan kegelapan bagi mereka.”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Hal ini menunjukkan bahwa syifa tidak hanya dimaknai sebagai penyembuhan terhadap penyakit tubuh, tetapi juga sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Ketika manusia memiliki ketenangan dan pegangan dalam hidup, kondisi spiritual dan psikologisnya dapat menjadi lebih baik. Oleh karena itu, konsep syifa dalam Al-Qur’an dapat dipahami sebagai konsep yang mencakup kehidupan manusia secara menyeluruh.
Berdasarkan enam ayat tersebut, dapat dipahami bahwa konsep syifa memiliki makna yang luas. Syifa dapat berkaitan dengan penyembuhan hati, ketenangan jiwa, manfaat dari ciptaan Allah SWT, serta kesembuhan yang diberikan kepada manusia. Kajian yang dilakukan oleh berbagai peneliti, termasuk Tazkia Nur Fateha dan Syafiin Mansur, serta penelitian mengenai konsep syifa berdasarkan perspektif M. Quraish Shihab, menunjukkan bahwa pembahasan mengenai syifa tidak hanya terbatas pada satu bentuk penyembuhan. Konsep tersebut mencakup aspek fisik, psikologis, dan spiritual manusia.
Pemahaman tentang konsep syifa memiliki kaitan yang erat dengan pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan kebidanan. Bidan merupakan tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kepada perempuan sejak masa kehamilan, persalinan, masa nifas, serta perawatan bayi baru lahir. Dalam menjalankan tugasnya, bidan tidak hanya melakukan tindakan berdasarkan keterampilan medis, tetapi juga memberikan edukasi, dukungan, dan pendampingan kepada pasien. Seorang ibu hamil atau ibu bersalin sering kali membutuhkan rasa aman dan dukungan dari tenaga kesehatan. Oleh karena itu, sikap empati dan komunikasi yang baik menjadi bagian penting dalam pelayanan kebidanan.
Dalam kaitannya dengan konsep syifa, bidan dapat dipahami sebagai perantara dalam proses ikhtiar penyembuhan dan pertolongan. Bidan membantu pasien melalui ilmu pengetahuan dan keterampilan profesional. Misalnya, bidan memberikan asuhan kepada ibu hamil untuk menjaga kesehatan selama kehamilan, membantu proses persalinan sesuai dengan kewenangannya, memberikan perawatan kepada ibu dan bayi, serta memberikan edukasi mengenai kesehatan. Semua tindakan tersebut merupakan bentuk usaha manusia dalam menjaga kesehatan dan memperoleh pertolongan.
Namun, istilah bidan sebagai perantara penyembuhan perlu dipahami dengan tepat. Bidan bukanlah pihak yang memiliki kekuasaan mutlak untuk menyembuhkan seseorang. Seorang bidan menjalankan pelayanan sesuai dengan kompetensi dan standar profesinya, sedangkan hasil dari proses kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor. Dalam perspektif Islam, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Asy-Syu’ara ayat 80, kesembuhan pada akhirnya berasal dari Allah SWT. Oleh sebab itu, antara ikhtiar melalui pelayanan kesehatan dan keyakinan kepada Allah SWT dapat berjalan secara berdampingan.
Konsep syifa juga dapat dikaitkan dengan pelayanan kebidanan yang bersifat holistik. Pelayanan holistik berarti memperhatikan pasien secara menyeluruh, tidak hanya dari kondisi fisiknya. Bidan juga perlu memperhatikan kondisi psikologis, sosial, dan spiritual pasien. Kondisi psikologis ibu, seperti kecemasan dan ketakutan, dapat menjadi perhatian dalam memberikan pelayanan. Dukungan keluarga juga memiliki peran penting bagi pasien. Selain itu, kebutuhan spiritual pasien dapat dihargai sebagai bagian dari pelayanan yang berorientasi pada manusia secara menyeluruh.
Dengan demikian, konsep syifa dalam Al-Qur’an memberikan pemahaman bahwa penyembuhan dapat dipandang secara luas. Penyembuhan tidak hanya berkaitan dengan penyakit fisik, tetapi juga dengan ketenangan hati, kondisi jiwa, dan kehidupan spiritual manusia. Keenam ayat syifa menunjukkan berbagai bentuk pemahaman tentang penyembuhan dalam perspektif Islam. Dalam kaitannya dengan kebidanan, bidan memiliki peran penting sebagai tenaga kesehatan yang membantu proses ikhtiar manusia untuk memperoleh kesehatan dan pertolongan. Bidan memberikan pelayanan secara profesional berdasarkan ilmu dan kompetensi, sedangkan kesembuhan pada akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah SWT. Oleh karena itu, pelayanan kebidanan yang profesional, empati, dan memperhatikan kebutuhan pasien secara menyeluruh dapat menjadi salah satu bentuk penerapan nilai-nilai yang sejalan dengan konsep syifa dalam kehidupan dan pelayanan kesehatan
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa konsep syifa dalam Al-Qur’an memiliki makna yang luas, tidak hanya berkaitan dengan penyembuhan fisik, tetapi juga penyembuhan hati, jiwa, dan spiritual. Berdasarkan kajian Tazkia Nur Fateha dan Syafiin Mansur, serta penafsiran yang berkaitan dengan pemikiran M. Quraish Shihab, konsep syifa dapat ditemukan dalam beberapa ayat, yaitu QS. At-Taubah ayat 14, QS. Yunus ayat 57, QS. An-Nahl ayat 69, QS. Al-Isra ayat 82, QS. Asy-Syu’ara ayat 80, dan QS. Fussilat ayat 44. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT merupakan sumber utama dari segala kesembuhan.
Dalam kaitannya dengan kebidanan, bidan memiliki peran sebagai tenaga kesehatan yang membantu pasien melalui ilmu, keterampilan, dan pelayanan profesional. Bidan dapat dipahami sebagai bagian dari proses ikhtiar manusia dalam memperoleh pertolongan dan kesehatan. Namun, bidan bukanlah penentu mutlak kesembuhan, karena sebagaimana dijelaskan dalam QS. Asy-Syu’ara ayat 80, kesembuhan pada akhirnya berasal dari Allah SWT.
Oleh karena itu, pelayanan kebidanan perlu dilakukan secara profesional dengan tetap memperhatikan kondisi fisik, psikologis, sosial, dan spiritual pasien. Dengan demikian, konsep syifa dapat menjadi wawasan dalam memahami penyembuhan secara menyeluruh, sedangkan bidan berperan sebagai perantara dalam proses ikhtiar untuk membantu pasien memperoleh kesehatan dan pertolongan.
DAFTAR PUSTAKA
Fateha, T. N., & Mansur, S. (2025). Konstruksi konsep penyembuhan dalam Al-Qur’an. Reflection: Islamic Education Journal, 2(4), 42–52. https://doi.org/10.61132/reflection.v2i4.1481
Hidayah, A., & Firdausi, F. (2021). Redefining the meaning of asy-syifa’ in the Qur’an as Qur’anic healing in physical ailments. Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadis, 22(1), 255–277. https://doi.org/10.14421/qh.2021.2201-12
Rozi, F. F., & Arif, S. (2023). Konsep shifa’ dalam Alquran (Perspektif M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah). Pedagogika: Jurnal Ilmu-Ilmu Kependidikan, 3(1), 69–75. https://doi.org/10.57251/ped.v3i1.954
Wijaya, R. (2021). Makna syifa dalam al-Qur’an (Analisis semiotika Roland Barthes pada QS Al-Isra 82). Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan, 16(2), 185–196. https://doi.org/10.37680/adabiya.v16i2.924
Kontributor: Winda Safitri
Editor: Dr. Sumaryati, M.Pd.I.

