Akhlak Insan Sebagai Standar Mutu Pelayanan Keperawatan Islami
Pendahuluan
Pelayanan keperawatan merupakan bagian penting dalam sistem pelayanan kesehatan karena perawat berinteraksi secara langsung dan intensif dengan pasien. Perawat tidak hanya bertanggung jawab dalam memberikan tindakan keperawatan secara profesional, tetapi juga memiliki peran dalam memberikan dukungan psikologis, sosial, dan spiritual kepada pasien. Kualitas pelayanan keperawatan pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat dari ketepatan tindakan medis dan terpenuhinya kebutuhan fisik pasien, tetapi juga dari bagaimana pasien diperlakukan sebagai manusia yang memiliki martabat, perasaan, keyakinan, dan kebutuhan spiritual. Dalam perspektif Islam, pelayanan kesehatan merupakan bentuk khidmah atau pengabdian kepada sesama yang harus dilandasi akhlak mulia. Oleh sebab itu, akhlak insan dapat ditempatkan sebagai salah satu standar mutu dalam pelayanan keperawatan Islami.
Konsep keperawatan Islami menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki dimensi fisik dan spiritual. Perawat dituntut untuk memberikan pelayanan dengan sikap rahmah (kasih sayang), amanah (tanggung jawab), sidq (kejujuran), ‘adl (keadilan), dan ihsan (berbuat sebaik-baiknya). Penelitian mengenai Islamic caring menunjukkan bahwa perilaku caring yang berlandaskan nilai Islam tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis pelayanan, tetapi juga mencakup empati, kesabaran, keramahan, dukungan spiritual, dan penghormatan terhadap keyakinan pasien (Noor et al., 2024). Bahkan, penelitian Yousriatin et al. (2024) menunjukkan adanya hubungan positif antara perilaku caring perawat dalam konteks Islam dan kepuasan pasien. Berdasarkan hal tersebut, esai ini bertujuan menganalisis akhlak insan sebagai standar mutu pelayanan keperawatan Islami serta menjelaskan penerapannya dalam praktik profesional keperawatan.
Pembahasan
Akhlak dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat penting karena menunjukkan kualitas kepribadian seseorang dalam hubungannya dengan Allah Swt., sesama manusia, dan lingkungan. Akhlak tidak hanya berkaitan dengan sopan santun dalam berkomunikasi, tetapi mencakup keseluruhan perilaku yang didasarkan pada nilai kebaikan, tanggung jawab, kejujuran, kasih sayang, dan keadilan. Dalam konteks keperawatan, akhlak menjadi dasar bagaimana seorang perawat memperlakukan pasien sejak pertama kali melakukan komunikasi sampai seluruh proses asuhan keperawatan selesai. Seorang perawat yang memiliki kompetensi teknis tinggi tetapi tidak memiliki empati, kesabaran, dan kejujuran belum dapat dikatakan memberikan pelayanan yang bermutu secara utuh dalam perspektif Islam.
Salah satu landasan Al-Qur’an yang relevan adalah firman Allah Swt. dalam QS. Al-Qalam ayat 4:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Ayat tersebut menunjukkan tingginya kedudukan akhlak dalam Islam. Rasulullah saw. menjadi teladan utama dalam membangun hubungan dengan manusia melalui kelembutan, kesabaran, kejujuran, dan kasih sayang. Nilai tersebut sangat relevan dengan profesi keperawatan karena perawat berhadapan dengan pasien yang berada dalam kondisi rentan. Pasien yang sedang sakit dapat mengalami kecemasan, ketakutan, ketidakberdayaan, dan ketergantungan kepada tenaga kesehatan. Oleh karena itu, akhlak perawat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas pelayanan. Perawat harus mampu menunjukkan perilaku yang menenangkan, menghargai pasien, menjaga privasi, serta tidak membedakan pasien berdasarkan status sosial maupun kondisi ekonominya.
Prinsip akhlak tersebut juga diperkuat oleh hadis Rasulullah saw.:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
Hadis tersebut mengandung pesan bahwa kemuliaan akhlak merupakan salah satu inti ajaran Islam. Dalam pelayanan keperawatan, makna hadis tersebut dapat diterapkan melalui perilaku profesional yang tetap mengedepankan nilai kemanusiaan. Perawat tidak cukup hanya menjalankan prosedur sesuai standar operasional, tetapi juga perlu memperhatikan cara berkomunikasi, ekspresi, sikap, dan perlakuannya kepada pasien. Tindakan sederhana seperti mengucapkan salam, memperkenalkan diri, meminta izin sebelum melakukan tindakan, mendengarkan keluhan pasien, memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami, serta menjaga kehormatan pasien merupakan bentuk konkret akhlak dalam pelayanan keperawatan Islami.
Dalam pandangan ulama, akhlak berkaitan erat dengan pembentukan karakter manusia sehingga perilaku baik tidak hanya dilakukan ketika diawasi, tetapi menjadi kebiasaan yang muncul dari kesadaran diri. Konsep ihsan juga memberikan pemahaman bahwa seseorang harus berusaha melakukan pekerjaannya sebaik mungkin. Dalam profesi keperawatan, ihsan dapat dimaknai sebagai komitmen memberikan pelayanan secara optimal, teliti, bertanggung jawab, dan penuh kepedulian. Sementara itu, amanah mengandung makna bahwa profesi dan kepercayaan pasien merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Perawat memiliki akses terhadap informasi kesehatan pasien sehingga kerahasiaan informasi tersebut merupakan bagian dari amanah yang wajib dijaga.
Konsep keperawatan Islami juga memiliki keterkaitan erat dengan caring. Islamic caring merupakan bentuk kepedulian terhadap pasien yang didasarkan pada nilai-nilai Islam dan tuntunan Al-Qur’an serta Sunnah. Noor et al. (2024) menjelaskan bahwa Islamic caring tidak hanya mencakup aspek teknis dan profesional, tetapi juga dimensi emosional dan spiritual. Dalam kajiannya, Islamic caring mencakup profesionalisme, empati, kesabaran, dan spiritualitas. Praktik seperti memberikan kesempatan pasien menjalankan ibadah, membantu pasien dalam kebutuhan spiritual, serta memberikan dukungan melalui doa atau zikir dapat menjadi bagian dari pelayanan yang holistik. Temuan tersebut menunjukkan bahwa mutu pelayanan keperawatan Islami perlu memperhatikan manusia secara menyeluruh, bukan hanya kondisi fisiknya.
Penelitian Yousriatin et al. (2024) memberikan bukti empiris mengenai pentingnya perilaku caring dalam konteks Islam. Penelitian yang dilakukan terhadap 88 pasien di Rumah Sakit Umum YARSI Pontianak menunjukkan adanya hubungan positif antara perilaku caring perawat dalam konteks Islam dengan kepuasan pasien. Artinya, semakin baik perilaku caring Islami yang ditunjukkan perawat, semakin tinggi pula kepuasan pasien. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa akhlak bukan sekadar konsep normatif dalam agama, melainkan dapat berhubungan dengan indikator nyata mutu pelayanan, yaitu kepuasan pasien.
Hasil penelitian Wardaningsih dan Oktariza (2021) juga memperkuat pentingnya akhlak dalam pelayanan keperawatan Islami. Penelitian terhadap pasien di rumah sakit syariah di Yogyakarta menemukan bahwa pasien memandang perawat Islami melalui beberapa karakter, seperti sabar, ramah, sopan, dan peduli. Pasien juga mengharapkan dukungan spiritual serta pelayanan yang sesuai dengan prinsip syariah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pasien tidak hanya menilai pelayanan berdasarkan tindakan keperawatan yang diberikan, tetapi juga berdasarkan sikap dan karakter perawat selama berinteraksi. Dengan demikian, akhlak dapat menjadi pengalaman langsung yang dirasakan pasien dan berkontribusi terhadap persepsi mereka mengenai mutu pelayanan.
Penelitian Talibo et al. (2019) juga memberikan bukti bahwa perilaku Islami dapat meningkatkan kemampuan perawat dalam mengimplementasikan asuhan keperawatan Islami. Penelitian tersebut menggunakan desain kuasi-eksperimental dan menemukan peningkatan kemampuan implementasi asuhan keperawatan Islami setelah diberikan intervensi perilaku Islami. Kelompok intervensi mengalami peningkatan nilai rata-rata dari 82,53 menjadi 98,68. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perilaku Islami bukan sesuatu yang bersifat abstrak, melainkan dapat dikembangkan melalui pembinaan dan pendidikan yang terarah.
Pendidikan memiliki peranan penting dalam membentuk akhlak tenaga keperawatan. Setiowati et al. (2023) menemukan bahwa integrasi Islam dan ilmu keperawatan diperlukan dalam pendidikan keperawatan untuk membangun karakter perawat Islami. Penelitian tersebut melibatkan pimpinan program studi, dosen, dan mahasiswa dari lima institusi pendidikan keperawatan Islam di Indonesia. Hasilnya menunjukkan pentingnya integrasi nilai Islam dalam kurikulum serta evaluasi secara berkelanjutan. Dengan demikian, pembentukan akhlak perawat seharusnya tidak hanya dilakukan setelah seseorang bekerja di rumah sakit, tetapi dimulai sejak pendidikan keperawatan.
Aspek pengetahuan merupakan bagian penting dalam mutu keperawatan Islami. Dewi et al. (2020) menunjukkan bahwa pengetahuan perawat mengenai diagnosis keperawatan spiritual Islami masih berada pada kategori cukup, sehingga akhlak yang baik perlu didukung kompetensi keilmuan yang memadai. Mutu pelayanan keperawatan Islami merupakan perpaduan antara kompetensi profesional dan akhlak, seperti empati, kesabaran, kejujuran, keramahan, serta penghormatan terhadap pasien. Akhlak yang baik dapat membangun hubungan terapeutik, meningkatkan keterbukaan komunikasi, dan membantu perawat memahami kebutuhan pasien, sedangkan perilaku yang kurang baik dapat menurunkan kepercayaan pasien terhadap pelayanan yang diberikan.
Akhlak memiliki hubungan erat dengan keselamatan pasien. Sikap amanah, bertanggung jawab, dan jujur mendorong perawat bekerja secara teliti, mengikuti prosedur, melakukan verifikasi, serta menyampaikan informasi dengan benar. Penerapan akhlak sebagai standar mutu juga perlu didukung institusi pelayanan kesehatan melalui evaluasi perilaku Islami, pelatihan komunikasi, Islamic caring, etika profesi, dan kebutuhan spiritual pasien. Penelitian Yustini et al. (2022) menunjukkan bahwa Islamic caring berkaitan dengan motivasi perawat dan peran kepemimpinan, sehingga pembentukan akhlak tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga membutuhkan dukungan organisasi dan kepemimpinan.
Dalam praktiknya, perawat Islami perlu menghormati martabat pasien melalui komunikasi yang sopan, menjaga privasi dan kerahasiaan, meminta persetujuan sebelum tindakan, memberikan dukungan spiritual, serta menghormati keyakinan pasien tanpa memaksakan praktik keagamaan. Nilai rahmah mengajarkan kasih sayang, amanah mengajarkan tanggung jawab, sidq mengajarkan kejujuran, ‘adl mengajarkan keadilan, dan ihsan mendorong pemberian pelayanan terbaik. Dengan demikian, mutu keperawatan Islami tidak hanya dinilai dari aspek teknis, tetapi juga dari kualitas hubungan antara perawat dan pasien. Perpaduan kompetensi, keterampilan, dan akhlak akan menghasilkan pelayanan yang profesional, manusiawi, dan holistik.
Penutup
Akhlak insan merupakan unsur fundamental dalam membangun mutu pelayanan keperawatan Islami karena pelayanan keperawatan pada hakikatnya bukan hanya aktivitas teknis, melainkan bentuk pengabdian kepada manusia yang membutuhkan pertolongan. Nilai rahmah, amanah, sidq, ‘adl, dan ihsan dapat menjadi dasar perilaku perawat dalam memberikan pelayanan yang profesional sekaligus manusiawi. Al-Qur’an dan hadis memberikan landasan bahwa kemuliaan akhlak merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim, sedangkan berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku Islami dan Islamic caring berkaitan dengan kemampuan memberikan asuhan Islami serta kepuasan pasien. Oleh karena itu, akhlak perlu dibentuk sejak pendidikan keperawatan, diperkuat melalui pembinaan di tempat kerja, dan dijadikan bagian dari evaluasi mutu pelayanan. Penerapan akhlak yang konsisten akan membantu menciptakan pelayanan keperawatan yang aman, profesional, penuh kasih sayang, menghargai martabat pasien, dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Daftar Pustaka
Dewi, I. P., Suwandi, N., & Fadlurrahman, F. R. (2020). Analysis of nurses’ knowledge in determining diagnosis of Islamic spiritual nursing care in Sharia hospitals. Jurnal Ilmiah Keperawatan Indonesia, 4(1), 73–87. https://jurnal.umt.ac.id/index.php/jik/article/view/2925
Noor, F., Trisyani, Y., & Mirwanti, R. (2024). Islamic caring behavior by nurses on patient satisfaction: A scoping review. Indonesian Journal of Global Health Research, 6(5), 2389–2400. https://doi.org/10.37287/ijghr.v6i5.3437
Setiowati, D., Utomo, W. B., & Agustina, M. (2023). Integration in nursing curriculum for building Islamic nurses’ character in Indonesia: A descriptive qualitative approach. Healthcare in Low-Resource Settings, 11(2). https://www.academia.edu/download/121009460/11392.pdf
Talibo, N. A., Kurniati, T., & Widakdo, G. (2019). Penerapan bentuk perilaku Islami terhadap kemampuan perawat mengimplementasi asuhan keperawatan Islami di ruang rawat inap. Journal of Telenursing (JOTING), 1(2), 323–332. https://www.neliti.com/publications/432657/download/432102
Yousriatin, F., Kirana, W., Anggreini, Y. D., Juliana, D., & Safitri, D. (2024). Hubungan perilaku caring perawat dalam konteks Islam dengan kepuasan pasien di Rumah Sakit Umum (RSU) YARSI Pontianak. Malahayati Nursing Journal, 6(1), 1–10. https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/manuju/article/view/10054
Kontributor: Annisa Salsabila Sianipar
Editor: Arif Islahuddin, M.Pd.

