Istiqamah dan Ihsan Sebagai Fondasi Integritas Perawat Tanpa Pengawasan
Pendahuluan
Dalam dunia pelayanan kesehatan, perawat memiliki peran yang sangat vital dalam memberikan pelayanan yang profesional, aman, dan beretika kepada pasien. Perawat tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan keperawatan dan keterampilan klinis yang mumpuni, tetapi juga harus memegang teguh integritas moral yang kokoh dalam menjalankan tanggung jawab profesinya. Integritas ini diperlukan agar seorang perawat tetap melakukan tugas dengan benar, jujur, bertindak atas dasar keselamatan pasien, dan mematuhi standar operasional prosedur, termasuk saat berada dalam situasi kerja tanpa pengawasan langsung dari atasan maupun rekan sejawat.
Dalam perspektif Islam, integritas seorang perawat dapat dibentuk dan diperkuat melalui internalisasi dua nilai spiritual utama, yaitu istiqamah dan ihsan. Istiqamah menekankan pada keteguhan pendirian dan konsistensi dalam menjalankan kebaikan serta mengemban amanah profesi. Sementara itu, ihsan mengajarkan seseorang untuk melakukan setiap tindakan keperawatan dengan kualitas terbaik karena menyadari hadirnya pengawasan Allah SWT (muraqabah). Kedua nilai ini sangat erat kaitannya dengan etika keperawatan karena seorang perawat berhadapan langsung dengan nyawa, kesehatan, dan hak-hak dasar manusia.
Esai ini bertujuan untuk menjelaskan hakikat nilai istiqamah dan ihsan dalam perspektif Islam, mengkaji landasan Al-Qur’an, Hadis, serta pandangan ulama, dan menganalisis penerapannya sebagai fondasi utama integritas perawat dalam praktik keperawatan mandiri tanpa pengawasan langsung.
Pembahasan
Istiqamah merupakan salah satu konsep inti dalam etika Islam yang bermakna teguh pendirian, berpegang teguh pada kebenaran, serta konsisten dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Landasan mengenai pentingnya istiqamah termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-Fussilat ayat 30:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.'” (Al-Qur’an, QS. Fussilat [41]: 30). Keteguhan ini juga ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis ketika seorang sahabat meminta nasihat ringkas mengenai Islam. Nabi ﷺ bersabda: “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim).
Para ulama memberikan penekanan mendalam mengenai dimensi kepraktisan istiqamah. Ibn Rajab Al-Hanbali (2000) dalam kitab Jami’ al-Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa istiqamah berarti menempuh jalan yang lurus (al-shirath al-mustaqim) tanpa menyimpang ke kiri maupun ke kanan, baik dalam kondisi keramaian maupun saat tidak ada manusia lain yang melihatnya. Dalam kontekstualisasi profesi keperawatan, istiqamah adalah keteguhan hati seorang perawat untuk terus menjalankan standar etika, prinsip kepedulian (caring), dan prosedur keperawatan yang benar secara konsisten sepanjang masa tugasnya.
Selain istiqamah, nilai ihsan menjadi pilar kedua yang melengkapi kesempurnaan etika perawat. Rasulullah ﷺ mendefinisikan ihsan dalam hadis riwayat Muslim sebagai kesadaran spiritual di mana seseorang beribadah dan bekerja seolah-olah melihat Allah, dan jika tidak mampu melihat-Nya, ia meyakini sepenuhnya bahwa Allah senantiasa melihat perilakunya. Zuhri (2019) menjelaskan bahwa ihsan dalam profesi kesehatan mentransformasi pekerjaan medis dari sekadar rutinitas teknis menjadi bentuk pengabdian yang berorientasi pada kesempurnaan mutu (perfectionism in service). Rasa diawasi oleh Tuhan (muraqabah) menciptakan kontrol internal yang jauh lebih kuat dibanding kontrol ekstrinsik seperti kamera pengawas atau supervisi atasan.
Integrasi nilai istiqamah dan ihsan tercermin secara jelas dalam situasi nyata pelayanan keperawatan. Sebagai ilustrasi kasus konkret, seorang perawat yang menjalankan tugas dinas malam (shift malam) sendirian di ruang rawat inap sering kali berhadapan dengan dilema etis saat situasi tenang di malam hari. Pada jam-jam kritis seperti pukul 02.00 dini hari, perawat diwajibkan melakukan observasi tanda-tanda vital pada pasien pasca-operasi serta memberikan obat secara tepat waktu. Tanpa adanya pengawasan langsung dari kepala ruangan atau rekan kerja, godaan rasa kantuk dapat mendorong tindakan yang melanggar kode etik, seperti menunda pemberian obat intravena, mengabaikan prosedur cuci tangan, atau memalsukan lembar dokumentasi observasi pasien.
Pada kondisi tersebut, perawat yang memegang teguh istiqamah dan ihsan akan tetap bertindak profesional. Nilai istiqamah memberikan dorongan moral bagi perawat untuk melawan rasa lelah dan tetap mendatangi tempat tidur pasien tepat waktu sesuai jadwal tindakan. Sementara itu, nilai ihsan memastikan perawat tersebut melakukan verifikasi prinsip tujuh benar pemberian obat, menjaga sterilitas alat, dan mengukur tanda vital pasien secara presisi, karena ia menyadari bahwa tindakan jujurnya merupakan bentuk amanah kepada Allah SWT yang tidak boleh dicurangi.
Secara kaji ilmiah, integritas dalam profesi kesehatan bukanlah sesuatu yang muncul secara spontan, melainkan hasil dari internalisasi nilai-nilai moral dan religius yang kuat. Sulistyowati (2018) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi intrinsik—yang bersumber dari nilai agama dan etika moral—dengan tingkat integritas perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan. Perawat dengan motivasi intrinsik yang tinggi terbukti mampu mempertahankan kinerja dan standar keselamatan pasien tanpa bergantung pada supervisi ketat dari pihak luar. Dengan demikian, penerapan istiqamah dan ihsan secara langsung memperkuat motivasi intrinsik tersebut, menjadikan perawat mampu menjaga kerahasiaan medis pasien, bertindak adil tanpa diskriminasi, serta memegang prinsip do no harm (tidak membahayakan) dalam situasi apa pun.
Penutup
Istiqamah dan ihsan merupakan landasan spiritual dan etis yang sangat relevan untuk membangun integritas perawat, khususnya dalam menjalankan tugas mandiri tanpa
pengawasan langsung. Istiqamah memberikan konsistensi moral untuk senantiasa bertindak sesuai standar etika dan amanah profesi, sedangkan ihsan menghadirkan dorongan internal untuk memberikan kualitas pelayanan terbaik karena kesadaran akan pengawasan Allah SWT. Kombinasi kedua nilai ini terbukti secara teoritis, normatif, maupun ilmiah dapat memperkuat integritas perawat serta mendorong kepatuhan terhadap etika dan tanggung jawab profesi
Sebagai rekomendasi, penanaman nilai istiqamah dan ihsan perlu diintegrasikan secara komprehensif dalam pendidikan keperawatan, baik melalui kurikulum etika profesi maupun kegiatan pembinaan karakter. Mahasiswa dan tenaga keperawatan disarankan untuk membiasakan diri melakukan refleksi diri (muhasabah) pada setiap tindakan keperawatan yang dilakukan, serta memandang pelayanan keperawatan bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bentuk ibadah dan tanggung jawab luhur kepada pasien, profesi, dan Allah SWT.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim.
Ibn Rajab Al-Hanbali. (2000). Jami’ al-Ulum wal-Hikam. Beirut: Dar Al-Ma’rifah.
Muslim, I. (2001). Shahih Muslim. Riyadh: Darussalam.
Sulistyowati, Y. (2018). Hubungan Motivasi Intrinsik dengan Integritas Perawat dalam Pelayanan Kesehatan. Jurnal Keperawatan Indonesia, 21(3), 215-223.
Zuhri, A. (2019). Fundamental Etika Profesi Kesehatan: Perspektif Islam. Jurnal Bioetik, 3(1), 56-67.
Kontributor: Faizah
Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

