Resiliensi Spiritual Bidan dalam Mendampingi Pasien dengan Diagnosis Penyakit Jantung Bawaan
Pendahuluan
Penyakit jantung bawaan merupakan salah satu kondisi kesehatan yang dapat memberikan dampak besar terhadap pasien dan keluarganya, baik secara fisik maupun psikologis. Diagnosis penyakit jantung bawaan dapat menimbulkan kecemasan, ketakutan, kesedihan, dan ketidakpastian, terutama ketika diagnosis ditemukan pada masa kehamilan atau setelah bayi lahir. Dalam kondisi tersebut, tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memberikan pelayanan berdasarkan kompetensi klinis, tetapi juga mampu memberikan dukungan emosional dan spiritual kepada pasien serta keluarganya. Bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan yang berperan dalam pelayanan maternal dan neonatal dapat menghadapi situasi yang kompleks ketika mendampingi pasien dengan kondisi tersebut. Oleh karena itu, bidan membutuhkan resiliensi agar mampu mengelola tekanan emosional, tetap tenang dalam menghadapi situasi sulit, serta mempertahankan sikap empati dan profesional selama memberikan pelayanan.
Resiliensi spiritual menjadi salah satu aspek yang penting bagi bidan karena dapat membantu tenaga kesehatan menemukan kekuatan, makna, harapan, dan ketenangan ketika menghadapi berbagai tantangan dalam pelayanan. Dalam perspektif Islam, kesabaran, tawakal, ikhtiar, dan keyakinan kepada Allah merupakan nilai yang dapat menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi kesulitan. Nilai tersebut dapat diterapkan tanpa mengesampingkan ilmu pengetahuan dan tindakan medis yang diperlukan pasien. Dengan demikian, pembahasan mengenai resiliensi spiritual bidan dalam mendampingi pasien dengan diagnosis penyakit jantung bawaan penting untuk dikaji karena menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan profesionalisme kebidanan. Esai ini bertujuan untuk menganalisis peran resiliensi spiritual bidan dalam memberikan pendampingan yang holistik kepada pasien dan keluarga dengan diagnosis penyakit jantung bawaan berdasarkan perspektif Islam serta didukung oleh kajian ilmiah.
Pembahasan
Penyakit jantung bawaan merupakan kondisi yang tidak hanya memberikan tantangan medis kepada pasien, tetapi juga dapat menimbulkan beban psikologis dan emosional bagi keluarga. Ketika diagnosis penyakit jantung bawaan diketahui sejak masa kehamilan atau setelah bayi lahir, orang tua dapat mengalami keterkejutan, kecemasan, rasa bersalah, kesedihan, dan ketakutan terhadap kondisi serta masa depan anak. Dandy et al. (2024) melalui systematic review terhadap 26 artikel menemukan bahwa pengalaman orang tua setelah menerima diagnosis penyakit jantung bawaan mencakup ketidaksiapan terhadap diagnosis, ketakutan terhadap prognosis dan pengambilan keputusan, kesedihan karena kehilangan gambaran kehamilan atau kelahiran yang diharapkan, hingga proses menerima dan menyesuaikan diri dengan kondisi anak. Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa interaksi dengan tenaga kesehatan berpengaruh terhadap kesejahteraan orang tua sehingga tenaga kesehatan perlu memberikan informasi yang jelas, validasi terhadap perasaan, dan pendampingan yang penuh kasih sayang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelayanan pada pasien dengan penyakit jantung bawaan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga memperhatikan kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual.
Dalam konteks tersebut, resiliensi menjadi kemampuan yang penting bagi bidan. Resiliensi dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk beradaptasi secara positif ketika menghadapi tekanan, kesulitan, atau keadaan yang penuh ketidakpastian. Resiliensi spiritual merupakan bagian dari kemampuan tersebut yang berkaitan dengan kemampuan seseorang menemukan makna, harapan, ketenangan, dan kekuatan melalui keyakinan serta hubungan spiritualnya. Bagi seorang bidan, resiliensi spiritual bukan berarti tidak merasakan sedih, takut, atau lelah ketika menghadapi kondisi pasien yang berat. Sebaliknya, resiliensi spiritual berarti mampu mengelola perasaan tersebut sehingga tidak menghambat profesionalisme, empati, dan kemampuan memberikan pelayanan. Dalam situasi pasien dengan penyakit jantung bawaan, bidan perlu tetap tenang ketika berhadapan dengan keluarga yang cemas, mampu memberikan dukungan emosional, serta tetap menjalankan tugas sesuai kompetensi dan kewenangannya.
Pentingnya dukungan tersebut didukung oleh kajian ilmiah mengenai pengalaman keluarga dengan penyakit jantung bawaan. Kasparian et al. (2019) menjelaskan bahwa penyakit jantung bawaan pada bayi berkaitan dengan tekanan psikologis yang berat bagi orang tua, terutama ketika bayi membutuhkan perawatan intensif. Systematic review tersebut menunjukkan bahwa intervensi yang melibatkan dukungan psikologis, edukasi, penguatan hubungan orang tua dan bayi, serta pelayanan yang berpusat pada keluarga dapat memberikan manfaat terhadap kecemasan, coping, kepercayaan diri dalam menjalankan peran sebagai orang tua, dan kepuasan terhadap pelayanan. Hal ini memperlihatkan bahwa tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam membantu keluarga menghadapi proses diagnosis dan perawatan. Dalam pelayanan kebidanan, bidan dapat menjadi salah satu tenaga kesehatan yang memberikan dukungan awal kepada ibu dan keluarga, terutama ketika kondisi bayi membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut atau rujukan ke fasilitas kesehatan yang memiliki layanan spesialistik.
Resiliensi spiritual dapat diperkuat melalui nilai-nilai Islam yang mengajarkan kesabaran, tawakal, ikhtiar, dan pengharapan kepada Allah Swt. Salah satu ayat yang relevan adalah firman Allah Swt. dalam QS. Asy-Syarh ayat 5–6:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh [94]: 5–6).
Ayat tersebut memberikan pesan bahwa kesulitan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harapan. Dalam konteks bidan, nilai tersebut dapat menjadi sumber kekuatan ketika menghadapi pasien dan keluarga yang sedang berada dalam situasi sulit. Bidan dapat memandang kondisi tersebut sebagai amanah untuk memberikan pelayanan terbaik dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab. Menurut penafsiran para ulama terhadap ayat tersebut, pengulangan pernyataan tentang kesulitan dan kemudahan memberikan penegasan mengenai adanya kemudahan yang menyertai kesulitan. Pemahaman ini dapat membangun sikap optimis dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi ujian. Namun, penerapannya dalam pelayanan kesehatan tidak berarti bidan memberikan jaminan bahwa pasien pasti sembuh atau menggantikan tindakan medis dengan doa semata. Nilai spiritual justru harus berjalan bersama ikhtiar, ilmu pengetahuan, dan tindakan profesional.
Prinsip tersebut juga dapat dikaitkan dengan hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah. Rasulullah saw. bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal tersebut.” (HR. Bukhari, No. 5641–5642).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa penderitaan dapat memiliki makna spiritual bagi seorang Muslim. Dalam konteks pendampingan pasien dengan penyakit jantung bawaan, pemahaman tersebut dapat membantu bidan mengembangkan sikap sabar dan empati ketika menghadapi pasien maupun keluarga yang sedang mengalami kesulitan. Menurut pemahaman ulama terhadap hadis tersebut, musibah yang dialami seorang Muslim dapat menjadi sebab penghapusan dosa apabila dihadapi dengan sikap yang benar kepada Allah. Oleh sebab itu, bidan dapat memberikan dukungan spiritual kepada pasien Muslim dengan tetap menghormati kondisi psikologis dan pilihan pasien. Dukungan tersebut dapat berupa memberikan kesempatan kepada pasien untuk berdoa, berdzikir, mendapatkan dukungan keluarga, atau meminta pendampingan tokoh agama apabila pasien menghendakinya. Dukungan spiritual tidak boleh dipaksakan dan tidak boleh digunakan untuk menggantikan pemeriksaan atau terapi medis.
Selain aspek spiritual, pelayanan kepada keluarga dengan penyakit jantung bawaan perlu memperhatikan kemampuan coping dan dukungan sosial. Cole et al. (2024) dalam integrative review menemukan bahwa orang tua anak dengan penyakit jantung bawaan menghadapi stres yang berkaitan dengan ketidakpastian kondisi anak dan proses hospitalisasi. Strategi coping yang efektif dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup, sedangkan dukungan berupa edukasi, faith atau keyakinan, coping, dan dukungan sosial menjadi aspek yang perlu diperhatikan oleh tim kesehatan. Temuan tersebut sejalan dengan konsep resiliensi spiritual karena keyakinan agama dapat menjadi salah satu sumber daya internal dalam menghadapi kondisi yang penuh tekanan. Dengan demikian, bidan tidak hanya berperan sebagai pemberi informasi, tetapi juga sebagai pendamping yang membantu pasien dan keluarga menghadapi proses tersebut secara lebih adaptif.
Dalam praktik kebidanan, resiliensi spiritual dapat diterapkan melalui komunikasi terapeutik yang empatik. Ketika seorang ibu mengetahui bahwa bayinya mengalami atau dicurigai memiliki penyakit jantung bawaan, bidan perlu menghindari komunikasi yang menghakimi, menyalahkan, atau menimbulkan rasa takut yang berlebihan. Bidan dapat memberikan kesempatan kepada ibu untuk menyampaikan perasaannya, mendengarkan secara aktif, memberikan informasi sesuai kewenangan, serta menjelaskan langkah pelayanan berikutnya dengan bahasa yang mudah dipahami. Apabila diperlukan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut, bidan perlu melakukan kolaborasi dan rujukan sesuai kondisi pasien. Pendekatan tersebut penting karena penelitian menunjukkan bahwa pengalaman orang tua sangat dipengaruhi oleh cara tenaga kesehatan menyampaikan diagnosis dan berinteraksi dengan mereka. Dandy et al. (2024) menekankan pentingnya compassion, validation, dan clear information dalam proses diagnosis penyakit jantung bawaan.
Resiliensi spiritual juga diperlukan agar bidan mampu mempertahankan keseimbangan dirinya sendiri. Bidan yang terus-menerus menghadapi pasien dengan kondisi berat dapat mengalami kelelahan emosional apabila tidak memiliki strategi pengelolaan stres yang baik. Oleh karena itu, penguatan spiritual melalui ibadah, doa, refleksi diri, dan membangun hubungan yang baik dengan rekan kerja dapat menjadi salah satu cara untuk mempertahankan ketahanan diri. Namun, resiliensi spiritual tidak dapat dipisahkan dari kemampuan profesional. Bidan tetap harus memperbarui pengetahuan, memahami tanda bahaya, mengikuti prosedur pelayanan, serta mengetahui kapan pasien membutuhkan kolaborasi dengan dokter atau tenaga kesehatan lain. Dengan demikian, spiritualitas berfungsi sebagai sumber kekuatan batin yang mendukung kompetensi profesional, bukan sebagai pengganti ilmu kedokteran dan kebidanan.
Pendekatan spiritual dalam pelayanan juga perlu dilakukan secara holistik dan berpusat pada kebutuhan pasien. Kajian mengenai peran spiritualitas pada keluarga dengan anak yang mengalami penyakit jantung bawaan menunjukkan bahwa spiritualitas dapat berhubungan dengan kesejahteraan mental dan emosional, proses pengambilan keputusan, serta cara keluarga menghadapi kondisi penyakit. Kajian tersebut juga menunjukkan pentingnya memperhatikan keragaman budaya dan agama dalam mengintegrasikan aspek spiritual ke dalam pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, bidan perlu menghormati keyakinan pasien dan tidak mengasumsikan bahwa setiap pasien memiliki kebutuhan spiritual yang sama. Pada pasien Muslim, nilai-nilai seperti sabar, tawakal, doa, dan ikhtiar dapat menjadi sumber dukungan apabila pasien memang menginginkannya.
Berdasarkan uraian tersebut, resiliensi spiritual dapat dipandang sebagai salah satu kekuatan yang membantu bidan menghadapi kompleksitas pelayanan pada pasien dengan penyakit jantung bawaan. Resiliensi spiritual memungkinkan bidan mempertahankan ketenangan, empati, harapan, dan orientasi pelayanan ketika berhadapan dengan situasi yang sulit. Nilai-nilai Islam memberikan landasan bahwa kesulitan perlu dihadapi dengan kesabaran dan pengharapan, tetapi tetap disertai ikhtiar yang nyata. Dengan memadukan nilai spiritual, komunikasi terapeutik, dukungan psikologis, ilmu kebidanan, dan kolaborasi antarprofesi, bidan dapat memberikan pendampingan yang lebih manusiawi dan holistik kepada pasien serta keluarganya. Pada akhirnya, resiliensi spiritual tidak hanya bermanfaat bagi ketahanan diri bidan, tetapi juga dapat mendukung terciptanya pelayanan kebidanan yang penuh empati, bermartabat, dan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan serta ajaran Islam.
Penutup
Resiliensi spiritual merupakan kemampuan penting bagi bidan dalam mendampingi pasien dan keluarga yang menghadapi diagnosis penyakit jantung bawaan karena kondisi tersebut dapat menimbulkan tekanan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Melalui resiliensi spiritual, bidan dapat mempertahankan ketenangan, kesabaran, empati, dan harapan dalam menghadapi situasi pelayanan yang penuh ketidakpastian. Nilai-nilai Islam yang terkandung dalam QS. Asy-Syarh ayat 5–6 dan hadis riwayat Bukhari tentang keutamaan menghadapi kesulitan dapat menjadi landasan bagi bidan untuk memaknai tantangan secara positif, tanpa mengabaikan ikhtiar dan kompetensi profesional. Penerapan resiliensi spiritual dalam pelayanan kebidanan dapat diwujudkan melalui komunikasi terapeutik, pemberian dukungan emosional dan spiritual sesuai kebutuhan pasien, edukasi yang jelas, serta kolaborasi dan rujukan yang tepat. Dengan mengintegrasikan spiritualitas, ilmu pengetahuan, keterampilan profesional, dan sikap empatik, bidan dapat memberikan pendampingan yang lebih holistik dan manusiawi sehingga pasien dan keluarga merasa didukung dalam menghadapi proses diagnosis maupun perawatan penyakit jantung bawaan.
Daftar Pustaka
Dandy, S., Wittkowski, A., & Murray, C. D. (2024). Parents’ experiences of receiving their child’s diagnosis of congenital heart disease: A systematic review and meta-synthesis of the qualitative literature. British Journal of Health Psychology, 29(2), 351–378. https://doi.org/10.1111/bjhp.12703
Kasparian, N. A., Kan, J. M., Sood, E., Wray, J., Pincus, H. A., & Newburger, J. W. (2019). Mental health care for parents of babies with congenital heart disease during intensive care unit admission: Systematic review and statement of best practice. Early Human Development, 139, 104837. https://doi.org/10.1016/j.earlhumdev.2019.104837
Meybodi, A. R. P., & Mohammadi, M. (2021). Identifying the components of spirituality affecting the resilience of nurses. Journal of Nursing Management, 29(5), 982–988. https://doi.org/10.1111/jonm.13235
Sevinc, S., & Ozdemir, S. (2023). Nurses’ spirituality and resilience during the month of Ramadan. Journal of the Pakistan Medical Association, 73(6), 1226–1230.
World Health Organization. (2023). Congenital disorders. World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/birth-defects
Kontributor: Rahma Puspitasari
Editor: Jumangin, M.Pd.

