Fitrah sebagai Titik Balik Kesadaran Sehat: Sanggahan Teori Tabula Rasa dalam Pendidikan Kesehatan
Pendahuluan
Kesehatan merupakan salah satu hal penting dalam kehidupan manusia. Setiap orang tentu ingin memiliki tubuh yang sehat agar dapat melakukan berbagai aktivitas dengan baik. Namun, kesehatan sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, melainkan juga dengan kebiasaan, pola pikir, lingkungan, dan kesadaran seseorang dalam menjaga dirinya. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan menjadi penting karena dapat membantu seseorang memahami bagaimana cara menjaga Kesehatan sejak dini.
Dalam pendidikan kesehatan, sering kali seseorang dianggap dapat membentuk kebiasaannya berdasarkan pengalaman dan lingkungan yang diterimanya. Pandangan tersebut memiliki kemiripan dengan teori tabula rasa yang dikemukakan oleh John Locke. Teori ini memandang manusia ketika lahir seperti kertas putih yang belum memiliki ide bawaan. Pengetahuan dan perkembangan manusia kemudian dibentuk melalui pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Menurut (Abdul Rohman, 2024) empirisme merupakan salah satu aliran yang menjelaskan bahwa pengetahuan manusia berkaitan erat dengan pengalaman. Pembahasan mengenai epistemologi barat juga menunjukkan adanya perkembangan pemikiran dari empirisme dan rasionalisme hingga positivisme, fenomenologi, harmeneutika, dan teori kritis. Hal ini menunjukkan bahwa cara manusia memperoleh dan memahami pengetahuan tidak hanya dapat dilihat dari satu sudut pandang saja.
Namun, dalam perspektif Islam terdapat konsep fitrah yang memberikan pandangan berbeda. Manusia memang dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman, tetapi manusia tidak dilahirkan sebagai sesuatu yang benar-benar kosong. Manusia telah memiliki potensi dasar yang diberikan oleh Allah Swt. Konsep ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kecenderungan kepada kebaikan dan memiliki potensi untuk mengenal Tuhannya.
Tanjung (et al., 2025) menjelaskan bahwa fitrah merupakan potensi bawaan manusia yang memiliki kecenderungan kepada tauhid dan kebaikan, sedangkan tabula rasa memandang manusia tidak memiliki ide bawaan dan lebih banyak dibentuk oleh pengalaman. Berdasarkan hal tersebut, konsep fitrah dapat menjadi titik awal dalam memahami pendidikan kesehatan. Kesadaran untuk menjaga kesehatan tidak hanya dibentuk oleh lingkungan, tetapi juga dapat diarahkan dari kesadaran manusia terhadap dirinya sebagai ciptaan Allah.
Berdasarkan uraian tersebut, esai ini bertujuan untuk membahas konsep fitrah dalam Islam dan perbedaannya dengan teori tabula rasa. Selain itu, esai ini juga bertujuan untuk melihat bagaimana konsep fitrah dapat diterapkan dalam pendidikan kesehatan, khususnya dalam bidang gizi. Melalui pembahasan ini, diharapkan dapat dipahami bahwa manusia tidak hanya dibentuk oleh lingkungan dan pengalaman, tetapi juga memiliki potensi dasar yang dapat dikembangkan melalui pendidikan sehingga dapat membangun kesadaran untuk menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan gizinya dengan baik.
Pembahasan
Konsep fitrah dalam islam memiliki makna yang cukup luas. Fitrah dapat dipahami sebagai keadaan dasar atau potensi yang diberikan Allah kepada manusia sejak lahir. Dalam QS.Ar-Rum ayat 30 disebutkan :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum: 30).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia diciptakan dengan suatu fitrah. Artinya, manusia tidak dapat dipandang hanya sebagai makhluk yang kosong dan kemudian seluruh kehidupannya diisi oleh lingkungan. Ada potensi dasar yang sudah dimiliki manusia dan kemudian perlu dikembangkan melalui pendidikan
Hal tersebut juga dijelaskan (Kurnilawati et al., 2025). Mereka membandingkan konsep fitrah dalam islam dengan teori tabula rasa dan menemukan bahwa keduanya memang sama-sama mengakui pentingnya lingkungan dalam perkembangan manusia. Akan tetapi, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Konsep fitrah mengakui adanya potensi yang sudah ada dalam diri manusia, sedangkan tabula rasa memandang manusia sebagai kertas kosong yang kemudian diisi oleh pengalaman.
Menurut saya, perbedaan tersebut penting jika dikaitkan dengan pendidikan kesehatan. Jika manusia dianggap sebagai kertas kosong, maka kesadaran sehat seolah-olah hanya dapat dibentuk dari luar, misalnya melalui sekolah, keluarga, atau lingkungan. Sebaliknya, jika menggunakan konsep fitrah, pendidikan kesehatan dapat melihat manusia sebagai individu yang sudah memiliki potensi untuk menjaga dirinyam kemudian potensi tersebut diarahkan melalui pendidikan.
Walaupun konsep fitrah dapat menjadi sanggahan terhadap tabula rasa, bukan berarti pengalaman dan lingkungan tidak penting. Justru keduanya tetap memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan manusia.
Serma Adi (et al., 2025) menjelaskan bahwa teori tabula rasa menekankan pengalaman dan lingkungan dalam membentuk karakter serta kemampuan anak. Sementara teori konvergensi mencoba menggabungkan faktor bawaan dan lingkungan sebagai dua faktor yang saling berhubungan dalam perkembangan manusia.
Hal tersebut sebenarnya dapat menjadi jalan tengah dalam pendidikan kesehatan. Manusia memiliki potensi dasar, tetapi potensi tersebut tetap membutuhkan lingkungan yang baik agar dapat berkembang. Contohnya, seorang anak mungkin memiliki potensi untuk memahami pentingnya kebersihan. Namun jika sejak kecil tidak dibiasakan mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan, sikat gigi, berolahraga, dan menjaga lingkungan, potensi tersebut belum tentu menjadi kebiasaan.
Jadi, pendidikan kesehatan tetap diperlukan untuk memberikan pengetahuan dan membentuk kebiasaan. Bedanya, pendidikan tersebut tidak menganggap manusia sebagai kertas kosong, tetapi sebagai manusia yang memiliki potensi yang perlu diarahkan. Kesadaran sehat dapat dipahami sebagai kesadaran seseorang untuk menjaga kesehatan tubuh dan kehidupannya. Dalam perspektif islam, tubuh manusia merupakan amanah dari Allah sehingga manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.
Kesadaran tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, menjaga kebersihan, mengonsumsi makanan yang baik, berolahraga, cukup beristirahat, serta menghindari kebiasaan yang dapat merusak tubuh. Dengan demikian, pendidikan kesehatan bukan hanya memberikan informasi tentang penyakit atau cara mengobatinya, tetapi juga membentuk kebiasaan hidup yang baik.
Konsep fitrah dari penelitian (Ninda Hamidy & Komarudin Sassi, 2025) dapat mendukung pemikiran tersebut. Mereka menjelaskan bahwa fitrah manusia bukan hanya konsep teologis, tetapi dapat menjadi dasar dalam pendidikan. Pendidikan seharusnya menjaga dan mengembangkan potensi bawaan manusia melalui kurikulum, metode pembelajaran, dan lingkungan pendidikan.
Dalam konteks ini, pendidikan gizi dapat menjadi sarana untuk mengembangkan potensi manusia yang telah ada sejak lahir. Seseorang tidak hanya diberikan informasi mengenai kandungan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral, tetapi juga diajak memahami bahwa tubuh merupakan amanah yang harus dijaga. Kesadaran tersebut dapat mendorong seseorang untuk lebih bertanggung jawab terhadap makanan yang dikonsumsinya. Dengan demikian, memilih makanan bergizi tidak hanya dipahami sebagai kebutuhan biologis, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga diri dan mensyukuri nikmat yang diberikan Allah.
Sanggahan terhadap teori tabula rasa bukan berarti teori tersebut sepenuhnya salah. Teori tersebut tetap memberikan kontribusi penting karena mengingatkan bahwa lingkungan dan pengalaman mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan manusia. Pemikiran empirisme menurut (Abdul Rohman, 2024) tetap penting untuk dibahas, karena memberikan perhatian besar terhadap pengalaman dalam proses memperoleh pengetahuan. Namun, apabila manusia hanya dipahami berdasarkan pengalaman dan pengaruh lingkungan, maka keberadaan potensi dasar manusia menjadi kurang diperhatikan. Di sinilah konsep fitrah dalam islam memberikan sudut pandang yang berbeda.
Akan tetapi, jika teori tersebut digunakan secara mutlak, manusia seolah olah hanya menjadi hasil lingkungan. Pandangan seperti ini kurang sesuai dengan konsep manusia dalam islam. Islam memandang manusia memiliki fitrah dan potensi yang berasal dari Allah. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan sebaiknya menggabungkan kedua hal tersebut. Potensi manusia berasal dari fitrah, sedangkan lingkungan dan pendidikan membantu mengembangkan potensi tersebut. Dengan demikian, seseorang tidak hanya menjaga kesehatan karena diperintah oleh guru/orang tua, tetapi juga karena memiliki kesadaran dalam dirinya.
Hal ini juga diperkuat dengan hadist Nabi Muhammad Saw.:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadist tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki keadaan dasar atau fitrah, tetapi lingkungan memiliki pengaruh terhadap perkembangannya. Dalam konteks pendidikan kesehatan, keluarga dan sekolah mempunyai peran besar dalam membentuk kebiasaan hidup sehat.
Berdasarkan uraian tersebut, pendidikan kesehatan berbasis fitrah dapat dilakukan dengan beberapa cara. Seperti pendidikan kesehatan harus memberikan pengetahuan. Siswa perlu mengetahui alasan mengapa kebersihan, makanan bergizi, olahraga, dan istirahat penting bagi tubuh. Lalu pendidikan kesehatan harus membangun kebiasaan. Pengetahuan saja tidak cukup jika tidak diterapkan. Sekolah dapat membuat kegiatan sederhana seperti menjaga kebersihan kelas, olahraga bersama, dan membiasakan hidup bersih. Dan yang terakhir, pendidikan kesehatan perlu membangun kesadaran dalam diri siswa. Siswa perlu memahami bahwa menjaga kesehatan merupakan bentuk tanggung jawab untuk menjaga dirinya sebagai ciptaan Allah.
Penutup
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa konsep fitrah dalam Islam memiliki perbedaan dengan teori tabula rasa. Jika teori tabula rasa memandang manusia seperti kertas kosong yang dibentuk dengan pengalaman dan lingkungan, Islam memandang bahwa manusia sudah memiliki potensi dasar sejak lahir, termasuk kecenderungan kepada kebaikan dan tauhid. Walaupun begitu, lingkungan dan pendidikan tetap memiliki peran dalam mengembangkan potensi tersebut. Dalam pendidikan kesehatan khususnya di bidang gizi, konsep fitrah dapat menjadi dasar untuk membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan merupakan tanggung jawab setiap manusia. pendidikan gizi tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan tentang makanan bergizi dan pola makan sehat, tetapi juga membiasakan seseorang untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sanggahan yang diajukan esai ini bersifat parsial, bukan menolak peran lingkungan dan pendidikan, melainkan menolak klaim bahwa keduanya adalah satu satunya faktor pembentuk manusia. Dengan begitu, seseorang diharapkan tidak hanya tahu tentang pentingnya hidup sehat, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan gizinya dengan baik.
Daftar Pustaka
Abdul Rohman, M. (2024). KAJIAN EPISTEMOLOGI BARAT Telaah Epistemologi Barat Fenemonelogi Hermeneutika dan Kritis. AR ROSYAD: Jurnal Keislaman dan Sosial Humaniora, 2(1), 14–27. https://doi.org/10.55148/ar-rosyad.v2i1.861
Kurnilawati, L., Suriati, S., & Mahmud, S. (2025). Konsep Fitrah Dalam Islam Dan Teori Tabularasa Dalam Psikologi Suatu Analisis Persamaan Dan Perbedaan. NIHAYAH: Journal of Islamic Studies, 1(3), 580–594. https://doi.org/10.65802/nihayah.v1i3.88
Ninda Hamidy, B., & Komarudin Sassi. (2025). Konsep Fitrah Manusia Dan Implikasinya Dalam Dunia Pendidikan. Innovasi : Jurnal Inovasi Pendidikan, 11(2), 83–92. https://doi.org/10.64540/innovasi62
Serma Adi, N. N., I Wayan Suastra, Ananta Wikrama Tungga Atmaja, & I Nyoman Tika. (2025). Teori Tabula Rasa dan Teori Konvergensi terhadap Perkembangan Anak di Indonesia: Systematic Literature Review. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 4(12), 3881–3890. https://doi.org/10.55681/sentri.v4i12.4934
Tanjung, Z. S. Y., Hanafiah, M. A., & Fadhilah, M. N. (2025). Konsep Fitrah dalam Perspektif Islam dan Komparasinya dengan Konsep Tabula Rasa. AUD Cendekia: Journal of Islamic Early Childhood Education, 5(3), 205–221. https://doi.org/10.53802/audcendekia.v5i3.580
Kontributor: Tengku Fakhirah Alifa
Editor: Arif Islahuddin, M.Pd.

