Syura dalam Al Quran dan Relevansinya Bagi Shared Decision Making dalam Gizi
I. PENDAHULUAN
Pengambilan keputusan merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan gizi. Setiap individu memiliki kondisi kesehatan, kebiasaan makan, kemampuan ekonomi, latar belakang budaya, serta preferensi yang berbeda. Oleh karena itu, keputusan mengenai intervensi gizi tidak cukup hanya didasarkan pada pengetahuan tenaga kesehatan, tetapi juga perlu mempertimbangkan kondisi dan pilihan individu yang menerima pelayanan. Salah satu pendekatan yang berkembang dalam pelayanan kesehatan adalah shared decision making (SDM), yaitu proses ketika tenaga kesehatan dan pasien bekerja sama dalam menentukan pilihan pelayanan dengan mempertimbangkan bukti ilmiah, pilihan yang tersedia, serta nilai dan preferensi pasien. Model SDM menekankan tiga proses utama, yaitu memperkenalkan adanya pilihan, menjelaskan berbagai pilihan, serta membantu pasien memahami preferensi dan menentukan keputusan.
Konsep tersebut memiliki keterkaitan dengan prinsip syura dalam Islam. Syura berarti musyawarah atau proses mempertimbangkan suatu persoalan bersama sebelum mengambil keputusan. Al-Qur’an memberikan dasar mengenai prinsip tersebut dalam QS. Asy-Syura [42]: 38, yang menyebutkan bahwa urusan orang-orang beriman diputuskan melalui musyawarah di antara mereka. Dalam konteks gizi, prinsip ini relevan karena ahli gizi memiliki pengetahuan profesional mengenai kebutuhan dan intervensi gizi, sedangkan pasien memiliki pengetahuan mengenai kebiasaan, kemampuan, pengalaman, dan kondisi kehidupannya. Pertemuan antara kedua jenis pengetahuan tersebut dapat menghasilkan keputusan gizi yang lebih sesuai dan realistis.
II. PEMBAHASAN
Prinsip syura tidak hanya menekankan musyawarah, tetapi juga cara berkomunikasi dalam proses tersebut. Hal ini dijelaskan dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 159:
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan melaksanakan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy-Syura [42]: 38). Ayat tersebut menunjukkan bahwa musyawarah merupakan prinsip dalam menyelesaikan suatu urusan. Dalam pelayanan gizi, prinsip tersebut dapat diterapkan dengan memberikan ruang kepada pasien untuk menyampaikan kebutuhan dan pertimbangannya sebelum keputusan mengenai intervensi ditetapkan. Ahli gizi tetap berperan sebagai tenaga profesional yang memberikan informasi berdasarkan ilmu dan bukti ilmiah, tetapi keputusan tidak semata-mata bersifat satu arah.
Prinsip tersebut diperkuat dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159). Ayat ini tidak hanya menunjukkan pentingnya musyawarah, tetapi juga menekankan kelembutan dalam berkomunikasi. Nilai tersebut relevan dalam konsultasi gizi karena pasien perlu merasa didengar dan dihargai, bukan hanya menerima instruksi. Dengan komunikasi yang terbuka, ahli gizi dapat memahami kondisi pasien, sedangkan pasien memperoleh kesempatan untuk memahami pilihan yang tersedia dan ikut menentukan pilihan yang paling sesuai.
Hubungan syura dengan SDM dapat dilihat dari prinsip keterlibatan kedua pihak dalam proses pengambilan keputusan. Dalam model SDM, tenaga kesehatan menjelaskan pilihan yang tersedia, memberikan informasi yang relevan, serta membantu pasien mempertimbangkan pilihan berdasarkan apa yang penting bagi dirinya. Prinsip tersebut sangat relevan dalam pelayanan gizi karena intervensi makanan harus disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, pasien dengan diabetes dapat diberikan beberapa alternatif pengaturan pola makan. Ahli gizi menjelaskan kebutuhan zat gizi dan manfaat setiap pilihan, sementara pasien dapat menyampaikan kebiasaan makan, jadwal kerja, kondisi ekonomi, makanan yang tersedia, dan tujuan yang ingin dicapai. Dari proses tersebut, keduanya dapat menentukan pola makan yang tetap memenuhi kebutuhan gizi, tetapi realistis untuk diterapkan.
Penelitian pada konsultasi antara dietisien dan pasien menunjukkan bahwa penerapan SDM dalam pelayanan gizi masih belum optimal. Penelitian terhadap konsultasi diet menemukan skor rata-rata keterlibatan pasien sebesar 29 ± 8% berdasarkan OPTION Scale. Penelitian tersebut juga menemukan hubungan positif antara lama konsultasi dan tingkat keterlibatan pasien. Temuan ini menunjukkan bahwa keterlibatan pasien membutuhkan komunikasi yang memadai dan tidak cukup dilakukan dengan sekadar memberikan informasi. Penelitian lain mengenai konsultasi diet untuk pasien dislipidemia juga menunjukkan bahwa perilaku SDM, seperti membahas pilihan terapi serta nilai dan preferensi pasien, masih perlu diperkuat dalam praktik dietetik.
Dalam pelayanan gizi, penerapan syura dan SDM dapat dilakukan sejak proses asesmen hingga evaluasi. Ahli gizi dapat menggali kebiasaan makan, kondisi kesehatan, kemampuan ekonomi, tujuan, serta hambatan pasien. Setelah itu, beberapa pilihan intervensi yang berdasarkan bukti ilmiah dapat dijelaskan dan didiskusikan bersama. Misalnya, pasien dengan kelebihan berat badan yang memiliki jadwal kerja padat mungkin lebih mampu mengurangi minuman berpemanis, mengatur ukuran porsi, dan meningkatkan konsumsi sayur daripada menjalankan diet yang sangat ketat. Ahli gizi dapat membantu menilai apakah pilihan tersebut aman dan sesuai dengan kebutuhan pasien, sedangkan pasien menentukan perubahan yang paling mungkin dilakukan. Pendekatan pelayanan gizi yang terindividualisasi memang menempatkan kebutuhan, preferensi, nilai, dan tujuan pasien sebagai bagian penting dari pelayanan, bersama dengan SDM, intervensi berbasis bukti, serta pemantauan hasil.
Relevansi prinsip ini juga dapat diterapkan dalam pendidikan calon ahli gizi. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori kebutuhan zat gizi dan penyusunan diet, tetapi perlu dilatih untuk berkomunikasi, mendengarkan pasien, memahami kondisi sosial, dan mengambil keputusan secara kolaboratif. Tinjauan sistematis mengenai keterlibatan pasien dalam pendidikan mahasiswa gizi dan dietetika menemukan bahwa keterlibatan pasien memberikan manfaat bagi pembelajaran mahasiswa dan mendukung pengembangan keterampilan menuju praktik profesional. Namun, keterlibatan pasien dalam pendidikan masih banyak dilakukan secara pasif sehingga masih diperlukan pengembangan pembelajaran yang lebih interaktif. Hal ini menunjukkan bahwa prinsip syura dan SDM dapat diperkenalkan sejak masa pendidikan agar calon ahli gizi terbiasa melihat pasien sebagai mitra, bukan sekadar objek pelayanan.
Dengan demikian, syura dan shared decision making memiliki titik temu dalam hal musyawarah, komunikasi, keterlibatan, dan pertimbangan bersama, meskipun keduanya berasal dari kerangka yang berbeda. Syura merupakan prinsip yang bersumber dari ajaran Islam, sedangkan SDM merupakan pendekatan dalam pelayanan kesehatan. Keduanya dapat dipadukan secara konseptual dalam pelayanan gizi dengan tetap menjaga batas profesional. Ahli gizi bertanggung jawab memberikan informasi yang benar dan berdasarkan bukti ilmiah, sedangkan pasien diberikan ruang untuk menyampaikan nilai, kebutuhan, pengalaman, serta preferensinya. Dengan cara tersebut, keputusan gizi dapat menjadi lebih realistis, berpusat pada pasien, dan sesuai dengan kondisi kehidupan individu.
III. PENUTUP
Syura dalam Al-Qur’an memberikan prinsip penting mengenai pengambilan keputusan melalui musyawarah dan komunikasi yang baik. QS. Asy-Syura [42]: 38 menegaskan prinsip musyawarah dalam menyelesaikan suatu urusan, sedangkan QS. Ali ‘Imran [3]: 159 menambahkan pentingnya sikap lemah lembut dan konsultasi sebelum mengambil keputusan. Kedua prinsip tersebut memiliki relevansi dengan shared decision making dalam pelayanan gizi karena memberikan ruang bagi keterlibatan pihak-pihak yang berkaitan dengan suatu keputusan.
Dalam praktik gizi, penerapan shared decision making memungkinkan ahli gizi menggabungkan bukti ilmiah dengan kondisi, nilai, dan preferensi pasien. Pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui komunikasi dua arah, pemberian beberapa pilihan intervensi, penggalian kebutuhan pasien, pengambilan keputusan bersama, serta pemantauan hasil. Prinsip ini juga penting diterapkan dalam pendidikan mahasiswa gizi agar calon tenaga gizi memiliki kemampuan profesional sekaligus keterampilan komunikasi yang berpusat pada pasien. Oleh karena itu, syura dapat menjadi landasan nilai yang relevan untuk memperkuat penerapan shared decision making dalam pelayanan dan pendidikan gizi sehingga keputusan yang dihasilkan tidak hanya tepat secara ilmiah, tetapi juga manusiawi dan sesuai dengan kehidupan pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2022. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2025. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI Daring. Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
Elwyn, G., Frosch, D., Thomson, R., Joseph-Williams, N., Lloyd, A., Kinnersley, P., Cording, E., Tomson, D., Dodd, C., Rollnick, S., Edwards, A. and Barry, M. 2012. Shared decision making: A model for clinical practice. Journal of General Internal Medicine, 27(10): 1361–1367. https://doi.org/10.1007/s11606-012-2077-6
Holdoway, A., Page, F., Bauer, J., Dervan, N. and McMillan, A. 2022. Individualised nutritional care for disease-related malnutrition: Improving outcomes by focusing on what matters to patients. Nutrients, 14(17): 3534. https://doi.org/10.3390/nu14173534
Nielsen, J.B., et al. 2012. Assessing patients’ involvement in decision making during the nutritional consultation with a dietitian. Journal of Human Nutrition and Dietetics. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22512818/
Porter, J., Kellow, N., Anderson, A., Bryce, A., Dart, J., Palermo, C., Volders, E. and Gibson, S. 2019. Patient involvement in education of nutrition and dietetics students: A systematic review. Nutrients, 11(11): 2798. https://doi.org/10.3390/nu11112798
Tremblay, M., et al. 2012. Exploration of shared decision-making processes among dieticians and patients during a consultation for the nutritional treatment of dyslipidaemia. Health Expectations. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4900873/
Al-Qur’an. Surah Ali ‘Imran (3): 159. Al-Qur’an – Ali ‘Imran 3:159
Al-Qur’an. Surah Asy-Syura (42): 38. Al-Qur’an – Asy-Syura 42:38
Kontributor: Marsha Dila Putri
Editor: Jumangin, M.Pd.

