Akhlak Kepada Rasulullah Melalui Keteladanan dan Shalawat: Refleksi Bagi Pembentukan Karakter Profesional Perawat

Pendahuluan

    Keperawatan merupakan profesi yang tidak hanya menuntut penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan klinis, tetapi juga membutuhkan karakter moral dan etika yang kuat. Perawat berhadapan langsung dengan manusia yang berada dalam kondisi rentan, baik secara fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual. Oleh karena itu, seorang perawat dituntut untuk memberikan pelayanan yang aman, bertanggung jawab, penuh empati, menghargai martabat pasien, serta mampu membangun hubungan terapeutik yang baik. Dalam perspektif Islam, karakter tersebut dapat diperkuat melalui akhlak kepada Rasulullah saw., terutama dengan meneladani perilaku beliau dan membiasakan diri berselawat. Akhlak kepada Rasulullah saw. tidak hanya diwujudkan melalui penghormatan secara lisan, tetapi juga melalui usaha menerapkan sifat dan perilaku beliau dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah saw. merupakan teladan dalam kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, keadilan, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut memiliki hubungan yang erat dengan profesionalisme keperawatan. Perawat yang menjadikan Rasulullah saw. sebagai teladan diharapkan tidak hanya terampil dalam melakukan tindakan keperawatan, tetapi juga memiliki kepedulian dan tanggung jawab moral terhadap pasien.

    Pembahasan

    Akhlak kepada Rasulullah saw. dapat dipahami sebagai sikap mencintai, menghormati, menaati ajaran, mengikuti sunah, serta menjadikan beliau sebagai teladan dalam kehidupan. Keteladanan berarti menjadikan perilaku Rasulullah saw. sebagai pedoman dalam membentuk sikap dan karakter. Sementara itu, shalawat merupakan bentuk penghormatan dan doa kepada Nabi Muhammad saw. yang sekaligus menjadi salah satu bentuk kecintaan umat kepada beliau.

    Keteladanan Rasulullah saw. sangat relevan dengan pembentukan karakter profesional. Beliau dikenal sebagai pribadi yang amanah dan jujur. Dalam konteks keperawatan, sifat amanah dapat diwujudkan melalui tanggung jawab dalam menjalankan tugas, menjaga kerahasiaan pasien, memberikan informasi secara benar, dan tidak menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan pasien maupun institusi. Sifat sabar juga penting karena perawat sering menghadapi pasien yang memiliki kondisi dan karakter berbeda. Selain itu, Rasulullah saw. menunjukkan kasih sayang kepada manusia. Kasih sayang dalam keperawatan dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap kebutuhan pasien, komunikasi yang lembut, mendengarkan keluhan, serta memberikan dukungan tanpa membeda-bedakan pasien. Penelitian menunjukkan bahwa compassion atau kasih sayang merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan yang aman dan efektif. Pasien merasakan kasih sayang melalui perilaku tenaga kesehatan, termasuk komunikasi yang baik dan adanya waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan pasien (Durkin et al., 2019).

    Salah satu landasan utama mengenai keteladanan Rasulullah saw. terdapat dalam QS. Al-Ahzab ayat 21:

    لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوْا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

    Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

    Ayat tersebut menegaskan bahwa Rasulullah saw. merupakan uswah hasanah, yaitu teladan yang baik. Keteladanan tersebut tidak terbatas pada kehidupan ibadah, tetapi mencakup akhlak dan hubungan dengan sesama manusia. Dalam profesi keperawatan, ayat ini dapat menjadi dasar untuk membentuk perilaku profesional yang berorientasi pada kebaikan, kemanusiaan, dan tanggung jawab. Menurut Al-Tabari, ayat tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah saw. merupakan contoh yang patut diikuti oleh orang-orang beriman.  Dengan demikian, meneladani Rasulullah berarti berusaha menerapkan nilai-nilai yang beliau contohkan dalam kehidupan nyata. Bagi seorang perawat Muslim, keteladanan tersebut dapat menjadi landasan moral dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

    Selain keteladanan, kecintaan kepada Rasulullah saw. dapat diwujudkan melalui shalawat. Rasulullah saw. bersabda:

    مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

    Artinya: “Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim (408) dari Abu Hurairah dan dinilai sahih.

    Hadis tersebut menunjukkan keutamaan bershalawat kepada Rasulullah saw. Shalawat dapat menjadi bentuk kecintaan, penghormatan, dan pengingat terhadap ajaran beliau. Namun, shalawat seharusnya tidak berhenti pada ucapan. Shalawat perlu disertai upaya untuk meneladani akhlak Rasulullah saw. dalam tindakan nyata. Dalam konteks profesi, seorang perawat dapat menjadikan shalawat sebagai sarana refleksi spiritual sebelum atau setelah menjalankan tugas. Ketika mengingat Rasulullah saw., perawat dapat mengingat kembali nilai amanah, kasih sayang, kesabaran, kejujuran, dan kepedulian yang perlu diwujudkan dalam pelayanan. Dengan demikian, shalawat memiliki dimensi spiritual yang dapat memperkuat kesadaran moral, sedangkan keteladanan menjadi bentuk penerapannya dalam perilaku.

    Nilai kasih sayang yang diajarkan dalam Islam memiliki relevansi dengan konsep compassion dalam keperawatan. Alharbi (2019) menjelaskan bahwa kasih sayang dalam perspektif Islam memiliki kaitan dengan nilai-nilai kebajikan Islam dan dapat memberikan pemahaman yang relevan bagi praktik keperawatan. Hasil kajian Durkin et al. (2019) menunjukkan bahwa perawat dapat menunjukkan compassion melalui perilaku seperti menyediakan waktu bagi pasien dan berkomunikasi secara efektif. Pasien kemudian merasakan compassion melalui adanya hubungan dan rasa kebersamaan dengan perawat.  Hal ini menunjukkan bahwa akhlak yang baik bukan sekadar konsep moral, tetapi dapat terlihat secara nyata dalam interaksi antara perawat dan pasien. Kajian sistematis lainnya menemukan bahwa empati memiliki hubungan positif dengan berbagai hasil pelayanan kesehatan dan pengalaman pasien. Selain itu, sebagian besar penelitian intervensi yang ditinjau menunjukkan bahwa empati dapat ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan (Howick et al., 2023).

    Penelitian mengenai etika Islam pada perawat Muslim di Indonesia juga menunjukkan adanya hubungan positif antara penerapan etika Islam dan komitmen perawat terhadap organisasi. Penelitian tersebut melibatkan 1.100 perawat Muslim di Indonesia dan menunjukkan bahwa penerapan nilai etika Islam dapat berkontribusi terhadap peningkatan komitmen perawat (Sunarsi et al., 2022).  Temuan ini memperkuat gagasan bahwa nilai agama dapat menjadi salah satu sumber pembentukan karakter profesional. Kajian terbaru mengenai compassionate care juga menunjukkan bahwa kasih sayang merupakan aspek penting dalam praktik keperawatan. Perspektif pasien dan perawat menunjukkan bahwa compassion terdiri atas berbagai unsur yang kompleks, sehingga perlu dipahami dan diterapkan secara tepat dalam pelayanan (Varghese et al., 2025).

    Akhlak kepada Rasulullah saw. dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam pembentukan karakter profesional perawat Muslim. Profesionalisme tidak cukup hanya dibangun melalui kompetensi teknis. Seorang perawat dapat memiliki kemampuan klinis yang baik, tetapi apabila tidak memiliki empati, kejujuran, kesabaran, dan rasa tanggung jawab, kualitas pelayanan dapat menjadi kurang optimal. Keteladanan Rasulullah saw. memberikan arah mengenai bagaimana kompetensi tersebut harus digunakan. Sifat amanah mendorong perawat untuk bertanggung jawab terhadap setiap tindakan. Sifat jujur mendorong perawat menyampaikan informasi dengan benar. Sifat sabar membantu perawat menghadapi pasien dengan tenang. Sifat rahmah atau kasih sayang mendorong perawat untuk melihat pasien sebagai manusia yang memiliki kebutuhan dan martabat, bukan sekadar sebagai objek tindakan medis. Selawat juga dapat berfungsi sebagai pengingat spiritual. Akan tetapi, selawat tidak seharusnya dipahami hanya sebagai aktivitas verbal. Makna selawat perlu diwujudkan dalam perilaku. Semakin seseorang mencintai Rasulullah saw., seharusnya semakin kuat keinginannya untuk meneladani akhlak beliau.

    Penerapan keteladanan Rasulullah saw. dapat dilakukan dalam berbagai aspek praktik keperawatan. Pertama, amanah, yaitu melaksanakan tugas sesuai kompetensi, standar profesi, dan prosedur yang berlaku. Kedua, jujur, yaitu memberikan informasi sesuai kondisi pasien dan tidak memanipulasi dokumentasi keperawatan. Ketiga, rahmah, yaitu memberikan pelayanan dengan empati, perhatian, dan komunikasi yang manusiawi. Keempat, sabar, terutama ketika menghadapi pasien yang cemas, takut, marah, atau sulit berkomunikasi. Kelima, adil, yaitu memberikan pelayanan secara profesional tanpa membeda-bedakan pasien berdasarkan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, atau agama. Keenam, menjaga martabat pasien, termasuk menghormati privasi dan kerahasiaan informasi kesehatan. Dalam kehidupan akademik, mahasiswa keperawatan juga dapat menerapkan nilai tersebut melalui kedisiplinan, kejujuran dalam mengerjakan tugas, menghormati dosen dan teman, serta bertanggung jawab ketika melakukan praktik klinik. Dengan demikian, pembentukan karakter profesional sebaiknya dimulai sejak pendidikan keperawatan dan dilanjutkan sepanjang kehidupan profesional.

    Kesimpulan

    Akhlak kepada Rasulullah saw. melalui keteladanan dan shalawat memiliki relevansi yang kuat terhadap pembentukan karakter profesional perawat. Al-Qur’an menegaskan Rasulullah saw. sebagai uswah hasanah, sedangkan hadis menunjukkan keutamaan bershalawat kepada beliau. Keteladanan Rasulullah saw. melalui sifat amanah, jujur, sabar, adil, dan penuh kasih sayang dapat diterapkan dalam praktik keperawatan. Hasil berbagai kajian ilmiah menunjukkan bahwa empati, compassion, dan nilai etika memiliki hubungan penting dengan kualitas hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien. Oleh karena itu, kecintaan kepada Rasulullah saw. hendaknya tidak berhenti pada ucapan shalawat, tetapi diwujudkan melalui perilaku profesional dalam memberikan pelayanan. Perawat yang mampu mengintegrasikan kompetensi klinis dengan akhlak mulia diharapkan dapat memberikan pelayanan yang aman, bermutu, manusiawi, dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, keteladanan Rasulullah saw. dapat menjadi refleksi spiritual sekaligus moral dalam membangun perawat yang profesional dan berkarakter.

    Daftar Pustaka

    Alharbi, J. (2019). Towards an understanding of compassion from an Islamic

    perspective. Journal of Clinical Nursing, 28(9–10), 1467–1474. https://doi.org/10.1111/jocn.14725

    Al-Qur’an. (n.d.). Surah Al-Ahzab ayat 21.

    Blomberg, K., Griffiths, P., Wengström, Y., May, C., & Bridges, J. (2016).

    Interventions for compassionate nursing care: A systematic review. International Journal of Nursing Studies, 62, 137–155. https://doi.org/10.1016/j.ijnurstu.2016.07.009

    Durkin, J., Usher, K., & Jackson, D. (2019). Embodying compassion: A systematic

    review of the views of nurses and patients. Journal of Clinical Nursing, 28(9–10), 1380–1392. https://doi.org/10.1111/jocn.14722

    Howick, J., Steinkopf, L., Ulyte, A., Roberts, N., & Meissner, K. (2023). A

    systematic review of research on empathy in health care. BMC Medical Education, 23, 1–15.

    Muslim, I. H. (n.d.). Sahih Muslim (Hadis No. 408)

    Sunarsi, D., Nurdin, N., Alshahran, N. Z., & Iswanto, A. H. (2022). Islamic ethics

    and commitment among Muslim nurses in Indonesia. HTS Teologiese Studies/Theological Studies, 78(4), 1–6.

    Varghese, A., et al. (2025). Attributes of compassionate care in clinical nursing

    practice from the perspectives of patients and nurses—A systematic review. Journal of Education and Health Promotion.

    Kontributor: Putri Rapmaita

    Editor: Dr. Damanhuri, M.Ag.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *