Pesan dan Larangan Berlebihan dalam Makan-Minum Sebagai Pondasi Edukasi Pencegahan Penyakit Jantung
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penyakit jantung merupakan salah satu masalah Kesehatan yang berkaitan dengan berbagai faktor risiko, termasuk pola makan dan gaya hidup. Konsumsi makanan yang tinggi natrium, gula, lemak jenuh, serta makanan ultra-proses secara beerlebihan dapat menjadi bagian dari pola makan yang kurang sehat dan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Sebaliknya, pola makan yang seimbang dan berkualitas dapat membantu menjaga Kesehatan jantung.
Dalam prefektif islam, makanan dan minuman tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan tubuh, tetapi juga memiliki nilai agama. Islam mengajarkan manusia untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik serta tidak berlebihan. Prinsip tersebut terdapat dalam Q.S Al-A’raf ayat 31 yang memerintahkan manusia untuk makan dan minum, tetapi melarang perilaku berlebihan. Prinsip ini sangat relevan dengan ilmu gizi karena pengendalian pola makan merupakan salah satu bagian penting dalam menjaga Kesehatan.
Pentingnya Topik
Topik mengenai larangan berlebihan dalam makan dan minum penting dikaji karena perilaku makan tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga oleh nilai agama dan budaya. Pada masyarakat Muslim, ajaran agama dapat menjadi pendekatan yang membantu meningkatkan penerimaan terhadap edukasi
kesehatan. Prinsip tidak berlebihan dapat dikaitkan dengan pengaturanporsi, pemilihan makanan, serta pembatasan konsumsi makanan yang kurang sehat.
Tujuan Penulisan
Esai ini bertujuan menganalisis pesan dan larangan berlebihan dalam makan dan minum berdasarkan Al-Qur’an dan hadis serta menghubungkannya dengan hasil kajian ilmiah mengenai pola makan dan penyakit kardiovaskular. Selain itu, esai ini membahas penerapan prinsip tersebut dalam edukasi gizi dan praktik profesi gizi.
PEMBAHASAN
Konsep atau Teori yang Dibahas
Moderasi dalam makan dan minum dapat dipahami sebagai perilaku memenuhi kebutuhan tubuh secara proporsional tanpa berlebihan. Moderasi tidak hanya berkaitan dengan jumlah makanan, tetapi juga kualitas dan keragaman pangan. Pola makan sehat perlu mencakup berbagai sumber pangan bergizi, seperti sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian, dan sumber protein yang baik, serta membatasi konsumsi garam, gula bebas, lemak jenuh, dan lemak trans.
Konsep tersebut sejalan dengan prinsip pencegahan penyakit jantung. Pola makan Mediterania, misalnya, menekankan konsumsi sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian, dan sumber lemak sehat. Rosato et al. (2019) menunjukkan bahwa kepatuhan yang lebih tinggi terhadap pola makan Mediterania berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah. Dengan demikian, moderasi dalam Islam dapat dihubungkan dengan prinsip keseimbangan dalam ilmu gizi.
Landasan Al-Qur’an dan Hadis
Landasan utama mengenai larangan berlebihan terdapat dalam QS. Al-A’raf ayat 31:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Artinya: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya, Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak melarang manusia makan dan minum, tetapi memberikan batas agar kebutuhan tersebut tidak dipenuhi secaraberlebihan.Pesan yang terkandung di dalamnya adalah keseimbangan antara memenuhi kebutuhan tubuh dan mengendalikan keinginan.
Prinsip tersebut diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad saw. dalam Jami’ at-Tirmidzi 2380. “Rasulullah saw. bersabda bahwa manusia tidak memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Jika seseorang harus mengisinya, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernapas”.
Hadis tersebut mengajarkan pentingnya mengendalikan makan dan menghindari kondisi terlalu kenyang. Pembagian sepertiga tidak seharusnya dianggap sebagai rumus gizi yang wajib diterapkan kepada semua orang karena kebutuhan setiap individu berbeda. Hadis tersebut lebih tepat dipahami sebagai landasan perilaku untuk tidak makan secara berlebihan.
Pendapat Ulama atau Ahli
Menurut penafsiran Ibnu Katsir terhadap QS. Al-A’raf ayat 31, manusia diperbolehkan menikmati makanan dan minuman, tetapi tidak diperbolehkan melakukan pemborosan atau berlebihan. Penafsiran tersebut memperlihatkan bahwa larangan “israf” bukan berarti manusia harus mengurangi makan secara ekstrem, melainkan menjaga batas dalam memenuhi kebutuhan.
Pemahaman tersebut sejalan dengan ilmu gizi yang menekankan kecukupan, keseimbangan, dan kualitas pola makan. Dengan demikian, ajaran agama dapat menjadi landasan nilai dan motivasi, sedangkan ilmu gizi memberikan dasar ilmiah mengenai penerapan pola makan sehat.
Hasil Kajian Ilmiah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pola makan berhubungan dengan kesehatan kardiovaskular. Sebastian et al. (2024) melalui systematic review dan meta-analysis terhadap uji acak terkontrol menemukan bahwa pola makan Mediterania berkaitan dengan penurunan kejadian kardiovaskular mayor, infark miokard, dan stroke.
Konsumsi natrium juga perlu diperhatikan. Wang et al. (2020) melalui systematic review dan dose-response meta-analysis menemukan hubungan antara asupan natrium yang lebih tinggi dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Hal tersebut menunjukkan pentingnya membatasi konsumsi garam dan makanan tinggi natrium.
Selain itu, Qu et al. (2024) menemukan hubungan positif antara konsumsi makanan ultra-proses yang lebih tinggi dan risiko kejadian kardiovaskular.Mendoza et al.(2024) juga melaporkan bahwa konsumsi makanan ultra-proses yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko penyakitkardiovaskular dan penyakit jantung koroner. Meskipun demikian, dampaknya dapat berbeda berdasarkan jenis makanan sehingga edukasi perlu mempertimbangkan keseluruhan pola makan.
Analisis Penulis
Menurut penulis, prinsip tidak berlebihan dalam Islam sangat relevan dengan upaya pencegahan penyakit jantung. Larangan “israf” dapat menjadi dasar untuk membangun kesadaran bahwa makan bukan hanya untuk memenuhi keinginan, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan tubuh secara seimbang.
Prinsip tersebut tidak seharusnya dipahami hanya sebagai larangan makan dalam jumlah banyak. Berlebihan juga dapat dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi makanan tertentu secara terus-menerus, terutama makanan tinggi natrium, gula, lemak jenuh, dan makanan ultra-proses. Oleh karena itu, pesan “jangan berlebihan” perlu diterjemahkan menjadi perilaku gizi yang nyata, seperti mengatur porsi, membatasi makanan tinggi natrium dan gula, serta meningkatkan konsumsi sayur, buah, kacang-kacangan, dan sumber protein yang sehat.
Implementasi dalam Praktik Profesi Sesuai Bidang Keilmuan
Dalam praktik profesi gizi, nilai agama dapat digunakan sebagai pendekatan komunikasi kesehatan, khususnya kepada masyarakat Muslim. Ahli gizi dapat menghubungkan edukasi mengenai pengaturan pola makan dengan QS. Al-A’raf ayat 31 dan hadis tentang pengendalian makan.
Sebagai contoh, ketika memberikan edukasi mengenai natrium, ahli gizi dapat menjelaskan bahwa menghindari konsumsi secara berlebihan sejalan dengan prinsip Islam. Setelah itu, ahli gizi memberikan informasi ilmiah mengenai sumber natrium dan cara mengurangi konsumsinya. Edukasi mengenai makanan ultra-proses juga dapat dilakukan melalui pengajaran membaca label pangan, memperhatikan kandungan natrium dan gula, serta meningkatkan konsumsi pangan yang lebih beragam.
Dengan demikian, agama berfungsi sebagai landasan nilai dan motivasi, sedangkan ilmu gizi menjadi dasar dalam menentukan rekomendasi.
PENUTUP
Kesimpulan
Prinsip tidak berlebihan dalam makan dan minum merupakan ajaran Islam yang sangat relevan dengan upaya menjaga kesehatan. QS. Al-A’raf ayat 31 melarang perilaku berlebihan, sedangkan hadis Jami’ at-Tirmidzi 2380 menekankan pentingnya mengendalikan konsumsi makanan.
Dalam ilmu gizi, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui pola makan seimbang, pengaturan porsi, pembatasan natrium, serta pengurangan konsumsi makanan ultra-proses. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola makan Mediterania berkaitan dengan risiko kardiovaskular yang lebih rendah, sedangkan konsumsi natrium dan makanan ultra-proses yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko kardiovaskular. Oleh karena itu, nilai agama dapat menjadi salah satu dasar dalam edukasi pencegahan penyakit jantung, sedangkan rekomendasi gizi tetap harus berdasarkan bukti ilmiah.
Saran atau Rekomendasi
Mahasiswa dan tenaga profesional gizi perlu mengembangkan edukasi yang mempertimbangkan ilmu pengetahuan serta nilai agama dan budaya masyarakat. Pada masyarakat Muslim, prinsip tidak berlebihan dapat digunakan untuk memperkuat pesan mengenai pola makan sehat. Namun, rekomendasi mengenai kebutuhan energi, zat gizi, dan batas konsumsi tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan individu dan berdasarkan bukti ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA
Mendoza, K., Smith-Warner, S. A., Rossato, S. L., Khandpur, N., Manson, J. E., Qi, L., Rimm, E. B., Mukamal, K. J., Willett, W. C., Wang, M., Hu, F. B., Mattei, J., & Sun, Q. (2024). Ultra-processed foods and cardiovascular disease: Analysis of three large US prospective cohorts and a systematic review and meta-analysis of prospective cohort studies. *The Lancet Regional Health – Americas, 37*, 100859. [https://doi.org/10.1016/j.lana.2024.100859](https://doi.org/10.1016/j.lana.2024.100859)
Qu, Y., Hu, W., Huang, J., Tan, B., Ma, F., Xing, C., & Yuan, L. (2024). Ultra-processed food consumption and risk of cardiovascular events: A systematic review and dose-response meta-analysis. *eClinicalMedicine, 69*, 102484. [https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2024.102484](https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2024.102484)
Rosato, V., Temple, N. J., La Vecchia, C., Castellan, G., Tavani, A., & Guercio, V. (2019). Mediterranean diet and cardiovascular disease: A systematic review and meta-analysis of observational studies. *European Journal of Nutrition, 58*(1), 173–191. [https://doi.org/10.1007/s00394-017-1582-0](https://doi.org/10.1007/s00394-017-1582-0)
Sebastian, S. A., Padda, I., & Johal, G. (2024). Long-term impact of Mediterranean diet on cardiovascular disease prevention: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. *Current Problems in Cardiology, 49*(5), 102509. [https://doi.org/10.1016/j.cpcardiol.2024.102509](https://doi.org/10.1016/j.cpcardiol.2024.102509)
Wang, Y.-J., Yeh, T.-L., Shih, M.-C., Tu, Y.-K., & Chien, K.-L. (2020). Dietary sodium intake and risk of cardiovascular disease: A systematic review and dose-response meta-analysis. *Nutrients, 12*(10), 2934. [https://doi.org/10.3390/nu12102934](https://doi.org/10.3390/nu12102934)
Sumber keagamaan:
Al-Qur’an, QS. Al-A’raf [7]: 31.
At-Tirmidzi. (n.d.). *Jami’ at-Tirmidzi 2380*. [https://sunnah.com/tirmidhi/36/77](https://sunnah.com/tirmidhi/36/77)
Kontributor: Aisyah Humaira
Editor: Jumangin, M.Pd.

